
Risma menyusuri jalanan seorang diri. Hatinya benar-benar berharap Ishana tidak pergi dari rumah tangga mereka, bukan karena kehadiran Dina dan Rian, juga bukan karena siapa orang tua kandung Ishana. Tapi Ishana adalah bagian dari dirinya, setelah kepergian Ishana, dirinya merasa kosong.
Kamu dan Ishana itu satu Ris, bagaimana aku memilih salah satunya?
Risma terbayang ucapan Ardhi dulu. Kini dia benar-benar merasakan hal itu benar.
Ntin! Ntin!
Sebuah mobil berhenti di dekat Risma. "Permisi Nona Risma, Anda mau diantar kembali ke vila?" tawar supir itu.
Risma menganggukkan kepalanya dan segera masuk kedalam mobil. Mobil itu pun segera melaju menuju vila yang Risma tempati.
Sedang di bagian lain.
Ardhi dan Jully memilih berjalan kaki menyusuri tepi pantai.
"7 tahun ini kamu memperjuangkan cintamu?"
Jully hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Kamu pindah setelah tau Ishana istri keduaku, apa keputusan kamu pindah karena itu?"
Lagi-lagi Jully hanya mengangguk.
"Semoga kamu berhasil menaklukkan hatinya, aku percaya padamu menjadi Ayah untuk anak-anakku."
Dua sahabat itu berbicara banyak hal tentang mereka. Melepas segala kerinduan karena tidak bertemu selama 7 tahun ini.
Sedang di rumah Shafina, keadaan belum juga tenang, padahal di rumah itu hanya ada Nara yang terisisa, tamu yang lain sudah pulang. Kabar pertemuan antar pengusaha dimajukan, membuat Shafina kelabakan mempersiapkan semuanya.
"Mama, mama fokus saja dengan urusan mama, jangan khawatir sama aku." Ishana berusaha meyakinkan mamanya.
Dengan berat hati, Shafina meninggalkan pulau itu, karena urusan pekerjaan yang mendesak.
Dina dan Rian sudah tidur di kamar mereka, setelah memeriksa kedua anaknya Ishana kembali ke kamarnya, di sana Nara sudah menunggunya.
"Bagaimana perasaan kamu?" Nara langsung melontarkan pertanyaan kala melihat Ishana masuk ke dalam kamar.
Ishana terlihat sangat santai. "Apanya?"
"Ya bagaimana perasaan kamu saat melihat Ardhi."
"Tidak ada apa-apa Ra, aku merasa lega. Tidak seperti saat awal aku meninggalkannya. Kala itu, setiap saat aku merindukan dia."
"Kenapa kamu memilih pergi Na? Aku yakin kalau Risma pasti akan menerima keberadaanmu jika dia melihat bagaimana perasaan Ardhi untukmu."
"Sulit untuk bertahan Ra, aku tidak kuat melihat rasa sakit Risma. Ilmiah saja, takdirnya begitu kejam, aku tidak sanggup menambah rasa sakitnya."
"Sudah terlalu banyak sejarah yang mengukir rasa sakit istri pertama karena istri kedua. Aku tidak mau menambah jumlahnya. Biar aku pergi membawa semua rasa cintaku, aku berharap setelah aku pergi Risma dan Ardhi benar-benar bahagia."
"Impianmu terwujud, saatnya menyelesaikan semuanya." Nara langsung memeluk Ishana.
__ADS_1
Ishana melepaskan pelukan mereka, dia melangkah menuju lemari dan mengambil sesuatu dari laci. Matanya memandangi jeli setiap tulisan yang ada pada kertas itu. Perlahan jemarinya menandatangani kolom yang bertuliskan namanya.
"Tandatangani apa kamu Na?" tanya Nara.
Ishana memperlihatkan kertas yang dia tandatangani. "Tinggal meminta kak Ardhi menandatanganinya, setelah itu kita semua bebas dari belenggu ini."
"Aku sudah lama mempersiapkan ini Ra."
"Semoga Risma dan Ardhi bahagia, dan kamu juga."
"Aamiin."
*****
Jam sudah menunjukkan jam 12 malam, Risma belum bisa memejamkan matanya, dia sangat tidak terima jika Ardhi menceraikan Ishana.
Tidak ada madu yang sebaik Ishana, dan Risma ingin memperbaiki semuanya.
"Belum tidur sayang?" Ardhi terkejut melihat Risma masih duduk di sisi tempat tidur.
"Mas, aku mohon, tahan dulu mas, jangan buru-buru melepaskan Ishana."
"Buat apa menahannya? Kamu dan Ishana sama-sama sempurna, kalian berdua berhak menjadi ratu satu-satunya dalam kehidupan rumah tangga."
Ardhi bisa melihat, kalau Risma masih tidak siap jika dia benar-benar melepaskan Ishana.
"Ris, kamu lupa keegoisan kita semua mengacaukan segalanya. Saat ini, ikhlaskan Ishana, dia punya kehidupan yang lebih baik daripada bersama kita."
"Aku bukan orang istimewa yang bisa memberimu dan Ishana kebahagiaan. Jika aku menginginkan hal itu dan memaksakan kehendakku, yang ada aku hanya menyakiti kalian berdua."
"Poligami, menurutku hanya sanggup dilakukan oleh orang-orang istimewa, aku, kamu, dan Ishana, tidak akan sanggup."
Ardhi berusaha membuat Risma siap. Dia mengerti kalau Risma merindukan Ishana, apalagi Ishana memiliki berlian yang sangat berharga, Rian dan Dina, membawa Ishana kembali, maka Dina dan Rian akan tumbuh bersama dengan Dhifa.
"Baik mas, aku tidak akan menahanmu untuk melepaskan Ishana, bisakah mas menandatangani surat itu setelah liburan kita berakhir?"
"Aku ingin mas dan Ishana benar-benar yakin kalau kalian tidak saling mencintai lagi."
Ardhi menghela napasnya. "Jika kamu hanya ingin mengetahui keadaan hati kami, aku akan buktikan, nanti aku akan menemui Ishana."
"Makasih mas."
"Yakin kamu nggak akan sakit?"
"Kata dalam sebuah film, rasa cinta dan rasa sakit itu satu paket, dan aku siap."
"Aku mencintaimu bukan hanya saat senang, aku mencintaimu dalam setiap keadaan."
***
Matahari masih belum menampakkan sinarnya, tapi Dhifa begitu semangat ingin melanjutkan petualangannya.
__ADS_1
"Dhifa sayang, Dhifa masih ingat sama mama Ishana?" tanya Risma.
"Masih bund, kan kita sering ke makam mama Ishana."
"Ternyata, yang meninggal itu orang lain sayang, mama Ishana masih hidup, dan dia ada di pulau ini."
"Beneran bund?"
"Bukan cuma itu, Dhifa juga punya 2 adik."
"Aku pengen ketemu mama Ishana, bund"
"Tentu boleh, yukk ajak Ayah, kita ikut sarapan di rumah mama Ishana aja."
"Apa?" Ardhi tidak percaya dengan ajakan Risma.
"Ayolah Ayah ...." rengek Risma.
"Malu bunda pagi-pagi bertamu ke sana."
"Ngapain malu? Kan dia masih sodara bunda?"
Ardhi terpaksa menyetujui permintaan Risma dan Dhifa.
"Oma mau ikut?" tanya Dhifa.
"Oma di sini saja."
Mereka bertiga pun pergi menuju kediaman Ishana.
****
Saat yang sama, Nara terburu-buru bersiap untuk pergi meninggalkan rumah Ishana, tunangannya sudah menjemputnya. Padahal Ishana kerepotan sendiri di rumahnya, namun urusan pribadinya juga penting.
"Maafin aku ya Na, bukan maksud aku gak mau bantu kamu," sesal Nara.
"Kamu fokus urusan kamu, urusan aku, aku bisa minta bantuan Jully."
Setelah Nara pergi, tidak berselang lama mobil yang membawa keluarga Ardhi memasuki kediaman Ishana. Para pelayan sudah mengetahui kalau tamu itu dapat izin masuk rumah majikan mereka kapan saja, mereka pun mempersilakan tamunya masuk.
Niat Risma dia ingin mengejutkan Ishana. Mereka sengaja masuk diam-diam melihat Ishana memunggungi mereka.
"Jull, kamu bisa bantu aku?"
Mengetahui Ishana tengah berbicara dengan Jully, hati Risma berdenyut.
"Oh, kamu dinas ya."
"Nggak apa-apa, aku cuma kangen kamu."
Ardhi menatap pada Risma, berharap perempuan itu sadar, kalau hati Ishana tidak ada tempat untuk Ardhi.
__ADS_1