
Risma beridiri di balkon yang ada di sisi kamarnya, memandangi keadaan langit yang begitu gelap. Angin begitu deras berhembus.
Risma memikirkan dirinya sendiri, rasanya kedua kakinya tidak mampu menopang bobot tubuhnya, jika mengingat hal-hal yang dia lalui sebelumnya.
Kenapa Tuhan memberinya ujian seberat ini?
Apa tidak cukup dengan Ishana dalam rumah tangganya?
Ishana yang dia percaya, dan dia yakin tidak akan merebut Ardhi saja sangat melukai hatinya.
Sekarang ditambah kehadiran Eva yang ambisius.
Risma tidak kuat lagi berada di balkon itu, dia segera merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
***
Di kamar Eva.
Eva menyadari kesalahannya, dia segera melahap habis potongan mangga muda yang sama sekali tidak seperti ekspektasi -nya.
"Maafkan aku, bukan maksudku begitu," ucap Eva penuh penyesalan, namun laki-laki itu hanya diam.
Menghindari kegaguan ini, Eva lebih memilih menghubungi Ishana, menanyakan di mana wanita itu memperoleh mangga yang membuat air liurnya terus menetes jika terbayangkan kenikmatan mangga muda yang Ishana berikan.
Maaf aku baru balas, aku belum selesai, jadi tidak fokus pada handphone-ku.
Mangga muda yang minggu lalu, aku memetik langsung dari pohonnya.
Eva hanya bisa menelan saliva-nya, hari sudah malam, bagaimana mungkin dia meminta tolong ingin mangga muda yang langsung di petik dari pohon.
"Bagaimana? Ishana sudah kasih tau?"
Pertanyaan Ardhi membuyarkan lamunan Eva tentang nikmatnya mangga muda pemberian Ishana.
"Ishana bilang, mangganya dia petik langsung dari pohon."
"Pohon mangga siapa?" tanya Ardhi.
"Entah, tapi aku hanya ingin mangga muda yang langsung dipetik dari pohon," rengek Eva.
"Di dapur ada buah mangga muda, tapi aku kurang puas, aku ingin yang dipetik langsung dari pohon ...."
"Ya sudah, besok nanti minta para pelayan mencari pohon mangga yang berbuah."
Eva hanya bisa menarik napasnya begitu dalam. Kecewa, namun dia tidak bisa apa-apa. Entah kenapa dia sangat ingin mangga muda yang dia khayalkan itu sekarang juga, namun meminta Ardhi mencarikan, rasanya dirinya tidak berani. Kejadian tadi pagi masih membuat Eva takut.
Eva menilik kearah jam dinding yang terpajang di dinding kamarnya. Sudah jam 11:30 malam, rasanya dirinya tidak sekejam itu membangunkan pelayan untuk mencari pohon mangga yang berbuah.
"Kita tidur ya sayang, besok nanti kita cari pohon mangga yang berbuah." Eva berbicara sendiri dengan bayinya yang masih bertumbuh dalam rahimnya.
__ADS_1
Di luar rumah, dinginnya hawa malam semakin menusuk kulit, angin pun berhembus begitu kencang, menerbangkan apa saja yang dia lalui. Kilatan cahaya putih juga terlihat berulang kali seakan membelah gelapnya langit malam.
Melihat bayangan kilat dari arah jendela, Ardhi mengintip keadaan di luar rumah lewat jendela kaca yang ada di kamar Eva. "Sepertinya akan turun hujan," gumam Ardhi.
Ardhi segera menuju sofa, dia ingin memejamkan matanya, menyiapkan tenaga untuk menyambut hari esok. Seketika Ardhi melihat kearah tempat tidur. Di sana Eva nampak gelisah. Wanita itu terus membolak-balikkan tubuhya di tempat tidur.
Perlahan Ardhi mendekati Eva. "Ada yang sakit?" tanya Ardhi.
Eva bingung, jujur apa menahan sendiri keinginannya yang menyiksa dirinya.
"Katakan, ada apa?" ucap Ardhi lembut.
"Anak kita, ingin mangga muda yang dipetik langsung dari pohon," rengek Eva. Eva menyembunyikan wajahnya dibalik bantal, dia sangat takut mengatakan keinginannya itu.
Ardhi terdiam. Biasanya Derby yang dia minta mencarikan apa saja yang Eva mau, kali ini Derby berada di luar kota. Dua pelayan Eva perempuan, Ardhi tidak tega meminta mereka kelayapan ditengah malam mencari pohon mangga yang berbuah.
"Ya sudah, aku akan carikan buat kamu," ucap Ardhi.
Laki-laki itu langsung meraih kunci mobil dan dompetnya. Sebelum meninggalkan kamar, Ardhi melempar senyuman manisnya untuk Eva.
Sumpah demi apapun, Eva sangat bahagia melihat Ardhi berjuang untuk mewujudkan ngidamnya. Rasanya lebih indah dari mendapat uang Milyaran dan sebongkah berlian.
"Ardhi ...." pekiknya, Eva sangat bahagia, hingga setetes crystal bening terlepas di pelupuk matanya. Hal yang sangat jarang dia lakukan dengan tulus, selama ini dia menangis karena tuntan peran. Melihat ketulusan Ardhi, Eva terharu.
"Papa kamu nak ...." pekik Eva, sungguh, rasa bahagia itu tidak mampu dia pendam. Jemarinya membelai perutnya yang rata.
"Sepertinya keputusanku melupakan Edwin sangat tepat, memang aku istri ketiga, asal kak Ardhi menerimaku, itu tidak masalah."
***
Ardhi segera memasukkan anak kunci ke lubang kunci tersebut.
Krektektekkk!
Kuncinya belum masuk sempurna, namun kunci pintu utama rumahnya seperti ada yang membuka dari luar. Ardhi mundur beberapa langkah, bulu kuduknya berdiri membayangkan apa yang membuka pintu Rumahnya. Pencuri apa makhluk goib.
Perlahan pintu itu terbuka, Ardhi memasang kuda-kuda untuk melancarkan serangannya. Saat dirinya akan melayangkan serangannya, Ardhi menahannya kala melihat sosok yang ada diantara pintu itu.
"Ini aku kak, bukan pencuri!" pekik Ishana.
Kamu itu pencuri! Pencuri hati aku!
Namun Ardhi tidak berani mengatakan itu. Dia melirik kearah arloji yang melingkar dipergelangan tangannya. "Ini hampir tengah malam, kamu baru pulang?"
"Maaf kak, kan tadi siang sudah aku katakan, mungkin pulang larut malam."
"Owh ...."
"Kakak sendiri, kenapa tengah malam ingin keluar rumah?"
__ADS_1
"Eva, dia tidak bisa tidur terbayang buah mangga yang dipetik langsung dari pohonnya." Ardhi menghempas kasar napasnya. "Di mana aku mencari pohon mangga yang berbuah malam-malam begini."
Ishana berusaha mengingat arah chating dia bersama Eva.
"Eva bilang, mangga pemberianmu minggu lalu, sangat nikmat, dia terus terbayang itu."
"Owh, itu mangga yang ada di rumah Dokter Jully, waktu itu acara perpisahan dia di rumahnya, aku terbayang Eva kala memandangi buah mangga yang begitu lebat, lalu aku meminta beberapa biji untuk Eva."
Ardhi terpukau, Ishana masih memikirkan perempuan lain yang menjadi madunya.
Sedang Ishana merasa bodoh, Dirinya tidak mengerti arah chat Eva yang terus menanyakan mangga itu. "Aku tidak tahu, apakah pohon mangga itu masih berbuah, walau berbuah pun, aku tidak bisa bantu, dokter Jully sudah pindah ke luar kota."
"Aku akan tanyakan pada Jully apakah mangganya masih berbuah." Ardhi begitu semangat mencari kontak nomor telepon Jully, dia pun langsung menghubungi nomor itu.
"Maaf Jull, bukan maksudku mengganggu istirahat malam kamu, tapi Eva istriku ngidam. Dia ingin buah mangga muda yang dipetik langsung dari pohonnya. Apakah pohon mangga di rumahmu masih berbuah?"
"Masih, di rumah ada satpam, nanti aku telepon dia untuk membukakan pintu gerbang untukmu."
"Terima kasih Jull."
Ardhi dan Jully menyudahi percakapan telepon mereka.
"Bagaimana?" sela Ishana.
"Masih berbuah, aku ke rumah Jully dulu."
"Mau aku temani?" tawar Ishana.
Ardhi sangat bahagia mendapat perhatian Ishana.
Tentu saja mau!
Tapi dirinya terlalu munafik untuk berkata mau.
"Kalau kamu tidak keberatan, aku sangat senang ada teman ngobrol di jalan."
Ishana tersenyum. Keduanya pun segera menuju mobil Ardhi.
***
Plapp!
Kilatan cahaya putih itu terus membuat garisan di gelapnya langit malam. Membuat tubuh Ishana beberapa kali terperanjat.
"Mendung banget." Ishana mengamati keadaan langit melalui kaca mobil Ardhi.
"Iya, dari tadi kilat bikin jantung mau copot," ucap Ardhi.
Baru setengah perjalanan mereka tempuh, tiba-tiba hujan turun begitu deras dan disertai angin kencang. Ardhi terpaksa melambatkan laju mobilnya. Karena pandangannya terbatas.
__ADS_1
"Waduh hujan, di mobil payungku ketinggalan di kantor pula," keluh Ardhi.
"Semoga pas sampai di rumah dokter Jully hujannya sudah reda," ucap Ishana.