Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 77


__ADS_3

Kehidupan terus berlanjut, mencoba terus melangkah dan menerima segala takdir yang telah terjadi. Mengikhlaskan masa yang telah berlalu. Hari minggu, semua orang menikmati waktu libur mereka.


Ardhi duduk di sofa tamu, sambil memegang sebuah undangan yang ada ada di tangannya. Teriakan Dhifa dan Dina sedikitpun tidak mengusik pemikirannya.


"Kopinya kak." Ishana meletakkan secangkir kopi di atas meja yang dekat dengan Ardhi.


Huh ….


Ardhi membuang napasnya begitu kasar. 


"Na, aku mendapat undangan anniversary pernikahan temanku, kamu bersedia menemaniku?"


Ishana tersenyum mendengar pertanyaan Ardhi. "Aku ini istri kakak, kemana pun kakak ingin membawaku, aku pasti ikut, jika kakak maunya aku ikut."


"Bukan begitu Na, masalahnya Erlanz adalah sahabat aku dan Jully juga, kami kuliah di satu Universitas, tapi beda jurusan."


Mendengar nama Jully seketika senyuman di wajah Ishana lenyap.


"Tuh kan …." Ardhi bisa menangkap aura ketidak nyamanan Ishana. "Kalau kamu tidak ingin melihat Jully, aku tidak akan hadir. Karena tidak menutup kemungkinan Jully juga hadir."


"Jika Erlanz penting bagi kakak, aku siap menemani kakak."


"Beberapa tahun lalu, dia kecelakaan di pabrik milik istrinya, setelah itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, jadi menghadiri pesta hari jadi pernikahannya, bagiku penting. Apalagi menurut berita yang beredar, Erlanz kehilangan ingatannya."


"Ya sudah, kita hadiri saja."


"Kita nanti jalan-jalan, sekalian cari kado untuk Erlanz dan istrinya Nadien."


"Iya kak."


Hari itu berlalu begitu indah, Ardhi seharian jalan-jalan membawa ketiga anaknya dan istrinya. Sedang dou nenek itu menghabiskan waktu dengan hobi mereka berkebun di pekarangan rumah Rita.


*****


Dhifa, Dina, dan Rian sudah bersama dua nenek mereka. Shafina mengalah, dia harus menginap di rumah Rita malam ini, untuk menjaga cucu-cucu mereka. Karena kedua orang tuanya akan pergi berduaan.


Ishana masih sibuk di ruang ganti pakaian, mengenakan gaun yang dibelikan Ardhi. Sedang Ardhi sudah terlihat rapi, dia hanya perlu menyelesaikan hal terakhir, yaitu memasang dasi kupu-kupu untuk melengkapi setelan jas yang dia kenakan.


Ishana keluar dari ruang ganti, dengan gaun warna hitam yang sangat pas di badannya. Dia langsung menghampiri Ardhi yang terlihat kesulitan. "Sini aku bantu kak." Tanpa permisi, Ishana langsung mengambil tugas Ardhi, hanya hitungan detik, dasi kupu-kupu itu melekat sempurna.


"Sudah kak." Ishana memastikan letaknya tidak miring.


"Kamu cantik sekali Na. Pantas saja Risma sangat tidak ikhlas kamu menjadi milik orang lain, kamu tau, saat kamu akan menikah waktu itu, Risma begitu sakit hati."


"Itulah cinta tulus seorang wanita kak, walau dia tidak bisa mendampingi orang yang dia cinta, dia ingin orang yang dicintainya terus bahagia, walau dia tak disisinya lagi."

__ADS_1


Ardhi merengkuh tubuh Ishana, hingga badan mereka menempel. "Dan aku sangat bahagia. Aku menjadi laki-laki yang sangat beruntung karena mendapatkan cinta kalian berdua, dan bisa memiliki kamu dan Risma."


Seketika keadaan menjadi hening, karena mulut mereka sibuk dengan kegiatan lain.


"Na …."


Suara teriakan Shafina membuat Ardhi dan Ishana harus menyudahi kegiatan mereka.


"Gawat! Lipstik kamu nempel?" Ardhi memastikan.


"Enak aja! Ngaca sana!" Ledek Ishana.


Ishana segera membukan pintu kamarnya untuk ibunya, sedang Ardhi memastikan wajahnya, dia malu jika lipstik Ishana pindah ke bibirnya. Ardhi bernapas lega, karena polesan merah itu tidak berpindah sedikitpun.


"Ada apa ma?" tanya Ishana.


"Anak-anak kami bawa dulu jalan-jalan, kalau mereka lihat kalian pergi berdua, yang ada mereka ngamuk," ucap Shafina.


"Iya mah, tapi sama Pak Abim juga ya. Aku takut kalian kenapa-napa, kalau hanya ada dua nenek cantik yang menjaga mereka," sela Ardhi.


"Takut mereka diculik?" Ledek Shafina.


"Bukan, takut neneknya di culik," balas Ardhi.


"Na, aku kangen berpetualang bersama kamu di setiap sudut rumah ini Na."


"Mau sekarang?" goda Ishana.


"Sekarang kita ke pesta dulu, kalau ada kesempatan, nostalgia di mobil juga bikin merinding Na."


Ishana tersenyum dan mencubit perut Ardhi.


"Awh!" Ardhi tertawa dan menarik Ishana kedalam pelukannya.


****


Ardhi dan Ishana sampai di kediaman kedua orang tua Erlanz, sesampai di sana mereka disambut Erlanz dan istrinya. Benar saja, Erlanz tidak mengenali dirinya lagi, namun Ardhi tetap memberi semangat pada Erlanz.


"Terima kasih Dhi, sudah memenuhi undangan kami," ucap Erla, adik dari Erlanz.


Ardhi pun menikmati pesta temannya yang terasa asing itu. Tangan Ardhi terus menempel di pinggang Ishana, seakan mengatakan pada Dunia, ini adalah milikku. Tanpa Ardhi sadari, ada yang merasa sesak melihatnya tampil mesra bersama Ishana.


Siapa dia?


Dia adalah Jully, berulang kali Jully mengalihkan perhatiannya agar tidak menoleh pada Ishana. Tapi sangat sulit, walau melihat kearah itu sakit, tapi dia tidak bisa meminta matanya untuk berhenti memandangi Ishana.

__ADS_1


"Kakak tidak nyaman ya karena ada mereka?"


Pertanyan Dewi menyadarkan Jully kalau dirinya tidak sendirian.


"Enggak Dew, nggak apa-apa, justru aku bahagia karena aku juga bahagia bersamamu."


Dari arah lain, Ardhi mulai menyadari kehadiran Jully bersama istrinya, dia segera menarik Ishana ke sudut yang terlihat sepi.


"Ada apa kak? Jangan bilang kakak minta jatah di sini," ucap Ishana.


"Bukan, tapi ada Jully di sini bersama istrinya."


"Biar saja, lagian aku istri kakak. Biar saja Jully bersama istrinya."


"Kamu nggak akan sakit atau sedih?"


Ishana menggelengkan kepalanya.


"Jully menikahi istrinya semata ingin menolong wanita itu, bukan karena cinta." Ardhi mulai menceritakan kenapa Jully menikahi istrinya.


"Apapun sebab mereka menikah, itu karena mereka memang jodoh." Ishana mencoba meyakinkan Ardhi.


"Inilah takdir kak, Jully memang jodoh wanita itu, dan kakak adalah jodohku, menikah dengan kakak, banyak berkah yang aku dapat. Kedua anakku bisa berkumpul Ayah kandung mereka, tugas mama pun ada yang melanjutkan. Masa lalu biarlah berlalu, yang penting kita menata masa depan kita kak, aku dan kakak, anak-anak, juga orang tua kita."


Ardhi semakin menyudutkan Ishana pada tiang yang ada di dekat mereka. Ingin sekali menerkam wanita yang berada di depan matanya.


"Selamat malam semua, malam ini kita bersama dalam acara hari jadi pernikahan yang ketiga tahun, Lanz dan Nadien ...."


Ishana mendorong tubuh Ardhi. "Itu acaranya mau mulai, yuk kita ke tempat acara."


Suara sambutan host membuat Ishana dan Ardhi menyudahi percakapan mereka. Mereka pun segera bergabung dengan tamu undangan yang lainnya.


"Malam ini, kita akan mengadakan pesta dansa, eits! Ini bukan pesta dansa biasa, pesta dansa ini acak, di mana kita akan membagi semua tamu malam ini jadi dua kelompok, dan kalian akan menjadi pasangan dansa dengan rekan kalian yang memiliki warna pita yang sama."


Semoga saja aku tidak berpasangan dengan Jully. Rintih hati Ishana.


"Kalau aku memeluk pinggang wanita lain, kamu jangan cemburu ya," canda Ardhi.


"Kita lihat saja nanti, siapa yang cemburu" tantang Ishana.


Host meminta posisi laki-laki dan perempuan untuk sementara di bagi dua, agar mudah membagikan pita tersebut. Potongan pita pun mulai dibagikan.


****


Kalau pernah baca karya aku "Terlambat Sudah" pasti tahu siapa Erlanz dan Nadien. Ini pas acara Anniversary Nadien dan Lanz, kalau tidak salah, pada bab Rencava Elvina dan Erla. Tapi pada bab itu, tidak ada bahasan Ardhi dan Ishana ya.😂

__ADS_1


__ADS_2