
Ishana hanya diam, ingin sekali merayu Risma, agar wanita itu setuju. Dirinya memahami dilema Eva. Jangankan Eva yang tengah hamil, dirinya saja merasakan hal yang sama seperti Eva, ingin berada sepanjang waktu bersama laki-laki yang menghuni hatinya.
Risma masih betah membisu. Hatinya kalut, dia tidak rela Ardhi membagi waktunya, saat ini dirinya sudah sangat bahagia, karena dirinya selalu diutamakan Ardhi.
"Ma ...." Ardhi berusuha membuat Rita mengerti. "Hanya 2 malam saja yang kosong buat Eva, biarkan aku bersama Risma, sudah terlalu besar pengorbanan Risma untuk kita semua."
"Mama tidak akan campur tangan dengan caramu mengurus istrimu, hanya saja saat ini Eva hamil, mimpi papamu sedikit lagi terwujud."
"Harusnya kamu berterima kasih sama mama, pilihan mama bisa hamil lebih cepat, sedang istri pilihan istrimu, tidak memberi apapun pada keluarga ini, yang ada kamu keluar banyak untuk melunasi hutang papanya dan menanggung pengobatan papanya."
Rita memandang sinis kearah Risma dan Ishana. "Owh, apa jangan-jangan Risma memang sengaja memilih Ishana, agar sahabatnya ini bisa menikmati apa yang dia nikmati?"
"Mama ...." Ardhi berusaha memperingatkan mamanya secara lembut.
"Mama hanya ingin kamu memerhatikan bayi yang Eva kandung, Eva hamil hanya 9 bulan! Bukan Selamanya, hanya waktu itu kamu masih tidak mau mengalah demi Eva?"
"Kamu juga Risma! Mencarikan istri untuk Ardhi malah lebih payah darimu!"
"Kamu tidak bisa hamil karena tidak punya rahim! Sedang Ishana lebih payah! Punya rahim tapi tidak bisa memiliki anak!"
"Owh, apa kamu tau kalau sahabat kamu memang mandul? Kamu pilih dia biar ada laki-laki yang menerima dia apa adanya?"
"Mama cukup!" Ardhi tidak tahan mendengar hinaan mamanya yang tertuju pada Ishana dan Risma.
"Kenapa? Kamu kira mama bodoh?"
"Mama lihat Ishana tidak seperti istri kamu, tapi pelayan istrimu yang mandul itu!"
"Owh, atau pernikahan kalian pura-pura?" Rita tertawa sinis. "Tapi mama kamu ini lebih cerdas dan mendatangkan Eva, hingga Eva menjadi malaikat penolong bagi mama."
Pandangan mata Rita kembali tertuju pada Risma. "Ternyata kamu munafik Risma! Kamu bilang rela berbagi, ternyata kamu memilih perempuan yang selalu ngalah sama kamu. Apa gunanya? Karena selalu kamu yang berkuasa diatas segalanya!"
"Kemunafikan berkalung ketulusan!" maki Rita.
Risma hanya bisa menelan saliva-nya, menahan rasa sakit atas penghinaan ibu mertuanya, bukan penghinaan, tapi memang nyata dirinya tidak ikhlas berbagi.
"Okey, mulai malam ini, aku akan bermalam di kamar Eva, sampai dia melahirkan!"
"Dari tadi kek, kamu ini suka banget bikin tensi mama naik!"
"Mama, jangan seperti ini mah." Eva mendekati Rita dan memijat lembut pundak Rita.
"Mama seperti ini demi cucu mama, 4 kali kehilangan cucu membuat mama sangat trauma." Rita meraih tangan Eva dan menciumnya lembut. "Apapun yang kamu inginkan, katakan saja sayang, jangan dipendam seperti tadi siang."
Eva memandangi Ardhi, Ishana, dan Risma bergantian. "Maafkan aku, semua ini di luar kendaliku, aku hanya ingin Ardhi bersamaku setiap malam, maafkan aku." Eva kembali menangis.
"Cup, cup cup sayang ... jangan begitu, wajar kalau kamu menginginkan itu, mama juga sewaktu hamil Ardhi, mama malah ikut ke kantor papa, karena mama sangat tersiksa jika tidak melihat papa."
"Tapi posisiku istri ketiga mah, aku harus memahami hati yang lain." Eva masih tenggelam dalam tangisnya.
__ADS_1
"Risma dan Ishana pasti mengerti."
"Maafkan aku, karena kehadiranku keadaan keluarga kalian menjadi kacau, apalagi keinginan ini, aku tidak bisa menepisnya, maafkan aku," ucap Eva lagi.
"Kamu itu malaikat bagi keluarga ini, lihat 2 istri Ardhi tidak berguna! Mereka tidak bisa memenuhi mimpi ini." Rita membelai perut Eva. "Beruntung mama bertemu kamu."
Rita berusaha menenangkan Eva. "Kita ke kamar dulu ya sayang, mama temanin."
Eva mengusap air matanya, dan dia segera menuju kamarnya bersama Rita.
Setelah Eva dan Rita pergi, Risma tidak mampu menahan air matanya. Dia segera pergi dari sana.
"Risma!" Ishana langsung mengejar sahabatnya itu.
Ardhi pun ikut menyusul kedua istrinya, hingga mereka sampai di tepi kolam renang.
Risma masih menumpahkan tangisnya, Ishana maupun Ardhi tidak bisa memeluknya, karena dia tepis.
"Puas kalian?!" Risma memaki Ishana dan Ardhi.
"Ini kesekian kalinya mama menghina aku, karena pilihanku yang tidak bisa memberi keturunan." Tangis Risma semakin memekik.
"Apa susahnya melakukan itu?"
"Ris ...." Ishana berusaha mendekati sahabatnya.
"Cinta kalian padaku?"
"Kalian melakukannya atau tidak sama saja, sama-sama sakit!"
Ishana dan Ardhi hanya diam mendengar keluhan Risma.
"Andai kamu di posisiku, apa kamu juga bisa melakukannya?" Ishana membuka suaranya.
"Di mata kak Ardhi, hanya ada dirimu, di setiap detak jantungnya adalah namamu, bagaimana aku melakukannya?"
"Kamu kira kami sengaja tidak melakukannya? Kami sering mencoba Ris, tapi gagal!" Air mata Ishana pun tertumpah.
"Dalam setiap helaan napas kami, terucap nama yang sama. 'Risma' Kami bisa apa?"
"Aku sakit, kala mama bilang kalau kamu seperti pelayanku," isak Risma. "Apa sangat susah untuk menjalani kewajiban seorang Istri?"
"Bukan susah, tapi berat!"
Berat Ris, karena hatiku mencintai kak Ardhi.
"Baiklah, mulai sekarang, aku janji akan bersikap sebagai istri kak Ardhi. Tapi ingat, semua yang terjadi di depan, karena kamu yang mau." Ishana segera pergi dari sana, meninggalkan Ardhi dan Risma.
Perlahan Ardhi mendekati Risma dan menarik wanita itu kedalam pelukannya. "Maafkan aku, karena rasa cintaku telah membuatmu sakit dan terhina."
__ADS_1
Risma tidak menjawab, dia hanya menangis dan menangis.
"Mama sudah mendapatkan mimpinya, sekarang tinggal kita."
Risma melepaskan diri dari pelukan Ardhi. "Maksud mas?"
Ardhi meraih kedua telapak tangan Risma, dan menggenggamnya erat. "Kita pergi dari rumah ini, hanya kita, kau dan aku."
"Sekarang kebahagiaan papa dan mama adalah Eva dan bayinya."
"Ishana?"
"Dia masih bersegel, aku akan lepaskan dia, dan kita bangun kembali istana kecil kita, jauh dari sini."
Hati Risma luluh dengan kesungguhan Ardhi, demi dirinya Ardhi berani meninggalkan kedua orang tuanya. Tapi keinginan Risma, dia bahagia berdua bersama Ardhi dan anak Ardhi, juga kedua mertuanya. Dia tidak mau hanya berdua, karena itu sangat rawan.
Risma takut, suatu saat nanti Ardhi goyah dan melupakannya.
"Kita bisa lari kemana saja, tapi keluarga tetap ada dalam hati kita."
"Tapi berada di sini, kamu hanya tersiksa, kamu sendiri tau, sampai kapanpun aku tidak akan menentang mama secara berhadapan, dengan pergi, aku tidak menentangnya, hanya menghindarinya."
"Tidak perlu pergi mas, dengan mas masih cinta sama aku, itu sudah cukup."
"Tapi ada Eva dan Ishana, tidak ada alasan untuk aku melepaskan mereka, hingga tidak ada jaminan kalau cintaku tetap utuh untukmu, ini hati sayang."
"Tapi di hati mas hanya ada aku." Risma kembali memeluk Ardhi.
Ada Ishana juga, aku mengajakmu pergi bukan hanya menjauh dari papa mama, tapi juga menjauh dari Ishana, semakin hari aku semakin mencintai dia.
"Di tunggu dari tadi! Ternyata kalian di sini!"
Makian pedas itu seketika membuayrkan keindahan yang tercipta.
"Cepat temani Eva, tidak ada faedahnya kamu menghabiskan malam dengan wanita madul ini!" maki Rita.
"Mama sudah janji tidak akan memanggil Risma dengan sebutan itu," protes Ardhi.
"Kan mama bilang tergantung, kalau kalian buat mama marah, bahkan lebih pedas dari itu akan mama ucapkan."
"Permisi ma, aku mau menyusul Eva, sekarang."
Emosi Rita seketika padam.
"Permisi juga ma, aku ingin ke kamar," pamit Risma.
**
Sedang di kamar Eva, wanita itu segera merias diri, saatnya dia menjalankan strateginya.
__ADS_1
Harapannya, tidak mengapa saat ini Ardhi menjalankan tugas batinnya karena alasan ngidam, suatu saat, Eva berharap Ardhi melakukan itu, karena menginginkannya.