Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 64 Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Seminggu bersama diacara perkemahan, membuat ikatan darah yang mengalir di tiga tubuh yang berbeda menjadi semakin erat, hari terakhir perkemahan, artinya semakin dekat pula perpisahan mereka.


"Aku gak rela berpisah sama kalian," rengek Dhifa.


"Aku juga," sahut Dina.


"Kita saudara, kenapa kita tidak bisa tinggal serumah?" gumam Rian.


"Kata bundaku, sebenarnya kita bisa tinggal bersama, asal mama Ishana dan papa Ardhi mau menikah lagi," ucap Dhifa.


"Itu tidak mungkin, karena om dokter yang akan menikahi mama kami," sela Dina.


Dhifa melamun, otaknya memikirkan bagaimana mereka tetap bisa bersama, tanpa memaksakan keinginannya, nasehat Ayahnya selalu dia ingat, tidak semua hal yang diinginkan harus terwujud. Ada sabar untuk proses menunggu ikhtiar mewujudkan keinginan, dan ada ikhlas, jika keinginan itu tidak bisa di raih.


"Kita bisa ketemuan kalau kalian pindah ke kota kami." Dhifa memandangi Dina dan Rian bergantian. "Oma kalian itu punya segalanya, membantu kalian pindah, bukan hal sulit bagi dia."


"Kota tempat tinggalku, adalah kota masa kecil orang tua kita, bunda selalu menceritakan masa kecilnya bersama mama Ishana di Panti Asuhan, apa kalian tidak mau tahu bagaimana kota asal mama Ishana?"


Dina tergoda dengan ucapan Dhifa. "Sepertinya, kita harus rayu oma, bang," ucap Dina.


"Aku setuju!"


Ketiga anak kecil itu punya rencana sendiri, dan khayalan mereka, berharap bisa tinggal di kota yang sama nantinya.


Akhirnya hari yang Dhifa, Dina, dan Rian ingin tunda kini hari itu tiba. Perkemahan itu berakhir, tandanya mereka akan berpisah. Walau demikian mereka semua punya kesan masing-masing setelah melewati perkemahan ini. Para orang tua sudah berdatangan sejak pagi menunggu putra-putri mereka. Tidak terkecuali Ishana dan Jully, juga Ardhi dan Risma.


Seperti acara tahun-tahun sebelumnya, para peserta perkemahan unjuk kebolehan sekaligus acara perpisahan.


Risma, Ishana, Jully, dan Ardhi. Mereka sangat bahagia menyaksikan bakat semua anak-anak yang mengisi pertunjukan, walau fokus mereka hanya pada anak-anaknya.


"Bagaimana anak-anak kita, setelah berpisah nanti?" gerutu Risma.


"Entahlah, tapi kita semua masih bisa berhubungan via video call."


Di depan mereka pertunjukkan semua anak selesai, semuanya berlari menuju orang tua masing-masing.


"Mama, kenapa kita tidak pindah saja? Walau kami tidak serumah, tapi kami bisa terus bertemu," usul Dina.


Ishana menoleh kearah Jully, kemana mereka tinggal, saat ini keputusannya bersama Jully.


"Iya mah, kenapa kita tidak pindah saja? Ayah Ardhi pindah kesini, itu tidak mungkin, karena dia pengusaha, susah buat pindahin perusahaan Ayah ke sini, gimana kalau pulau ini tenggelam? Kata Dhifa kantor Ayah Ardhi itu gedung yang tinggi. Kalau om dokter kan tidak perlu mindahin Rumah Sakit, tinggal om aja pindah Rumah Sakit." Rian menambahi.


Risma tersenyum mendengar permintaan anak Ishana. "Anak-anakmu benar Na, kenapa kalian tidak pulang saja?"


"Tidak mudah mengurus kepindahanku Ris," sela Jully.

__ADS_1


"Jika kalian mau, tidak ada yang sulit Jull, di sana kedua orang tuamu masih ada, adikmu juga masih ada, sepertinya lebih baik kalian semua kembali," tambah Ardhi.


"Aku tidak meminta kamu untuk pindah Jull, tapi jika kamu ingin, ku rasa mama tidak akan keberatan untuk pindah dan kita semua pergi meninggalkan pulau ini," tambah Ishana.


*


Setelah kembali ke rumah, Ishana segera menghubungi Shafina, menceritakan keinginan Dina dan Rian.


"Kemanapun kamu, mama ikut Na. Kebahagiaan mama itu kamu dan kedua anakmu."


"Suara mama lemah, apa mama sakit?"


"Mama hanya lelah, makanya mama liburan dulu," kilah Shafina. Padahal saat ini dirinya masih terbaring di Rumah Sakit.


Mendengar jawaban Shafina, Ishana dan Jully sepakat untuk kembali ke kota mereka, Ardhi dan Risma turut membantu semua prosesnya, apa yang sulit bagi orang umum, bagi Ardhi dan Shafina, itu hal yang mudah.


Hari terakhir Ardhi bersama keluarganya di pulau Bunga. Dina dan Dhifa terlihat sangat sedih, karena mereka belum siap untuk berpisah.


"Dina, jangan menangis, nanti kami akan datang ke kota kamu dan menetap di sana." Rian mencoba menyemangati dua saudaranya.


"Iya Dina, Dhifa, om dokter dan mama Ishana lagi urus semuanya, jadi Dhifa pergi duluan sama Ayah, nanti kita tunggu kedatangan Dina di kota ya sayang," sela Ardhi


Sebenarnya Dhifa tidak rela berpisah, bersama Rian dan Dina dunianya menjadi lebih berwarna, namun mengingat mereka akan bertemu lagi, keduanya menyudahi tangisan mereka.


"Sampai jumpa, Dhifa." Dina melambaikan tangannya melepas kepergian Dhifa.


****


2 bulan berlalu.


Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Waktu yang sama, bermacam proses berjalan bersamaan, perceraian Ishana dan Ardhi, proses izin pindah Jully untuk kembali ke kotanya, juga mengurus surat-surat yang lainnya.


Dulu kebersamaan mereka terjalin demi mendapatkan kebahagiaan karena hadirnya keturunan, kali ini kebersamaan mereka terjalin demi kebahagiaan anak-anak mereka.


Shafina membeli sebuah rumah mewah untuk tempat tinggal mereka di kota Ardhi, bisnis di pulau Bunga, dia percayakan pada anak buahnya, bukan hanya itu, banyak Perusahaan yang dia percayakan pada orang lain, tentang bagaimana hasilnya dia pasrah, yang penting perusahaan yang dia pegang cukup untuk menununjang kehidupannya, dan bisa bersama dengan anak, cucunya. Shafina hanya memegang beberapa perusahaan yang mampu dia jalankan dari jauh.


Akhirnya hari yang dinanti tiba, Ishana dan keluarganya menginjakkan kaki di Bandara kota Ardhi.


"Akhirnya aku pulang ke rumah." Ishana memandangi keadaan sekitar bandara.


"Dina! Rian!"


Teriakkan anak kecil itu membuyarkan lamunan Ishana, dari kejauhan, terlihat Nara, Pajri, Ardhi, Risma, Rita, dan Dhifa yang berjalan kearahnya.


"Kenapa kalian lama sekali?" jerit Dhifa, rasanya jari-jari tangannya tidak cukup untung menghitung hari-hari yang berlalu menunggu kedatangan kedua adiknya.

__ADS_1


Ishana berjongkok menyambut Dhifa. "Maafkan kami sayang, semua butuh waktu, dan sekarang kami datang."


"Kebiasaan dia ya Ris, kalau ada yang mencolok bilang rindu sama dia, dia jadi gak lihat sama yang abu-abu kayak kita, yang juga merindukannya," protes Nara.


Ishana segera menegakkan badannya, menyapa semua orang yang ada, dan mengampiri kedua sahabatnya. "Sahabatku ...." Mereka bertiga berpelukan. Pelukan itu hanya sebentar, Ishana melepaskan pelukannya, dia memandang jeli keadaan Risma. "Kamu kurusan Ris, kamu sakit?"


"Gendutan salah, kurusan juga salah." Risma memasang wajah cemberut.


"Kurus atau gemuk, aku gak masalah, yang penting sehat Ris." Mereka bertiga berpelukan kembali.


"Selamat datang kembali Jull." Ardhi langsung menyambut Jully. "Keluargamu tidak menjemputmu?"


"Owh, aku tidak bilang kalau akan kembali, aku ingin memberi kejutan pada mereka." Wajah Jully terlihat begitu bahagia.


"Kejutan kasih menantu buat kedua orang tuamu?" tanya Ardhi.


"Itu salah satunya, kepindahanku, aku belum kasih tau mereka, biar ini kejutan buat Ayah dan ibuku, juga adikku."


"Rencana pernikahan kalian bagaimana?" sela Rita.


"Jika semua urusan Ishana dan Ardhi selesai, maka rencana pernikahan kami juga akan dikebut, tante."


"Dari sini, kalian semua mau kemana dulu?" tanya Pajri.


"Dari sini aku mau ke makam Ayah dulu," sahut Ishana.


"Mama setuju, dia adalah pahlawan bagi kamu sayang," tambah Shafina.


"Kalau aku langsung pulang ke rumah kedua orang tuaku boleh?" sela Jully.


"Tentu saja boleh, kamu melupakan orang yang memberimu cinta, demi orang yang kamu cinta," sahut Ishana.


"Aku tidak lupa weih, aku pulang--"


"Tapi setahun dua kali, apa-apaan itu," potong Ishana.


Dari Bandara, Jully langsung pulang ke rumah kedua orang tuanya, sedang Ishana sekeluarga, juga Ardhi dan keluarga langsung ziarah ke pemakaman, Ishana ke makam Purnama, Ardhi ziarah ke makam Wisnu.


Sesampai di pemakaman, Ishana langsung menuju pusara Purnama, memanjatkan doa-doa, juga perminta maafannya, karena tidak bisa berada di sisi Purnama, saat menjelang akhir hayatnya.


Sedang di sisi lain, Ardhi, Rita, Risma, dan Dhifa, mereka menuju pusara Wisnu.


Setelah memanjatkan do'a, mereka bertiga menaburkan bunga diatas makam Wisnu.


"Papa, kami datang. Papa tau ternyata Ardhi punya 2 anak kembar pah. Tapi sayang papa tidak sempat melihat mereka." Rita tidak mampu menahan air mata yang tumpah, titik terburuk dalam hidupnya, menyakiti hati perempuan, demi mimpi orang yang dia cinta, sampai kapanpun dia tidak bisa lupa itu, walau Risma memaafkan dirinya.

__ADS_1


Risma sangat bahagia Ishana dan Jully menetap di kota mereka. Dia menatap wajah Ardhi dengan tatapan Sendu.


Andai jodohmu pengganti diriku, masih lama hadir, setidaknya ada Ishana yang menjaga Dhifa.


__ADS_2