Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 48 Perkenalan Anak Kecil


__ADS_3

Kemarahan Adhifa yang tertuju pada Ardhi seketika lenyap, dia sangat bahagia keinginannya berlibur sekaligus berkemah di pulau itu akan terwujud. Beberapa teman sekolahnya sudah sering berkemah di sana, hanya dirinya yang tidak pernah.


Mendengar cerita, dan melihat foto-foto kegiatan di pulau itu, Adhifa sangat penasaran, bagaimana rasanya berkemah kesana.


"Bundaaa." Dhifa berlari menyusul Risma. Dia melangkah mendahului Risma dan tiba-tiba berhenti, membuat langkah Risma juga terhenti.


"Bunda, jangan dibatalin ya."


"Ya enggak dong, semua sudah bunda siapkan, jadi kita berangkat besok pagi."


"Yeayyyyy!"


Namun tiba-tiba Dhifa berhenti berteriak, dia teringat seminggu ini dia mengabaikan Ayahnya.


"Maafin bunda, harusnya bunda cerita seminggu yang lalu, tapi bunda sengaja balas isengin anak bunda yang paling cantik ini."


Dhifa merasa bersalah mengabaikan Ayahnya. Kemarahan yang tadi memenuhi hatinya karena ditinggal terlalu lama, seketika berubah menjadi kerinduan yang sangat besar untuk Ayahnya.


"Bunda, tolong telepon Ayah, aku mau bilang terima kasih sama Ayah."


"Telepon sendiri."


"Pengennya kita bicara bertiga sama Ayah," rengek Dhifa.


"Sebentar, bunda tanya Ayah dulu, bisa apa enggak video call bareng kita."


Selang beberapa menit, handphone Risma berdering, terlihat panggilan Video dari Ardhi masuk pada handphone-nya. Dengan semangat Risma menerima panggilan video. Saat icon warna hijau digeser, terlihat wajah tampan yang sangat dia rindukan di layar handphone itu.


"Halo Ayah ...."


"Halo bunda." Senyuman manis Ardhi hal yang tidak pernah bosan untuk Risma lihat.


"Bunda! Kan aku minta kita video call bertiga, bukan Ayah sama bunda aja!"


Ardhi tertawa mendengar protes dari putri kecilnya.


Layar kamera Ardhi tidak lagi memperlihatkan wajah Risma, melainkan sudut rumah yang tidak menentu.


"Eh, kamu kan lagi marah sama Ayah, jadi bunda aja yang bicara sama Ayah, kan bunda lagi nggak marah sama Ayah."


"Ih ... bunda, aku nggak marah sama Ayah, aku sayang sama Ayah, aku kangen sama Ayah."


Ardhi tertawa mendengar suara anak dan istrinya.


"Ayah!"


"Astaga!" Ardhi terkejut, tiba-tiba wajah Dhifa memenuhi layar handphonenya.


"Ayah, terima kasih banyak. Dhifa makin sayang sama Ayah. muach!"

__ADS_1


"Nggak marah lagi nih?" Ardhi berusaha menggoda putrinya.


"Enggak, mana kuat aku marah sama Ayah."


Risma sesekali ikut berbicara dengan suaminya, obrolan ibu, Ayah, dan anak itu begitu manis. Suara gelak tawa Adhifa memecah kesunyian rumah Ardhi.


"Sampai jumpa 2 hari lagi." Ardhi terpaksa harus menyudahi panggilan video mereka.


"Ayah jangan di tutup dulu, tanpa kata anu," sela Dhifa.


"Kata apa?" Ardhi pura-pura tidak mengerti.


"Buat bunda. Aku janji nggak dengar dan menutup mata aku." Dhifa memejamkan kedua matanya dan menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya.


Ardhi bingung harus mengutarakan apa, melihat wajah Risma semua kata yang dia rangkai dalam hati seketinya lenyap. Keduanya hanya saling pandang, melepas kerinduan lewat tatapan mata mereka.


"Miss you bunda, sampai ketemu lagi." Hanya kata itu yang mampu Ardhi utarakan.


"Bunda juga rindu, sampai ketemu Ayah."


"Bunda jangan berhenti kangen, biar ketemunya nanti berasa sesuatu."


"Sudah selesai ungkapan rindunya?" sela Dhifa.


"Sudah sayang." Risma meraih kedua tangan Dhifa yang masih menutup kedua telinganya.


"Ayah itu malu-malu pengen, kalau nggak di pancing, nanti nggak berani bilang."


"Iya," sahut Dhifa


Ardhi belum menutup obrolan mereka, tapi Dhifa langsung menutup panggilan video mereka.


"Lah, Ayah belum kasih salam sayang."


"Nunggu Ayah akhiri pakai salam, nanti Ayah lupa lanjut kerja, kan senyum bunda mengalihkan dunia Ayah."


***


Hal yang diinginkan Adhifa akhirnya dia dapatkan. Setelah perjalanan panjang mereka, akhirnya mereka sampai di Pulau Bunga, setelah pesawat mereka mendarat, mereka lanjutkan perjalanan dengan menaiki kapal laut menuju Pulau Bunga.


Sesampai di sana, mereka sudah disambut oleh pelayan yang ditugaskan melayani mereka selama di sana.


Ardhi telah memesan vila untuk tempat menginap mereka satu keluarga di sana, melenceng dari rencana awal, mulanya hanya liburan berempat, namun karena tidak bisa berangkat bersama, Risma mengajak Salma dan Pak Abim untuk mempermudah perjalanan mereka nanti.


Saat di pelabuhan tadi, mereka sudah di sambut oleh pelayan mereka, dan para pelayan itu mengantar Risma sekeluarga ke vila yang sudah dipesan Ardhi.


"Sayang, ikut berkemah nanti, pas Ayah sudah datang ya, jadi dua hari ini kita jalan-jalan dulu, bagaimana?"


"Iya Bunda, sudah sampai di pulau ini saja, aku sudah sangat bahagia, pelabuhannya, waw, persis seperti di foto-foto yang aku lihat sebelumnya."

__ADS_1


Mereka semua segera menempati kamar mereka masing-masing. Rasa lelah menghinggapi tubuh mereka, membuat semuanya ingin merehatkan anggota tubuh mereka.


*


Suasana sore hingga malam hari, aktivitas di pulau itu sangat ramai, para pengunjung masing-masing mengabadikan indahnya pemandangan pantai kala matahari tenggelam.


Saat malam menyapa pun, suasana masih terasa menyenangkan. Selalu ada kegiatan para pengunjung di luar di sana.


Risma dan keluarga memilih melihat keramaian sekitar pantai itu dari lantai dua vila yang mereka sewa. Rasa penat itu belum sirna, butuh waktu untuk mempersiapkan diri menjelajahi pulau ini.


Keesokan paginya. Risma mengajak keluarganya sarapan di sebuah Restoran tepi pantai yang tidak jauh dari vila mereka. Hal itu membuat Dhifa sangat bahagia. Sebenarnya dari tadi malam dia ingin memulai petualangannya, namun demi bundanya dia tahan keinginanya.


"Bunda ... kita main ke sana." Dhifa menunjuk kearah tepi pantai.


"Sama mbak Salma dulu ya, bunda masih lapar, oma juga kayaknya masih pengen makan," sahut Risma.


"Ya udah nggak apa-apa kalau sama mbak, yang penting aku boleh ke sana."


Dhifa dan Salma segera menuju tepi pantai, di sana terlihat banyak orang melakukan bermacam kegiatan. Terlihat beberapa anak juga bermain bersama keluarga mereka di sana. Dhifa menjadi sangat tidak sabar untuk memulai petualangannya di pulau ini, namun bundanya masih terlalu takut menjelajah tanpa sang Ayah.


Tiba-tiba perhatian Dhifa tertuju pada 2 anak yang bermain pasir. Dia berlari menghampiri kedua anak itu.


"Waw, kalian pagi-pagi sudah main pasir, apa kalian nggak dimarahi orang tua kalian?" tanya Dhifa.


"Mama nggak bakal marah kalau kami melakukan apa saja, asal jangan menyakiti orang lain," sahut anak laki-laki yang sibuk mengisi embernya dengan pasir.


"Kalian baru pertama kali ke sini ya?" tanya salah satu yang mengawasi dua anak kecil yang bermain pasir.


"Iya tante, ini pertama kali aku ke sini, selain ingin berlibur, aku juga ingin ikut perkemahan di sini," sahut Dhifa.


"Perkemahan di mulai 3 hari lagi," sahut anak perempuan yang sibuk memadatkan bagian istana pasir mereka.


"Owh, aman, berarti aku nggak akan ketinggalan kegiatan awalnya." Dhifa sangat bahagia mengetahui perkemahan belum dimulai.


"Kenalkan aku Adhifa, panggil aku Dhifa."


"Hai Dhifa." Anak perempuan itu lebih semangat berkenalan dengan Dhifa, dia menghentikan kegiatan bermainnya dan mendekati Dhifa


"Aku, Andina Shafiq Pradasha. Panggil Dina, dan itu abangku, sebenarnya aku nggak rela panggil dia abang, tapi kata oma, karena dia lahir lebih dulu 3 menit dari aku, maka aku harus panggil dia abang. Namanya Adrian Shafiq Pradasha, panggil dia Rian saja."


"Wah, anak kecil saling berkenalan, kita yang tua tidak ya?" sela Salma.


"Kenalkan, ini Yuri, dan aku Lisa, kami pelayan dua majikan kami ini."


"Saya Salma, saya juga pelayan Nona kecil ini." Salma maksudkan pada Dhifa.


Ketiga anak itu sangat asyik bermain, hingga mereka selesai membangun sebuah istana pasir yang indah.


***

__ADS_1


Lanjutnya besok aja ya 😃😃😄😅😁


__ADS_2