
Purnama merasakan hal yang tidak enak karena kedatangan Ishana sepagi ini. "Ada apa nak?"
Ishana masih setia menundukkan pandangan matanya. Bingung harus memulai bicara dari mana. "Ayah, bantu aku pergi dari ikatan ini, Risma terlalu baik Yah, aku tidak sangup berbahagia dalam ikatan ini. Sakit Yah."
"Risma memanfaatkanmu?"
"Tidak sama sekali Yah, aku sendiri yang baru sadar, harusnya dari awal aku berani menolak Yah, poligami itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang istimewa, sedang aku?"
"Aku bukan siapa-siapa, yang mana rasa cinta dan benciku karena nafsu, bukan karena Rabb ku."
"Rasa sakit yang ku gores karena penolakan dariku, tidak sebesar rasa sakit yang ku gores karena aku masuk perahu mereka."
"Ayah, bantu aku pergi yah."
"Ayah perlu waktu."
"Makasih Ayah." Ishana langsung memeluk Purnama.
***
Pagi ini Ardhi masih mengurung dirinya di ruang kerjanya. Otaknya tidak mampu dipaksa untuk bekerja. Ishana, Risma, dan kedua orang tuanya terus berputar di kepalanya.
Andai ada keajaiban, dia ingin Risma dan Ishana di sampingnya.
Siapa aku? Atas keistimewaan apa aku berharap memiliki dua istri yang bisa menerima satu dan lainnya?
Bulan madu?
Kamu lupa? Di sana Ishana hanya temanmu, bukan istrimu.
Saat kamu tenggelam memandangi indahnya bintang malam, maka kamu jauh dari matahari.
Saat kamu menikmati hangatnya sinar sang surya, di sana tidak ada rembulan.
Saat rembulan dan matahari ingin bersama, apa yang terjadi?
Gerhana!
Sudah lah Dhi, akhiri semua ini, hentikan rasa sakit yang kamu beri pada mereka semua.
Mencoba menasehati diri sendiri.
Ardhi meraih foto Risma yang ada di meja kerjanya, jemarinya mengusap permukaan figura itu.
Senyuman Risma yang begitu manis, sangat lama dia tidak melihat senyuman itu lagi.
Yang ada sekarang hanya rasa sakit, itulah yang terpancar dari sepasang mata milik Risma.
Kita sudahi semuanya kak, tidak ada alasan lagi untuk aku bertahan dan kakak pertahanin aku.
Semakin kakak pertahanin aku, semakin banyak jilatan mata pedang yang menggores hati Risma.
"Kenapa aku harus melepasmu saat sedikit bagian hatiku kau curi, Na?"
Bukan hanya Risma, Ishana pun tertekan dengan hubungan ini.
Tidak ma, sampai kapanpun aku tidak akan menyakiti Risma!
__ADS_1
Janji yang Ardhi ucapkan dulu.
Arggggt!
Menjerit, karena ucapan itu bertolak belakang dengan yang terjadi. Risma malah dihujani oleh rasa sakit.
Andai aku tahu rasa sakitnya seperti ini, mungkin aku akan meminta kamu membuahi Ishana dengan jalan lain, misal dengan jalan Inseminasi atau bayi tabung.
Dengan begitu, aku tidak akan mengalami rasa sakit sepayah ini.
Ardhi menarik dalam napasnya, mempersiapkan tenaga untuk melanjutkan semua ini. Dia menekan nomor telepon mamanya.
"Ada apa Dhi?"
"Mama, tolong aku."
Ardhi menceritakan antara dirinya, Ishana, dan Risma.
"Maafkan mama, semua salah mama. Mama akan tanya mereka masing-masing, kenapa mereka ingin pergi, dan apa alasan mereka untuk bertahan."
"Makasih Ma."
Rasanya itu tidak cukup, Ardhi mencari nomor telepon dokter Jully, dan melakukan panggilan pada nomor itu.
"Ardhi, tumben kamu telepon aku." Sahutan itu langsung menyambut telinga Ardhi.
"Jull, aku butuh kamu sebagai sahabat."
"Katakan." Dokter Jully faham akan keadaan sahabatnya.
"Aku tidak bisa bantu apapun Dhi, Poligami adalah hal rumit. Maafkan aku."
"Saranku hanya untuk dirimu, minta waktu pada mereka semua, agar otakmu bisa bekerja dengan baik."
"Terima kasih Jull."
"Tunggu, kenapa ini sulit bagimu? Bukankah kamu hanya mencintai Risma? Perginya Ishana harusnya ini sebuah jalan yang luas untuk menata hubungan kalian kembali."
"Semua di luar dugaanku, ada perasaan yang tumbuh antara aku dan Ishana. Dan Ishana mulai merasa sakit oleh rasa cintaku dan rasa cintanya, hingga bertahan dalam hubungan ini suatu hal yang sangat berat. Karena rasa cintanya pada Risma dan padaku."
"Berpikirlah, jangan mengambil keputusan karena merasa kecewa atau merasa bahagia semata."
Pembicaraan via telepon itu berakhir, Ardhi menaruh handphone-nya diatas meja kerja. Memyandarkan punggungnya di sandaran kursinya kerja yang empuk.
Sekilas, poligami adalah hal yang indah, mempunyai 2 istri atau lebih, saat satu merajuk tinggal datangi istri yang lain. Ternyata, hal itu tak seindah menjalaninya dengan tanggung jawab.
Menjaga hati istri yang hanya satu-satunya saja, seringkali ada sembilu yang menggores perasaannya, sedang poligami?
Ardhi memijat sisi kepalanya. Andai dia punya mesin waktu, dia memilih tidak mau dalam posisi ini.
"Risma!"
Suara lantang menyebutkan nama Risma mengejutkan Ardhi, dia langsung beranjak menyusul sumber suara itu. Saat pintu terbuka terlihat Ishana mencoba mengejar Risma. Ardhi tidak mengerti keadaan ini, dia segera menyusul dua istrinya itu.
"Risma, aku mohon maafin aku Ris."
Di depan sana, Risma menghentikan langkah kakinya, dia menyilangkan kedua lengan di depan dadanya. "Maaf buat apa?"
__ADS_1
"Maaf, karena aku mencintai suami kamu."
"Owh ...." tanggapan Risma sangat dingin.
"Ris, aku mohon bantu aku, aku harus bagaimana agar bisa membuat kekecewaan kamu berkurang?"
"Kamu sudah tau jawabannya."
"Tapi sebelum itu, bisakah aku memastikan sesuatu?"
"Apa?"
"Hidup kak Ardhi itu kamu Ris, jika aku pergi, bisakah kalian seperti dulu? Aku hanya ingin memastikan kamu dan kak Ardhi bahagia."
"Aku datang ke rumah ini saat kalian sangat bahagia, dan saat aku pergi, aku ingin kalian tetap bahagia."
"Beri aku waktu 2 bulan, kalian bertiga terkurung dalam rasa sakit ini karena mimpi papaku, 2 bulan lagi mimpi itu terwujud, bisakah kalian bertahan demi papaku?" Ardhi menyela pembicaraan dua sahabat itu.
"Dalam dua bulan, biarkan otak dan hati kita bekerja, kita akan melewati 2 bulan ini seperti orang asing yang tinggal satu atap."
Ishana dan Risma diam mendengari ucapan Ardhi.
"Kalian berdua sangat istimewa, aku tidak mampu memilih salah satu dari kalian. Tapi memiliki kalian berdua sekaligus ituntidak mungkin bukan?"
Ardhi memandangi Ishana dan Risma bergantian. "Maafkan aku, karena mimpiku terlalu jauh, aku berharap kita bisa bahagia dengan ikatan ini, aku lupa, memang siapa akh ini? Berharap kalian damai dalam ikatan berbagi cinta ini."
"Tapi dalam dua bulan itu kamu jangan mendekatiku!"
Ishana dan Risma saling pandang, mereka mengucapkan kalimat yang sama untuk orang yang sama.
"Seperti ku katakan tadi, dalam dua bulan kedepan, antara kita bertiga hanya orang asing yang tinggal satu atap." Ardhi langsung meninggalkan dua wanita yang sama-sama dia cinta.
Di balik pintu kamarnya, Eva mendengar begitu jelas. "Wow, Ishana dan Risma berselisih?"
"Kalau keduanya ingin pergi, berarti aku tidak perlu pergi, kan hati Ardhi ditinggal oleh penghuninya?" Senyuman licik menghiasi wajah Eva.
"Edwin ...." Seketika Eva teringat Edwin, dia telah berjanji akan membangun mimpi yang baru bersama Edwin.
*****
Acara 7 bulanan kehamilan Eva akhirnya tiba, Rita memilih melangsungkan acaranya di salah satu hotel, hanya dihadiri beberapa keluarga inti Eva, keluarga Ishana, dan beberapa pengurus Panti Asuhan Bunda Aiswa.
Ishana dan Risma berusuha bersikap biasa di tengah keramaian, apa yang terjadi di rumah mereka, tidak perlu diperlihatkan ke depan umum. Begitu juga Ardhi, sehingga mata-mata yang melihat Risma, Eva, Ishana, dan Ardhi, memandang mereka keluarga yang harmonis.
Acara demi acara berlalu, semua berjalan sangat lancar tidak terkendala apapun.
"Jully?" Ardhi terkejut melihat kehadiran dokter Jully dalam acara Eva, dengan semangat dia menghampiri sahabatnya.
"Jully!" Panggilannya begitu semangat.
Bukan hanya Jully yang menoleh, tapi setiap tamu yang mendengarnya, namun merasa bukan diri mereka yang dipanggil, mereka kembali fokus dengan urusan mereka.
"Jully, aku sangat bahagia kamu bisa kembali, aku kangen sama kamu." Ardhi langsung memeluk sahabatnya.
"Aku lagi ada urusan, jadi sekalian menghadiri syukuran Eva."
Setiap orang memiliki waktu istimewa bertemu teman lama dan kerabat yang lama tidak jumpa.
__ADS_1