Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 37 Aku Juga Punya Alasan


__ADS_3

Di toilet khusus perempuan, Ishana baru selesai buang air kecil, saat dia keluar dari toilet, matanya menangkap sosok Risma membenahi dandanannya.


Di pantulan cermin itu, senyuman sinis terukir di wajah Risma. "Hallo bi-ch!"


Ishana hanya diam, dan membuka kran yang tidak jauh dari Risma.


"Eh, kamu tidak usah repot-repot hamil, karena aku tidak butuh anak dari seorang munafik sepertimu."


"Lain kali, kalau bercinta pintu dikunci! Kau tau, kamu seperti kucing yang seakan berkata tidak, tapi rekasimu kamu ingin lagi dan lagi!"


Ishana masih diam, dia meraih beberapa lembar tisu dan mengeringkan tangannya.


"Kenapa diam bi-ch?" ledek Risma.


"Jika melayani suami sendiri disebut ja-la-ng, maka sebutan apa yang tepat untuk wanita yang menolak suaminya?"


"Seorang istri menolak permintaan suaminya tanpa udzur yang sebenarnya, laknat Allah meyertaimu sampai pagi, bahkan ada riwayat yang menyebutkan sampai sang istri meminta maaf pada suaminya. Lebih jelas, tanya om internet, aku hanya orang jahil."


"Jika tidakkanku mu-ra-han! Dan Keputusanmu seperti dewi, maka tindakkan mu-ra-hanku juga punya alasan."


"Hak suami terhadap isterinya adalah: isteri tidak menghalangi permintaan Suaminya saat suaminya menginginkan dirinya, sekalipun dia berada di atas punuk Unta."


"Untuk dalilnya cari sendiri, aku lupa di mana aku menemukannya."


"Aku melayani kak Ardhi di manapun, dan kapan saja, bukan karena aku gatal, munafik, ja-la-ng! Atau apapun itu, semata aku melakukan itu karena itu hak suamiku dan bentuk ibadahku!"


"Aku tidak peduli bagaimana kamu, yang penting diriku sudah melakukan tugasku!"


"Aku tidak perduli dengan pandangan manusia terhadapku, aku tetap pada keputusanku, berbakti dengan caraku, walau seluruh isi bumi ini menghinaku!"


"Permintaanku minta dicerai saja membuat aku down, aku teringat akan nasehat, barang siapa meminta cerai tanpa alasan yang dibenarkan, maka diharamkan baginya mencium bau sorga, selama 500 tahun, mencium saja tidak, bagaimana masuk kedalam surga?"


"Kau bangga karena meminta cerai pada kak Ardhi? Aku sakit, bukan sakit kehilangan dia, tapi takut akan ancaman itu, walau aku penuh dosa, impianku masuk surga."


"Maaf, virus mama nyasar sama aku."


Ishana berusaha kembali pada pembicaraan semula."Tapi itu tidak masalah bagiku, karena aku sudah bertekad, akan melakukan apa saja demi kebahagiaanmu."


"Perlu kamu ingat, kak Ardhi itu manusia, bukan malaikat yang bisa membaca kata hatimu, dia tidak akan faham tujuanmu mengabaikannya."


"Aku bukan seorang ahli ibadah, tapi gemar berbuat dosa, tapi aku beribadah dengan membaktikan diriku sepenuhnya untuk suamiku." Ishana langsung pergi meninggalkan Risma seorang diri.


***


Keadaan di luar lumayan ramai, Ishana berusaha mengukir senyuman di wajahnya, menyambut siapa saja yang ada di dekatnya.


Sedang Ardhi memilih bersantai di balkon hotel itu bersama dokter Jully, rasanya dia muak berada di dalam tempat acara.


Di depan matanya, orang-orang memuji rumah tangganya dan memuji ketegaran istrinya, namun di belakangnya justu menghina dirinya juga istri-istrinya.


"Sayang, ternyata kamu di sini."


Kedatangan Eva mengejutkan Ardhi dan dokter Jully.


"Sayang, yuk kita foto dulu, hanya beberapa cekrek saja, sayang."


"Jull, aku permisi dulu." Ardhi segera menuju tempat acara karena permintaan Eva.


"Nah ini dia ayah dan bundanya, ayo kemari kita ambil foto sebentar," ucap salah satu fotografer."


Ardhi mendekati salah seorang yang memandu acara ini, tanpa permisi dia mengambil microphone yang ada di tangan orang itu.


"Risma sayang, Ishana ..., kalian berdua, kemari."


Sontak seluruh sorot mata yang ada di ruangan itu tertuju pada suara itu bersumber.


Sedang Ardhi mengembalikan microphone pada pemandu acara itu lagi, dengan santainya dia melangkah mendekati Eva yang sudah bersiap di tempat pengambilan foto.


"Aku hanya ingin kita berdua! Kenapa kamu memanggil dua istri yang lain?" Eva sangat kesal, namun berusaha menekan suaranya.

__ADS_1


"Kamu ada, karena mereka ada, mereka tidak ada kamu juga tidak ada."


Duggg!


Hilang sudah harapan Eva. Pergi ataupun tidak dua istri yang lain, memang tidak ada tempat baginya di sisi Ardhi maupun di hatinya.


fotografer mengatur pose berfoto empat orang itu, Ishana di sisi kiri Ardhi, Risma di sisi kanan Ardhi. sedang Eva duduk diatas kursi sambil memegangi perutnya yang besar.


Ardhi diminta menggandeng 2 istrinya yang berdiri di sampingnya, sedang telapak tangan Risma dan Ishana mendarat di pundak Eva.


Kilatan kamera pun mengabadikan momen itu. fotografer meminta pose yang lain, agar menghasilkan foto yang indah. Senyuman palsu keempatnya semakin menambah indahnya foto itu.


"Apa aku tidak bisa hanya berfoto denganmu Dhi?" rengek Eva.


"Kalau foto berdua, aku hanya bisa melakukannya dengan Risma. Karena duniaku yang dihuni dua kursi hanya saat bersama Risma."


Sesi foto selesai, mereka segera membubarkan diri menuju tempat yang mereka inginkan.


Ishana langsung mendekati ayahnya, laki-laki itu sangat sibuk dengan handphone-nya. "Ayah." panggilnya.


Purnama langsung menoleh. Ishana heran melihat wajah ayahnya yang begitu panik.


"Ayah kenapa?"


"Tidak apa-apa, hanya saja Ayah sakit melihat kejadian diatas panggung barusan," kilah Purnama.


"Ayah, tadi siang jadi pesankan kamar untukku?"


"Iya jadi, ini kartu aksesnya."


Ishana menerima kartu itu. "Aku sangat lelah, aku izin istirahat di kamarku, kalau Ayah ingin pulang nggak apa-apa."


"Ya sudah, istirahat sana, setelah ini papa juga akan pergi."


Setelah pamit pada Purnama, Ishana pun pamit pada Bunda Aiswa, Rita dan Wisnu, dia tidak mampu lagi berdiri diatas kedua kakinya, kehamilan ini membuatnya sangat cepat lelah.


"Apa yang terjadi dalam rumah tangga kalian? Kenapa Bunda merasakan hal yang tidak enak?"


"Mas Ardhi dan Ishana saling cinta."


"Itu bagus."


"Tapi aku sakit, dan aku ingin pergi dari ikatan ini kalau Ishana tetap bertahan di sini."


Plakkk!


Tamparan keras dari Bunda Aiswa mendarat telak di pipi Risma. Risma hanya diam, rasa sakit di pipinya masih tidak seberapa, karena rasa sakit di hatinya lebih besar dari itu.


"Sejak awal bunda larang ini, agar kamu tidak merasakan rasa sakit karena sahabat, sekarang?"


Bunda Aiswa sangat geram mendengar perkataan Risma.


"Kamu merasa berkorban sendirian karena berbesar hati untuk dimadu, kamu pernah mikirin bagaimana tersiksanya Ardhi dengan permintaan kamu?"


"Kamu lupa kalau Ardhi berusaha menolak semua ini? Apa tidak ada balasan sedikit saja atas pengorbanan dia?"


"Bunda tidak punya nasehat apapun untukmu, karena kamu lebih pintar!"


"Saran bunda, pikirkan hal termanis kamu bersama Ardhi, hal yang membuat kamu ingin bersamanya, pikirkan hal indah yang Ardhi beri untuk bahagiakan kamu, jangan memikirkan rasa sakit yang dia beri, karena rasa sakit yang ada semua didapat karena ada restu kamu!"


"Pikirkan juga hatimu jika kamu memilih meninggalkan Ardhi, mungkin hatimu puas mengambil langkah itu, berasa menghukum Ardhi, apa kamu lupa, dirimu juga merasa sakit karena jauh darinya?"


"Jika kamu tidak menemukan alasan meninggalkan Ardhi, maka bertahanlah. Ingat yang berkorban bukan hanya dirimu."


"Merenung Ris, pejamkan matamu nanti, bunda tidak ingin kamu pergi dengan emosi dan rasa sakit."


Bunda Aiswa langsung pergi dari sana, dan bergabung lagi dengan tamu yang lain. Jemarinya sibuk mengetik pesan yang akan dia kirim untuk Ishana.


Ishana merebahkan dirinya di tempat tidur, rasanya sekujur tubuhnya sangat lemas.

__ADS_1


Tlink!


Bunyi notifkasi yang masuk membuat jemari Ishana menyambar benda pipih persegi panjang tersebut.


Na, sebelum kamu memutuskan untuk pergi, bunda ingin kamu berpikir lebih jernih. Pertimbangkan baik- baik semua langkah yang ingin kamu ambil.


Ishana hanya membaca pesan itu, dan mencanpakkan benda elektronik pipih persegi panjang itu.


Sedang di tempat acara. Eva terus memandangi Ardhi, walau Risma dan Ishana tidak ada di samping Ardhi, tetap saja tempatnya tidak ada. Bertahan hanya mencari penyakit.


Tlink!


Handphone Eva berbunyi.


Masih yakin kamu ingin bertahan dalam ikatan itu?


Eva menggenggam kuat handphonenya. Bingung menjawab apa.


Tlink!


Kamu masih ingin menyia-nyiakan masa mudamu dengan orang yang tidak mencintai kamu?


Eva memandang kearah Ardhi, orang bodoh juga bisa menyadari kalau Ardhi tidak menginginkan dirinya. Laki-laki itu asyik berduaan dengan dokter Jully.


Sedang Risma, setelah berbicara dengan bunda Aiswa, hatinya semakin kacau.


^^^Dengan pergi, memangnya hidupku bisa lebih baik? Hati ini terlalu dalam mencintai Ardhi, bagaimana aku bisa melanjutkan hidup tanpa Ardhi?^^^


Risma menepuk lembut bahu Rita. "Mama, aku pamit ke kamar kecil dulu."


"Oh iya. Ris, kamu ke sini sama siapa?"


"Menyetir sendiri mah."


"Oh, kalau begitu mama pamit duluan ya, papamu tidak kuat terlalu capek."


"Iya mah." Risma pun memacu langkahnya menuju kamar mandi.


Sesampai di sana, keadaan sangat sepi. Risma berdiri di depan cermin, membayangkan kejadian-kejadian di masa lalu.


...*Tidak perlu pergi mas, dengan mas masih cinta sama aku, itu sudah cukup....


...Kalau mas lepasin Ishana, sama saja mas lepasin aku*....


Risma menatap tajam cermin yang ada di depan matanya, rasanya dia tidak mengenal wanita yang berada tepat di depan matanya.


...Kenapa rasa sakit membuatku menjadi orang yang plin-plan?...


Risma serasa malu memandang wajah yang ada di depan matanya.


"Aku marah dan kecewa pada Ishana karena mereka melakukan tugas suami istri. Bukankah hal itu aku yang meminta?"


Risma menyandarkan punggungnya pada tembok. Rasa bersalah dan rasa ingin memiliki seutuhnya hadir bersamaan.


...ini hati Ris, bukan robot yang bisa ku program. Bagaimana kalau hatiku mencintai Kak Ardhi?...


"Hikss ...."


"Aku rindu dengan Risma yang itu, di mana Risma yang itu ...." Risma sendiri tidak mengenali dirinya sendiri saat ini. Rasa takut dan rasa sakit menutup kedua mata hatinya dan meruntuhkan segala ketegarannya.


...Kamu mencintai dia, itu wajar Na. Selama kamu ihklas berbagi dengan istri yang lain....


Ucapannya kala itu, sekarang malah dirinya yang tidak rela berbagi apapun dengan yang lain. Bahkan dirinya menuntut Ardhi untuk memilih dirinya atau Ishana.


Ucapan Ardhi, ucapan Ishana, ucapan mama Rita, ucapan bunda Aiswa, terus berputar di kepalanya.


Treng-ting! Ting! Ting! Ting .....


Bunyi alaram yang begitu nyaring, mengejutka Risma dari keterpurukannya.

__ADS_1


__ADS_2