Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 74


__ADS_3

Karena mesin monitor terus memperlihatkan perkembangan Dewi, dokter Liyo dan dua perawatnya kembali mendatangi kamar perawatan Dewi. Saat yang sama, Jully menyematkan cincin yang harusnya untuk Ishana pada jemari Dewi, dan mendaratkan ciumannya dianta alis Dewi.


Hendra menangis dan memeluk Jully. “Terima kasih nak.”


Jully hanya diam, sorot mata sendunya terus tertuju pada Dewi.


Penghulu dan dua orang saksi langsung pergi setelah melakukan tugas mereka, sedang dokter Liyo melanjutkan pemeriksaanya. Dokter tersenyum melihat perkembangan Dewi. “Ternyata bukan profesi kedokteran kamu saja yang menyelamatkan pasien, ternyata ciuman kamu juga seperti obat Jull.” Dokter Liyo menepuk lembut bahu Jully. “Sebentar lagi, istrimu akan sadar.”


“Selamat atas pernikahanmu, dan selamat atas kesembuhan istrimu nanti.”


Semua orang yang ada di ruagan itu merasa sangat bahagia mendengar perkembangan Dewi, mereka melupakan bagaimana resahnya perasaan Ishana yang terus menunggu Jully.


Jully menarik semua orang agar keluar dari ruangan Jully.


"Tolong rahasiakan semua ini dari Dewi, biarkan Dewi tahu kalau dia adalah penyelamatku, jangan sampai Dewi tahu, aku batal menikah karena memilih menikahi dia," pinta Jully.


Hendra semakin terisak dan memeluk Jully begitu erat.


***


Jam menunjukkan jam 11 siang, Jully duduk sendirian di luar ruangan Dewi. Dia hanya bisa memandangi handphonenya yang sengaja dia matikan, dia tidak mampu memberi kabar pahit pada Ishana, kalau dia tidak akan datang.


“Jully, cepat ke hotel, semua orang menunggu kamu.” Sebuah tangan yang kokoh meraih pergelangan tangan Jully dan menariknya.


Jully menegakkan wajahnya, teryata itu Pajri kakak angkat Ishana.


“Aku mencarimu ke mana-mana, akhirnya ada yang mengatakan padaku kalau kamu ada di lantai ini.”


Jully menepis tangan Pajri. “Maaf, aku nggak bisa Pajri.”

__ADS_1


“Kamu jangan bercanda, ini sudah molor 2 jam!” Pajri mulai kesal.


Jully menarik Pajri menuju ruangan Dewi, mereka berdua melihat keadaan Dewi dari kaca yang ada di pintu ruangan itu. Jully menceritakan siapa Dewi dan jasa-jasa Hendra, juga menceritakan dilema Dewi. “Demi menyelamatkan nyawanya, aku menikahinya, dan maaf aku tidak bisa datang kepernikahan yang seharusnya.”


Pajri menarik krah kemeja Jully dan menyeret Jully sedikit menjauh dari pintu ruangan itu. “Kamu tahu bagaimana ketegangan di sana karena kamu nggak datang?”


“Aku tahu, Ishana pasti sakit dan kecewa, Nyonya Shafina juga pasti malu, namun semua itu akan hilang seiring berjalannya waktu, orang-orang mungkin tidak lupa, tapi nanti semuanya akan terlupakan.”


Bouuggg!


Pajri tidak tahan lagi menahan kemarahannya, tanpa jeda dia terus melayangkan pukulan pada Jully. Jully hanya diam dan pasrah menerima bogeman dan tendangan dari Pajri.


“Tumpahkan semuanya Pajri, karena aku tidak akan datang.”


Pukulan Pajri terhenti kala ada orang yang melerai mereka.


Saat yang sama keluraga Jully keluar dari ruangan Dewi, mereka syok melihat keadaan Jully yang babak belur.


Mulai banyak orang yang melerai mereka, Pajri pun meninggalkan tempat itu dengan segala kekesalan dan kemarahannya. Dia langsung mengabari Nyonya Shafina dan Ardhi.


***


Keadaan kembali hening, Jully meminta keluarganya untuk pulang, dia ingin menjaga Dewi saat ini. Keluarga Jully pun setuju, mereka pulang ke rumah bersama Pak Hendra. Jully menonton televisi sambil mengobati dirinya sendiri.


Jully mematung melihat siaran langsung resepsi pernikahan Ishana dan Ardhi. Tidak ada kesedihan di sana, bahkan Risma terlihat begitu bahagia.


Aku mencintai kamu melebihi diriku sendiri, bahkan aku meninggalkan segalanya demi kamu Na. Aku menggantungkan seluruh kebahagiaanku padamu,kemana pun kamu aku ikuti. Aku tidak peduli pada siapapun, bahkan melupakan Tuhanku juga melupakan kedua orang tuaku. Hingga akhirnya pada aku di-uji Na. kini aku tidak bisa melanjutkan mimpiku untuk bersamamu Na. Aku tidak bisa datang padamu, maafkan aku Na, jika aku tidak datang padamu, akua hanya mencoreng nama baikmu, namun jika aku datang, ada nyawa gadis yang begitu baik tidak teselamatkan Na.


Jully menoleh kearah ranjang Rumah Sakit, di mana ada seorang gadis yang masih belum sadar terbaring di sana. Gadis itu juga yang baru dia nikahi beberapa jam yang lalu.

__ADS_1


“Terima kasih Dhi, kamu telah menyelamatkan Ishana.”


Sedang di tempat Resepsi pernikahan Ardhi dan Ishana, semua orang larut dalam kebahagiaan. Dhifa terus tersenyum memandang kearah pelaminan. “Aku bahagia, walau nanti bunda pergi ninggalin aku, tapi nanti ada mama Ishana dan kalian yang menemaniku,” ucapnya.


“Memangnya bunda kamu mau pergi kemana?” tanya Dina.


“Surga.”


Resepsi pernikahan mereka yang memang hanya dilangsungkan sampai jam 3 siang pun selesai. Melihat keadaan Risma yang semakin melemah, Ishana ikut pulang ke rumah Ardhi dan ikut merawat Risma. Di rumah Ardhi, Ishana kembali menempati kamarnya yang dulu, hanya saja kali ini bukan Risma yang mengantarnya, karena perempuan itu sudah terbaring lemas di kasurnya. Kali ini Adhi yang mengantarnya. Keduanya merasa canggung, karena sudah merasa asing satu dengan yang lainnya. Setelah mengantar Ishana, Ardhi pun kembali pada Risma.


Sedang Rita dan Shafina juga tiga anak Adhi, memilih tetap menginap di hotel, yang seharusnya menjadi tempat Ishana dan Jully. Suasana di hotel begitu heboh karen candaan Dina, Dhifa, dan Rian. Sedang dikediaman Ardhi terasa sepi. Saat makan malam pun ketiganya saling diam.


Setelah makan malam, Ardhi, Ishana, dan Risma bersantai di ruang keluarga atas permintaan Risma. Risma bersandar pada Ardhi, sedang Ishana bersandar pada Risma. Risma menunggu waktu yang tepat, sebelumya dia memberikan obat perangsang pada minuman Ardhi dan Ishana, dia yakin jika sama-sama normal, keduanya tidak akan melakukan apapun. Semua tempat sudah dia siapkan, seperti dulu, semua kamar telah dia kunci kecuali kamar ishana.


Risma melirik kearah jam dinding, perhitungannya beberapa menit lagi obatnya bereaksi. “Mas, jangan kemana-mana dulu, aku masih mau santai sama kalian, akum au pipis dulu.” Kilah Risma.


Ardhi dan Ishana pun percaya saja, walau keduanya merasakan ada yang aneh pada tubuh mereka. Menit demi menit berlalu, Risma tidak juga kembali. Ardhi dan Ishana mulai gelisah karena jeritan dalam diri mereka masing-masing.


“Na, aku mencari Risma dulu.”


“Iya kak, aku juga mau pamit ke kamarku, aku ngantuk.”


Ardhi langsung menuju kamar Risma, sedang ishana berusahan menguatkan dirinya menuju kamarnya, entah kenapa rasanya dirinya ingin sekali menerkam Ardhi. Ishana hampir putus asa karena ada ledakkan aneh dalam dirinya, namun dia terus berusaha mencapai kamarnya. Ishana mulai mengingat apa yang dia makan sebelumnya yang Risma sediakan. Ishana yakin, Risma memasukkan sesuatu pada minumannya.


Mengingat bagaimana keadaannya saat ini, jika bersama Ardhi tidak menutup kemungkinan dia menyerang Ardhi, ishana ingin mengunci pintu kamarnya, namun rencana Risma benar-benar sempurna, tidak ada kunci di pintu kamarnya. Ishana berlari menuju kamar mandi ingin mengurung diri di sana, tapi pintu kamar mandi juga sama seperti pintu kamarnya, sama-sama tidak bisa dikunci.


“Rismaaaa!” jeritnya.


Ishana tidak mau menyerah atas jajahan gejolak ledakkan dari dalam dirinya, dia berdiri di bawah guyuran air shower tanpa melepas bajunya.

__ADS_1


__ADS_2