
Ardhi tidak tahu mengapa, entah kemana pemacu jantungnya yang otomatis bekerja kala melihat Ishana, entah kemana tali yang mengikat dadanya saat mendengar suaranya. Semua itu hilang.
Ishana, hanya sebuah nama yang tidak membuat perasaannya bereaksi apapun. Penyesalan? Penyesalan atas tidak menyelamatkan? Dirinya tidak tahu kalau Ishana juga ada di hotel tersebut, malam itu.
Keterpurukannya bukan hanya tentang Ishana, tapi penyesalan karena rasa sakit yang dia torehkan di hati wanita-wanitanya.
Melihat Ishana, keinginan Ardhi hanya ingin meminta maaf.
Maaf, karena menyakitimu dengan cintaku. Maaf karena aku tidak menyelamatkanmu, dan maaf, aku kehilangan rasa itu.
Melihat dua anak itu, Ardhi tidak bisa untuk tidak mengagumi dan dirinya ingin sekali memeluk kedua anaknya, namun mereka milik Ishana. Ardhi berusaha memahami itu, walau hatinya sangat menginginkan Dina dan Rian bersamanya.
Jully, seketika padangan mata Ardhi tertuju pada sahabatnya. "Dia perempuan yang dulu kamu perjuangkan?"
"Bukan dulu, tapi sampai saat ini," sela Nara.
"Walau kita punya banyak kesalahan, tapi kita berhak menata masa depan bukan?" ucap Ardhi.
"Kamu tidak marah padaku?" ucap Jully.
"Marah?" Ardhi balik bertanya. "Apa aku harus marah, saat aku tahu sahabatku mencintai seorang wanita melebihi dirinya sendiri? Kamu berhak mencintai siapa yang kamu mau, Jull."
Ardhi kembali menoleh pada Ishana. "Ishana berhak bahagia, aku tidak bisa marah dengan jalan yang dia ambil, iya di awal aku terluka karena kehilangan dia, tapi aku harus berterima kasih atas tindakkannya, dengan 7 tahun yang telah berlalu, aku bisa menata hati dan hidupku."
"Bagaimana dengan anakmu?" sela Rita.
"Dia tetap anakku, sampai kapanpun dia anakku, tidak ada pemutus ikatan antara Ayah dan anak. Tapi, dia milik Ishana. Dia berjuang sendirian 7 tahun ini, kalian berpikir untuk memintanya?"
"Kita semua salah, tapi dua anak itu milik Ishana, dan Ishana berhak sepenuhnya untuk kedua anaknya," tambah Ardhi.
Rita terdiam, melihat si kembar hatinya luluh, dan ingin sekali memilikinya. Tapi, siapa dirinya?
Sudah terlalu banyak kekacauan yang terjadi karena ambisinya.
"Jangan pisahkan ibu dari anaknya," ucap Ardhi.
__ADS_1
Ishana sangat bahagia mendengar ucapan Ardhi. Ketakutannya selama ini tidak terbukti, dia berpikir Ardhi akan merebut dua anak yang dia lahirkan, atau Ardhi berusaha agar dia kembali pada rumah tangga mereka dulu.
Risma sungguh tidak percaya dengan sikap Ardhi. Harapannya Ardhi akan berjuang demi Ishana dan anak kembarnya.
Ardhi meneruskan kata-katanya. "Aku sudah bahagia dengan keluargaku, Risma, mama, dan Dhifa, jadi ... biarkan Ishana juga bahagia dengan keluarganya dan jalannya sendiri." Ardhi mendekati Ishana, dia berdiri berhadapan dengan Ishana.
"Maafkan aku Na, malam itu aku tidak menyelamatkanmu."
"Maafkan aku Na, karena cintaku menyiksa hatimu, mencintaiku sakit, meninggalkanku juga sakit bukan?"
"Maafkan aku Na, walau aku berusaha memberimu kebahagiaan, tapi hal itu seperti membuatmu berjalan diatas mata pedang tanpa alas kaki, berdiam sakit, berjalan juga sakit."
Ardhi meraih tangan Risma dan Ishana bersamaan. "Maafkan aku, karena dalam kebahagiaan yang ku beri, tetap ada rasa sakit di dalamnya. Maafkan aku karena aku adalah sumber rasa sakit kalian."
Ishana tersenyum, namun sepasang matanya berkaca-kaca mengingat kehidupannya bersama laki-laki yang berdiri di depannya ini.
"Maafkan aku, Na. Aku tidak pernah adil padamu."
Ishana menepuk tangan Ardhi yang masih memegangi sebelah tangannya. "Maafkan aku juga kak, bukan maksudku membohongi kalian semua, tapi dengan menghilangkan jejak tentangku, aku yakin kalian bisa bahagia seperti dulu." Perlahan Ishana melepaskan tangannya yang sedari tadi dalam genggaman Ardhi.
"Kamu hanya ingin aku mencintai Risma bukan?"
Ishana menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih Na, keinginanmu itu dulu tidak bisa kuwujudkan, tapi sekarang bisa."
"Di hatiku, hanya dia penguasanya." Ardhi mengisyarat pada Risma, memegangi sebelah telapak tangan Risma dengan kedua tangannya.
"Kita bisa menjalani kehidupan kita masing-masing?" tanya Ishana.
Risma melepaskan tangannya yang masih digenggam Ardhi. "Jangan membicarakan perpisahan! Kita kesini untuk liburan!" ucap Risma tegas.
Risma yakin, Ardhi dan Ishana akan membahas perceraian, dia tidak mau itu terjadi. Dia ingin Ishana tetap menjadi madunya, dirinya sudah siap dengan segala rasa yang akan menghinggapi batinnya. Tidak peduli apakah Ardhi nantinya akan lebih mencintai Ishana, di usianya yang sekarang, hidup bukan hanya aku dan kamu, tapi tentang kita dan keluarga. Ishana adalah keluarganya, dan Risma ingin mereka semua bersama dalam satu atap. Risma juga yakin, kalau Ishana kembali, Dhifa juga bahagia memiliki dua mama dan dua adik.
Dia tidak peduli, apa pemikiran Ishana dan yang lainnya atas keegoisannya saat ini. Kali ini dirinya benar-benar tulus, berharap Ishana tetap menjadi istri Ardhi, tetap menjadi madunya, tetap menjadi sahabatnya.
__ADS_1
Risma berharap, bisa mengulur waktu, agar Ardhi dan Ishana bisa menemukan rasa yang hilang. "Ingat mas, kita kesini untuk berbahagia dan bersenang-senang, bukan untuk bersedih! Bisa kita fokus untuk urusan liburan kita? Tanpa membahas perpisahan?"
"Tapi--" Ardhi tidak bisa meneruskan ucapannya, Risma pergi begitu saja dari tempat itu.
Shafina memahami apa tujuan Risma, dia ingin melihat sejauh mana usaha Risma. "Istrimu benar Dhi, kalian datang untuk berlibur, nikmati liburan kalian di sini, dan kalian semua boleh main kesini kapan pun kalian mau. Aku akan siapkan kartu akses untuk kalian semua, jadi kemanapun kalian, tidak ada batasan untuk kalian semua."
"Mama ...." Ishana sangat keberatan dengan keputusan mamanya.
"Ardhi ayah dari anakmu Na, berikan kesempatan untuk Ardhi memenuhi tugas seorang Ayah pada Dina dan Rian selama mereka berada di pulau ini."
Jully memandang jeli reaksi Ishana. Terlihat raut wajah Ishana yang sangat tidak senang dengan keputusan mamanya. "Kenapa Na? Kamu takut kalau Ardhi kembali bertahta di hatimu?" sela Jully.
"Kenapa harus takut? Bukankah Risma menginginkan aku tetap menjadi istri Ardhi, walau aku tidak tau apa niat yang sesungguhnya, setidaknya andai aku menginginkan dia lagi, aku tidak perlu memikirkan hati Risma, toh dia yang mau." Ishana berjalan kearah Jully dan mereka saling berhadapan.
"Kalau kamu tidak takut, nikmati waktu ini Na, andai kamu menata masa depan tanpa Ardhi, kamu benar-benar siap sejuta persen!"
Ardhi, hal yang malas Ishana ingat, sekarang dirinya harus terbiasa melihat sosok itu, akankah hatinya benar-benar kuat?
7 tahun tanpa Ardhi dia kuat, namun apakah dia juga bisa kuat kala sepasang matanya terus melihat sosok itu?
"Aku tidak takut jatuh cinta lagi pada Ardhi, kalau itu terjadi, apa kamu siap kehilangan kesempatan untuk memilikiku? Perjuanganmu tidak mudah Jul," sahut Ishana.
"Mencintai, memperjuangkan, dan merelakan itu satu paket. Aku mencintaimu, aku memperjuangkan kamu, namun jika kebahagiaan kamu adalah Ardhi, maka aku harus merelakanmu bahagia dengan Ardhi."
Pandangan mata Jully begitu teduh, Ishana tidak menemukan rasa takut dan kesedihan di sana.
"Kebahagiaan kamu diatas kebahagiaan aku Na, begitulah caraku mencintai," sambung Jully.
Ishana berusaha merubah topik bahasan mereka. "Mama, beri perintah pada keamanan mama, kalau mereka bertemu Risma, pinta mereka mengantar Risma ke vila mereka," pinta Ishana.
"Tentu sayang." Shafina mengirim foto Risma, meminta anak buahnya menawarkan diri mengantar wanita itu ke vilanya.
Ishana menoleh kearah Ardhi. "Kamu jangan takut Risma hilang, di mana pun dia, pasti dia akan kembali ke vila kalian dengan selamat."
"Aku tau itu, Risma segalanya bagimu, jangankan hatimu, hidupmu pun kamu berikan untuk Risma bukan? Cintamu pada Risma melebihi rasa cintamu padaku." Ardhi menoleh kearah Rita. "Mama pulang dengan supir ya, aku ingin mengobrol bersama Jully dulu."
__ADS_1
Rita segera kembali ke vila diantar oleh supir Shafina. Nara menemani Ishana di rumah itu, sedang Jully dan Ardhi menjelajahi pulau itu berdua.