Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 38 Ledakkan


__ADS_3

Di tempat acara berlangsung.


Rita dan Wisnu sudah berpamitan pada keluarga Eva dan beberapa orang yang mereka kenal, mereka maklum dengan kondisi Wisnu. Sedang Eva, dia masih sibuk melakukan sesi foto dengan keluarganya. Bahkan beberapa sponsor juga terlihat di sana.


Ardhi masih nyaman berduaan dengan dokter Jully.


Brukkk!


Tiba-tiba Derby begitu nyaman duduk di salah satu kursi yang satu meja dengan Ardhi dan Jully.


"Aku, melihat orang punya perusahaan, gak iri, melihat orang punya mobil baru, gak iri, melihat orang punya rumah baru, nggak iri juga. Yang aku iri, kala melihat seseorang punya istri lebih dari satu, tapi mereka hidup damai dan bahagia," oceh Derby.


Brakkk!


Ardhi menendang kaki Derby lumayan keras, hingga membuat laki-laki itu meringis.


"Kamu pikir kehidupan poligami itu indah?" sela Jully.


"Ya gimana gitu, pas tampil ada wanita yang mengelilingi kita," sahut Derby.


"Kalau boleh bertukar kehidupan, aku lebih memilih hidup seperti kamu Der lebih lepas tanpa tanggung jawab yang sangat besar, kamu jadi aku biar kamu rasaian bagaimana susahnya menjalani kehidupan poligami. Hanya enak dilihat, menjalaninya berat."


Treng-ting! Ting! Ting! Ting .....


Bunyi Alarm itu seketika membuat keadaan yang tadi tenang seketika kacau, beberapa tamu undangan langsung berlari menyelamatkan diri mereka masing-masing.


Keluarga Eva langsung menyelamatkan Eva, melihat hal itu Ardhi sangat lega, setidaknya tanggung jawabnya ada yang membantu.


Hanya selang beberapa menit asap pekat mulai mengepul di ruangan itu. Keadaan menjadi kacau, namun para tamu mengikuti arahan keselamatan.


Ardhi berlari melawan arah, dia ingin memastikan Risma dan Ishana juga meninggalkan hotel ini.


"Tuan, harap Anda segera selamatkan diri Anda," tegur salah satu keamana hotel.


"Saya tidak melihat istri saya di kerumunan Pak," jelas Ardhi.


"Kami akan pastikan semua pengunjung hotel ini keluar dari sini," ucap petugas keamanan.


Dhi, papamu kelelahan. Jadi mama papa pulang duluan, oh ya, tadi Risma pamit ke toilet, kali aja kamu panik karena nggak lihat dia di sini. Kalau Ishana mama lihat dia pergi bersama Ayahnya.


Teringat pembicaraan dengan mamanya, Ardhi segera berlari menuju toilet perempuan.


"Mau kemana kamu?" cegat Jully.


"Risma, dia di toilet!"


"Bersama Ishana?" Jully tidak bisa menyembunyikan ke khawatirannya.


"Kata mama, Ishana pergi sama Ayahnya." Ardhi langsung berlari menuju toilet.

__ADS_1


"Tuan-Tuan, harap tinggalkan tempat ini sekarang juga!" Pinta petugas keamana hotel.


Jully mengikuti arahan mereka, saat mereka lengah, Jully membelok langkahnya, dia melupakan kalau tempatnya berada kini tengah dilalap si jago merah.


Jully mengingat Purnama, dia segera menelepon Purnama.


"Halo dokter Jully, Anda masih di hotel itu? Ishana tengah beristirahat di lantai 4, kamar 043. Saya masih dalam perjalanan dok." Suara Purnama terdengar begitu panik.


Jully pun segera menuju tangga, dia berlari sekuat yang dia bisa.


Sedang di ruangan lain. Ardhi masih berjuang menuju toilet perempuan. Dia samar melihat Risma di depannya. "Sayang!" jeritnya.


Ardhi melepaskan jas yang dia kenakan, dia langsung menutup bagian kepala Risma dengan jas-nya, dan segera mencari pintu keluar.


Keduanya terus terbatuk-batuk, karena oksigen di ruangan itu menipis, yang ada hanya asap tebal yang menyesakkan dada.


Perjuangan Ardhi dan Risma keluar dari ruangan itu berhasil. Mereka bisa berkumpul dengan pengunjung lain yang selamat.


"Kamu gimana sayang?" Ardhi memastikan keadaan Risma.


"Aku baik-baik aja, makasih sudah selamatin aku."


Ardhi langsung memeluk Risma. "Aku panik karena gak lihat kamu dari orang yang berbaris akan keluar."


Risma hanya menangis dalam pelukan Ardhi.


"Bagaimana? Apa semuanya sudah selamat?"


"Semoga tidak ada korban jiwa," ucap yang lain.


"Ishana! Ishana! Nak di mana kamu?!"


Teriakkan itu mengalihkan perhatian Ardhi. Terlihat sosok Purnama di tengah kerumunan.


Ardhi melepaskan pelukannya pada Risma, dia mencegat salah satu tim medis yang lewat di depannya. "Pak, tolong bawa Istri saya ke Rumah Sakit, dia terlalu lama menghirup asap, saya takut dia kenapa-napa."


"Kamu juga," jerit Risma.


"Aku kuat, asal kamu baik-baik aja."


"Baik Tuan, mari ikut saya."


Ardhi mengikuti tim medis yang dia pinta pertolongan, Risma pun diminta Ardhi masuk ke dalam mobil Ambulan. Mobil Ambulan yang membawa Risma dan beberapa pengunjung lain pun melaju menuju Rumah Sakit.


Ardhi teringat Purnama, dia segera mencari Purnama.


"Ishana! Ishana!" Purnama masih berteriak memanggil Ishana di keramaian.


Ardhi langsung mendaratkan tangannya di pundak Purnama. "Bukannya Ishana sama Bapak?"

__ADS_1


"Ishana tidak bersamaku, dia meminta dipesankan kamar di hotel ini, setelah dia menuju kamarnya, aku juga segera pulang."


Terlihat kehancuran di wajah Purnama. "Ishana ...." pekiknya.


*S*iapkan bantalan udara, pada sisi jendela arah timur, kami menemukan satu pengunjung di lantai 3


Suara dari radio salah satu petugas pemadam kebakaran itu membuat harapan di hati Purnama, semoga itu Ishana.


Dia segera berlari menuju arah timur. Dia sangat berharap itu adalah Ishana.


Beberapa petugas pemadam kebakaran yang lain langsung sibuk menyiapkan bantalan udara untuk pendaratan.


Suasana tak terkendali, namun beberapa petugas masih melakukan tugas mereka.


Ya Tuhan, selamatkan Ishanaku.


Purnama terus memanjatkan kata-kata itu dalam hatinya.


Para petugas yang masih ada di dalam gedung, harap segera keluar, diperkirakan ada ledakkan yang tidak bisa kendalikan, semua petugas keluar!


Shutttttt! Brakkkk!


Tiga orang mendarat dengan selamat di bantalan udara itu. Namun saat yang sama.


Duarrrrrrr!


Ledakkan yang begitu dahsyat meledakkan gedung berlantai 5 itu.


Beberapa orang yang berada di sekitar gedung itu tersungkur ke jalanan karena getaran ledakkan barusan, bahkan ada yang terlempar karena dampak ledakkan itu.


Purnama segera berdiri, walau pelipisnya berdarah karena terjungkal ke jalanan. Dia ingin memastikan kalau yang mendarat di balon udara itu Ishana.


Beberapa petugas membantu mereka yang barusan terjun bebas, terlihat di sana ada dua petugas pemadam kebakaran dan dokter Jully.


"Dok ...." pekik Purnama.


Jully hanya menunduk. "Maafkan saya Pak, saya tidak sempat mencapai kamar Ishana."


"Maaf," pekik Jully.


"Ishana ...." Purnama menangis sejadi-jadinya.


Laki-laki paruh baya itu seketika kehilangan kesadarannya, mengetahui kalau putrinya masih berada di salah satu kamar yang ada di bangunan yang barusan meledak.


Jully meminta bantuan pada pemadam kebakaran, untuk membawa Purnama ke Rumah Sakit.


Sedang Ardhi mematung di sana, menyadari Ishana terkurung di sana, tapi dirinya tidak menyelamatkan istri keduanya itu.


Beberapa tim medis yang bertugas di sana juga langsung membawa Ardhi ke ambulan, laki-laki itu menurut, namun dia tidak sadar kemana dia dan di mana dia saat ini. Dia tenggelam oleh rasa sakit, kala menyadari Ishana masih berada dalam gedung yang terbakar itu.

__ADS_1


*Kenapa aku di beri dua, jika harus memilih salah satunya?


Andai bisa bertukar tempat, biar aku saja yang mati Na, karena dalam hidup aku tidak diberi kesempatan memiliki kalian berdua selamanya, dengan aku mati, aku bisa membawa kalian berdua, karena kalian berdua sama-sama aku cinta, dan aku tidak mampu mengutamakan salah satu diantara kalian*.


__ADS_2