Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 13 Dia Istrimu Juga


__ADS_3

Selesai membaca pesan balasan Ishana, Risma segera menyimpan handphone-nya. Saat yang sama, Ardhi juga baru keluar dari ruang ganti pakaian. Laki-laki terlihat begitu stres dan tertekan.


Melihat wajah Ardhi, terbayang akan pertarungan suaminya dengan istri barunya, sakit! Hanya itu yang selalu Risma rasa, namun dia hanya bisa diam.


"Sayang ...." Ardhi berusaha mendekap Risma, namun wanita itu menghindar.


"Maaf," ucap Risma.


"Sayang, maafin aku, bukan maksudku pilih kasih antara pilihanmu dan pilihan mama." Ardhi mengira Risma marah karena dirinya menggauli Eva, namun tidak menggauli Ishana.


"Ishana malam ini tidak pulang, dia bermalam di rumah Nara." Risma berusaha merubah topik pembicaraan.


"Ya, biarlah dia di sana. Ayok kita makan malam dulu, papa mama pasti menunggu kita," ajak Ardhi.


Mereka turun ber-iringan menuju lantai bawah, di sana hanya ada Wisnu dan Rita, sedang Eva, wanita itu mulai melakukan kegiatannya.


Makan malam pun begitu lancar, tidak ada perkataan pedas dari Rita lagi. Bahkan dia mulai menyapa Risma lagi.


Karena hanya Risma, Ardhi pun tidur di kamar Risma, padahal malam ini jadwalnya bermalam bersama Ishana. Namun kejadian tadi pagi, membuat Ardhi takut melihat wajah Ishana. Bukan takut mendapat marah dari Ishana, namun dia takut, perasaan yang sedari pagi muncul semakin subur.


Risma terlihat sangat berbeda. Dia bukan Risma yang selalu berusaha membuat Ardhi nyaman. Namun Ardhi berusaha memahami perasaan Risma. Wanita itu berbaring membelakangi Ardhi.


"Sayang." Ardhi mendaratkan telapak tanganya di pundak Risma.


"Jangan sentuh aku mas, aku jijik sama mas!"


Ucapan Risma seperti samurai yang seketika menggores hati Ardhi. Dia pun menjaga jarak dengan Risma.


"Maafkan aku, aku ceroboh tadi malam, aku kena jebakan Eva," ucap Ardhi.


Risma tidak perduli, rasa sakit dan cemburu sudah nenyelimuti mata dan hatinya.


Melihat Risma terluka seperti ini, Ardhi mulai memikirkan tentang Ishana. "Aku tidak mau melukai perasaan kamu lebih dalam lagi Ma. Eva sama sekali tidak mendapat posisi di hatiku, kamu sudah semarah ini, bagaimana kalau ada wanita lain yang bertahta bersamamu di hatiku?" ucap Ardhi.


Risma masih betah membisu.


"Kalau begitu, secepatnya aku akan melepaskan Ishana, aku tidak mau menyakiti kamu lebih dalam lagi, karena tidak menutup kemungkinan Ishana bisa masuk dan bertahta dalam hatiku bersamamu, karena kalian sama-sama baik."

__ADS_1


"Apa!? Kamu ingin mengeluarkan Ishana dari hubungan kita?" Risma langsung bangun dan menatap Ardhi dengan tatapan kemarahan. "Ishana itu kekuatan aku, kenapa kamu mau lepasin dia dalam ikatan ini?"


Karena aku mulai jatuh cinta padanya, Risma.


Namun Ardhi tidak berani mengatakan itu. "Seperti yang aku bilang barusan. Eva tidak bisa masuk kedalam hatiku, tapi kalau Ishana, aku tidak tau. Dia persis seperti dirimu, aku takut kalau suatu saat aku jatuh cinta padanya, dan hal itu tentu sangat menyakiti kamu, Eva hanya berhasil memiliki tubuhku, ini saja kamu sangat sakit, bagaimana kalau Ishana? Perasaan siapa yang tau Ma. Bagaimana kalau aku nyaman dengan Ishana dan jatuh cinta padanya?"


"Kenapa takut jatuh cinta pada Ishana? Wajarlah kalau rasa itu ada, dia kan istri kamu juga," sela Risma.


Pikiran Risma, tidak mengapa Ardhi jatuh cinta pada Ishana, hal itu senjata ampun untuk mengusir Eva. Bagaimanapun dirinya berkata ikhlas, Risma masih berharap, suatu saat bisa menjadi satu-satunya dalam ikatan rumah tangga ini, seperti dulu.


"Tapi aku takut kamu sakit." Ardhi berusaha membuat Risma mengerti.


"Aku takut kamu merasa sakit hati, karena rasa cinta yang terlanjur tumbuh untuk Ishana, sebelum itu terjadi, biarkan Ishana pergi," bujuk Ardhi.


"Kamu ingin usir Ishana karena sudah mendapat wanita yang istimewa bukan?"


Ardhi bingung, bagaimana mengatakan pada Risma, kalau dirinya hanya takut Ishana benar-benar membuatnya jatuh cinta. Saat ini Ardhi hanya ingin mengutamakan Risma.


"Hari ini Ishana yang ingin kamu singkirkan, mungkin besoknya aku."


"Itu tidak akan sayang, aku melakukan semua ini, demi ketenangan pernikahan kita."


Setidaknya ada amunisiku, untuk melawan Eva.


Jika aku kalah dalam perjuanganku melawan penyakitku, setidaknya ada Ishana yang mendampingimu.


"Kamu siap dengan semua resekonya?" Ardhi memastikan.


Risma diam, andai mereka sudah mendapat seorang anak, Eva pergi, dan Ishana pergi itulah yang dia inginkan. Tapi penyakit yang dia derita membuatnya takut, jika dia pergi Ardhi tidak ada yang mengurus.


"Ini pernikahan, bahkan Eva yang aku pastikan tidak mendapatkan cintaku, aku tidak mengambil keuntungan darinya, jika dia betah dengan pernikahan ini, aku biarkan dia bertahan, tapi dengan syarat yang aku berikan. Kecuali jika Eva ingin pergi, baru aku lepas, aku tidak ingin menahan siapapun dalam pernikahan ini, termasuk Ishana. Dia berhak mendapatkan laki-laki yang mencintai dia, dalam pernikahan ini, laki-laki ini hanya mencintai istri pertamanya. Untuk saat ini."


"Harus kamu ingat, jika kamu meminta Ishana bertahan, maka aku tidak akan melepaskan Ishana maupun Eva, bahkan setelah mereka memberi kita anak, kecuali mereka yang ingin minta lepas.


"Aku mau Ishana tetap di sini, kamu lepas Ishana, aku juga pergi."


Ardhi mengalah. "Baiklah, andai suatu saat cintaku benar-benar terbagi, maka kamu ingat, ini kamu yang menginginkan."

__ADS_1


Selesai pembicaraan mereka, Risma dan Ardhi pun larut kealam bawah sadar mereka.


Matahari kembali bersinar cerah, embun-embun yang membasahi rerumputan itu perlahan menguap. Rita sibuk mengurus Wisnu, Ardhi sudah ke kantornya, dan Eva wanita itu juga pergi sangat pagi sekali.


Deringan handphone mengusik ketenangan Risma, dia segera menyambar benda elektronik pipih persegi panjang tersebut. Terlihat pesan dari Nara.


Ris, kumpul ke rumah aku yukkk, ini masih ada Ishana di sini.


Risma sangat bahagia, dia segera membalas pesan Nara.


Sebentar lagi aku berangkat. Tapi setelah minta izin sama mas Ardhi.


Izin dari Ardhi, juga Rita didapat, Risma segera mengemudikan mobilnya menuju kediaman Nara. Sesampai di sana, Risma melihat dua sahabatnya. Mereka saling berpelukan melepas rindu mereka.


Nara membicarakan banyak hal santai bersama Risma, sebelum membahas bahasan yang menjurus hubungan poligami Ishana dan Risma.


"Ris, aku dan kak Ardhi kan tidak pernah melalukan apapun, bagaimana kalau aku keluar dari rumah tangga kalian?" Ishana memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya.


"Kamu iri, karena mas Ardhi dan Eva bisa sedang dengan kamu tidak bisa?" tanya Risma.


"Bukan, tapi ini masalah hati," jawab Ishana.


"Kamu dan mas Ardhi satu sarver kayaknya," gerutu Risma. "Tadi malam mas Ardhi yang bicara sejurus ini, sekarang kamu, apa kalian berdua sama-sama ingin ninggalin aku?"


Ishana merasa tidak enak dengan tanggapan Risma. "Bukan, justru aku ingin pergi karena takut kamu terluka."


"Kamu takut jatuh cinta sama mas Ardhi?" tanya Risma.


"Iya, mencintai dia, sama saja aku melempari hatimu dengan anak panah yang runcing," ucap Ishana.


"Ini hati, bukan robot yang bisa ku program. Bagaimana kalau hatiku mencintai kak Ardhi?"


"Ishana benar, Ris. Dia hanya takut melukai kamu nantinya, karena perasannya," sela Nara.


"Kamu mencintai dia, itu wajar, selama kamu ikhlas berbagi dengan istri yang lain," jawab Risma.


"Saat ini, hatiku masih tegar, andai suatu saat hatiku oleng, ini kamu yang minta ya, Ma." ucap Ishana.

__ADS_1


"Kamu itu penguat aku, kalau kamu pergi, siapa yang menguatkan aku."


Ishana pun mengalah, dirinya tidak tega keluar dari ikatan berbagi cinta bersama sahabatnya.


__ADS_2