Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi
Bab 53 Cincin


__ADS_3

Cincin, benda itu mengingatkan Jully pada sesuatu, dia langsung berdiri dan membuka dompetnya. Cincin putih bermata 1 itu ternyata masih ada dalam dompetnya. Jully mengambilnya dan memperlihatkan pada Ishana.


"Ya salam ...." Ishana menepuk jidadnya, cincin yang dipegang Jully adalah cincin saat Jully pertama kali melamarnya dulu, namun dia tolak, saat itu pikiran Ishana hanya fokus pada ibu angkatnya.


"Cincin itu sudah 10 tahun di dompetmu?"


Jully mengeluarkan cincin itu dari plastik yang membungkusnya. "Apa bedanya? Aku saja tidak masalah, karena kamu juga selama itu tidak mau keluar dari hatiku."


"Nggak mau, nggak romantis, masa kamu melamar seorang wanita dengan cincin yang berbungkus plastik, yang tersimpan sepuluh tahun dalam dompetnya, bagaimana aku cerita pada anak-anak kita nanti?"


"Tapi ini selalu ku rawat Na, bukan selalu, tapi saat aku akan mengganti dompetku."


"Aaa, nggak mau. Kamu cari kotak cincinnya, terus lamar aku pada saat yang tepat, kalau saat ini belum, karena status negaraku masih istri seseorang. Bye!" Ishana langsung pergi meninggalkan Jully.


Jully mematung, mencoba mencerna ucapan Ishana. "Cari kotak cincin? Artinya?" Jully faham maksud Ishana, senyumannya seketika merekah luapan dari perasaan bahagianya.


*


Ishana sengaja pulang berjalan kaki sambil menyusuri tepi pantai. Dia tidak pernah seyakin ini untuk menerima Jully.


Sedang Jully, sepanjang perjalanan pulang, dia terus tersenyum. Sesekali dia melirik 2 mainan yang barusan dia beli untuk calon anak sambungnya.


Sore itu seakan kebahagiaan menyelimuti hati semua orang. Ardhi dan Risma sangat bahagia bisa bermain bersama di tepi pantai, sedang Ishana dan Jully mencoba membuka lembaran baru untuk kehidupan mereka.


Kediaman Nyonya Shafina terlihat ramai, di area samping rumah ada sebuah meja makan panjang yang dikelilingi banyak kursi, tempat itu untuk jamuan makan malam bersama tamunya, malam ini.


Jam menunjukkan jam 8 malam, dua buah mobil berhenti di depan vila yang Ardhi sewa, Ardhi dan keluarganya sudah siap sedari tadi saat jemputan mereka sampai, mereka langsung menuju kediaman Nyonya Shafina, seorang pengusaha ternama, dan pemilik pulau ini.


Perlahan dua buah mobil yang membawa keluarga Ardhi memasuki kediaman Nyonya Shafina yang begitu luas. Saat mereka turun dari mobil, seorang wanita seumuran Rita menyambut mereka bersama beberapa orang pelayan.


"Selamat datang keluarga Pramudya," sambut Shafina.


"Ini suatu kehormatan bagi kami, seorang pengusaha ternama seperti Anda, mengundang kami ke rumah Anda, kami sangat tersanjung," balas Ardhi.


Shafina mengajak tamunya menuju meja makan yang dia siapkan di luar rumah.


Obrolan santai menemani waktu makan malam mereka. Nyonya Shafina yang begitu humble, membuat Ardhi, Rita, maupun Risma sangat nyaman bertanya banyak hal dengan wanita itu.

__ADS_1


"Anda wanita yang sangat cantik, karir Anda juga sangat cemerlang, kenapa Anda memilih sendiri?" tanya Risma.


"Aku tidak tahu, apakah kesendirianku ini pilihan, atau sebuah trauma."


"Kenapa begitu?" sela Rita.


"Maaf, aku ingin menyombongkan diri sedikit." Shafina berusaha membuat keadaan tidak begitu tegang.


"Aku memiliki otak yang cukup cerdas untuk pendidikan, tapi begitu bodoh untuk masalah cinta. Aku lulus lebih cepat di Universitas tempat kuliahku, hingga aku bisa bekerja disebuah perusahaan yang lumayan berkembang di Negara tempatku mengenyam pendidikan."


"Aku jatuh cinta dengan seorang laki-laki, hingga kami menikah. Kehidupan kami mulanya bahagia, sampai suatu saat dia meninggalkanku lalu menikahi wanita lain, demi menyelamatkan ekonomi keluarganya, karena bisnis keluarganya yang diambang kehancuran saat itu. Kami pun memilih bercerai."


"Singkat cerita, tujuannya tercapai usaha keluarga dia juga kembali bangkit. Aku memilih pulang ke negaraku, pada saat itu aku tengah hamil. Sedang mantan suamiku berbahagia dengan keluarga barunya."


"Mulanya kehidupan kami kembali normal, aku bahagia dengan kehamilanku, dan dia bahagia dengan keluarga barunya."


"Kebahagiaanku terusik, kala aku menerima kabar, kalau mantan suamiku mencariku, lebih tepatnya dia mencari anak yang tengah aku kandung, karena dia divonis tidak bisa memiliki anak karena kecelakaan yang menimpanya."


"Aku tidak rela, anakku dia ambil dan melengkapi kehidupan rumah tangga dia, aku kabur dan terus berusaha pergi dari kejarannya, hingga aku memilih meninggalkan anak yang aku lahirkan di sebuah Panti Asuhan."


"Keluargaku sangat berada, aku meninggalkan anak itu di Panti, supaya dia aman."


"6 tahun berlalu, merasa orang percaya padaku, aku lengah. Hingga istri dari mantan suamiku tau kalau anakku masih hidup, dia tidak menginginkan anak itu, jika anak itu hadir ditengah keluarganya, dipastikan dia pewaris usaha mantan suamiku, mengetahui, kalau anakku tumbuh di sebuah Panti Asuhan, dia berusaha membunuh anakku, dia membakar Panti Asuhan tempat Anakku bernaung."


Risma seakan mengingat masa kecilnya saat di Panti Asuhan bersama Ishana. Apapun yang Ishana inginkan saat kecil, Risma selalu mendapatkan hal itu, lalu dia bagi bersama Ishana, kadang dia menemukan tiba-tiba, kadang ada seseorang yang memang datang memberikannya.


"Lalu, bagaimana putri Anda?"


Pertanyaan Ardhi membuyarkan segala kenangan Risma yang berputar di kepalanya.


"Anakku selamat, ada pahlawan yang menyelamatkan dirinya."


Tatapan Shafina tertuju pada Risma. Merasakan hal itu, keadaan hati Risma tidak menentu, apakah yang dimaksud Shafina memang Ishana, atau cerita itu hanya kebetulan sama.


"Setelah kebakaran itu, aku meminta anak buahku mengadopsi putriku, demi keselamatannya, dia pun hidup bahagia dengan keluarga barunya."


"Aku wanita karir yang sukses, tapi aku ibu yang buruk, membiarkan putriku menjadi anak angkat pelayan setia keluargaku."

__ADS_1


"Tapi itu demi keselamatan dia, semoga putri Anda mau mengerti," sela Rita.


Shafina hanya tersenyum. "Kesendirianku bukan aku yang mau, tapi keadaan anakku lebih penting dari apapun, sebab itu aku tidak memikirkan masalah pasangan, aku terus menjalani hidupku dengan kebahagiaan yang lain. Jadi, aku tidak tahu kesendirianku sebab apa," jelas Shafina.


"Usia anak tante berapa?" tanya Risma.


"Yah ... seumuran denganmu sepertinya."


"Sudah menikah juga?" tanya Rita.


"Pernikahannya seharusnya tidak terjadi, saat dia berada dalam keterpurukan, saat itu Ayahku sakit, aku membawanya berobat ke luar negri, saat aku kembali, dia sudah menikah."


"Andai aku ada di negara ini, dia pasti punya pilihan lain untuk keluar dari masalahnya dengan menerima uluran tangan lain, tapi saat itu aku benar-benar tidak bisa ada untuknya."


"Apa pernikahan dia bahagia?" tanya Risma.


"Mulanya, walau dia menikah, aku selalu ingin memastikan dia bahagia."


"Maksud mulanya?" sela Rita.


"Aku tidak bisa cerita banyak tentang itu," jawab Shafina.


"Sekarang, putri jeng Fina sekarang di mana?" tanya Rita.


"Ada bersamaku."


"Akhirnya pengorbanan Anda berpisah dengan putri Anda, terbayar dengan bisa menghabiskan masa tua Anda bersamanya dan menantu Anda," sela Risma.


"Tidak bersama menantuku, hanya aku, putriku dan cucuku."


"Owh maaf," Risma merasa bersalah akan ucapannya.


"Santai saja, kalian mau bertemu dengan putriku?" tanya Shafina.


"Tentu saja mau, siapa yang tidak ingin kenal, sepertinya kami orang yang beruntung bisa berada sampai di sini," sela Rita.


Makan malam mereka semua selesai, Shafina mengajak tamu-tamunya masuk kedalam rumahnya.

__ADS_1


Rita, Risma, dan Ardhi mengagumi keadaan rumah seorang Shafina Azzalea Shafiq. Hingga mereka berada du sebuah ruangan besar, dinding rumah itu dihiasi banyak foto. Bukan foto artis atau lukisan milyaran rupiah yang membuat ketiga tamunya bungkam, namun ada beberapa foto yang membuat Ardhi, Risma, dan Rita terpaku.


Foto yang berukuran besar yang terpajang di ruang tamu itu. Foto seorang wanita dengan dua bayi. Sekitar foto besar itu juga ada foto-foto lain, memperlihatkan kebahagiaan wanita itu dengan dua anak. Dari dua anak itu masih bayi hingga dua anak itu tumbuh besar.


__ADS_2