
Sore hari di sebuah panti asuhan, tepatnya di halaman belakang panti asuhan yg terdapat taman2 kecil yg dipenuhi dengan bunga2 yg indah. Terlihat seorang anak kecil yg sedang duduk menyendiri.
"Hai anak manis sedang apa kamu disini, kenapa duduk sendirian disini? disana teman2 mu sedang asik bermain" Dewi menyapa anak tersebut seraya duduk di samping anak kecil itu.
Anak kecil itupun memalingkan wajahnya melihat ke arah Dewi. Ia seperti habis menangis, tetapi melihat kehadiran Dewi Iapun tersenyum.
"Aku sedang menunggu ibu dan ayahku tante"
"Oh ya, apa ibu dan ayahmu yg membawamu kesini?" gadis kecil itu meggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Dewi.
"Paman dan Bibi yg membawaku kesini, mereka bilang aku harus menunggu disini sampai ayah dan ibu menjemputku pulang" terlihat senyum di wajah cantik gadis itu saat iya mengucapkan kata demi kata dibibirnya.
"Memang ibu dan ayahmu kemana?" tanya Dewi penasaran.
"Kata paman dan bibi, ayah dan ibu sedang ke syurga. tapi nanti mereka akan datang menjemput ku kalau waktunya sudah tiba. bibi menyuruhku menunggu disini"
Deeg. Seperti ada pukulan keras tepat dihati Dewi mendengar penuturan polos gadis kecil itu. Bagaimana bisa paman dan bibinya tega menyuruhnya menunggu ibu dan ayahnya yg sebenarnya telah tiada.
Dewi menggenggam tangan gadis itu dengan lembut.
"Kalau boleh tante tahu siapa nama kamu?"
__ADS_1
"Mentari"
"Mentari, nama yg cantik sekali. seperti wajahmu yg juga cntik" Ucap Dewi, Gadis kecil itupun tersenyum.
"Tari, mau ikut tante tidak? ikut tante pulang ke rumah tante dan kamu boleh anggap tante adalah ibu kamu"
Mentari menggelengkan kepalanya. Dewipun terlihat sedih
"Kenapa? tante akan jadi ibu yg baik buat kamu"
"Aku akan menunggu ayah dan ibu disini. aku sudah berjanji pada paman dan bibi, kalau aku akan selalu disini sampai ayah dan ibu datang menjemputku" jawab gadis itu masih dengan keyakinan ayah dan ibunya akan datang.
Terlihat raut wajah Dewi yg sedih, namun seketika Ia tersenyum kembali.
Mentari manganggukkan kepalanya seraya tersenyum senang. Dewipun ikut senang.
"Kalau begitu mulai sekarang panggil tante dengan panggilan ibu. ok?!"
Dewi mengangkat jari kelingkingnya dihadapan Mentari seolah ingin mengikat sebuah perjanjian, lalu Mentari membalas dengan mengaitkan jari kelingkingnya.
"IBU"
__ADS_1
Panggil Tari, kemudian mereka saling berpelukan.
Setelah hari itu, Dewi semakin sering berkunjung ke panti asuhan. Hampir setiap hari sepulang mengajar, Ia akan menyempatkan diri untuk berkunjung ke panti dan menemui Mentari. Tak lupa Ia akan membawa sesuatu sebagai oleh2. Pertemuannya dengan gadis polos yg manis itu seperti memberi kebahagian baru dalam hidupnya.
Mentari, seorang gadis kecil anak yatim piatu yg ditinggal m*ti oleh kedua orang tuanya, di usianya yg baru menginjak 5 tahun karena kecelakaan pesawat.
Orang tuanya yg saat itu akan pergi ke sebuah kota X untuk urusan pekerjaan, menitipkannya pada paman dan bibinya untuk sementara waktu. Namun karena ayah dan ibunya meninggal, paman dan bibinya merasa tidak sanggup untuk merawatnya sehingga Ia dititipkan di panti asuhan.
Tak terasa sudah satu tahun sejak pertemuan antar Dewi dan Mentari. Entah karena berkah yg dibawa oleh Mentari, Dewipun akhirnya hamil setelah pernikahannya yg menginjak usia 4 tahun.
"Tari coba pegang perut ibu" Dewi meletakkan tangan kecil Mentari keperutnya yg masih terlihat rata.
"Kenapa buk,apa ibu sakit perut?" Sambil mengusap2 perut Dewi. Dewipun terkekeh.
"Bukan sayang. Diperut ibu sedang ada ade bayi" Ucap Dewi dengan wajah berbinar2.
"Waah benarkah, apa itu artinya Tari akan punya adik?" Senyum di wajah Mentaripun mengembang.
"Iya dong. Sebentar lagi Tari akan punya adik" Ucap Dewi.
"Asiiiiiikkkk, Tari akan punya ade bayi"
__ADS_1
Dewi lalu menarik Mentari kedalam pelukannya.
Bersambung....