Berlian

Berlian
Pertolongan Ibu


__ADS_3

Berlian terus berfikir bagaimana Ia bisa terbebaskan dari cengkraman laki2 tua itu. Iya terus mengingat2 cerita ibunya tentang masa lalunya. Masa kecil ibunya, masa sekolah, masa SMA dimana masa yg paling indah bagi anak remaja, hingga masa pertemuannya dengan ayah Hendra.


"Apa om ini pernah muncul dalam cerita ibu tentang masa lalunya? ayo ingat2 lagi Ian" Berlian.


"Apa ini om Heru? Iya, ibu pernah bercerita tentang mantannya yg bernama Heru. apa mantan ibu cuman satu? akh aku berharap mantan ibu cuman satu" Berlian terus berdebat dengan batinnya sendiri.


"Om Heru, Apa om ini om Heru" Takut2 Berlian mencoba menyebutkan nama itu.


"Kalau dia bukan mantan ibu yg namanya Heru matilah aku" Berlian


"Kau tahu nama om, apa ibumu pernah bercerita tentang om padamu?" laki2 itu terlihat senang saat Berlian mengenali namanya.


Berlian terlihat menghembuhkan nafas lega, ya sedikit lega setidaknya yg di hadapannya ini benar2 Heru, mantan yg sekilas namanya pernah di sebutkan oleh ibunya. Berlianpun mengangguk antusias mengiyakan pertanyaan laki2 itu.


"Ibu sering bercerita tentang om. bahkan ibu sangat senang jika bercerita tentang om" Berlian mencoba memancing laki2 itu untuk larut dalam ceritanya.


"Tuhan maafkan hambamu yg sudah berbohong ini, ibu maafkan Ian yg sudah menggunakan ibu untuk bebas dari laki2 ini" Berlian


Tentu saja Berlian sedang berbohong, nama laki2 itu hanya sepintas lalu pernah muncul dalam pembicaraannya bersama ibunya. Tak banyak hal yg di ceritakan oleh ibunya dan tak banyak hal yg Ia tahu, tapi yg pasti Ia tahu bahwa Heru adalah mantan ibunya.


"Benarkah ibumu sering bercerita tentang om? ayo katakan pada om apa saja yg ibumu ceritakan tentang om" Benar saja laki2 itu mulai masuk dalam permainan Berlian, yg mencoba membuatnya senang dengan cerita ibunya.


Namun di sisi lain ada perasaan cemas dalam hati Berlian, kebohongan seperti apa yg harus Ia ceritakan pada laki2 ini untuk membuatnya percaya dan senang.


"Apa yg harus aku katakan, aku bahkan tidak tahu tentang laki2 ini sama sekali. Ibu izinkan Ian untuk berbohong tentang ibu kali ini saja" Berlian


"Ibu pernah bercerita jika dulu di SMA ibu pernah menjalin kasih dengan seorang pria tampan dan sangat populer di sekolah" Berlian mencoba merangkai kata demi kata, yg mungkin akan terdengar manis di telinga laki2 itu. Benar saja laki2 itu terlihat tersenyum bangga.


Melihat laki2 itu tersenyum Berlianpun melanjutkan karangannya yg mungkin saja benar.


"Ibu juga bilang, banyak gadis di sekolahnya yg sangat iri pada ibu, karena ibu berhasil menaklukkan hati seorang idola para wanita seperti om" laki2 itu semakin mengembangkan senyum di wajahnya seperti sangat menikmati cerita Berlian.


"Om tahu, ibu bilang saat itu ibu merasa menjadi wanita yg paling beruntung di sekolahnya, bahkan di dunia ini" Berlian semakin bersemangat dalam mengarangnya.


"Tunggu, apa itu tidak terlalu lebay? aduh aku terlalu bernafsu menceritakannya" Berlian.

__ADS_1


"Benarkah, apa ibumu benar mengatakan beruntung karena menjadi kekasih om saat itu?" Laki2 itu semakin terpancing, kata2 lebay yg di keluarkan Berlian benar2 sudah memperdayanya.


"Tentu saja ibu mengatakannya. "Padahal bohong" . Ibu mengatakan jika ibu tidak pernah menyesali memberikan hatinya pada om"


"Sudah berapa banyak kebohonganku saat ini. semoga Tuhan mengampuniku" Berlian.


"Tapi jelas2 ibumu bilang telah salah memberikan hatinya pada om" laki2 itu terlihat tidak percaya dengan kalimat terakhir Berlian.


"Aduh kenapa aku bisa lupa dengan kalimat ibu yg keren itu.. ayo berfikir lagi Berlian" Berlian.


"Ibu mengatakannyanya karena saat itu ibu sangat kecewa pada om. Tapi sebenarnya ibu tidak pernah menyesali perasaannya pada om. Bahkan ibu bilang seandainya waktu bisa di ulang, ibu ingin memberikan om kesempatan untuk menyesali perbuatan om dan ibu akan kembali pada om" Berlian seperti mengutuki kata2nya sendiri, Bagaimana Ia bisa senafsu ini berbohong.


"Semakin ngawur aja kamu Berlian, apa kebohonganku ini tidak akan membinasakanku?" Berlian


Tapi mendengar penuturan dari Berlian, senyum laki2 itu kembali mengembang. Dia terliahat sangat senang bahkan beberapa kali terdengar iya menyebut nama Dewi dalam gumamnya.


"Tapi kenapa ibumu malah pergi meninggalkan om dan seperti menghilang di telan bumi" Laki2 itu kembali memberikan pertanyaan yg membuat Berlian panik untuk menanggapi.


"Karena orang tua ibu harus pindah keluar kota, jadi ibu harus ikut pindah, dan ibu pun merasa kecewa karena om tidak pernah menyusulinya"


Dewi memang pernah bercerita jika saat lulus SMA, Ia dan orang tuanya alias nenek/kakek Berlian harus pindah dari kota X menuju kota X karena alsan pekerjaan.


"Kau benar, om memang bodoh karena tidak menyusuli ibumu saat itu. itu salah satu yg membuat om menyesal sampai hari ini" Laki2 itu kembali memperlihatkan raut kecewanya.


"Om. jika om benar2 menyesali kejadian itu, maka berhentilah bermain2 dengan perempuan. Mulailah hidup dengan baik. Jika perlu, mulailah untuk mencari wanita pendamping hidup"


Entah apa yg merasuki Berlian sehingga Ia berani mengucapkan kata2 mutiara itu. Tapi seketika Ia sadar akan ucapannya sendiri.


"Eehh apa ini, apa aku sedang menceramahinya. Bagaimana kalau dia marah?" Berlian


"Kau benar harusnya om menunjukka rasa penyesalan om, dengan selalu menjaga kehormatan perempuan. Bukan justru bermain2 dengan banyak perempuan seperti saat ini"


Laki2 itu melihat ke arah Berlian. raut penyesalan di wajahnya kembali terlihat.


"Terima kasih karena kau sudah menyadarkan om malam ini" laki2 itupun tersenyum pada Berlian

__ADS_1


" Saat ini Kau boleh menganggap om seperti ayah kamu, dan jika kau butuh sesuatu jangan sungkan2 katakan saja pada om" lanjutnya kemudian melangkahkan kakinya menjauhi Berlian.


"Apa ini artinya aku selamat. kenapa aku jadi tidak tega melihat kesedihan om itu ya? dan apa tadi, aku boleh menganggapnya ayah? apa aku boleh melakukannya?" Berlian


"Segeralah ganti bajumu. Kenapa kau menggunakan baju yg terbuka begitu kau bisa masuk angin" Ucap laki2 itu tanpa memalingkan wajahnya pada Berlian.


Sontak Berlian langsung menaikkan tangannya menggantung di bahunya untuk menutupi bagian depan tubuhnya.


"Tidak perlu menutupinya, Om sudah melihat semuanya dari tadi" ucapnya dengan mamalingkan tubuhnya yg menghadap pintu ke arah Berlian.


"Cepat ganti bajumu, Om akan menemui Sekar" Laki2 itupun melangkahkan kakinya keluar.


"Sudah melihat semuanya, apa yg om liaht? akukan masih pake baju, walaupun sedikit terbuka sih. tidak2 ini sangat terbuka" Berlian masih dengan perdebatan batinnya.


Baru saja Ia ingin melangkah untuk menutup pintu tiba2 laki2 itu kembali berdiri di hadapannya. Sontak saja Berlianpun kaget dan memundurkan langkahnya.


"Kenapa dia balik lagi apa dia berubah pikiran?" Berlian.


"Ini Kartu nama Om, kau boleh menghubungi om jika sewaktu2 kau membutuhkan bantuan om. kau tida perlu sungkan" Laki2 itu pun tersenyum hangat pada Berlian.


Berlian terlihat linglung namum seketika Ia menerima selembar kertas itu dan membalas tersenyum.


"Terima kasih om" Ucap Berlian dengan sedikit menundukkan kepalanya.


"Satu lagi. Hati2lah pada Sekar, karena dia wanita yg sangat licik. om bukanlah satu2 nya laki2 hidung belang yg akan dia bawa kesini untuk tidur denganmu" Lanjut laki2 itu.


"Jadi dia mengakui dirinya hidung belang" Berlian


"Jika perlu carilah tempat yg aman bagimu, sepertinya rumah ini sangat tidak aman. kau boleh mengabari om jika butuh sesuatu" laki2 itu mengusap2 kepala Berlian lembut. Bukan lagi ekspresi liar yg Ia tunjukan melainkan seperti kasih sayang orang tua pada anaknya.


Laki2 itupun melangkahkan kakinya meninggalkan Berlian. Terlihat Berlian Menghembuskan nafasnya sangat lega.


"Setidaknya aku selamat malam ini. Terima kasih Tuhan, Terima kasih Ibu dan maafkan Ian sudah banyak berbohong" Berlian.


Berlianpun Segera menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


"Bagaimana mama Sekar mendobrak pintu kamarku sampai rusak begini? aku jadi penasaran" Gumamnya saat melihat engsel kamarnya yg telah lepas dari tempat melekatnya.


Bersambung......


__ADS_2