
Malam menunjukkan pukul 19.45, Juno dan Berlian telah sampai di halaman rumah mereka. Kedatangan mereka di sambut oleh para penjaga dan pelayan di rumah itu.
" Selamat malam Taun" ucap mereka kompak pada Juno yg terlihat keluar dari mobil.
Juno hanya membalas dengan anggukan seraya membukakan pintu mobil untuk Berlian, yg kini sudah menjadi rutinitas baru baginya.
"Kamu naiklah duluan dan istirahat" ucap Juno pada Berlian saat istrinya keluar dari mobil, terlihat Berlian yg sangat kelelahan. Berlian mengangguk dan menurut untuk naik duluan.
"Ehh adik kakak sudah pulang. Gimana, lancarkan?" ucap Martha pada Juno saat melihat adiknya itu muncul di ruang tengah.
" Apanya yg lancar?" tanya Juno sedikit kesal dengan godaan kakaknya itu.
" Ya proses pembuatan ponakanku lah" balas Martha tanpa ragu. Radit yg sedari tadi sudah berada ditempat itu ikut tersenyum mendengar ucapan Martha.
" Boro2" balas Juno seraya menghempaskan dirinya di sofa tepat di sebelah Martha. Masih belum sadar dengan keberadaan Radit.
" Boro2 gimana, dia nolak kamu ya?" tanya Martha seraya tertawa mengejek.
" Dia datang bulan" balas Juno dengan terlihat kesal.
" Hahahaha" Martha tak dapat menahan tawanya mendengar ucapan Juno, sedangkan Radit sekuat tenaga berusaha menahan tawanya karena tidak ingin menambah kekesalan hati sahabatnya itu.
"Apanya yang lucu?" kesal Juno.
"Mendingan kau masak sana sama bibik, bagaimana kau bisa jadi seorang istri kalau masak saja tidak bisa" Lanjut Juno membalas ejekan Martha.
"Dih, sejak kapan jadi istri harus bisa masak?" protes Martha.
" Lihat saja Berlian bisa masak dan menyenangkan suami, begitu baru seorang istri" balas Juno memuji istrinya.
" Iya iya, aku tahu istrimu bisa masak dan menyenangkan suami. Dih puji aja terus" Kesal Martha.
" Tuh Radit uda nungguin kamu dari tadi jgn di kacangin" ketusnya lagi seraya pergi meninggalkan kedua pria itu.
"Eeh Dit maaf kamu disini rupanya, aku sampai tidak menyadari keberadaanmu karena ocehan Martha" Ucap Juno saat menyadari keberadaan Radit, seraya menggaruk alisnya dan tersenyum malu2 karena kejadian barusan.
"Tidak masalah" Balas Radit seraya tersenyum.
" Oh iya bagaimana dengan rapat kemarin?" tanya Juno mengalihkan pembahasan pada pekerjaan untuk melupakan pembiacaannya dengan Martha yg sedikit memalukan tadi.
"Oh iya...." Raditpun mulai membahas masalah rapat yg di adakan kemarin. Radit bertanggung jawab menangani rapat karena Juno sedang liburan dadakan. Sehingga hasil yg di dapatkan kemarin barulah akan di laporkan pada Juno saat ini.
***
Keesokan harinya. Siang itu menunjukkan pukul 12.30, Juno berencana untuk pulang dan makan siang di rumah sebagaimana rutinitasnya akhir2 ini.
Tok tok tok...
"Maaf bos, ada tamu yg ingin menemui anda" ucap Rissa.
" Suruh dia masuk" balas Juno.
Tak berapa lama masuklah seseorang dengan stelan jas hitam, dia adalah seorang detektif khusus yg ditugaskan Juno untuk menyelidiki Sekar .
"Selamat siang tuan" ucap orang itu seraya menunduk sopan.
" Silahkan duduk" balas Juno seraya duduk di sofa. Orang itupun menurut dan ikut duduk di sofa tepat di samping Juno.
"Maaf mengganggu waktu anda" ucap orang itu sopan.
"Tidak masalah. Apa ada informasi baru?" balas Juno.
" Begini tuan, Saya menemukan fakta baru tentang perbuatan Sekar di masa lalu Tuan" ucapnya tanpa basa basi seraya menyerahkan sebuah amplop coklat pada Juno.
Juno menerima amplop itu seraya melihat isi amplopnya, terdapat catatan laporan kesehatan atas nama Dewi.
"Dewi, apa ini ibunya Berlian?" tanya Juno memastikan orang yg dimaksud dalam laporan itu.
"Benar tuan" balas Orang itu yg diketahui bernama Arman.
Juno kembali membaca laporan medis itu dengan cermat, Iapun mulai memahami arahnya.
"Dalam laporan ini dikatakan bahwa bu Dewi dilarikan ke rumah sakit pada waktu itu karena keracunan, namun beberapa waktu kemudian laporan itu berubah dan berganti menjadi adanya gejala cancer hati bahkan dengan kondisi yg sangat parah" jelas Arman.
__ADS_1
"Setelah melakukan penyelidikan, saya menemukan fakta bahwa saat itu bu Dewi memang mengalami keracunan makanan sehingga nona Berlian membawanya ke rumah sakit, dan laporan mengenai sakit cancer hati yg dideritanya adalah palsu" jelas Arman melanjutkan.
Juno membulatkan matanya mendengar penjelasan Arman.
"Bagaiamana beliau bisa keracunan dan bagaimana laporan medis ini bisa berubah, apa kau sudah menemukan kebenarannya?" tanya Juno semakin terlihat serius.
"Saya belum mengetahui pasti bagaimana beliau bisa keracunan tuan, tetapi saya menemukan fakta tentang laporan medis yg telah di ubah, hal ini dilakukan dengan sengaja oleh seorang dokter. Dokter itu yg menangani bu Dewi selama di rawat di rumah sakit" jelas Arman.
"Selain itu saya juga menemukan fakta bahwa kondisi bu Dewi semakin memburuk setelah mendapat perawatan di rumah sakit, hal itu karena dokter yg merawatnya dengan sengaja memberikan suntikan dengan dosis yg berbahaya untuk pasien dan akan berakibat fatal bagi tubuh pasien" lanjut Arman menjelaskan.
Juno terlihat mengeraskan rahangnya karena amarah.
" Siapa dokter itu, dan apa tujuannya melakukan hal itu?" Juno semakin penasaran.
"Saya sudah menemukan dokter itu tuan. Dia bernama dokter Ramon Santoso lulusan S3 ilmu kedokteran dari Jerman, dia terkenal dokter yg hebat" jelas Arman.
"Cih, hebat dalam membunuh" maki Juno terlihat muak.
"Ia mengatakan bahwa dia melakukan hal itu karena perintah dari seseorang" jelas Arman lagi.
"Maksudmu orang itu adalah Sekar?" tanya Juno.
" Benar Tuan, karena itu saya simpulkan bahwa Sekar jugalah yg telah meracuni bu Dewi" jalas Arman.
"Apa yg Sekar berikan pada dokter itu sehingga dia mau merusak citra dokternya dengan melakukan kajahatan ini?" tanya Juno terlihat heran.
"Aku fikir seorang dokter hebat sepertinya tidak akan berani mengambil resiko ini jika bukan demi keuntungan yg besar, dan keuntungan besar seperti apa yg bisa Sekar berikan padanya?" lanjut Juno semakin penasaran.
"Sebenarnya hal ini masih dalam penyelidikan saya Tuan, tetapi saya menduga dokter Ramon tidak bekerja sendirian, melainkan ada orang lain yg memiliki kekuatan yg lebih besar yg bekerja sama dengan beliau" jelas Arman.
"Apa kau mencurigai seseorang?" tanya Juno.
" Sejauh ini saya belum berani menyebutkan secara pasti Tuan, tetapi saya menduga orang itu pasti memiliki peran dan kedudukan yg kuat di rumah sakit itu, dan orang itu memiliki kekuatan yg jauh di atas dokter Ramon " jelas Arman.
"Selain itu anda harus tahu tentang ini, tempat dimana bu Dewi di rawat waktu itu adalah RS Bila Sejahterah. RS milik keluarga anda" jelas Arman menlanjutkan.
Juno semakin kaget dan lagi2 membulatkan matanya, kemarahannya terlihat semakin memuncak.
"RS Bila Sejahtera?" ucap Juno memastikan.
"Bagaimana mungkin kejahatan semacam ini bisa terjadi di RS milik keluarga Herlambang, dan bagaimana mungkin hal ini bisa lolos dari pengawasan dr. William?" Gumam Juno tak habis pikir.
"Saya akan menyeledikinya lagi tuan, untuk mendapatkan informasi lebih lanjut" balas Arman.
Juno menghembuskan nafasnya dengan kasar.
" Pastikan untuk menemukan semua yg berkaitan dengan masalah ini, aku tidak ingin ada yg lolos satu orangpun dari mereka" Tegas Juno.
"Lalu bagaimana dengan Sekar, apa kita laporkan saja dia terlebih dahulu? Bukti kejahatannya sudah cukup untuk menjebloskannya kepenjara" ucap Arman.
" Tahan dulu, biarkan dia menikmati waktunya yg tersisa sebelum menerima hukumannya" Jelas Juno.
"Kalau perlu gunakan dia untuk menemukan siapa yg telah bekerja sama dengannya" lanjut Juno.
"Baik Tuan, saya akan kembali melaporkan pada anda setelah menemukan informasi baru" ucap Arman, di balas Juno dengan anggukan. Merekapun mengakhiri pertemuan mereka siang itu.
***
Juno kembali kerumah tepatnya pada pukul 19.15 malam. Siang tadi Ia membatalkan rencananya untuk makan siang di rumah, karena beberapa urusan.
Dengan cepat Juno menuju ke kamarnya untuk menemukan keberadaan istrinya itu. Meski telah melihatnya tadi pagi, tetapi Juno tetap saja merasa sangat merindukan Berlian.
Juno memasuki kamarnya dan mendapati Berlian sedang duduk di sofa seraya bergelut dengan tugas kampusnya. Dilihatnya wajah istrinya yg sedang serius pada pekerjaannya.
Bagaiama kalau dia ta**hu penyebab kematian orang tuanya adalah faktor kesengajaan yg telah direncanakan oleh si iblis Sekar. Dia pasti akan terluka, dan apa mungkin dia masih bisa memaafkan wanita jahat itu? huft, aku akan menyelidiki semuanya untukmu dan membalas perbuatan mereka yg telah mempersulit hidupmu di masa lalu. Aku berjanji padamu istriku. Batin Juno seraya menatap istrinya.
Junopun menghampiri Berlian dan merebahkan tubuhnya di atas pangkuan Berlian.
"Akh aku sangat lelah" ucapnya dengan manja pada istrinya.
Berlian menghentikan aktifitasnya yg sedang mengetik, dan mulai mengusap kepala Juno dengan lembut.
" Kau lelah, mau aku pijit?" tanya Berlian.
__ADS_1
" Kau bisa memijat?" tanya Juno pula.
" Sebenarnya tidak, aku hanya menawarkan" balas Berlian dengan jujur.
" Tapi aku ingin mencobanya, mencoba pijatan dari istriku" ucapnya antusias seraya tersenyum.
Rasanya seketika lelah itu hilang saat pulang kerja dan disambut dengan perhatian istri di rumah. Itulah yg dirasakan Juno saat ini.
"Yasudah kamu mandi dulu, nanti aku akan memijatmu setelah itu" balas Berlian.
"Bagaimana kalau kita mandi bersama sambil kau memijatku?" Ucap Juno seraya tersenyum nakal.
" Ih akukan masih datang bulan. Cepat mandi sana" balas Berlian menolak permintaan Juno.
"Akukan hanya bilang mandi bersama bukan melakukannya" Gumam Juno dengan wajah yg cemberut. Melihat hal itu Berlian hanya tersenyum gemas.
Junopun segera masuk kekamar mandi untuk membersihkan dirinya, dan tak berapa lama Iapun keluar dengan menggunakan handuk kecil yg melingkar di tubuhnya. Melihat pemandangan itu Berlian menganga seraya menelan salivanya.
"Apa kau sangat tergoda dengan tubuh suamimu inii?" ucap Juno mengagetkan lamunan Berlian.
"Siapa yg tergoda?" elak Berlian merasa malu.
" Haha akui saja" Goda Juno ketika menyadari pipi istrinya yg mulai memerah menahan malu.
Junopun membuka handuk kecilnya di hadapan Berlian tanpa malu2. Sontak Berlian menutupi wajahnya dengan tangan.
" Hei apa yg kau lakukan, kenapa telan*ang di hadapanku?" protes Berlian.
"Lihatlah tidak perlu malu2" goda Juno.
Berlian terlihat merenggangkan sedikit jarinya untuk mengintip pemandangan di depannya. Namun terlihat Juno masih mengenakan celana pendek untuk menutupi tubuh bawahnya.
"Hmmm" kesal Berlian seraya menjatuhkan tangannya yg menutupi wajahnya, dan terlihat menghembuskan nafasnya dengan kasar. Melihat hal itu Juno tertawa terbahak2.
"Kau kecewa?" tanya Juno terus menggoda Berlian.
"Tidak" balas Berlian seraya mengalihkan pandangannya.
" Kan aku juga belum melihatnya" Ucap Juno seraya memainkan matanya pada Berlian.
" Kau sudah melihatnya" protes Berlian.
" Mana ada" bantah Juno.
"Waktu itu" ucap Berlian mengingat kejadian di hari pertama pernikahan mereka.
" Hahaha, waktu itu aku tidak melihatnya" elak Juno.
"Bohong" protes Berlian.
" Hanya ngintip sedikit" balas Juno dengan kembali tersenyum nakal dan berhasil membuat istrinya tersipu malu.
"Dasar mesum" ucapnya.
" Apa salahnya mesum pada istri sendiri" balas Juno terus menggoda.
" Dia bangun" ucap Juno kemudian tepat di telinga istrinya.
" Dia siapa?"tanya Berlian dengan polosnya.
Juno hanya memberikan jawaban dengan melirik pada adik kecilnya, dan berhasil membuat Berlian mengerti yg dimaksud oleh Juno. Berlian semakin merasa malu dan degdegan, Iapun segera berdiri dan menghindari Juno yg semakin nakal menggodanya.
"Aku mau turun, sudah waktunya makan malam" ucapnya dan segera berlari keluar kamar.
" Katanya mau mijitin?" Rengek Juno saat di tinggal pergi oleh istrinya.
"Batal" balas Berlian dari balik pintu.
Juno tersenyum melihat tingkah istrinya yg terlihat menggemaskan dimatanya. Ia menjatuhkan tubuhnya di kasur dan maraih sebuah bantal, kemudian memeluk dan menciumi bantal itu dengan gemas layaknya bantal itu adalah Berlian.
BERSAMBUNG......
*********
__ADS_1
Halo kakak2 semua, maaf ya kalau updatenya lama, aku sudah update satu bab dari beberapa hari yg lalu tapi belum mendapat persetujuan untuk update dari pihak manga, Semoga kalian tetap berkenan membaca dan tetap terhibur🥰🥰
Jangan lupa untuk tetap jaga kesehatan kalian ya😘😘😘