Berlian

Berlian
Pesan Pertama


__ADS_3

Radit duduk di kursi tunggu tepat di depan ruangan rawat Tari. Terlihat Radit sedang menyenderkan kepalanya di sandaran kursi, sambil mengutak-ngatik ponselnya.


Di ponsel miliknya telah Ia ketik sebuah pesan yg akan Ia tujukan pada seseorang.


"Hai, sedang apa?" Bunyi pesan itu. Pesan yg akan di kirimkankan pada seseorang yg tak lain adalah Berlian.


"Kirim gak ya, kalau gak di balas gimana?" Gumam Radit.


Setelah mempertimbangkan beberapa saat, akhirnya pesanpun dikirim.


Tak berapa lama ponsel Radit bergetar, menandakan satu pesan telah masuk. Buru2 Radit membuka pesan itu berharap itu balasan dari Berlian. Benar saja, pesan itu balasan dari Berlian.


Berlian: "Nyaitai aja. Maaf ini siapa ya?"


"Siapa?" Gumam Radit heran


"Oh iya, diakan emang belum tau nomerku. Dasar kau Radit" Gumamnya lagi sambil menepuk jidatnya sendiri.


Radit : Ini ka Radit, kakak ambil nomer kamu dari Juliana, maaf ya lancang" Terkirim.


Kali ini pesan yg di balas Radit mendapat respon yg cukup lama dari Berlian. Sudah beberapa menit setelah pesan Ia kirim, namun tak kunjung mendapat balasan. Radit pun terlihat gusar menanti pesan balasan dari Berlian.


"Kenapa gak di balas ya, apa dia gak senang kalau aku yg kirim pesan, memang siapa yg dia harapkan?" Gumam Radit, ada perasaan kesal yg tiba2 menyelimuti hatinya. Merasa cemburu jika Berlian ternyata sedang menanti pesan dari orang lain, tepatnya pria lain.

__ADS_1


Hingga beberapa lama Radit menunggu, satu pesanpun kembali masuk dalam ponselnya.


Berlian : Oh ka Radit, maaf ka Ian gak tau. Iya gak papa2, Ana uda bilang kok kalau ka Radit uda ngambil nomer Ian, tapi Ian gak tau kalau ini nomernya ka Radit. maaf ya😊"


"Hah emot senyum. Kenapa juga ni emot jadi keliatan manis banget pas dia yg ngirim? Terus pake emot senyum, maksudnya apa ya, apa dia seneng aku ngirim pesan?" Gumam Radit.


Tanpa sadar Raditpun yg tadinya duduk sender di kursi kini bangkit dan jingkrak2 di tempatnya. Beberapa mata yg melewatinya sempat menatapnya aneh. Ketika menyadari reaksi berlebihannya, Raditpun kembali duduk dengan kembali menampilkan ekspresi yg sok cool.


"Lalu apa ini, Ian? Apa ini sapaan akrabnya, apa dia menggunakan sapaan akrabny denganku?" Gumam Radit kembali saat menyadari Berlian menggunakan sapaannya akrabnya pada Radit. Tapi kali ini Radit lebih bisa mengontrol emosi, Ia hanya tersenyum penuh bahagia.


Radit : "Iya gak papa gak perlu minta maaf. Kamu gak salah ka Raditlah yg salah😌" Terkirim.


"Apa2an nih balasanku, aduh kenapa jadi gini gak penting banget sih ni balasan" Gerutu Radit pada isi pesannya sendiri. Namun tidak membutuhkan waktu lama Berlianpun membalasnya.


Berlian : Lah ka Radit salah apa? Ka Raditkan gak salah juga. Btw Ian senang ka Radit ngechat😊"


Kali ini Radit kembali lepas kendali, Ia kembali jingkrak2 di tempatnya, sampai tak sadar pintu ruangan Tari terbuka dan seseorang sudah berdiri di sana.


"Ehhmm" Juno berdehem mengagetkan Radit. Radit yg menyadari kehadiran Juno langsung kembali duduk pada kursinya dan tersipu malu. Namun seketika Ia kembali bangkit dan berdiri di hadapan Juno dengan sigap.


"Ada apa, apa kamu perlu sesuatu?" Tanya Radit


"Sepertinya kau sedang senang, kau harus mengenalkannya pada ku" Juno tak menanggapi pertanyaan Radit melainkan menanggapi tingkah jingkrak2 Radit yg sudah Ia saksikan tadi.

__ADS_1


"Ahh, itu aku" Radit menggaruk kepalanya, bingung menanggapi ucapan Juno.


"Kau boleh melanjutkannya di hotel, aku hanya ingin menyuruhmu untuk pergi beristirahat. Aku akan tetap disini bersama Tari" Jelas Juno


"Apa kau yakin tentang ini?" Ucap Radit menanggapi perkataan Juno.


Tapi bukanlah tentang perintah Juno yg menyuruhnya beristirahat, melainkan keputusan Juno yg membiarkan Tari tetap di rawat di rumah sakit ini. Rumah sakit yg terbilang kecil dengan fasilitas yg kurang memadai.


Juno pun mengerti arah pertanyaan Radit, terlihat Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Apa yg bisa kulakukan? Aku tidak bisa memaksanya" Ucap Juno dengan menatap ke lantai.


"Aku hanya ingin mengingatkanmu. Jika kau sedang jatih cinta, janganlah jatuh cinta terlalu dalam atau kau akan menjadi sangat bodoh dan lemah" Tambah juno.


Radit hanya terdiam mendengar kalimat Juno, Ia mengerti apa yg sedang di maksud oleh Juno. Bahwa Ia telah menjadi pria yg bodoh karena hanya membiarkan gadisnya menunggu kematiannya di rumah sakit ini. Dan lemah karena hanya mengikuti keinginan Tari tanpa melakukan perlawanan apa2.


"Aku bahkan sudah sangat tahu kebodohan dan kelemahan orang yg sedang jatuh cinta. Tapi aku tetap ingin mengulangnya" Raditia


"Sudahlah, sebaiknya kau Istirahat di hotel, aku akan menghubungimu jika aku membutuhkan sesuatu" Ucap Juno kemudian kembali masuk kedalam ruang rawat Tari. Di balas Radit hanya dengan anggukan.


"Akh aku sampai lupa membalas pesan Berlian" Gumam Radit seraya melangkah meninggalkan RS menuju hotel.


*Note

__ADS_1


Saat di hotel, Radit memberanikan diri untuk menelpon Berlian. Panggilan Telpon Raditpun mendapat respon dari Berlian. Mereka berbincang2 cukup lama. Mereka pun membicarakan banyak hal, mulai hal kecil tentang kehidupan sehari2 mereka, hingga beberapa hal tentang masa lalu mereka.


Bersambung....


__ADS_2