Berlian

Berlian
Pahlawan


__ADS_3

Juliana masih tertunduk dengan mulut yg terus komat kamit. Entah mantra apa saja yg sudah Ia ucapkan, yg pasti satu harapannya seseorang datang menolongnya siapapun itu.


Kedua pria mesum di depannya itu semakin agresif saja, kini mereka mulai melepaskan satu persatu kancing kemeja Juliana.


"Mama, papa, ka Radit"


Batin Juliana dengan terus menyebutkan tiga orang itu.


"Ian tolongin aku" Juliana.


*Kost Berlian


Berlian bangkit dari duduknya, menyambar ponselnya melihat jam dan pesan terakhir dari sahabatnya, Juliana.


"Katanya mau kesini, kok belum sampai sih? Kampus kan deket" Gumam Berlian, karena Juliana belum juga sampai di kostnya, setelah 30 menit pesan terakhirnya yg bilang Ia akan datang.


"Aku susulin aja deh" Gumamnya kemudian


Berlian berjalan menuju kampus, tak sengaja Ia melihat Mutiara keluar dari arah gudang dengan tertawa terbahak2.


Kost2an Berlian memang terletak di bagian belakang kampus. Jadi saat menuju kampus, arah munculnya memang pada bagian belakang kampus, tepatnya bagian gudang kampus yg terletak di belakang kampus.


"Itu Ara kenapa ketawa2 kayak orang gila gitu, terus ngapain dia di gudang?" Gumam Berlian penasaran.


Karena penasaran Berlianpun mendekati gudang itu, dan Iapun mendengar suara seseorang di dalam yg sangat Ia kenal.


"Ku peringatkan sekali lagi, jangan sentuh aku atau kalian akan menyesal" Teriak seseorang di dalam gudang itu.


"Ana" Berlian kaget saat mendengar suara sahabatnya di dalam.


"Aku harus gimana ini? Ayo Ian berfikirlah" Gumam Berlian dengan berusaha memikirkan sesuatu.


"Ka Radit" Ucapnya kemudian. Dengan cepat Ia menyambar ponselnya dan menelpon nomer ka Radit.


*Rumah Sakit


Radit sedang duduk di kursi tunggu RS, tepatnya depan kamar rawat Mentari. Tiba2 ponselnya berdering dengan nada khusus panggilan Berlian.


Dengan semangat, Radit mengangkat panggilan Berlian, setelah terlebih dahulu mengatur nafasnya.


Radit : Halo Ian, ada apa?" ucap Radit berusaha sesantai mungkin.

__ADS_1


Ian : Ka Radit, Ana dalam bahaya. Seseorang uda menyekapnya di gudang kampus" Ucap Berlian dengan nada yg terdengar berbisik.


Radit : "Apa? Okok" Radit membulatkan matanya kaget, tanpa basa basi Ia mematikan telponnya.


Kamudian, Radit segera menghubungi seseorang disana.


Radit : Segera ke gudang kampus X sekarang juga, adikku sedang di sekap seseorang disana. Jangan sampai terlambat atau kalian semua akan mendapat hukuman.


Pengawal : "Baik bos"


Radit : "CEPAT!" Teriak Radit. Radit sungguh panik, Ia benar2 tidak ingin sesuatu yg buruk terjadi pada adik kesayangannya itu.


Pengawal : "Siap bos"


Radit : Jangan berikan mereka ampun" Ucap Radit dengan penuh kemarahan.


Sambunganpun terputus. Karena besarnya suara teriakan Radit, Junopun akhirnya keluar dari dalam ruangan Mentari dan menghampiri Radit.


"Kenapa Dit?" Tanya Juno saat menghampiri Radit.


Radit terlihat menghembuskan nafasnya kasar.


"Ada yg mengganggu Ana dan menyekapnya di gudang kampus" Ucap Radit dengan kemarahan yg tertahan.


"Iya, aku baru saja menelpon pengawal untuk menolongnya"


Juno menepuk bahu Radit untuk menenangkannya.


"Kalau begitu tenanglah, semua akan baik2 saja" Ucap Juno mencoba menenangkan Radit, namun Radit tetap terlihat cemas dan marah.


"Maafkan aku, karena kamu disini hal ini malah terjadi" Ucap Juno akhirnya merasa bersalah.


"Hei apa kau berusaha menghiburku dengan lelucon itu? Ini adalah tugasku, aku bekerja padamu tuan Juno" Ucap Radit, kali ini Ia mulai terlihat menguasai emosinya.


Juno tersenyum. Ia kemudian terlihat menelpon seseorang. Iapun masuk kembali ke ruangan Mentari setelah menelpon dan menepuk bahu Radit .


*Gudang Kampus


Kini kancing kemeja milik Juliana sudah terlepas sempurna. Dalaman hitam yg Ia kenakan sudah terlihat. Air matanya semakin deras saja mengalir, tiba2 terdegar.


BRUG. Suara pintu yg terbuka dengan paksa. Beberapa pengawal memasuki gudang itu. Segera mereka menarik dua pria yg sudah mengganggu Juliana dan menghajar ke dua pria itu sampai babak belur.

__ADS_1


Berlian ikut berlari di belakang para pengawal, dengan cepat Berlian menghampiri Juliana. Berlian melepas ikatan Juliana dan memeluk sahabatnya itu dan segera menutupi tubuh Juliana dengan sweternya, yg sebelumnya sudah Ia lepas.


" An, kamu gak papa2 kan? An maafkan aku, aku terlambat" Ucap Berlian pada Juliana.


Juliana hanya menangis. Sedangkan Berlian terus memeluk sahabatnya itu.


"An, maafkan aku Ana. Pasti Ara yg uda lakuin ini sama kamu kan? Aku melihatnya keluar dari gudang tadi" Berlian terus meminta maaf. Ia yakin Ara melakukan ini karena marah pada Juliana yg sudah membelanya dulu.


Berlian kemudian membantu Juliana berdiri, Ia membawa Ana segera keluar dari gudang itu. Sedangkan dua orang pria tadi sudah di seret oleh polisi. Junolah yg menelpon polisi dan meminta polisi untuk menahan ke dua pria itu. Karena jika mengikuti amukan Radit, kedua pria itu bisa saja mati di gebukin pengawal.


*Kost Berlian


Juliana berbaring di kasur Berlian dengan terbungkus selimut. Berlian masih duduk menemani Juliana dan berusaha menenangkannya.


"An, maafkan aku" Berlian masih dengan perasaan bersalahnya.


"Ini bukan salah mu Ian, aku tidak pernah menyalahlanmu. Aku malah mau bilang makasih kamu sudah nolongin aku" Ucap Juliana setelah mulai berhenti menangis.


"Bukan aku yg nolongin kamu tapi para pengawal itu" Jelas Berlian.


"Oh iya, dari mana datangnya para pengawal2 itu?" Tanya Juliana heran.


"Ku rasa ka Radit yg nyuruh, karena aku menelpon ka Radit untuk meminta bantuan" Jelas Berlian.


"Hmm aku gak mau ngomong sama ka Radit setelah ini, dia gak datang nolongin aku" Ngambek Juliana.


"Ih dia tau yg nolongin kamu, meski hanya mengirim para pengawal itu. Lagiankan ka Radit lagi d luar kota sekarang, gimana dia mau datang coba, pastilah orang yg dia suruh" Ucap Berlian membela ka Radit.


"Kamu tau dari mana ka Radit di luar kota? Aku aja belum pernah bilang soal itu" Tanya Juliana heran.


"Nebak" Ucap Berlian dengan cengengesan.


"Terus kamu juga ngapain belain ka Radit, ayo kalian ada hubungan apa sih?" Selidik Juliana


Berlian hanya menutup wajahnya.


"Gak ada" Ucap Berlian.


"Bohong" Balas Juliana


"Emang gak ada, aku doang yg kegeeran" Berlian.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2