
Pagi menunjukkan pukul 05.15, Mutiara terbangun dari tidurnya. Ia tersadar yang dirinya sedang menginap di rumah orang lain, tiba2 timbul perasaan tidak enak dalam dirinya. Dengan segera Mutiara mandi dan berberes diri, kemudian berencana untuk ke dapur dengan niat untuk menyiapkan sarapan pagi.
Mutiara keluar dari kamarnya saat jam menujukkan pukul 06.10. Diliriknya sekeliking dan tidak menampakkan ada tanda2 pergerakan orang di rumah itu.
"Sepertinya mereka belum bangun, baguslah aku bisa membuat sarapan dengan tenang" Gumamnya.
Beberapa hari yang lalu pembantu yg bekerja di rumah Radit memang sedang minta cuti karena anaknya sedang sakit, dan baru akan datang beberapa hari kemudian. Sehingga pagi ini tidak ada yg menyiapkan sarapan untuk mereka.
Mutiara mulai terlihat mengambil beberapa bahan dan menyiapkannya di meja untuk diolah. Ia berencana ingin membuat nasi goreng seefood. Ia sering melihat Berlian membuat menu itu sewaktu masih tinggal bersama, dan kelihatannya mudah tetapi rasanya sangat enak.
Dengan celemek yg menggantung di badannya, Mutiara memulai aksinya untuk meracik nasi goreng seefood. Satu persatu bahan terlihat di masukkan kedalam wajan, namun sesekali terlihat kebingungan harus memasukkan yg mana lebih dulu.
"Masukin udangnya dulu apa sayurannya dulu ya?" gumam Mutiara kebingungan.
"Eh apa nasinya dulu ya, inikan nasi goreng pasti nasinya duluan" gumamnya lagi dengan mengambil kesimpulan seenaknya, seraya memasukkan nasi ke dalam wajan.
"Masukin semuanya aja deh biar cepet" gumamnya lagi seraya memasukkan semua bahan sekaligus.
***
Disisi lain Juliana sedang rapi2 untuk menuju kampus, dari kamarnya Ia dapat mendengar keributan di dapur. Namun Juliana hanya mengabaikannya. Tiba2 Ia tersadar yang bibik sedang cuti dan pulang kampung, jadi orang yg terdengar membuat keributan di dapur tentunya bukanlah bibik.
"Itu siapa ya yang ribut2 di dapur, apa mungkin ka Radit? tapi masa sih ka Radit mau repot2 di dapur" gumam Juliana sedikit heran seraya terus mempersiapkan dirinya. Tiba2 Juliana menduga sesuatu.
"Jangan2 kucing" gumamnya kemudian seraya mempercepat kegiatannya dan segera turun dan melihat ke dapur.
Juliana menuruni anak tangga dengan cepat, namun tiba2 hidungnya disapa dengan aroma makanan yg hangus dari dapur.
"Kok ada bau hangus, apa mungkin kebakaran?" gumamnya lagi dan semakin mempercepat langkahnya.
Juliana tiba di dapur dan melihat punggung seorang wanita yg sedang asik bergelut dengan wajannya. Juliana hanya menatap heran.
Siapa dia? apa mungkin ka Radit mengambil pembantu baru untuk gantiin bibi. Batin Juliana.
"Aduh kok malah lengket sih kan jadi hangus" gumam Mutiara belum menyadari kehadiran Juliana.
Kok suaranya gak asing ya. Batin Juliana.
Iapun mencoba mendekati orang itu dan memberi kode.
" Ehem" kode Juliana, sontak orang itu kaget dan berbalik melihat Juliana. Kini Julianalah yg kaget dibuatnya.
" Ara, kenapa kamu bisa ada di rumahku?" tanya Juliana dengan kaget.
"Terus kamu ngapain, ini apa? kamu mau bakar rumahku" lanjut Juliana dengan nada ketus.
"Aku, aku lagi buat sarapan untuk kalian" Jelas Mutiara.
"Terus kenapa kamu ada disini?" tanya Juliana terlihat sangat heran.
"Itu, Radit yg bawa aku kesini" Jelas Mutiara.
"Hah ka Radit?" kaget Juliana.
"Kaaaaaa Radiiiiiiiiiiiit" teriak Juliana memanggil Radit.
Tidak lama kemudian Raditpun muncul dengan stelan jas kantornya.
"Ada apa sih ribut2?" tanya Radit dengan santai seraya melihat sekeliling dapur yg terlihat berantakan.
"Apa barusan ada gempa, kenapa dapur jadi berantakan begini?" tanya Radit seraya melemparkan pandangannya pada dapur rumahx yg bak kapal pecah.
"Gempa apaan, Nih dalangnya" tunjuk Juliana pada Mutiara, sedangkan Mutiara terlihat menunduk malu.
"Maaf, aku hanya berniat untuk membuat sarapan" jelas Mutiara dengan perasaan bersalah.
"Oh itu bagus, mana sarapannya?" ucap Radit. Mutiarapun menunjukkan nasi goreng seefood hasil olahannya.
Radit dan Juliana menatap pada nasi goreng bauatan Mutiara yg terlihat cukup berantakan.
"Not bad" ucap Radit seraya tersenyum kecut.
"Dih jelas2 berantakan gitu, kalau gak bisa masak gak usah sok-sokan" ketus Juliana.
"Udah2 gak usah ribut, yuk sarapan " ucap Radit seraya duduk untuk bersiap sarapan.
Julianapun ikut duduk dengan muka yg terlihat manyun dan sangat tidak senang.
"Gofood aja ya ka" keluh Juliana.
"Makan apa yg ada, tidak baik buang2 makanan" ucap Radit dan mulai mengisi piringnya dengan nasi buatan Mutiara. Juliana terlihat semakin kesal, namun karena harus sarapan, Iapun mengambil sedikit nasi goreng buatan Mutiara itu dan diletakkan di piringnya.
Merekapun mulai memasukkan suapan pertama ke dalam mulut mereka. Mutiara terlihat degdegan menantikan reaksi kedua orang itu, yg terkihat terdiam dengan kompak.
Astagfirullah makanan apa ini? Batin Radit.
"Ulweek"Juliana memuntahkannya.
"Aaaa gak enak" keluh Juliana. Seketika Mutiara terlihat tersenyum kecut karena malu.
"Makan, hargai usaha orang lain" tegas Radit pada adiknya itu.
Juliana terlihat enggan namun karena Radit memerintahnya untuk makan, akhirnya Julianapun memaksakan diri.
"Kalau gak enak jangan di makan nanti kalian sakit perut"Ucap Mutiara.
"Masih bisa dimakan" balas Radit.
"Ini emang seperti racun" gumam Juliana.
Ana nyebelin banget sih. Tahan Ara, kamu sudah berjanji pada diri sendiri untuk berubah jadi lebih baik. Anggap saja Ana adalah setan yg sedang menggodamu dalam proses memperbaiki diri. Batin Mutiara.
Akhirnya merekapun menghabiskan sarapan mereka yg penuh dengan perjuangan itu.
"Jangan lupa beresin dapur, kasian bibi kalau datang harus beresin itu semua" Ucap Radit seraya melangkah meninggalkan dapur dan disusuli oleh Juliana.
"Eeh kamu mau kemana, beresin" ucap Radit.
__ADS_1
"Lah kan dia yg berantakin biar dia aja yg beresin" keluh Juliana.
"Bantuin. Dia bukan pembantu di rumah ini, dia tidak punya tanggung jawab untuk beresin sendiri" jelas Radit.
"Lain kali sering2 bantuin bibi kerja di dapur biar kamu terbiasa, cewe kok gak bisa urus dapur" lanjut Radit melangkah pergi.
"Ih nyebelin" keluh Juliana seraya menatap sinis pada Mutiara, sedangkan Mutiara hanya diam dan mulai merapikan dapur.
Tatapan Ara kok agak berubah ya, uda hilang tatapan sombongnya. Apa dia uda tobat atau cuman sedang mengalah karena lagi dirumahku? Batin Juliana heran. Iapun mulai membantu Mutiara merapikan dapur.
"Ana, aku ingin minta maaf sama kamu" ucap Mutiara di tengah2 aktifitas mereka membersihkan dapur.
"Maaf untuk apa?" tanya Juliana memastikan.
"Untuk hari ini karena telah membuat berantakan dapurmu dan..." ucap Mutiara yg terlihat menggantung.
"Dan?" ucap Juliana seraya menaikkan sebelah alisnya.
Belum sempat Mutiara melanjutkan ucapannya, Radit kembali terlihat memasuki dapur.
"Uda beres belum? Uda hampir jam 7, aku mau ke kantor" ucap Radit.
"Udah kok" balas Juliana saat telah menyekesaikan pekerjaan mereka.
"Kamu sudah ada rencana mau kemana?" tanya Radit kemudian pada Mutiara.
Mutiara hanya terdiam beberapa saat sampai Juliana menyenggolkan siku mereka.
"Di ajak ngomong tuh" ketus Ana.
"Emm iya, aku uda dapat kost di jalan Kenanga, kostan Mawar Pertiwi. Aku akan kesana pagi ini" Jelas Mutiara.
"Yasudah biar aku antar" Balas Radit.
"Gak usahlah ka, suruh aja dia naik taksi" balas Juliana.
"Iya aku bisa naik taksi" ucap Mutiara.
"Apa kau yakin tidak perlu di antar?" tanya Radit memastikan.
"Iya aku bisa sendiri" balas Mutiara.
"Baiklah terserah kau saja" balas Radit.
Pria itu kadang perhatian, tapi kadang juga gak peka ya. Batin Mutiara terlihat kecewa.
***
Juliana dan Radit sudah berada di atas mobil menuju kampus Juliana, sedangkan Mutiara juga sudah pergi dari rumah mereka dengan taksi.
"Ka" ucap Juliana.
"Emm" balas Radit.
"Kakak ada hubungan apa sih sama Ara?" tanya Juliana menyelidiki.
"Terus kenapa ka Radit bisa bawa dia kerumah?" tanya Ana terus menyelidiki.
"Ka Radit cuman nolongin dia doang" jelas Radit.
"Nolongin?" ucap Juliana terlihat penasaran.
"Iya. Semalam ka Radit ke bar dan gak sengaja ketemu dia disana. Dia bekerja sebagai pelayan disana dan itu sangat berbahaya, jadi ka Radit bantuin dia buat keluar dari bar itu. Terus dia bilang gak mau pulang kerumahnya dulu, karena uda tengah malam jadi kakak bawa ke rumah" jelas Radit panjang lebar, namun Ana justru fokus pada perkataan awal Radit.
"Kakak ke bar, kakak mabuk2an ya?" Ucap Juliana.
"Kakak gak minum" balas Radit.
"Terus kenapa ke bar? Ana tau, kakak ke bar buat senang2 sama wanita2 bar itu kan" ucap Juliana mengambil kesimpulan sendiri.
"Ihh apa sih, ya enggaklah" balas Radit.
"Terus kenapa ke bar kalau gak ngapa2in?" protes Ana.
"Cuman buat nenangin diri" balas Radit.
"Bohong. Nenangin diri ngapain ke bar, ke mesjid sana" protes Juliana tak berhujung.
"Semalam kakak di tuntun sama setan bukan sama malaikat" balas Radit terlihat ikut kesal.
"Makanya rajin2 ibadah biar gak kesetanan" balas Juliana.
"Sejak kapan sih adikku ini jadi pinter nasehatin kakaknya?" ucap Radit seraya mencubit pipi Juliana dengan kesal.
"Aduh sakit" keluh Juliana.
"Lepasin ka, atau Ana ngadu ke papah ka Radit semalem ke bar" ancam Juliana, Raditpun melepaskan cubitannya pada pipi adiknya itu.
"Jangan ngadu2, sumpah kakak gak ngapa2in disana" pujuk Radit.
"Terus ngapain kakak nolongin Ara? kakak gak lagi suka kan sama Ara" ucap Juliana kemudian.
"Enggak. Kakak cuman tolongin karena kasian, lagian diakan saudaranya Ian" jelas Radit.
"Tapikan dia jahat" protes Ana.
"Jangan lupa kalau dia dulu suka gangguin Ian, dan jgn lupa kalau dia dulu hampir celakain aku" ucap Juliana masih terkihat kesal.
Radit terlihat diam sesaat. "Kakak gak lupa, tapi kamu jg harus ingat kalau kita tidak boleh menyimpan dendam. Lagian setiap orang punya kesempatan untuk memperbaiki diri" jelas Radit.
"Orang jahat akan bertambah jahat jika di balas dengan kejahatan, sedangkan orang jahat bisa berubah jadi baik kalau mendapat perlakuan baik dari orang yg pernah Ia jahati" lanjut Radit.
"Hmmm" balas Ana menyerah pada ucapan Radit.
"Uda sampai, turun sana" ucap Radit kemudian saat menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang kampus Ana.
"Makasih ka" ucap Juliana seraya menyalami tangan Radit.
__ADS_1
"Tapi aku tetap tidak setuju ka Radit dekat dengan Ara" lanjutnya memberi ultimatum pada Radit kemudian melangkah keluar dari mobil Radit. Radit hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar seraya menjalankan mobilnya meninggalkan kampus Juliana.
***
Juno menatap wajah Berlian yg masih terlihat memejamkan matanya, karena gemas Juno malah menggigit telinga Berlian dengan lembut dan berhasil membangunkan Berlian.
"Aduh" keluh Berlian seraya membuka matanya.
"Selamat pagi istriku" bisik Juno tepat di telinga Berlian yg baru saja membuka matanya.
"Emm pagi sayangku" balas Berlian.
"Kan aku bilangnya istriku, balasnya suamiku dong" protes Juno.
"Iya iya, pagi juga suamiku" ulang Berlian dan terlihat Juno tersenyum puas.
Sejak kapan dia jadi kekanakan begini, padahalkan sama aja. Batin Berlian.
"Kamu sudah mandi ya?" tanya Berlian saat melihat Juno yg sudah terlihat segar namun masih memakai baju kaos.
"Iya, aku harus terlihat tampan di depan istriku" balas Juno.
"Hmm, kau selalu terlihat tampan" gumam Berlian tanpa sadar.
"Aku tahu" balas Juno seraya tersenyum dengan percaya diri.
"Yaudah aku juga mau mandi" balas Berlian dan berusaha untuk bangkit namun segera di tarik oleh Juno.
"Eeh kenapa?" heran Berlian.
"Perjanjiannya baru kemarin tapi kamu sudah lupa?" ucap Juno, sedangkan Berlian hanya diam dan mencoba mengingat perjanjian yg dimaksud Juno.
"morning kiss" ucap Juno akhirnya dengan menampilkan wajahnya yg dibuat gemes.
Aduh aku lupa. lihat ekpresi pria dewasa ini setan apa lagi yg merasukinya pagi ini? Batin Berlian.
Tidak ingin berlama2, Berlianpun dengan cepat mendaratkan bibirnya pada bibir suaminya itu dengan singkat, lalu menariknya kembali dan segera berlari menuju kamar mandi. Meski bukan lagi pertama kali bagi mereka, tetap saja Ia merasa malu dan degdegan jika harus ber*iuman dengan suaminya itu. Terlebih jika dirinya yg harus mengambil inisiatif duluan. Juno hanya menatap pada istrinya itu seraya menyentuh bibirnya dengan telunjuk.
"Hampir tak terasa" gumamnya seraya bangkit dari duduknya untuk bersiap2 ke kantor.
***
Martha terlihat gelisah saat Juno menghampirinya di ruang makan. "Ada apa?" tanya Juno penasaran dengan kegelisahan kakaknya itu.
"No, Rangga dan ibunya mau datang ke rumah malam ini" ucap Martha.
"Bukannya itu bagus?" balas Juno santai seraya duduk di salah satu kursi makan.
Martha masih terlihat gelisah dengan terus mondar mandir di samping Juno.
"Ka, kau itu wanita dewasa yg sudah berumur 30thn dan bukan lagi anak remaja yg baru pertama kali akan menerima tamu pria. Kenapa harus gelisah begitu?" ucap Juno.
"Entahlah, kakak sangat degdegan" balas Martha.
"Untuk apa degdegan? siapkan saja yg perlu untuk menyambut mereka"balas Juno.
"Aku sudah meminta buk Mega untuk mengatur semuanya" balas Martha.
"Kalau begitu duduklah dan sarapan"balas Juno. Tak berapa lama Berlianpun terlihat muncul di ruang makan dan ikut duduk di salah satu kursi.
"Selamat pagi"ucap Berlian.
Martha segera duduk di samping adik iparnya itu.
"Ian, bagaimana perasaanmu saat akan menerima lamaran dari Juno, apa kau degdegan? dan apa yg kau lakukan?" tanya Martha tiba2 dan berhasil mengagetkan Berlian.
Menerima lamaran? dia saja tidak melamarku secara resmi dan langsung menentukan hari pernikahan. Bagaiamana aku bisa tahu rasa degdegan**nya menerima lamaran? Batin Berlian.
"Hey Ian, kok diam?" Martha membuyarkan lamunan Berlian.
"Aku tidak menerima lamaran secara resmi begitu ka, dulu kita hanya sepakat untuk menikah dan langsung menikah" Jelas Berlian, sedangkan Juno terlihat menundukkan kepalanya tanpa berani melihat ekspresi yg di tampilkan oleh Berlian saat ini.
Benar, aku melakukan semuanya dengan buru2 dan tidak ada momen manis sama sekali yg bisa dia ingat. Aku sangat menyesal. Batin Juno.
Martha terlihat menghembuskan nafasnya dengan kasar, seraya bangkit dan meninggalkan meja makan.
"Ka Martha tidak sarapan?" tanya Berlian.
"Tidak, aku tidak bisa makan" balas Martha.
"Dia sangat berlebihan" protes Juno.
"Merasa degdegan itu wajar saat akan menerima lamaran, apalagi akan menerima lamaran dari orang yg sudah lama kita nantikan. Rasanya pasti bahagia sekali" jelas Berlian seraya menyunggingkan senyum dibibirnya.
"Maksudmu kau tidak degdegan menerima lamaran dariku karena bukan orang yg kau nantikan?" ucap Juno dengan ekspresi yg terlihat kesal.
"Bukan begitu maksudku, lagian kau tidak melamarku" protes Berlian.
"Aku jelas2 melamarmu saat di restoran" balas Juno.
"Itu bukan lamaran, kau hanya memintaku untuk menikah karena isi surat itu dan bukan karena keinginanmu" protes Berlian dan berhasil membuat Juno terdiam.
"Kalau bukan karena surat itu kau tidak akan menikahiku" lanjut Berlian terlihat sedih.
"Tapi kau juga tidak akan mau menikah denganku kalau bukan karena surat itu" balas Juno.
Merekpun saling terdiam untuk beberapa saat, sampai akhirnya Juno mengalah. Diraihnya tangan Berlian dan di genggam dengan lembut.
"Maafkan aku, pertemuan kita memang tidak manis, tapi aku berjanji akan membuatmu tidak pernah menyesali pernikahan ini sebagaimana aku tidak pernah menyesali menikah denganmu" Ucap Juno dan mampu menggetarkan hati Berlian.
"Aku sudah memaafkanmu, itu hanya masa lalu dan sekarang aku sangat bahagia" balas Berlian.
BERSAMBUNG........
********
Halo ka, maaf kalau ceritanya kurang menarik. Author berharap kalian tetap bisa terhibur๐ฅฐ
__ADS_1
Jaga kesehatan dan jangan lupa untuk tetap patuhi protokol kesehatan. Demi keamanan tetaplah di rumah sambil membaca novel BERLIAN ๐๐ค๐ค๐๐