
Mentari yg dulu seorang gadis remaja yg baik dan lembut, kini sudah beranjak semakin dewasa. Saat ini Mentari tengah menempuh pendidikan Strata 1 nya di salah satu kampus terbaik di kotanya. Berkat mendapatkan beasiawa, Ia dapat berkuliah di Universitas X milik seorang pengusaha sukses Baroto Herlambang.
Sebagaimana kesenangannya terhadap anak2, Mentaripun mengambil jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
*Taman Cinta
Sebuah Taman indah yg tempatnya tidak jauh dari kampus. Taman itu masih merupakan bagian dari Universitas tempat Mentari kuliah. Mahasiswa disana menyebutnya Taman Cinta, dimana taman itu menjadi tempat kebanyakan mahasiswa/mahasiswi di kampus itu untuk bercengkarama, bersama pasangan atau teman mereka.
Setiap hari Mentari hanya melewati Taman itu, tak pernah sekalipun Ia mampir walaupun hanya sekedar mencuci mata, dengan keindahan bunga2 yg bertebaran di sana.
Namun hari itu Ia tertarik dengan satu pemandangan, dimana duduk seorang remaja laki2 menggunakan seragam Sekolah Menengah Atas, disebuah kursi yg ada di sudut taman. remaja laki2 itu terlihat sedang bersedih, Mentaripun menghampirinya.
"Anak cowo kok nangis?" Seolah menyapa namun dengan ejekan Tari duduk di samping remaja laki2 itu.
Remaja laki2 itu memalingkan wajahnya ke arah Mentari dengan tatapan dinginnya.
"Kamu tidak tahu rasanya jadi aku, maka berhentilah berkomentar" dengan menyeka sisa2 air matanya remaja itu membalas ucapan Tari.
"Aduh apa dia marah? akukan hanya bercanda. apa yg sedang Ia alamai kenapa seperti dunia sedang hancur begitu?" Tari
"Baiklah, maafkan aku. maaf sudah mengganggumu" Taripun berniat ingin meninggalkan remaja laki2 itu.
"Apa kau tahu rasanya di tinggal pergi untuk selamanya, oleh kedua orang tuamu di saat usiamu yg bahkan baru akan beranjak dewasa?" Remaja laki2 itu bersuara hingga menghentikan langkah Mentari.
"Haammh.. Kau pasti tidak tahu rasanyakan?" Remaja laki2 itu menatap Tari dengan wajah sinis.
"Maka berhentilah berkomentar tentangku" Lanjut remaja itu.
" Aku bahkan harus kehilangan kedua orang tuaku disaat usiaku yg baru 5 tahun. tapi yasudah lah, kau tak perlu tahu itu" Tari
__ADS_1
Tari kembali duduk di samping remaja laki2 itu.
"Jadi, apa kamu di masukkan ke panti asuhan karena kehilangan kedua orang tuamu?" Tari menghentikan kalimatnya untuk mengambil nafas.
"Apa kau akan tinggal di panti asuhan bersama anak2 yatim piatu lainnya" lanjut Tari pada kalimatnya. Ia ingin mengetahui sejauh mana penderitaan yg di alami remaja itu.
Remaja itu menatapnya sinis.
"Bodoh"
Hardik remaja itu pada Tari, seketika Tari kaget mendengar ucapan remaja itu. Namun belum sempat Tari mengeluarkan kata2nya remaja itu kembali melanjutkan kalimatnya.
"Aku bahkan memiliki segalanya. Aku memiliki rumah yg besar, aku memiliki banyak orang2 disekelilingku yg tunduk padaku, aku memiliki perusahaan besar yg sukses bahkan dengan cabang dimana2, dan kau lihat kampus itu?" Ia menunjuk ke arah kampus tempat Mentari berkuliah, Taripun mengikuti arah telunjuk remaja itu.
"Tentu saja itu adalah kampus ku, aku kuliah disitu" Jawab Tari dengan percaya diri.
"Apa2an dia, baru saja tadi dia memperlihatkan kesedihan seolah2 dunianya sudah berakhir, sekarang malah memamerkan harta kekayaannya. Dasar bocah aneh". Tari
"Lalu?" Tanya Mentari mengakhiri penjelasan remaja itu.
"Lalu mengapa aku harus tinggal di panti asuhan, sedangkan aku memiliki segalanya"
Tegas remaja itu dengan suara semakin lantang. sehingga beberapa mata sempat melihat ke arah mereka.
"Jadi itu intin pembicaraannya, kenapa jg harus menyebutkan semua harta kekayaannya" Tari
"Baiklah kalau kau memiliki segalanya yg baru saja kau banggakan itu,bahkan kampus itupun kau akui sebagai milik orang tuamu" menunjuk ke arah kampus tempatnya berkuliah.
"Itu memang milik orang tuaku" potong remaja itu pada kalimat Tari.
__ADS_1
"Ok. kita anggap saja begitu" ucap Tari yg sempat membuat remaja itu melihatnya dengan tatapan kesal, namun tari tetap melanjutkan kalimatnya.
"Maka berhentilah bersikap seolah2 kau adalah orang yg paling tersiksa, dengan kehilangan kedua orang tuamu. karena kau tidak tahu berapa banyak anak di luar sana yg harus kehilangan orang tua mereka bahkan di usia mereka yg masih sangat kecil" Tari menghentikan kalimatnya seraya mengambil nafas
"Mereka bahkan harus tinggal dan hidup di panti asuhan, karena keluarga yg harusnya menjadi tempat mereka berlindung tak ingin merawat mereka" Satu tetes air lolos mengalir di pipi Tari, Namun dengan cepat Ia menyekanya.
"Apa kau sedang curhat, apa yg kau maksud itu adalah dirimu?" Remaja itu menatap intens pada Tari.
Tari memalingkan wajahnya berusaha menutupi kesedihannya. kalimat yg Ia keluarkan itu membuatnya tidak bisa membendung kesedihannya sendiri.
Tari tidak menjawab pertanyaan remaja itu, Iapun bangkit dari duduknya dan ingin cepat2 pergi meninggalkan remaja itu.
"Heei, Namaku Herjuno kau boleh memanggilku Juno. boleh aku tahu siapa namanu?" Remaja itu berteriak pada Tari yg mulai melangkah meninggalkannya.
Tari menghentikan langkahnya sesaat.
"Aku Mentari, kau boleh memanggilku Tari" Ucap Tari tanpa memalingkan wajahnya. Iapun berlalu meninggalakan remaja itu.
"Mentari?!" Melihat punggung Mentari yg semakin menjauh. "Nama yg cantik" gumamnya seraya tersenyum.
*note.
Saat itu remaja laki2 itu yg tak lain adalah Herjuno berusia 17 tahun, sedang saat itu Mentari berusia 19 tahun.
Itu merupakan pertemuan pertama antara Tari dan Juno. setelah pertemuan itu mereka jadi sering bertemu dan semakin dekat.
Sampai akhirnya setelah kelulusan Sekolah Menegah Atas Juno, Ia tak lagi pernah menemui Tari.
Bersambung....
__ADS_1