Berlian

Berlian
Awal Penderitaan Berlian


__ADS_3

Setelah satu bulan terbaring di rumah sakit, Akhirnya dokter mengizinkan Dewi untuk pulang. Dewipun dapat kembali kerumahnya. Dengan menaiki kendaraan umum, Dewi kembali ke rumah di temani putrinya Berlian. Hanya Berlian yg saat itu menemani Dewi, sedang Mutiara dan Sekar tak terlihat batang hidungnya.


Setelah kepergian Hendra, kehidupan Berlian mulai berubah. Jika dulu waktunya banyak Ia gunakan untuk bermain dan belajar. Kini Ia tak lagi punya waktu untuk bermain melainkan harus bekerja mengurus rumah.


Sepulangnya dari sekolah, Berlian harus membersihkan rumah, memasak serta mencuci pakaian2 kotor milik Mutiara dan Sekar. Saat ini Sekarlah yg sedang berkuasa di rumah itu.


Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, barulah Berlian di perbolehkan menjenguk ibunya di rumah sakit.


Hari itu untuk pertama kalinya Dewi masuk kembali ke rumah yg sangat Ia rindukan itu, dengan terduduk di atas kursi roda. Kecelakaan itu telah merenggut sebagian besar hidupnya, yakni suami tercintanya dan kaki tumpuannya. Ia memasuki rumah dengan perasaan bahagia bercampur sedih.


Bahagia karena bisa kembali kerumah yg penuh dengan kenangan indah bersama suaminya, namun sedih karen harus menerima kenyataan bahwa suaminya telah pergi meninggalkannya untuk selama2nya. Seketika Dewipun menangis terseduh2.


"Hisk hiks" tangisnya sambil menundukkan kepalanya.


"Ibu. Kanapa ibu menangis?" Berlian langsung memeluk ibunya.


"Ibu. Ian mohon jangan nangis, Berlian cukup bahagia setidaknya Berlian masih memiliki Ibu disisi Berlian" Berlian terduduk di depan kursi roda Ibunya sambil memegang tangan ibunya, Ia dapat melihat kesedihan yg mendalam di hati Ibunya.


"Ibu sepertinya tidak kuat menjalani hidup tanpa ada ayah disisi ibu, hiks hiks" Dewi masih menangis.


"Ibu kan ada Berlian, Ian janji akan selalu ada disisi ibu, dan Ian mohon sama ibu untuk selalu ada disisi Ian. Ian yakin dengan bersama ibu Ian bisa melewati hidup yg sulit ini" Berlianpun mulai meneteskan air matanya.


"Ian yakin kita bisa melewatinya buk" Mendengar ucapan Berlian, Dewi seperti mendapatkan semangat hidupnya kembali.


Bagaimana Ia bisa lupa jika Ia masih memiliki Berlian putri kecilnya yg sangat berharga ini.


"Maafkan ibu sayang, ibu berjanji akan selalu ada di samping Ian, menemani Ian hingga tumbuh dewasa" Dewi tersenyum pada putrinya. Dibalas Berlian dengan senyuman seraya memeluk ibunya.

__ADS_1


"Wah wah wah, sedang ada drama sedih rupanya" Ucap Sekar yg keluar dari bilik utama di ikuti oleh Mutiara.


Sejak meninggalnya Hendra, Sekar memang menempati kamar utama, kamar milik Hendra dan Dewi dulu. Sedangkan barang2 milik Dewi sudah Ia pindahkan ke kamarnya yang dulu.


"Kenapa kamu keluar dari kamar ku Sekar?" Tanya Dewi heran ketika melihat Sekar yg baru saja keluar dari kamarnya yg disusuli Mutiara di belakangnya.


"Kamar mu, Benarkah?" Sekar memperlihatkan ekspresi seolah sedang berfikir.


" Mungkin dulu itu kamar mu, tapi saat ini itu adalah kamar milik ku. Aku adalah nyonya di rumah ini" Tegas Sekar seraya menyunggingkan senyum jahat di bibirnya.


"Apa maksud mu? Rumah ini milik ku dan mas Hendra. Rumah ini hasil usaha kami berdua, meski mas Hendra telah tiada kamu tetap tidak memiliki hak atas rumah ini" Jelas Dewi yg sebenarnya tidak di butuhkan oleh Sekar.


"Ow yaaa. Tapi bagaimana jika aku ingin menempati kamar itu, dan bagaimana jika aku ingin berkuasa di rumah ini?"


Sekar menarik Berlian yg masih duduk di depan ibunya lalu mencengkram pergelangan Berlian dengan sangat kuat.


Semakin mempererat pegangannya pada Berlian hingga menimbulkan kesakitan pada Berlian yg terlihat meringis.


"Kamu bahkan tidak bisa menggunakan kaki cacatmu itu untuk menopang dirimu sendiri" Lanjut Sekar dengan mata yg di bulatkan seakan mengancam.


"Mengapa kamu jadi seperti ini Sekar, apa yg salah dengan mu? Aku dan Mas Hendra telah menolong mu, kami mengizinkanmu tinggal di rumah ini. Kami anggap kamu seperti saudara. Kami sayangi anakmu sebegaimana kami menyayangi putri kami Berlian. Bagaimana bisa kamu melakukan ini pada keluarga kami, mengapa kamu sungguh tidak tahu terima kasih?" Dewi sungguh tidak habis pikir pada Sekar, bagaimana Ia bisa berubah menjadi sangat jahat seperti ini.


"Hahaha.. Terima ksih katamu. kau pamerkan kemesraan mu bersama suamimu di depanku, apa kau lupa Dia juga suamiku? kau rebut kasih sayang putri ku. apa kau pikir aku dengan senang hati melihat perlakuanmu padaku" Jelas Sekar dengan suara yg lantang.


Cih..


"Mas Hendra adalah suamiku, kami tidak pernah bermesraan yg melewati batas di depanmu bahkan di depan anak2 sekalipun. Jika Ia menikahimu itu hanya karena kau telah menjebaknya, Dia tidak pernah mencintaimu. dan mengapa kau merasa tidak nyaman dengan kasih sayang kami pada Mutiara, padahal kami sangat senang jika kamu memiliki kasih sayang yg sama pada putri kami Berlian"

__ADS_1


Dewi benar2 tidak megerti jalan pikir Sekar. rasa irinya membuatnya buta. Ia iri dengan kebahagiaan Dewi sehingga dengan serakahnya Ia ingin merebut kebahagiaan itu.


Cih..


Sekar membungang pandangannya dari Dewi. Iapun menyeret Berlian menuju dapur dengan kasar.


"Sekar apa yg kau lakukan? lepaskan Berlian" Teriak Dewi dengan berusaha menjalankan kursi rodanya mengikuti Sekar dan Berlian. Mutiara hanya menjadi penonton. Kini Ia benar2 telah berubah, Ia seolah2 menikmati perlakuan mamahnya pada Berlian.


Sesampainya di dapur Sekar mendorong Berlian hingga terjatuh di lantai.


"Cepatlah memasak dan siapkan aku dan Mutiara makan malam. Jika 30 menit lagi kau belum selesai menyiapkan kami makan malam, maka aku tidak akan memberimu jatah makan malam ini" Kemudian Sekar berlalu meninggalkan Berlian menuju kamar utama yg di ikuti oleh Mutiara di belakangnya.


"Ian, kamu tidak apa2 sayang?" tanya Dewi pada Berlian setelah berhasil sampai ke dapur.


" Tidak apa2 ibu" ucap Berlian dengan senyum di bibirnya dan segera bangkit dari duduknya.


" Ibu akan bantu kamu masak, ayo2 kita masak sekarang" buru2 Dewi ingin segera masak, Ia takut jika Sekar benar2 menjalankan ancamannya tidak memberi makan pada Berlian jika mereka telat memasak.


"Sebaiknya ibu istrahat saja, ibukan baru pulang dari RS masih harus banyak istirahat" Berlian tidak tega melihat ibunya, apa lagi terlihat wajah ibunya yg masih lemas.


"Berlian sudah biasa melakukan ini buk, Berlian bisa melakukannya sendiri" Lanjut Berlian.


Dewipun menurut saat Berlian mengantarnya ke kamar untuk istirahat. Setelah itu Berlian kembali ke dapur untuk segera memasak.


Berlian sudah terlihat sangat telaten dalam memasak dan mengurus rumah. Meski di usianya yg baru menginjak 13 tahun, dan duduk di bangku sekolah menengah pertama. Tetapi Berlian sudah sangat cekatan melakukan semua pekerjaan rumah.


Tak lama kemudian Berlianpun menyelesaikan masakannya dan menatanya di atas meja makan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2