Berlian

Berlian
Awal Menajdi Seorang istri


__ADS_3

Pagi menyapa hari, Berlian tersadar dari tidurnya yg sangat nyenyak. Entah mengapa Ia merasa tidurnya sangat nyaman malam ini, mungkin saja karena kelelahan pikirnya.


Berlian membuka matanya, pandanganx disambut dengan pemandangan yg mengagumkan. Wajah tampan suaminya yg terlihat begitu sempurna saat ditatap lebih dekat. Wajah dingin dan terlihat pemarah yg selama ini selalu Ia tampilkan, kini seolah tak terlihat tertutupi dengan wajah yg polos terlihat tenang dan damai.


Alisnya yg tebal dan tertata rapi, bulu mata yg tebal, panjang serta sedikit melentik, hidungnya yg mancung serta tepajang dengan sempurna di wajahnya, bibirnya yg sedikit tipis dan kemerah2an, garis rahang yg kuat seolah membentuk suatu formasi yg lengkap, sehingga melengkapi ketampanan pemiliknya.


Ternyata dia sangat tampan saat dilihat dari dekat dan tanpa ekspresi dingin di wajahnya. Batinnya masih terus menatap .


"Sudah puas lihatnya, apa aku bisa membuka mataku sekarang?" ucapnya seraya membuaka matanya, Suaranya mengagetkan Berlian. Ternyata Juno telah bangun dan menyadari yg dirinya sedang di perhatikan.


"Ehh anu aku mau mandi"


Buru2 Berlian bangun dari pembaringannya dan berlari memasuki kamar mandi.


"Haduh apa aku ketahuan memandangi wajahnya, ish apa dia pura2 tidur tadi?" Gumamnya kesal dan sedikit malu.


Berlianpun segera menyelesaikan mandinya, baru Ia sadari ternyata Ia masuk dengan terburu2 dan lupa mengambil handuk mandi. Diliriknya rak yg terdapat di kamar mandi, tersedia beberapa buah handuk.


"Untung ada handuk" gumamnya.


Buru2 disambarnya handuk itu dan dikenakan di badannya. Namun handuk yg tersedia hanya handuk yg berukuran kecil sehingga kurang cukup untuk menutupi tubuh Berlian, sehingga hampir menampakkan bokon*nya.


"Haduh handuknya kependekan lagi" Gumamnya sambil mencoba menarik handuk lebih kebawah untuk menutupi bokon*nya yg hampir terlihat.


Ia membayangkan saat keluar, Ia akan langsung menuju ruang ganti baju, jadi dirinya tidak perlu berlama2 dilihat oleh Juno. Setelah membayangkan hal yg akan Ia lakukan, dengan cepat Ia membuka pintu kamar mandi, dilihatnya ke arah kasur, tampak kosong menandakan Juno telah meninggalkan pembaringannya.


Eh enggak ada orang. pikirnya.


Karena merasa aman, Berlianpun berjalan dengan santai. Keluar dari kamar mandi dan menuju ruang ganti.


"Apa kau ingin menggodaku dengan sengaja menggunakan handuk kecil itu untuk menutupi tubuhmu?" Suara Juno tiba2 terdengar dari balik pintu, ternyata Ia sedang berdiri tepat di balik pintu hingga tak terlihat oleh Berlian.


Karena kaget mendengar suara Juno, Berlian buru2 dan mempercepat langkahnya menuju ruang ganti, namun sayangnya karena kakinya yg sedikit licin Iapun terpeleset.


Bruuk.. Berlian terjatuh kelantai dan handuk yg menutupi tubunya ikut terlepas.


"Aaww" Ringisnya kesakitan.


Juno menatap kaget serta kebingungan, disatu sisi Ia ingin menolong namun disisi lain ada rasa canggung, terlebih melihat Berlian yg tak terbungkus sehelai kain sama sekali.


Berlian mencoba meraih handuknya dan berdiri namun kembali terjatuh karena bokon*nya yg lumayan sakit saat terhempas.


Melihat reaksi istrinya itu, Junopun memutuskan untuk mengangkat Berlian menuju ruang ganti, dengan berusaha untuk membuang pandangannya dari Berlian karena tidak ingin melihat tubuh istrinya yg polos tanpa busana itu.


Berlian sendiri hanya terdiam dan menutup dadanya dengan tangan, hanya itu yg mampu Ia lakukan untuk menutupi dirinya saat ini. Malu dan sangat malu, hanya itu yg Ia rasakan saat ini bahkan sakit yg Ia rasakan seketika hilang tertutupi dengan rasa malu.

__ADS_1


Juno meletakkan Berlian di sebuah kursi yg terdapat diruang ganti,matanya masih tak mau melihat Berlian, namum Berlian dapat melihat wajah suaminya itu yg sedikit memerah.


"Lain kali gunakan cara yg lebih baik jika ingin menggodaku" Ucapnya kemudian segera keluar dari ruang ganti meninggalkan Berlian.


"Ish, siapa juga yg mau menggodamu" Ketusnya saat melihat suaminya telah menghilang dari ruang ganti.


"Ahk kenapa pake jatuh si, malu2in aja mana sakit lagi" kesalnya sambil mengusap2 bokon*nya yg masih terasa sakit.


Setelah meredakan sakitnya sendiri Ia mulai bangkit untuk mengambil pakaiannya, matanya takjub melihat isi ruang ganti itu, semua baju2 tertata dengan rapi dan banyak sekali, bahkan Ia tidak melihat satupun dari baju2nya yg Ia ambil dari rumahnya.


"Banyak sekali bajunya, apa baju ini untukku. Ukuran bajunya si sama dengan ukuranku" gumamnya. Setelah melihat2 semua isi lemari, Ia akhirnya memutuskan untuk menggunakan rok selutut yg di padukan dengan dalaman kaos serta luaran jaket jeans . Dari sekian banyak baju yg tersedia, bahkan pilihannya tidak masuk dalam kategori baju yg dipajang di lemari besar di ruangan itu.


Setelah puas dengan baju yg dikenakan, Berlian melirik lemari besar dimana baju2 milik Juno tertata rapi.


"Apa ku pilikan juga baju untuknya ya?" Gumamnya, akhirnya Berlian memilih setalan kameja berwarna abu2 polos, serta celana berwarna hitam dan jas berwarna hitam, di temani dengan dasi berwarna biru malam. Semua warna gelap yg dipilihnya, Iapun menaruh pakaian itu dengan rapi diatas meja, menandakan baju itu telah Ia siapkan untuk di kenakan oleh suaminya.


Berlianpun menyambar ranselnya dan segera menuju ruang bawah.


"Selamat pagi nona, ada yg bisa kami bantu" ucap salah seorang pelayan saat melihat nona baru mereka menuju dapur.


"Aku ingin buat sarapan bik" ucapnya dengan semangat.


"Tidak usah repot2 nona kami akan menyediakan untuk nona, sebut saja nona ingin dihidangkan menu apa untuk sarapan" jelas pelayan itu.


"Tidak bibi, aku ingin memasak untuk Juno, dulu ibuku selalu memasak untuk ayah, aku ingin melakukan hal yg sama memasak untuk Juno, bolehkan" Ucapnya sambil tersenyum.


"Tidak apa bibi, dia tidak akan marah aku akan bilang jika ini keinginan ku sendiri" ucapnya mulai tidak mau menyerah.


pelayan itu hanya menatap nona muda mereka dengan cemas.


"Bibi tenang saja aku sudah terbiasa di dapur, kalau hanya menyediakan sarapan aku bisa melakukannya" jelasnya mencoba meyakinkan pelayan itu.


"Tapi nona harus hati2, bibi akan membantu nona memasak" putus bibi akhirnya.


"Baiklah, Juno suka sarapan apa ya?"


"Tuan Juno sangat suka dengan menu nasi goreng di pagi hari, Tuan pasti akan meminta menu nasi goreng setidaknya 3x dalam seminggu" jelas pelayan itu.


"Kenapa bisa begitu" tanyanya heran.


"Itu sudah menjadi menu paforit tuan muda, karena mendiang nyonya besar suka membuatkan menu itu pada tuan saat dia masih kecil"


"Oh begitu, Baiklah aku akan.membuat nasi goreng" ucapnya seraya memulai aksinya.


Dengan cekatan Berlian menyiapkan bahan2 yg dibutuhkan untuk membuat nasi goreng, mengiris semua bahan dan merapikannya. Semua Ia lakukan dengan gesit dan cekatan, pelayan itu hanya bisa menatap kagum pada nonanya itu.

__ADS_1


"Ternyata istri tuan tidak hanya cantik tapi juga sangat cekatan dalam memasak" bisik salah satu pelayan pada pelayan lainnya.


Tidak butuh waktu lama, Berlianpun menyelesaikan masaknya. Aroma yg tercium dari masakannya bahkan dapat membius siapa saja yg menciumnya, membuat orang terasa lapar.


"Wah nona hebat sekali, pasti rasanya enak" ucap seorang pelayan memuji kemampuan istri tuannya itu.


"Tuan Juno memang suka wanita yg pintar memasak, kekasihnya yg dulu juga sangat pintar memasak" ucap seorang pelayan lainnya, kemudian menutup mulutnya sendiri saat menyadari kata2nya yg mungkin akan mengganggu nona muda mereka.


Berlian hanya tersenyum kecut mendengar perkataan pelayan itu. Hal itu menyadarkannya bahwa Ia berada di rumah itu dan menyandang status sebagai istri tuan Juno, hanya sebagai penganti bukanlah keinginan dari Juno. Namun tidak ingin larut dalam hal itu, Berlian segera membawa masakannya untuk dihidangkan di atas meja makan sebagai menu sarapan.


"Waah ternyata kita punya koki baru ya" ucap Martha saat melihat sarapan yg dibuat oleh Berlian.


"Eh Martha, selamat pagi" sahut Berlian menanggapi ucapan Martha.


"Selamat pagi Ian" balas Martha sambil tersenyum.


" Wah kelihatannya enak, manasih Juno uda gak sabar nih mau makan" kesal Martha karena menunggu Juno yg belum menampakkan batang hidungnya.


Mengapa Martha hanya menyebut Juno bukan ka Juno? Batin Berlian yg masih belum mengetahui fakta sebenarnya.


Bukannya Juno yg datang, justru Radit terlihat memasuki ruang makan dan menghampiri mereka.


"Baru mau sarapan ya?" Sahut Radit.


"Eh Dit yuk sarapan bareng, Berlian yg masak loh" ucap Martha seraya mengedipkan sebelah matanya pada Radit dan tersenyum yg penuh arti.


Radit yg tidak ingin suasana menjadi canggung ikut menanggapi candaan Martha.


"Waah boleh tuh kalau dipaksa" ucapnya seraya duduk di salah satu kursi.


Junopun akhirnya datang, Berlian melirik suaminya itu. Baju yg dikenakan sama persis dengan yg dipilihkan oleh Berlian. Sontak Berlian tersenyum melihat suaminya itu, ada rasa senang dalam hatinya. Sedangkan Radit yg melihat reaksi Berlian saat melihat Juno hanya bisa tersenyum getir, meski Berlian sudah resmi menjadi istri Juno tetap saja membuat hatinya ngilu saat melihat wanita itu tersenyum pada pria lain.


"Ayo sarapan" ucap Juno setelah duduk di salah satu kursi.


Dengan cekatan Berlian menyajikan nasi goreng buatannya di atas piring suaminya itu, Martha hanya tersenyum dan sesekali melirik Radit yg tampak membuang muka. Sedangkan Juno hanya diam tanpa kata dan tanpa ekspresi.


Makanpun dimulai, Juno mulai merasakan masakan istrinya itu. Tanpa menyadari bahwa masakan itu adalah hasil buatan Berlian.


"Bi apa kau sedang bahagia hari ini, kenapa masakanmu terasa lebih enak?" Ucapnya setelah selesai menghabiskan nasi di piringnya.


"Itu buatan nona Berlian Tuan" jekas pelayan.


"Uhuk" Seketika Juno tersedak dari minumnya. Diliriknya istrinya dengan malu2 kemudian kembali memperlihatkan ekspresi dinginnya.


" maksudku ini lumayan" jelasnya kemudian seraya berdiri dan meninggalkan ruang makan, Kemudian disusuli oleh Radit.

__ADS_1


Martha hanya tersenyum melihat tingkah adiknya itu. Sedangkan Berlian menatap punggung suaminya itu dengan perasaan sedikit senang mendapat pujian akan masakannya.


BERSAMBUNG....


__ADS_2