
Mati saat itu juga, mungkin adalah hal yg lebih baik bagi Berlian. Berhadapan dengan laki2 tua berotak mesum yg siap menerkamnya kapan saja, membuatnya sangat takut. Tubuh kecilnya yg hanya di balut dres mini itu semakin gemetar, Ia terus menundukkan kepalanya tak berani menatap laki2 mesum itu.
"Tuhan tolong Berlian, Ayah tolong Berlian, Ibu tolong berlian"
Berlian terus mengucapkan kalimat itu dalam batinnya dengan terus menundukka kepalanya. Tangannya menggenggam kuat pada rok dres yg Ia kenakan, air matanyapun tak dapat Ia bendung.
"Ayolah manis tidak perlu takut, om tidak akan main kasar kok. om akan melakukannya dengan hati2" laki2 itu membuka suara setelah puas memandangi Berlian.
"Jangan Om, jangan sentuh saya. Ampun om, mohon lepaskan saya" Ucap Berlian lirih namun masih dengan posisi tertunduk.
Laki2 itu itu semakin melangkahkan kakinya mendekati Berlian. Ditariknya tangan Berlian yg terus mere*mas roknya.
Sontak Berlian kaget dan tubuhnya semakin gemetar.
"Apa yg kau takutkan, apa kau takut om melakukannya dengan kasar, hamm?" laki2 itu menarik ujung dagu Berlian untuk menatapnya, sehingga mau tidak mau Berlianpun mendongakkan kepalanya.
"Tenang saja, om akan bermain dengan penuh kelembutan. mari kita nikmati malam ini dengan penuh kebahagiaan" Lanjut laki2 itu dengan seyum seringai di wajahnya, yg sebetulnya tampan tapi sudah mulai menua.
Dengan sigap lelaki tua itu menarik Berlian ke dalam pelukannya, kekutannya tak mampu Berlian lawan sehingga Berlian benar2 jatuh kedalam pelukan laki2 itu.
"Wangi sekali kamu, bahkan aroma tubuhmu saja bisa meningkatkan gairah om" Mengendus2 di area leher Berlian. Berlian terus memberontak tapi dirinya tak bisa lepas.
Namun seketika laki2 itu melepaskan tubuh Berlian dari pelukannya. Saat sepasang matanya tertuju pada sebuah foto yg tergantung di dinding kamar Berlian.
Di dekatinya foto itu "Dewi" ucap laki2 itu lirih, sambil mengusap2 wajah yg ada di foto itu.
Laki2 itu terus memandangi foto Dewi tanpa henti, bahkan saat ini foto itu sudah berpindah ke tangannya.
"Om mengenal ibu saya?" Berlian memberanikan diri untuk bertanya saat melihat laki2 itu semakin berintim dengan foto ibunya.
__ADS_1
"Ibu. Kau anaknya Dewi?" Laki2 itu melihat ke arah Berlian.
Ragu2 tapi Berlianpun mengangguk. Laki2 itupun tersenyum
"Benarkah. Kemana ibumu sekarang?" seperti sangat berantusias untuk bertemu Dewi.
"Ibu? Ibu baru aja meninggal om" Dengan lirih Berlian mengucapkan kalimat itu.
Sedih rasanya jika mengingat ibunya baru saja meninggal, dan Iapun harus menghadapi situasi seperti ini.
"Meninggal?" Terlihat jelas ekspresi kaget di wajah laki2 itu. Iapun tertuduk dilantai sambil terus memeluk foto Dewi.
"Siapa dia kenapa dia terus memeluk foto ibu, kenapa dia seperti sangat mengenal ibu?" Berlian
"Kau tahu, om adalah cinta pertama ibumu dan ibumu adalah cinta pertama om" laki2 itu menjelaskan seperti mengerti isi batin Berlian, dengan mata yg menerawang.
"Dan kami saling mencintai" Lanjutnya dengan terlihat menyunggingkan sedikit senyum di wajahnya. namun seketika senyum itu hilang.
"Tetapi om sudah melakukan kesalahan yg fatal"
laki2 itu melihat ke arah Berlian yg masih pada posisi berdirinya. Sontak Berlianpun kaget dan memundurkan posisinya.
Tapi tanpa memperdulikan reaksi Berlian, laki2 itu terus melanjutkan ceritanya.
"Saat hari kelulusan, kami pun merayakan kelulusan itu dengan gembira. Namum tiba2 om khilaf, om benar2 khilaf. om ingin menyentuh ibumu" Laki2 itu menunduk seperti sangat menyesal.
" Om berfikir karena kami sudah saling mencintai maka melakukannya adalah hal yg wajar" laki2 itu terus melanjutkan ceritanya.
"Ih dasar om mesum, ternyata otak mesumnya sudah ada sejak dulu, bagaimana keadaan ibu saat itu ya?" Berlian
__ADS_1
"Om mencoba memintanya pada ibumu, meminta pembuktian cinta ibumu pada om" di usapnya lagi wajah Dewi dalam foto itu.
"Tapi ibumu malah sangat kecewa pada om. om masih ingat sekali wajah kemarahan ibumu pada om saat itu. ibumu mengucapkan kalimat yg tidak bisa om lupakan,
" Kalau kau mencintaiku harusnya kau menjaga kehormatanku. kalau kau mencintaiku maka nikahilah aku. bukan malah ingin mengambil sesuatu yg bahkan belum menjadi milikmu. aku mencintaimu dengan hatiku bukan dengan tubuhku, aku akan menyerahkan semuanya padamu saat aku resmi menjadi milikmu. tapi maaf sepertinya aku telah salah memberikan hatiku padamu" (Yg di ucapkan Dewi saat itu)
Itulah kata2 terakhir ibumu yg Ia ucapkan pada om dengan penuh kemarahan. Namun om bisa melihat kesedihan di wajah cantiknya saat itu. Ibumupun pergi meninggalkan om dengan sejuta penyesalan" Lanjut nya dan terlihat benar raut penyesalan pada wajahnya.
"Keren sekali ibu mengucapkan kalimat seperti itu. aku juga harus menjaga kesucianku seperti ibu" Berlian.
"Tapi kenapa ibu harus jatuh cinta pada laki2 mesum seperti dia ini sih?" Batin barikutnya.
"Sejak hari itu om tidak lagi pernah bertemu dengan ibumu. ada yg bilang ibumu pindah ke luar kota tapi om tak tahu, om sudah mencoba menghubunginya tapi seperti semua hilang di telan bumi" curhatnya masih berlanjut.
"Om sangat ingin bertemu ibumu, om ingin meminta maaf atas semua kesalahan om. om benar2 tidak bisa melupakan ibumu dan segala kesalahan om. om bahkan tidak bisa melihat perempuan lain lagi, sehingga om memutuskan untuk tidak menikah"
"Hah segitunya, itukan cuman cinta masa SMA berarti cuman cinta monyet kenapa om ini sampai gak bisa move on. apa segitu kuatnya pesona ibu?" Berlian
"Eeh apa dia bilang tadi tidak menikah, nikah gak mau tapi kawin mau" Berlian
"Tapi apa ini berarti aku akan bebas dari cengkraman laki2 ini, diakan mantannya ibu dia pasti akan melepaskankukan?" Berlian.
Banyak sekali yg terlintas dalam pikirannya, sampai tak menyadari laki2 itu sudah berdiri tepat di hadapannya dan menatapnya.
"Eehh om" kagetnya saat menyadari laki2 itu sudah berdiri di hadapannya, kakinya mendur beberapa langkah.
"Karena om tidak bisa mendapatkan ibumu, maka kamulah yg akan menggantikannya" senyum nakal laki2 itu kembali terlihat di wajahnya.
"Hah ternyata aku belum selamat..berfikir keras Berlian ayo berfikir ,selamatkan dirimu" Berlian
__ADS_1
Bersambung.....