
Beberapa hari telah berlalu, setelah Berlian memutuskan untuk menyetujui pernikahan itu. Kini Radit tengah disibukkan dengan urusan persiapan pernikahan Juno dan Berlian.
Hal ini adalah jalan terbaik yg bisa Radit lakukan saat ini, menyibukkan diri dan melupakan kesedihannya.
Disisi lain Berlian terus mengurung diri di kamarnya. Kejadian ini membuatnya enggan untuk keluar rumah, bahkan Ia telah absen dari kelasnya beberapa hari ini.
Juliana bahkan telah menelponnya beberapa kali, namun Berlian terus mengabaikannya. Bagaiamana tidak, Berlian sendiri tidak tahu bagaimana cara menjelaskan hal ini pada Juliana. Terlebih lagi Juliana selama ini sangat mendukung antara dirinya dan ka Radit. Jika Juliana mengetahui perihal pernikahan Berlian dengan pria lain pastilah Juliana akan merasa kecewa pada Berlian, begitu fikirnya.
Berlian:"Maaf An, aku gak bermaksud nutupin hal ini dari kamu, tapi aku bingung jelasinnya gimana?" ucapnya saat terus mendapat panggilan dari sahabatnya itu.
*Malam hari rumah Radit
Surya:" Bagaimana persiapan pernikahan tuan Juno apa berjalan lancar?" tanya salah seorang pria paruh baya di sela2 obrolan santai di ruang kelurga rumah Radit, yg tak lain adalah pak Surya Ramadan ayah dari Radit dan Juliana.
Beliau sengaja datang dari luar kota khusus menghadiri acara pernikahan tuan Muda Herjuno yg akan diselenggarakan beberapa hari lagi, anak dari sahabat baiknya yg juga sebagai bosnya itu. Ia selama ini di tempatkan di salah satu perusahan cabang milik Baroto grup sebagai pimpinan perusahaan disana.
Radit:" Semuanya sudah siap ayah, tidak ada yg sulit apalagi Juno hanya menginginkan pernikahan yg sederhana" Jelas Radit.
Surya:" Hah, aku merasa keputusan yg diambilnya kali ini sangat terburu2. Menyusun pernikahan yg sederhana hanya sebatas memenuhi keinginan Mentari saja, menurut ayah itu sedikit berlebihan" ucapnya merasa tidak senang.
Radit:" Ini adalah keputusannya ayah, kita hanya bisa mendukungnya"
Surya:" Ah kau benar, kita hanya bisa mendukungnya. Apalagi katamu gadis itu juga gadis yg baik. Ayah fikir itu hal yg bagus, mungkin dengan begini dia jg akan melupakan kesedihannya ditinggal mendiang Mentari itu" ucapnya kemudian.
Juliana yg sedari tadi hanya menyimak kini mulai penasaran dengan perbincangan kedua pria itu.
Juliana:" Ka Juno mau nikah, bukannya ka Radit bilang calon istrinya meninggal yah?" tanyanya yg sama sekali tidak tahu apa2.
Radit:" Iya calon istri Juno yg dulu memang telah meninggal, tapi dia menitipkan pesan terakhir pada Juno untuk menikahi seorang gadis sebagai gantinya" jelas Radit
Dan gadis itu adalah Berlian. lanjutnya dalam hati.
Juliana:" hah terus ka Juno akan menikahi gadis lain hanya untuk memenuhi keinginan mantannya itu, bukan karena keinginannya sendiri begitu?" lanjut Juliana
__ADS_1
Radit:" Gak usah banyak nanya, tidur sana" ketus Radit enggan menjelaskan lebih lanjut pada Juliana.
Juliana:" Ih bentar, terus tu cewek mau dinikahin sama ka Juno? Tapi dia pasti mau, ka Junokan kaya ganteng lagi. Siapa sih ka ceweknya penasaran aku?" lanjut Juliana semakin penasaran.
Radit hanya terdiam sesaat, namun melihat ekspresi adiknya yg begitu oenasaran, akhirnya Ia memutuskan untuk memberitahukan Juliana.
Radit:" Cewek itu Berlian" jawabnya dengan nada yg hampir tak terdengar.
Juliana:" oh Berlian" Responnya santai, namun tiba2.
"HAH IAN?" Sontak Juliana membulatkan matanya kaget bahkan mulutnya sampai menganga saking kagetnya, setelah menyadari gadis itu adalah sahabat baiknya Berlian.
Surya:" Kamu kenal calon istri tuan Juno?" tanya ayahnya yg melihat reaksi putrinya itu.
Juliana:" Kenal ayah sangat kenal" Jawabnya di sela2 pikirannya yg berkecamuk.
Apa karena ini Ian gak masuk kampus beberapa hari ini, bahkan gak mau jawab telpon ku? tapi kenapa harus nutupin semua ini dari aku, apa dia gak anggap aku ini sahabatnya? batin Juliana. Ada perasaan kecewa dalam hatinya kareba Berlian telah menutupi hal sebesar ini padanya.
Ratih:" Kamu kenal calon istrinya tuan Juno, kenal dimana sayang?" wanita paruh bayah yg sedari tadi hanya menjadi pendengar mereka kini ikut membuka suara.
Radit membulatkan matanya kaget mendengar keceplosan adiknya ini tanpa dosa.
Surya dan Ratih yg mendengar jawaban putrinya saling adu pandang. Kemudian mereka serentak melihat ke arah Radit membutuhkan jawaban.
Radit:" Emm. kita hanya sempat dekat yah bu, karena Radit sempat nolongin dia beberapa kali. Dia sering dijahatin sama ibu dan saudara tirinya" jelas Radit.
Juliana:" Tapi kakak suka kan sama Ian, ngaku?" Juliana mencoba memancing kakaknya itu.
Radit:" Apasih, ga usah sotoy kamu masih kecil" kesal Radit.
Surya:" Sudah2 jgn berdebat. Ana kamu naik tidur sana." ucapnya pada putri bungsunya itu.
Juliana:" Hmm. iya ayah." balasnya kemudian melangkahkan kaki meninggalkan ayah, ibu serta Radit di ruang keluarga.
__ADS_1
Surya:" Dit. Ayah pikir kamu benar memiliki hubungan dengan gadis itu sebelumnya" ucap surya saat melihat Juliana telah meninggalkan mereka.
Radit:" Hanya teman ayah" Ucapnya masih menutupi perasaanya.
Surya:" Baiklah, apapun hubungan kamu dengan gadis itu selama ini, ayah harap kamu bisa melupakannya. Dia sudah menjadi calon istri dari Tuan Juno, maka kamu tidak boleh merebutnya" jelas surya pada putranya itu.
Radit:" Mengerti ayah" balasnya singkat.
*Kamar Radit
Radit duduk bersenderan di tepi jendela kamarnya. Menatap langit dan bintang2 yg bersinar terang dilangit. Seketika pikirannya mengingat seorang gadis yg pernah hadir di masa lalunya.
flashback on
Jingga:" Aku harus pergi Dit, ini keinginanku sejak dulu. Sekarang aku memiliki kesempatan ini, aku tidak bisa melewatkannya" Ucap Gadis itu di pertemuan terakhir mereka.
Radit:" Terus bagaimana dengan ku, apa kamu tidak bisa menyingkirkan ambisi kamu itu demi aku. Toh kamu tetap bisa melakukannya disini" ucapnya dengan suara yg mulai terdengar bergetar.
Jingga:" Maaf Dit, aku memang sayang sama kamu, tapi sayangku padamu tidak bisa menghilangkan ambisiku untuk menjadi model yg mendunia. Aku harus kesana, ini kesempatan baik untukku menunjang karirku" jelas gadis itu.
Jingga:" Lagian aku masih sangat muda, karir adalah hal yg paling penting saat ini. Cinta bisa kita dapatkan setelah kita sukses bukan. Lagian kalau kita jodoh juga pasti ketemu lagi" lanjut gadis itu tanpa rasa beban sedikitpun.
Radit hanya tersenyum getir mengdengar ucapan wanita yg dicintainya itu. Tidak pernah terpikir olehnya, bahwa gadis itu akan mengucapkan kalimat yg begitu menusuk hatinya.
flashback off
Radit kembali tersenyum getir saat mengingat kisah cintanya itu. Kisah yg membuatnya sempat enggan untuk merasakan cinta lagi. Namun mengenal Berlian membuatnya lupa akan ketakutannya untuk jatuh cinta. Tapi ironisnya rasa sakit yg pernah ia rasakan saat itu kini terulang kembali. Meski Berlian belum resmi menajalin cinta dengannya, tapi hatinya telah terisi oleh gadis cantik itu sepenuhnya.
Radit tiba2 tertawa dengan keras. Tawa yg sebenarnya Ia tujukan untuk dirinya sendiri, tawa yang Ia tujukan pada nasib cintanya yg ironis.
Radit:" Kamu tidak pantas jatuh cinta Radit, cinta tidak ditakdirkan untukmu di dunia ini." Ucapnya pada dirinya sendiri.
Ia melangkah menuju pembaringannya, menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuknya. menutupi wajahnya dengan lengan kanannya. Menutupi air mata yg mencoba keluar dari pelupuk matanya, air yg sudah beberapa hari ini mencoba Ia tahan. Kini air itu berhasil keluar membasahi wajah tampannya itu. Air yg menjadi teman sekaligus penghantar tidurnya malam ini.
__ADS_1
BERSAMBUNG....