Berlian

Berlian
Keseharian Berlian


__ADS_3

Genap sudah 6 bulan setelah kepergian Hendra. Kepergian Hendra masih menyisakan kesedihan yg mendalam di hati istri dan putrinya. Setelah kecelakaan itu hidup Dewi yg dulunya senang, berkecukupan dan bahagia seolah berubah 180 derajat. Kini yg tersisa hanya kesedihan dan penderitaan.


Bagaimana tidak, suami yg menjadi tumpuan mereka kini telah tiada. Tidak hanya itu kakinya yg lumpuh pun membuatnya harus tinggal di rumah dan berhenti dari pekerjaannya.


Hari2 berlalu, tidak ada pemasukan dalam rumah mereka yg ada hanya pengeluaran. Itupun merupakan uang hasil pemberian rekan2 kerja Hendra dan rekan2 kerja Dewi.


Mereka memberikan uang sebagai bentuk bela sungkawa dan prihatin mereka terhadap musibah yg menimpah Dewi dan Hendra.


Cukup banyak uang yg terkumpul sehingga cukup untuk membiayai hidup mereka beberapa bulan terakhir, tanpa Dewi harus mengeluarkan tabunganya yg sengaja Ia simpan untuk putrinya.


Tidak ingin terus bergantung pada uang pemberian rekan2 kerjanya, Dewipun memutuskan untuk mencari penghasilan.


Setiap hari tepatnya selesai shalat subuh Dewi akan segera ke dapur membuat beberapa olahan kue, tentunya dibantu oleh Berlian putrinya.


Ketika pagi hari sebelum berangkat sekolah, Berlian akan menjual kue2 buatan ibunya di sekitar kompleks perumahan mereka. Tak sedikit juga orang yg telah berlangganan dan memesan kue buatannya.


Kue2 yg di jual Berlian selalu habis setiap hari. Selain karena kue2 buatan Dewi memang sangat enak, mungkin juga mereka merasa ibah dengan kehidupan Dewi saat ini.


"Kue2 buatan ibumu memang sangat enak, tente sampai ketagihan loh" Ucap pembeli pada Berlian saat mengambil kue pesanannya. Ia salah satu pembeli yg sudah berlangganan dengan kue2 buatan Dewi.


"Terima kasih tante, Berlian sangat senang mendengarnya. Semoga tante tidak akan bosan membeli kue dari ibu" Ucap Berlian seraya tersenyum bahagia.


"Pasti dong, tante akan selalu berlangganan sama kue2 ibu kamu"


Berlian pun pamit dan menghantarkan beberapa kue pesanan yg lain.


Setelah selesai menjajakan kue buatan ibunya, barulah Berlian berangkat kesekolah.


Tidak sampai disitu, sepulang sekolah Berlian akan langsung menuju beberapa rumah untuk mengambil cucian kotor serta mengantar cucian yg Ia ambil kemarin yg telah Ia bersihkan.


Cukup melelahkan memang, tapi Berlian sangat menikmati aktifitasnya itu, Ia yakin jika Ia melakukan sesuatu dengan hati yg senang, maka seberat apapun pekerjaan itu akan terasa ringan.


"Berlian" Panggil Sekar saat melihat Berlian masuk ke dalam rumah dengan raut wajah yg senang.


"I.iya mah" Berlian menghentikan langkahnya saat Sekar mulai menghampirinya.


" Mana uang hasil cucianmu hari ini, berikan pada saya" Ucap Sekar Seraya meminta uang hasil cucian Berlian.


"T.tapi mah ini.." Belum selesai Ia bicara Sekar sudah menarik tasnya, lalu mengambil uang dari dalam tasnya.

__ADS_1


"Luamayan juga ya hasil cucianmu, apa kamu dapat begini terus tiap hari?"


Hari ini Berlian memang mendapat upah lebih, tak jarang sih Ia di beri uang lebih oleh orang2 yg mencucikan pakaian padanya, selain karena mereka suka dengan hasil cucian Berlian yg bersih, wangi dan rapi. Mereka jga senang pada Berlian karena sangat ramah dan ceria. Berlian memang sangat ramah dan selalu ceria, apalagi jika bersama orang2 yg sudah akrab dengannya.


"HEH"


Sekar menarik dagu Berlian kedepan wajahnya karena Berlian tidak menjawab pertanyaannya.


"Eh emm, ngak mah. Itu hanya jika ada yg memberi Berlian bayaran lebih" Ucap Berlian menjelaskan.


Terlihat Sekar memincingkan sebelah matanya, seperti merasa aneh dengan penjelasan Berlian padanya.


"Kenapa mereka memberimu bayaran lebih, apa kamu menjual dirimu pada mereka, hmmm?" Sekar mengangkat dagu Berlian kemudian menatap matanya, seolah mencari jawaban dari mata Berlian.


"Eehh.. Ngak kok mah, mereka memberi Berlian uang lebih karena mereka suka dengan hasil cucian Berlian" Berlian coba menjelaskan dengan kepala di tundukkan karena merasa takut.


"Hmm.. baiklah, terserah apa katamu. Tapi mulai hari ini, uang hasil cucianmu harus kamu serahkan padaku" Berlian hanya terdiam.


"Baiklah, karena kamu diam saya anggap kamu setuju" Lanjut Sekar.


"T.tapi mah.." Belum selesai ucap Berlian, Sekar sudah memotongnya.


"Apa kamu berfikir kamu bisa melawanku?" ucapnya lagi.


Berlian hanya menggelengkan kepalanya. Sekar tersenyum puas


" Bagus, berarti kamu sudah setuju. anak pintar" sambil mengusap2 rambut Berlian kemudian berlalu pergi.


***


"Ibu maafkan Ian, uang hasil cucian Ian di ambil sama mamah Sekar" ucap Berlian pada ibunya saat menemui ibunya di kamar.


Dewi hanya menatap putrinya dengan perasaan sedih, Dewi sangat sedih karena tidak bisa berbuat apa2 untuk melindungi putrinya itu. Justru Ialah yg sering mendapat perlindungan dari Berlian, saat mendapat perlakuan kasar oleh Sekar.


"Maafkan ibu sayang, ibu tidak bisa melindungimu" Dewi langsung memeluk putrinya.


"Ngak apa2 kok buk, nanti Berlian akan pintar2 untuk menyisipkan sedikit uangnya untuk jajannya Ian. Ibuk tidak usah khawatir ya dan ibu tidak usah bersedih, Berliankan putri ibu yg sangat hebat" Ucap Berlian dengan penuh keyakinan.


Mendengar ucapan putrinya itu Dewi langsung tersenyum bangga. Ia sangat bangga memiliki putri se tegar dan sebaik Berlian.

__ADS_1


Sebenarnya Berlian bekerja keras tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari2 mereka. Melainkan Berlian juga sedang mengumpulkan uang untuk biaya kuliahnya nanti sejak saat ini.


Hari demi hari dilewati Berlian dengan aktivitas yg sama setiap harinya. Hingga waktu yg cukup lama bahkan sampai saat Berlian yg akhirnya lulus dari bangku SMA.


Kini Berlian sudah berusia 18 tahun, Iapun telah menyelesaikan pendidikan SMA nya. Karena kecerdasan yg Ia miliki, Berlianpun mendapatkan Beasiswa untuk kuliahnya dan Ia mendapat kesempatan kuliah di salah satu kampus terbaik di kotanya.


Berbeda dengan Berlian yg bisa kuliah dengan beasiswa, Mutiara Justru tengah merengek pada mamahnya agar bisa kuliah di kampus terbaik seperti Berlian.


Mutiara memang tidak secedas Berlian bahkan bisa di bilang sedikit bodoh. Jangankan untuk mendapatkan beasiswa, bisa lulus saja sudah sangat beruntung.


"Mah Ara ingin kuliah seperti Berlian. Ara ingin kuliah di kampus yg sama dengan Ian" Rengek Mutiara pada mamahnya.


"Iya iya, nnti mamah usahakan" Ucap Sekar untuk menghentikan rengekan putri manjanya itu.


"Tabungan milik Dewi dan mas Hendra harus jadi milikku" Batin Sekar.


*Note


"Dewi, Berikan padaku tabungan milik mas Hendra" Ucap Sekar tanpa basa basi


"Untuk apa Sekar?"


"Untuk biaya kuliah Mutiara. Bukannya kau bilang uang itu untuk biaya kuliah anak2. Kau jg menganggap Mutiara putrimu kan?"


"Ia Sekar tentu saja. Aku akan memberimu setenga dari tabungan itu"


"Aku menginginkan semuanya, atau" Tersenyum jahat pada Dewi


"Akan ku patahkan kaki putri kesayanganmu itu dan aku tidak main2" Menatap Dewi dengan tatapan membunuh.


"Tapi Sekar Berlian jg butuh uang itu" Ucap Dewi


"Baiklah kita lihat apa besok kau masih bisa melihat putrimu tersenyum atau hanya menangisi nasibnya" Ancam Sekar.


"Kau sangat jahat Sekar" Ucap Dewi


"Salahmu membiarkanku tinggal di rumah ini" Ucap Sekar dengan senyum mengejek.


Dewi hanya menundukkan kepalanya sambil menangis. Ia benar2 menyesali dirinya sendiri yg tidak bisa berbuat apa2 terlebih untuk putrinya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2