Berlian

Berlian
Bertemu Mutiara


__ADS_3

Pagi Itu Berlian dan Juliana sedang asik berbicara santai sambil berjalan menuju nyusuri area parkir kampus mereka. Tiba2 mata Berlian tertuju pada seseorang yg baru saja keluar dari sebuah mobil mewah, orang itu tak lain adalah Mutiara. Ia datang bersama salah seorang pria tampan, yg juga terkenal kaya raya dan salah satu mahasiswa di kampus mereka.


Berlian segera menghampiri Mutiara dengan niat ingin menyapanya.


"Ara, apa kabar kamu, apa kabar juga sama mama Sekar?" Tanya Berlian saat tiba di tempat Mutiara berdiri


Mutiara yg tadinya sedang berbicara dengan kekasihnya itu, menatap ke arah Berlian dengan wajah sinisnya.


"Apa peduli kamu dengan keadaanku dan mama? sepertinya kita tidak seakrab itu untuk saling menyapa apa lagi sampai bertukar kabar satu sama lain kan?" Balas Mutiara dengan nada ketusnya.


"Baiklah kalau menurutmu begitu, aku hanya ingin tahu kabar kalian dan apa kalian baik2 saja. tapi sepertinya kamu baik2 saja" Ucap Berlian seraya ingin melangkah meninggalkan Mutiara.


"Tentu saja aku baik2 saja, bahkan sangat baik. coba lihat aku, lihat pencapaianku. aku bahkan sudah bisa bersanding dengan model2 papan atas saat ini. Sedangkan kamu, lihat dirimu?" Mutiara menghentikan ucapannya seraya tertawa mengejek pada Berlian.


"Kamu tidak lebih dari sebatas sendal jepit, jika dibandingkan dengan diriku yg bak sepatu kaca yg berharga. kau tahu itu?" Kalimat yg di ucapkan Mutiara itu tidak hanya menyakiti Berlian tapi juga Juliana sahabatnya.


"Hahaha.. Sepatu kaca? maksudmu sepatu yg hanya selalu jadi pajangan itu? Hei asal kau tau, sendal jepit jauh labih bermanfaat dari sepatu kaca yg kau banggakan itu. Tapi ku rasa memang seperti itu, Berlian memang jauh lebih bermanfaat dari pda dirimu, setidaknya dia memiliki otak yg cerdas tak sedikit orang yg Ia bantu dengan kepintarannya, Berlian juga sering menyantuni anak2 yatim. Itu sangat bermanfaat bukan?" Juliana menghela nafas dengan kasar


"Sedangkan dirimu yg kau banggakan ini, tidak lebih dari seorang benalu yg tidak tahu diri. Menungpang hidup pada orang lain lalu sekarang ingin berlagak bak tuan putri" Ucap Juliana yg terlihat sangat jengkel.


Berlian yg mendengar ucapan Juliana sedikit merasa senang mendapat pembelaan dari sabahatnya itu, namun seketika Berlianpun memegang tangan Ana untuk menghentikan kata2nya yg mungkin akan semakin sadis nantinya.

__ADS_1


Sedangkan Mutiara yg mendengar ucapan Juliana terlihat sangat marah dan malu, terlebih karena Ana mengucapkan dirinya benalu di hadapan kekasihnya.


"Hei tutup mulutmu gadis bodoh, kalau kau tidak mau ku robek mulut lebarmu itu. Siapa kau seenaknya berbicara tentangku?" Muka Mutiara terlihat merah padam.


"Haha kenapa kau semarah itu? aku memang tidak tahu banyak tentang orang yg tidak penting sepertimu, yg pastinya aku tahu jika di rumah sahabatku ini sedang ada benalu2 yg tidak tahu diri yg merasa dirinya bak putri, eehh maksudku bak sepatu kaca" Ucap Juliana tak mundur dengan ancaman Mutiara seraya mengedipkan matanya mengejek pada Mutiara.


"Bolehkan aku tertawa?" Tanyanya kemudian saat melihat Mutiara yg seperti kehabisan kata.


"KAU" Ucap Mutiara seraya mengangkat telunjuknya tepat di hadapan Juliana, Julian tak gentar malah semakin menantang.


Mutiara yg tak mampu lagi membalas kalimat2 Juliana akhirnya memilih pergi dari area parkir, dengan menarik kekasihnya yg sejak tadi hanya menonton kejadian itu, untuk pergi bersamanya.


"Keren sekali sahabatku ini" Ucap Berlian saat melihat Mutiara pergi dengan muka merah padam.


"Kau aja yg terlalu pake hati sama saudara tirimu yg tidak tahu diri itu. Dia itu tidak ada apa2nya di banding dirimu tau, percaya sama aku"


Ucap Juliana sambil terus berjalan menggandeng tangan Berlian.


"Ya aku juga tahu kalau diriku ini hebat" Ucap Berlian seraya mengangkat sedikit dagunya dengan jari telunjuknya.


"Huh sekarang aja baru berani bicara, kenapa tadi kamu gak bicara. sumbat aja mulutnya tu nenek lampir. sebbel aku" Ucap Juliana masih dengan nada kesal.

__ADS_1


"Ih kok kamu sih yg semarah itu, kan yg di hina aku tadi? Lagian aku gak mau berdebat sama Ara, sejujurnya aku kangen sama Ara yg dulu teman kecilku. hmm" Ucap Berlian dengan sedikit menampilkan ekspresi sedihnya.


"Abis aku gak suka dia hina kamu seenaknya. udalah gak usah kangen sama Dia uda ada aku yg terbaik disni. Atau aku ngambek nih" Rengek Juliana.


"Oh cup cup cup. Hmm, aku hanya kangen dengan beberapa kenangan masa kacilku. Tapi untuk saat ini kau dan ka Tari adalah dua hal berharga yg kumiliki" Ucap Berlian yg membuat Juliana tersenyum senang.


"Aaaa aku terharu" Ucap Juliana


"Lebay. Eeh tapi tadi kata2 kamu keren juga ya, tapi agak sadis si kasian juga Ara mukanya jadi merah gitu" Berlian


"Iya dong Ana gitu lo. udalah gak usah mikirin dia itu pantas buat dia" Juliana.


Merekapun terus bercerita dengan sesekali tertawa bersama, sampai akhirnya berpisah untuk menuju kelas masing2.


*note


Di salah satu sudut kampus terdapat sepasang mata, yg menatap kearah dua sahabat itu dengan tatapan penuh kebencian.


"Akan ku balas penghinaanmu pada ku hari ini gadis bodoh" Gumam orang itu dengan nada kesal yg tak lain adalah Mutiara.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2