
Menikahi pria yg di cintai dan mencintai kita, tentunya adalah harapan setiap wanita. Menikah dengan pesta yg meriah, mewah serta glamor, mungkin menjadi impian hampir setiap wanita. Namun bagi Berlian, pesta yg meriah itu bukanlah hal yg utama. Melainkan siapa yg akan menjadi pria yg pendampingnya di atas pelaminan.
Kini saat2 melepas masa gadisnya semakin dekat. Berlian memasuki aula pernikahan, yg di dampingi oleh Sekar dan Mutiara sebagai pihak keluarganya. Mengenakan kebaya tradisional serta riasan yg sederhana, jauh dari kata mewah dan glamor. Meski begitu kecantikannya tetap terpancar dengan nyata.
Terlihat suasana aula yg tidak begitu ramai, dekorasi ruangan juga yg terlihat sederhana. Juno benar2 membuat pernikahan ini menjadi sesederhana mungkin. Jauh dari kata mewah, dan sama sekali tidak memperlihatkan pernikahan seorang pengusaha kaya.
Juno melirik sekilas pada calon istrinya itu, entah senang atau sedih yg Ia rasakan. Hanya tatapan dingin yg terpancar dari wajah tampannya.
Berlian berjalan menghampiri Juno, pandanganx Ia lemparkan mengelilingi aula, tidak banyak orang yg hadir. Seperti perkiraan sebelumnya hanya ada keluarga dekat saja.
Berlian melihat kebeberapa orang yg Ia kenal, Tatapannya tertuju pada sahabatnya Juliana. Yang ditatap justru membuang muka dan acuh.
Hmmmm, Ana pasti masih marah, aku janji akan menjelaskan semuanya setelah ini. Batinnya
Kemudian Berlian melirik dua wanita yg telah mendampinginya hari ini, Sekar dan Mutiara. Meski mereka hadir sebagai keluarga dari Berlian, tak sedetikpun ekspresi senang yg mereka perlihatkan. Jika bukan karena permintaan Radit yg mengharuskan mereka datang sebagai keluarga Berlian, mungkin mereka tidak akan hadir malam ini.
Terlebih Mutiara, mendengar kabar pernikahan Berlian dengan seorang pengusaha muda dan kaya, membuatnya merasa sangat tidak senang. Baginya kebahagiaan bagi Berlian merupakan kekalahan baginya. Namun melihat pernikahan Berlian yg jauh dari kata mewah, ada rasa senang dalam hatinya.
Mereka sangat tidak senang melihatku, tapi aku sangat berterima kasih setidaknya mereka sudah mau menjadi keluargaku yg hadir malam ini. Batinnya.
Mata Berlian juga tertuju pada seorang pria paruh baya, pria yg pernah Ia temui di rumahnya beberapa waktu lalu. Pria yg tak lain adalah cinta pertama ibunya, Heru.
Om Heru, dia benar om Heru. Kenpa dia juga ada disini? batinnya.
Sedangkan Heru melihatnya dengan senyuman yg merekah, seolah mengisyaratkan Ia turut bahagia dengan pernikahan ini.
Kembali Ia melihat seorang wanita cantik. Wanita itu tak henti2nya melihat kearahnya dan melemparkan senyum yg manis. Wanita itu adalah Martha, kakak perempuan dari Juno. Dia sengaja datang setelah mendengar kabar pernikahan adik tercintanya itu.
Siapa wanita cantik itu, sejak tadi dia terus melihat kearahku dan melemparkan senyum padaku, membuat canggung saja. Batinnya.
Matanya kembali menyusuri aula, tak melihat seseorang yg Ia kenal. Radit tak memperlihatkan batang hidungnya sejak masuknya Berlian ke dalam aula pernikahan.
Kemana ka Radit, kenapa aku tidak melihatnya sejak tadi? dia bahkan tidak perduli aku akan menikah. Sudahlah Ian apa lagi yg kau harapan, dia tidak menyukaimu dan kau akan segera menikah. ucapnya dalam hati.
Puas melihat sekeliling dan orang2 yg hadir, matanya tertuju pada sesosok pria yg sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya. Pria yg sama sekali tidak Ia cinta, bahkan baru saja Ia kenal. Namun kini bersanding di sampingnya sebagai sepasang pengantin.
__ADS_1
Juno yg sadar dirinya sedang diperhatikan calon istrinya itu, berbalik menatap Berlian. Kini mata keduanya saling bertemu hingga beberapa detik, sampai akhirnya mereka sepakat melemparkan pandangan mereka kearah yg berlawanan secara bersamaan.
"Bagaimana kedua mempelai, apa sudah bisa kita mulai ijab kabulnya" giliran penghulu membuka suara. Kedua mempelai hanya terdiam tanpa kata.
"Silahkan pak" Seseorang terdengar bersuara. Berlian mendongak melihat arah suara. Terlihat pria paruh baya itu tersenyum melihatnya. Heru adalah paman dari Juno, beliau merupakan adik laki2 dari mendiang ibu Juno dan Martha. Ia sebagai orang tua bagi Juno, menggantikan kedua orang tua mereka yg telah tiada.
Mendapat arahan, penghulupun segera memulai aksinya menuntun Juno mengucapkan ijab dan kabul. Detik2 menegangkanpun di mulai, setelah menerima tuntunan ijab kabul dari penghulu. Juno mulai mengeluarkan suaranya, rasa debaran di hati Berlian semakin berdegup kencang. Entah bahagia atau sedih, rasanya sulit di jelaskan.
"SAH" Teriak para tamu yg hadir di acara pada malam itu. Menandakan ijab kabul sudah selesai di laksanakan, yg menandakan pula kini dirinya resmi menjadi istri dari Juno, pria tampan dan kaya raya. Namun jg merupakan pria yg tidak Ia cintai dan tidak mencintainya.
Berlian menundukkan kepalanya seraya menutup matanya, menarik nafas dengan dalam lalu menghembuskannya dengan pelan, berusaha menenangkan hatinya.
Semuanya akan baik2 saja Ian, ini adalah pilihanmu kau harus siap menjalani apapun yg terjadi kedepannya. batinyanya mencoba menerima kanyataan ini.
Disisi lain sepasang mata menatap dari kejauhan. Radit melihat dari sudut ruangan, hanya bisa menyunggingkan senyum yg dipaksa. Meratapi cintanya yg kembali harus Ia kubur dalam2.
Percayalah, aku bahagia jika kau bahagia. Terimalah Radit, dua orang penting dalam hidupmu kini menuju pada gerbang kebahagiaan mereka. Kau harus menerima kenyataan ini. Batinnya.
Iapun melangkah meninggalkan aula, tanpa Ia sadari seseorang telah memeperhatikan tingkahnya sejak tadi.
"AAAAAHHHKKKKKKKKK!" Teriaknya saat merasa tak ada satu orangpun yg akan melihatnya.
"Kenapa, kenapa kau menghadirkan cinta dalam hatiku jika cinta itu tidak kau takdirkan untukku Tuhan, kenapa?" Teriaknya lagi untuk menumpahkan sakit dalam hatinya. Kini kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya yg terasa lemas, bruk.. Iapun jatuh terduduk kelantai disertai tangisnya yg pecah.
Seseorang yg sejak tadi melihatnya dari kejauhan, kini mulai melangkah menghampirinya. Berdiri tepat dihadapannya dan menyodorkan sebuah sapu tangan.
"Apa dia kekasihmu, apa kau telah dihianati oleh mereka?" Ucap orang itu.
Radit yg mendengar suara itu sontak kaget dan segera berdiri. Menerima sapu tangan yg diberikan padanya dan menghapus air yg berhasil lolos membasahi pipinya.
" Ka Martha, kenapa bisa disini?" kagetnya saat melihat Martha berdiri di hadapannya.
"Aku sudah melihat tingkahmu yg aneh sejak aku datang, dan hari ini keanehan itu semakin terlihat. Apa benar dia kekasihmu?"
Radit hanya terdiam tanpa kata, entah bagaimana Ia harus menjelaskan hal ini pada Martha.
__ADS_1
"Juno merebut kekasihmu, dan gadis itu memilih Juno karena dia lebih kaya darimu?" Lanjut Martha karena tidak mendapat jawaban dari Radit.
"Tidak, ka Martha salah paham. Berlian bukan wanita yg seperti itu" potong Radit
"Lalu kenapa kau terpuruk begini, dan kenapa Juno menikahi gadis itu? Aku tahu dulu Juno berpacaran dengan gadis yg bernama Mentari, dan aku tahu Juno sangat mencintai gadis itu" tanya Martha yg sebenarnya telah menyimpan pertanyaan ini sejak dia kembali.
Mengapa Juno tidak menikahi Mentari, apa mereka putus, apa Juno berselingkuh, kemana perginya Mentari, Siapa Berlian, sejak kapan mereka bersama? Pertanyaan2 itu ingin sekali Ia tanyakan pada Juno, namun melihat reaksi Juno yg selalu enggan menerima pertanyaannya membuatnya memilih untuk menyimpan rasa penasarannya itu.
Radit yg tidak ingin ada kesalahpahaman yg terjadi dalam benak Martha, terlebih sampai mengira bahwa Berlian meninggalkan dirinya dan memilih Juno demi harta kekayaan. Ia tidak menginginkan itu, Ia tidak ingin nama baik Berlian menjadi buruk. Akhirnya Radit memutuskan untuk menceritakan semua yg terjadi pada Martha.
"Jadi maksud mu, Juno menikahi gadis itu hanya untuk memenuhi permintaan terakhir Mentari?" tanya Martha tak percaya dengan cerita yg baru saja dia dengar. Radit mengangguk menyiyakan.
"Hah, apa itu masuk akal?" Martha benar2 tidak habis pikir dengan jalan pikiran adiknya itu. Bagaimana bisa Ia mengorbankan perasaanya bahkan perasaan orang lain demi wanita yg dicintainya, padahal wanita itu saja telah meninggal dunia.
"Bagi Juno keinginan Mentari adalah kewajiban baginya, terlebih lagi ini adalah keinginan terakhir Mentari tidak mungkin bagi Juno untuk menolaknya" jelas Radit
"Lalu kau membiarkannya begitu saja, gadis yg kau sukai menikah dengan pria yg tidak menyukainya?" protes Martha.
"Berlian gadis yg sangat menarik, dia baik, ceria, penyayang serta sifatnya yg masih sedikit polos. Aku yakin lambat laun Juno akan mencintainya" ucap Radit dengan yakin.
"Lalu bagaimana denganmu?"
Radit tertawa mendengar pertanyaan itu.
"Aku? Aku tidak akan pernah merasakan yg namanya jatuh cinta lagi" ucapnya, ada rasa putus asa akan cinta yg terdengar dari ucapannya itu.
"Hahaha jgn bermain2 dengan ucapanmu"
" Aku serius" Ketus Radit, merasa kesal karena Martha menertawakannya.
"Hmmm, baiklah. Kita lihat saja nanti" Ucap Martha seraya mengedipkan sebelah matanya pada Radit. Radit hanya terdiam melihat kelakuan Martha. Baginya Martha sama sekali tidak terlihat seperti wanita yg sudah berusia 30 tahun, melainkan lebih tepat menjadi adik dari Juno karena sikapnya yg kadang manja dan kekanakan.
Marthapun manarik tangan Radit, mengajaknya untuk kembali ke aula pernikahan. Radit akhirnya menurut pada wanita itu. Merekapun menuju aula tempat pernikahan Berlian dan Juno berlangsung.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1
HAI PARA PEMBACA,TERIMA KASIH SUDAH BERSEDIA MAMPIR DI CERITAKU. SEMOGA KALIAN SUKA DENGAN CERITANYA. SEGALA KEKURANGAN BISA KALIAN SAMPAIKAN DI KOLOM KOMENTAR YA, DAN JANGAN LUPA LIKENYA. TERIMA KASIH😘😘