
Martha duduk bersender santai di salah satu kursi yg terdapat di taman belakang rumahnya. Tangannya memegang ponselnya, matanya terus menatap pada layar ponselnya. Hal ini hampir setiap hati Ia lakukan saat mengingat pada orang itu.
"Kemana kamu? bahkan ini sudah hampir 4 tahun tapi kamu masih juga tidak menemuiku seperti janji kamu" Gumam Martha masih terus memandangi foto di ponselnya.
Tiba2 ponselnya berdering yg memperlihatkan panggilan yg tidak dikenal, dengan malas Martha menjawab panggilan itu.
Martha:" Halo"
"Martha" sahut seseorang dibalik telpon.
Martha membulatkan matanya saat mendengar suara di balik telpon
Suara ini. batin Martha.
Martha hanya terdiam dan tidak membalas sahutan orang itu.
"Tha, ini aku" ucap orang itu lagi.
"Rangga" Sahut Martha akhirnya, seketika air matanya lolos membasahi pipinya.
Ada rasa rindu yg tiba2 memuncak di hatinya saat mendengar suara itu. Suara yg dulu menjadi penghantar tidurnya setiap malam. Suara yg bisa menemaninya selama berjam2 melalui panggilan telpon, bahkan Ia tidak pernah merasa bosan sedikitpun. Namun dengan sebuah kalimat "Maaf aku harus pergi, aku janji akan kembali suatu hari nanti" sang pemilik suara pergi begitu saja, meninggalkan luka dan meninggalkan rindu padanya bahkan meninggalkan janji yg terus di ingat Martha hingga hari ini.
Kepergian orang itu tidak hanya meninggalkan luka bagi Martha, Ia juga memilih untuk pergi, pergi meninggalkan lukanya di tempat ini dan berusaha mencari kebahagiaannya di luar. Meski akhirnya Ia memilih untuk kembali karena gagal menemukan kebahagiaannya yg baru.
Apa dia benar2 Rangga? batinnya.
"Iya ini aku, aku sudah kembali" balas orang itu yg bernama Rangga.
"Kapan kau kembali?"
"Belum sehari aku bahkan belum sampai di rumahku, tapi aku langsung mengingatmu. boleh kita bertemu?" pinta Rangga.
"Aku sibuk" balas Martha mencoba jual mahal. Padahal jika seseorang bisa melihat hatinya makanya kalian tidak akan mampu mengungkapkan betapa senangnya Ia saat ini.
Dia menepati janjinya, dia menepati janjinya untuk menemuiku. batinnya seraya tersenyum.
"Kalau begitu lain kali saja" putus orang itu akhirnya.
Ih gitu aja, dia gak maksain dikit gitu? kesal Martha membatin.
"Terserah" balas Martha sedikit jutek.
Terdengar Rangga tertawa terbahak2 di balik telpon.
"Tarnyata kau belum berubah Tha, masih suka ngambek" sahut Rangga.
"Siapa yg ngambek, akukan hanya bilang terserah" bantah Marta.
"Hmm Ialah, Mau aku jemput atau kita langsung ketemu di tempat biasa" putus Rangga seenaknya.
"Eeh siapa yg bilang aku mau ketemu?" bantahnya lagi.
"Aku tunggu di tempat biasa 30 menit dari sekarang ya" sahut Rangga tak mau peduli dengan bantahan Martha.
"Ih aku belum siap2 tau" sahut Martha panik.
Mendengar kepanikan Martha, Rangga kembali tertawa.
"Kenapa ketawa?" kesal Martha seraya memanyunkan bibirnya yg bahkan tidak bisa dilihat oleh Rangga.
__ADS_1
"Habisnya kamu menggemaskan. Aku sudah sangat rindu, jadi jgn membuatku semakin rindu dengan sikap manjamu ok, nanti aku bisa2 mengigitmu saat kita bertemu" Jelas Rangga.
Tidak membalas perkataan Rangga, Martha justru tersenyum malu2 dan pipinya mulai memanas dan memerah.
"Yaudah siap2 sana, kabari aku kalau kamu sudah mau berangkat" lanjut Rangga.
"Emm" direspon Martha sekenanya. Sambunganpun terputus.
Dengan cepat Martha berlari memasuki rumah, dengan bernyanyi2 riang sambil sesekali tersenyum senang layaknya ABG yg sedang jatuh cinta.
"Ada apa dengan nona Martha?" tanya salah seorang pelayan pada pelayan lainnya saat melihat tingkah aneh majikannya itu.
"Entah, mungkin nona habis menang undian" balas pelayan lainnya seenaknya.
Iapun seketika menjadi pusat perhatian pelayan2 lain karena ucapannya yg sangat tidak masuk akal.
Sejak kapan nona Martha ikut undian coba? pikir mereka.
***
Martha telah mencoba baju terakhir yg terdapat di lemari bajunya. Tumpukan bajunya sudah setinggi gunung, namum Ia tetap merasa kurang pada penampilannya. Akhirnya Ia memutuskan untuk memakai baju yg pertama kali Ia coba, dres hitam selutut yg Ia padukan dengan jaket jeans sebagai luarannya.
"Ini aja deh" gumamnya saat melihat dirinya di kaca. Disambarnya tas kecilnya seraya melangkah keluar.
"Nona Martha mau kemana, apa nona mau disiapkan mobil atau nona ingin di anter supir?" Tanya buk Mega.
"Aku mau keluar sebentar buk. Bilang sama pak Anton supaya siapkan mobil, aku mau bawa mobil sendiri" balas Martha.
"Baik nona" sahut Buk Mega seraya berlalu untuk menyampaikan pesan pada pak Anton, supir yg biasa mengantar Martha saat bepergian.
***
"Udah cantik belum sih, nanti kalau jelek gimana?" gumamnya masih terus memperhatikannya riasannya di kaca.
"Bodo ah" putusnya seraya turun dari mobil. Martha segera berjalan menuju kafe. Tiba2 ada resa degdegan dalam hatinya saat akan menemui Rangga.
Kok aku degdegan ya, kek pengantin baru yg mau ketemu sama ibu mertua aja. batinnya.
"Tha, disini" Teriak seseorang seraya melambaikan tangannya pada Martha.
Itu dia, aaa kenapa dia semakin ganteng aja si? batinnya semakin degdegan.
Namun dengan cepat Ia berusaha menguasai dirinya dan berusaha santai.
"Uda lama ya?" tanyanya seraya duduk di depan Rangga.
"Baru 15 menit kok" Balas Rangga.
"Oh iya aku uda pesan buat kamu, masih seperti biasakan jus mangga" lanjutnya.
"Emm iya, makasih" balas Martha sesantai mungkin.
Merekapun menikmati menu pesanan mereka. Tak ada yg bersuara hingga mereka hampir mengahabiskan waktu 1 jam.
"Ehem" Kode Martha, Rangga hanya melirik sekilas namun tetap terdiam.
"Apa kau akan diam saja, apa tidak ada hal yg perlu kau jelaskan? kalau begitu aku pulang saja" kesal Martha akhirnya, dengan menyambar tas kecilnya dan berniat untuk pergi.
"Martha tunggu" halang Rangga dengan menarik tangan Martha.
__ADS_1
Marthapun kembali dengan posisi duduknya dengan wajah yg masih terlihat kesal.
"Aku minta maaf" ucap Rangga akhirnya.
"Untuk apa?" balas Martha.
"Untuk semuanya, semua kesalahanku"
"Iya apa?" balas Martha masih terlihat kesal.
"Tha, aku tahu kau sangat kecewa sewaktu aku memutuskan untuk pergi, tapi aku ada alasan yg kuat kenapa aku harus pergi" Rangga mulai menjelaskan.
"Tha, kau putri dari keluarga Herlambang. Orang yg memiliki pengaruh besar di negeri ini. Sedangkan aku, aku hanya anak seorang janda yg bekerja sebagai pedagang sayur di pasar" lanjutnya menjelaskan.
"Terus apa masalahnya, kamu pikir karena aku anak dari keluarga Herlambang maka aku akan menilai seseorang dari derajatnya. Sejauh mana kau mengenal ku Ga?" protes Martha dengan alasan yg diberikan oleh Rangga.
"Bukan itu masalahnya, aku tahu kau tidak menilaiku dari statusku, aku bahkan sangat yakin dulu kau begitu mencintaiku. Tapi aku merasa tidak pantas bersanding denganmu hanya dengan statusku sebagai lulusan SMA dan kuli panggul di pasar" Jelas Rangga semakin berapi2.
"Dan kepergiaanku adalah saran yg diberikan oleh adikmu" lanjutnya.
"Hah, maksudmu Juno. Juno yg menyuruhmu pergi?" kaget Martha. Ternyata tanpa Ia ketahui Juno adalah orang yg menyebabkan kepergian Rangga beberapa tahun lalu.
"Iya. Dia menemuiku secara pribadi. Dia bertanya padaku, hal apa yg bisa aku berikan padamu jika aku ingin menjadi pendampingmu" jelas Rangga lagi.
"Juno mengatakan hal itu?" Martha mulai terlihat tidak senang.
"Kau jgn salah paham dulu. Sewaktu Juno mengatakan itu, aku memang sedikit tersinggung dan merasa di rendahkan. Tetapi setelah aku tahu maksudnya aku justru berterima kasih padanya"
"Maksud mu apa sih" Martha semakin tidak mengerti.
"Juno memintaku untuk melanjutkan studiku di luar negeri, bahkan dia membiayai kuliahku disana. Dia bilang setidaknya aku bisa diandalkan untuk memimpin salah satu perusahaan ayahmu setelah aku kembali, Dia juga bilang, setidaknya aku bisa menjadi rekan kerjanya dimasa depan" Jelas Rangga kemudian.
"Tha, aku sangat bersyukur dengan hal itu, karena hari ini saat aku kembali aku merasa lebih percaya diri untuk bertemu denganmu. Meski aku tetap belum sebanding dengan beberapa pria yg mengejarmu, tetapi setidaknya aku bisa mengandalkan diriku selain dari mengandalkan cintamu padaku saja"
"Kau mengertikan?" ucapnya mengakhiri penjelasannya.
Martha menatap Intens pada Rangga.
"Lalu kenapa selama kau pergi kau tidak pernah mengabariku?" protesnya lagi.
"Karena Juno memintaku untuk tidak menghubungimu sebelum aku kembali. Dia bilang kalau kau tahu dimana keberadaanku kau pasti akan menyusulku kesana. Karena itu aku tidak pernah mengabarimu, Dia bahkan selalu mengawasiku selama aku disana" balas Rangga.
"Juno lagi. Kenapa kau sangat mendengarkannya?" kesal Martha.
"Karena dia bisa saja melenyapkanku jika aku tidak mendengarkannya" tegas Rangga.
"Apa dia berani? coba saja kalau dia mau berurusan denganku" balas Martha.
Mendengar ucapan Martha yg membelanya, Rangga tersenyum senang.
"Kau sudah memaafkanku kan?" ucap Rangga kemudian.
"Tidak" balas Martha membuang muka dari Rangga, namun Rangga dapat melihat senyum yg tersungging di bibir gadis itu.
BERSAMBUNG.....
Note:
Selalu jaga kesehatan kalian dengan istirahat yg cukup. Jangan suka keluyuran untuk hal yg tidak penting, karena corona sedang mengintai. Tetap di rumah aja ya sambil baca novel "Berlian"
__ADS_1
😂ðŸ¤ðŸ˜˜ðŸ˜˜