Berlian

Berlian
Berlian Sakit.


__ADS_3

Juno sampai dihalaman rumahnya setelah mengantarkan Radit. Biasanya saat kerumah Radit, Ia pasti selalu menyempatkan untuk mampir, namun akhir2 ini Ia merasa lebih ingin untuk segera pulang ke rumah.


"Selamat sore tuan" sapa penjaga dan pelayan rumah Juno menyambut kedatangannya.


Jika biasanya dia hanya berlalu begitu saja, namun kali itu Ia menanggapi dengan melemparkan senyuman di bibinya.


"Berlian sudah pulang?" tanya Juno.


"Sudah tuan, nona Berlian sudah pulang dari tadi" jawab pelayan. Junopun segera berlalu memasuki rumah.


"Akhir2 ini Tuan Juno suasana hatinya jadi lebih baik, kalau pulang juga pasti nyariin nona Berlian" ucap pelayan itu.


"Lah kan istrinya, saya juga kalau pulang pasti cariin istri masa cariin pembantu" balas salah seorang penjaga.


"Memangnya kamu punya pembatu?" balas pelayan dengan sedikit kesal.


"Shhut, jangan suka bergosip, ayo kembali bekerja" balas pelayan lainnya seraya kembali pada pekerjaannya.


Sedangkan Juno melaju memasuki rumahnya dan melewati Martha yg sedang berada di ruang tengah.


"Cie yg kebelet banget pengen liat istri, sampe kakaknya di abaikan begini" sahut Martha menggoda Juno, karena melihatnya yg begitu terburu2 untuk menuju kamarnya. Tiba2 langkah Juno terhenti dan menghampiri Martha.


"Ka" panggil Juno.


"Emm" Martha menatap Juno yg tiba2 terlihat serius.


"Mandi sana, pria tidak suka gadis yg bau ketek" balas Juno seraya tersenyum mengejek pada kakaknya itu, seraya pergi meninggalkan Martha yg masih terlihat kesal.


"Ku kutuk kau jadi batu" Teriak Martha dengan kesal.


***


Juno memasuki kamarnya, terlihat lampu yg belum menyala sama sekali di kamar itu sehingga terlihat gelap.


"Kok gelap, kemana dia?" gumamnya seraya menghidupkan lampu.


Terlihat Berlian sedang terbaring di ranjang dan tertidur.


"Kenapa dia tidur jam segini?" gumamnya lagi seraya menghampiri istrinya itu.


Di dekatinya istrinya itu dan terlihat wajah Berlian yg memerah. Juno terlihat kaget dan segera meraba dahi istrinya itu untuk mengetahui suhu badannya.


"Badanya panas sekali" Junopun semakin panik.


"PABGGILKAN DOKTER WILIAM SEKARANG!" Teriak Juno dari balik terlpon pada pelayan rumahnya, dengan nada yg terdengar panik. Menerima arahan yg terdengar genting itu para pelayan di rumah itupun bubar dan ikut panik.


"Ada apa?" tanya Martha pada salah seorang pelayan yg terlihat sedang panik.


"Tuan Juno ingin memanggil dokter Wilian, mungkin tuan sedang tidak enak badan" jelas pelayan pada Martha.


"Sakit gimana? tadi baik2 aja kok" balas Martha.


"Saya kurang tahu nona, mungkin juga nona Berlian yg sakit" jelas pelayan itu lagi.


"Ian?" kaget Martha mengingat Berlian.


"KENAPA KALIAN MALAH BERDIRI DISITU? PANGGILKAN DOKTER WILIAM. CEPAT!" Teriak Juno dari lantai atas. Terlihat jelas raut kepanikan di wajahnya.


"Kami sudah memanggilnya tuan, dokter Wiliam sedang menuju kemari" balas pelayan.


Melihat reaksi Juno, Marthapun ikut panik. Takut jika sesuatu yg buruk sedang terjadi pada adik iparnya itu. Dengan cepat Martha berlari menuju kamar Juno dan Berlian.


Tak berapa lama akhirnya Dokter Wiliampun datang dengan membawa pelatan medisnya.

__ADS_1


"Ada apa memanggil saya dengan begitu terburu2?" tanya dokter Wiliam pada buk Mega.


"Sepertinya istri tuan Juno sedang sakit, ayo saya antar ke kamarnya" balas buk mega seraya mengantar dokter Wiliam menuju kamar Juno.


"Ada apa No, Ian kenapa?" panik Martha saat menemui Juno. Juno hanya terdiam dengan wajah yg begitu cemas.


Kemudian dokter Wiliam dan buk Mega juga terlihat menyusuli Martha dari belakang.


"Kenapa anda begitu lama untuk menuju kesini, apa anda ingin menunggu istri saya untuk sekarat dulu baru anda bisa datang kemari lebih cepat?" ucap Juno pada dokter itu.


"Maafkan saya tuan. Tadi saya juga sedang menangani seorang pasien" jelas dokter Wiliam.


"Kalau begitu anda tidak perlu lagi bekerja di rumah sakit, agar anda bisa segera datang saat saya memanggil anda" balas Juno masih terlihat marah.


"Udah No, sebaiknya kamu membiarkan dokter Wiliam untuk segera memeriksa kondisi Berlian bukan malah memarahinya" sahut Martha. Junopun mempersilahkan dokter Wiliam untuk memeriksa Berlian.


Hanya demam biasa, tapi tuan Juno seperti sedang melihat istrinya yg sekarat. batin Dokter Wiliam.


"Nona Berlian tidak apa2.." ucap dokter Wiliam yg terpotong.


"Apanya yg tidak apa2, apa perlu istri saya sekarat dulu baru anda bilang ini apa2?" potong Juno menghentikan penjelasan dokter Wiliam.


"Maaf tuan bukan begitu maksud saya, tapi maksud saya nona Berlian hanya demam biasa. Hanya perlu istirahat, nanti saya akan memberikan obat untuk nona Berlian" Jelas dokter Wiliam.


"Oh jadi Berlian cuman demam dok?" tanya Martha dengan nada yg sedikit menyindir pada Juno yg bereaksi sangat berlebihan.


"Benar nona Martha" balas dokter Wiliam.


"Demam juga bisa parah kalau tidak di tangani dengan cepat" ketus Juno masih tidak mau kalah.


"Benar tuan" balas dokter Wiliam tidak ingin memperkeruh suasana.


"Hmm. Yaudah dok, ayo saya antar kebawah" balas Martha akhirnya seraya mengantar dokter Wiliam.


"Baik nona, saya permisi tuan" ucap dokter Wiliam pada Juno.


"Sama2 tuan, anda tidak perlu sungkan" balas dokter Wiliam seraya tersenyum.


Martha serta dokter Wiliam dan buk Mega meninggalkan kamar Juno.


***


Waktu menunjukkan pukul 08.45 malam, akhirnya Berlian membuka matanya. Dilihatnya suaminya itu sedang terduduk disampingnya seraya terus menatapnya.


"Kamu sudah bangun, apa kamu lapar? Aku akan meminta bibi menyiapkan makanan untukmu" Ucap Juno, dengan cepat meminta pelayan membawakan makan malam untuk Berlian.


Berlian hanya menatap heran dengan tingkah suaminya itu


Ada apa dengannya, kenapa dia tiba2 perhatian begitu? batin Berlian.


Tidak menunggu waktu lama pelayanpun datang membawakan makan malam untuk Berlian.


"Saya juga menyiapkan makan malam untuk anda tuan, karena anda tidak sempat untuk turun makan malam" jelas pelayan.


"Iya, terima kasih" balas Juno.


Dia tidak turun makan malam, tapi kenapa? batin Berlian masih bertanya2.


Diliriknya jam dinding di kamarnya yg menunjukkan hampir pukul 9 malam.


Ternyata sudah semalam ini, pantas perutku krenyes2 minta diisi. batinnya.


"Ayo dimakan, setelah itu kamu harus makan obat" sahut Juno tiba2 seraya memberikan semangkuk bubur pada Berlian.

__ADS_1


"Obat, obat apa?" tanya Berlian dengan heran.


"Obat demam, kamu gak ngerasa apa kalau sedang sakit?" balas Juno.


Berlianpun ingin mengambil mangkuk yg diberikan oleh Juno, namun Juno menarik tangannya kembali.


"Biar aku saja" ucapnya seraya menyodorkan sesendok bubur pada Berlian.


"Aku bisa sendiri kok" ucap Berlian merasa canggung.


" Aaaaa" ucap Juno tidak peduli dengan ucapan Berlian, seraya membuka mulutnya seperti ingin menyuap seorang bayi. Berlianpun menurut dan menerima suapan dari Juno.


"Kamukan juga harus makan" ucap Berlian di sela2 makannya.


"Nanti kalau kamu sudah selesai" balas Juno.


"Aku makan sendiri aja, terus kamu juga makan. Kalau makan barengkan jadi lebih enak" ucap Berlian berusaha agar Juno berhenti menyuapinya.


Junopun mendaratkan suapan bubur itu ke mulutnya dan mulut Berlian secara bergantian.


"Gimana, uda makan bareng kan?" tanya Juno, Berlian hanya terdiam tidak menanggapi ucapan suaminya itu.


Kan gak gitu juga maksudku. batin Berlian.


Merekapun akhirnya menyelesaikan makannya dengan semangkuk bubur berdua, sehingga makanan yg disiapkan untuk Juno tidak tersentuh sama sekali.


Pelayanpun dengan cepat mengambil bekas makanan Juno dan Berlian.


Kasian tuan Juno, saking cemasnya dengan nona Berlian sampai tidak selera untuk menyentuh makanannya sendiri. Malah nona Berlian yg punya selera makan sangat baik, buburnya habis tak tersisa. batin pelayan itu.


"Nih makan obatmu" ucap Juno seraya menyerahkan obat pada Berlian.


Berlianpun menerima obat yg diberikan oleh Juno dan memakannya.


"Kamu gak mau makan obat sekalian?" tanya Berlian pada Juno.


"Kan aku gak sakit" balas Juno.


"Gak sakit kok tingkahnya tiba2 jadi aneh" gumam Berlian dengan suara yg sangat pelan, namun berhasil di dengar oleh Juno.


"Aku tidak aneh, tapi aku mencemaskanmu" balas Juno yg Berhasil membuat jantung Berlian sport malam dan pipinya yg memerah.


DEG.. Apa? dia mencemaskanku. Batin Berlian.


"Aku ingin mandi" lanjut Juno seraya menuju kamar mandi.


Biasanya dia kalau pulang kerja gak betah kalau gak langsung mandi, apa mungkin tadi dia terus nemenin aku jadi gak sempet mandi? batin Berlian.


Seketika Berlian memegang pipinya yg terasa panas.


Aaaaaaaaa. Teriak batin Berlian kesenangan.


Berlianpun memeluk guling seraya meremas2nya dengan gemas dan menciumi guling itu, tanpa Ia sadari Juno sedang berdiri di depannya.


"Kamu kenapa?" tanya Juno yg berhasil mengagetkan Berlian. Dengan cepat Berlian memperbaiki posisi duduknya.


"Aku kekenyangan" balasnya asal2an.


"Kok gak mandi?" lanjutnya mengalihkan.


"Aku gak mandi sudah malam. Mandi malam gak baik buat kesehatan" balasnya seraya menuju ruang ganti baju.


Aaaaaa, kenapa pakek ketahuan sih? kan malu. batin Berlian seraya menutup wajahnya dengan bantal.

__ADS_1


Terlihat Juno tersenyum saat meninggalkan istrinya yg terlihat menutup wajahnya, karena malu telah ketahuan salting dengan ucapannya barusan.


BERSAMBUNG......


__ADS_2