
Martha duduk dengan bertumpu pada kedua tangan di dagunya. Wajah cantiknya kini terlihat ditekuk. Tak jarang melemparkan pandangannya pada jam yg melingkar di pergelangan tangan kirinya yg sudah menunjukkan pukul 10.45 malam. Bersamaan dengan itu dirinya menghela nafas dengan kasar.
"Apa dia tidak mengabarimu sama sekali?" tanya Juno.
Martha hanya menggelengkan kepalanya, matanya sudah terlihat berkaca2 manahan tangisnya.
"Kita tunggu saja dulu, mungkin dia sudah di perjalanan" Ucap Heru menghibur kesedihan Martha.
"Dia tidak akan di perjalanan selama 4 jam paman. Dan setidaknya dia bisa memberiku kabar kalau dia tidak bisa datang malam ini, bukan menghilang begitu saja" balas Martha terlihat sedikit kesal.
"Kalau begitu lupakan saja pertemuan malam ini, kita bisa mengatur pertemuan dilain waktu" balas Juno.
"Lupakan saja, aku tidak suka laki2 pembohong sepertinya" balas Martha pula seraya bangkit dari duduknya.
"Martha. Jangan tergesa2 begitu, kau tidak tahu apa yg dia alami saat ini. Bagaimana kalau dia sedang dalam masalah dan kau malah mengumpat kesal padanya?" ucap Heru pada ponakannya itu.
Martha kembali duduk dengan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kembali diraihnya ponselnya dan mencoba menghubungi Rangga, namun tetap tidak bisa tersambung pada Rangga.
"Apapun alasannya aku tetap akan membencinya" ucapnya lagi.
"Jangan bicara sembarangan, lebih baik kau berdoa semoga dia baik2 saja" balas Juno.
"Hmmm" balas Martha.
"Ka Martha jgn kesal dulu, ka Rangga dan ibunya tidak mungkin tidak datang tanpa alasan. Kk harus percaya padanya bukan?" timpal Berlian kali ini.
"Akh aku tidak akan kesal begini kalau dia memberiku alasan mengapa dia tidak bisa datang" balas Martha mulai terlihat prustasi.
Malam ini adalah malam yg harusnya menjadi momen bahagia bagi Martha, karena malam ini Rangga berjanji akan datang bersama dengan ibunya untuk membicarakan perihal keinginannya untuk menikahi Martha.
Rangga telah meyakinkan Martha akan datang malam ini, dan harusnya Ia datang dari 4 jam yang lalu tetapi Rangga tidak juga memperlihatkan batang hidungnya, bahkan tidak ada kabar sama sekali tentang keberadaannya saat ini.
"Kau naiklah dan istirahat" ucap Juno pada Berlian.
"Tapi.." Ucap Berlian namun segera dipotong oleh Martha.
"Tidak apa2 Ian naiklah duluan, mungkin dia tidak datang malam ini" balas Martha.
"Baiklah, kalau begitu aku naik duluan. Ka Martha jangan sedih ya" Balas Berlian seraya tersenyum lembut pada Martha, kemudian berlalu meninggalkan ruang tengah. Marthapun membalas ucapan Berlian dengan tersenyum seraya mengangguk.
"Kau tidak ingin menyusuli istrimu?" tanya Om Heru menggoda Juno.
"Baiklah aku akan naik dulu, panggil saja aku kalau mereka sudah datang" balas Juno seraya ikut meninggalkan ruang tengah dan menyusuli Berlian.
"Padahal aku hanya menggodanya tapi dia benar2 pergi" gumam Heru.
"Sudahlah aku juga ingin tidur" ucap Martha pula seraya meninggalkan ruang tengah.
"Eeh sopankah meninggalkan orang tua seperti itu?" tanya Heru pada Martha, namun tidak mendapat respon dari ponakannya itu.
"Tinggal kita berdua, apa sebaiknya kita berkencan?" ucap Heru pada Buk Mega dan berhasil membuat wanita lajang itu tersipu malu.
"Pak Heru sangat suka bercanda. Kalau tidak ada apa2 saya kebelakang dulu" balas Buk Mega menghindari godaan Heru.
"Akh ayolah Mega, apa kau tega meninggalkanku sendiri disini?" ucap Heru dengan gaya dramatisnya, namun buk Mega tetap berlalu meninggalkannya.
****
Berlian keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri dan berniat untuk tidur. Junopun menantikan istrinya dengan berpose menggoda di atas kasur.
Ada apa dengannya kenapa berbaring seperti itu? Batin Berlian saat mendapati Juno sedang berbaring menyamping kearahnya dengan salah satu tangan yg menopang kepalanya, dan piyama yg sengaja tidak terkanci sehingga menampakkan dada bidangnya.
"Kau kenapa?" tanya Berlian dengan polosnya seraya menatap heran pada Juno.
"Bukankah datang bulanmu sudah selesai?" tanya Juno balik.
"Iya, aku sudah mandi tadi. Kenapa?" tanya Berlian pula.
Junopun bangkit dan mendekati Berlian, ditundukkannya kepalanya seraya mendekatkan wajahnya pada wajah Berlian.
"Bukahkah kita memiliki sesuatu yg tertunda kamarin, kenapa tidak kita lanjutkan hari ini?" bisik Juno tepat di telinga Berlian, dan berhasil membuat Berlian tersipu malu.
"Apa harus malam ini?" tanya Berlian kaget.
"Menurutlah, melayani suami itu kewajiban istri" ucap Juno dengan tersenyum nakal.
__ADS_1
Berlian hanya terdiam dan terlihat wajahnya sudah memerah karena malu.
"Bersiaplah, aku sudah meminta bibik menyiapkan baju untuk mu. Aku akan membersihkan diri terlebih dahulu" ucap Juno seraya masuk ke kamar mandi dengan semangat.
"Baju?" gumam Berlian heran seraya menyambar piyama dres transparan yg tergeletak di atas kasur.
"Baju seperti ini lagi? lagian kenapa juga harus pakai baju toh nanti juga akan terlepas semua?" gumam Berlian dengan polosnya, namun sesaat kemudian Ia merasa malu dengan ucapannya sendiri.
"Aduh apa yg aku pikirkan?" gumamnya lagi seraya memukul2 jidatnya.
Tak berapa lama Juno keluar dari kamar mandi dan mendapati Berlian yg sudah berganti pakaian, dengan mengenakan piyama dres transparan yg dipersiapkan untuknya. Seketika Juno menelan salivanya.
Junopun melangkah mendekati Berlian, melihat Juno yg semakin mendekat seketika Berlian merasakan yg tubuhnya menegang dan jantungnya yg serasa mau bertempur.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Juno seraya duduk disamping Berlian. Berlian hanya membalasnya dengan anggukan menandakan mengiyakan pertanyaan Juno.
"Apa ini waktu yg tepat, Martha sedang menunggu tamu?" tanya Berlian ragu2.
"Ini sudah jam 11 lewat mereka tidak akan datang" balas Juno.
Junopun memulai adegan mereka dengan mengambil inisiatif duluan, memautkan bibir mereka satu sama lain. Semakin lama dan semakin menikmati, semakin dalam dan semakin bergairah. Juno dapat meresakan yg tubuhnya sudah semakin panas, adik kecilnyapun sudah terbangun sejak tadi.
Tangannya mulai mengambil inisiatif untuk mejelajahi tubuh Berlian, dan dengan cepat melepaskan dres Berlian dari tubuhnya.
Tuh kan aku bilang juga apa, pasti bakal di lepas juga bajunya. Batin Berlian di tengah2 nafasnya yg memburu.
Tok tok tok.. Tiba2 suara ketukan dari luar mengagetkan kedua ingsan yg sedang dimabuk hasrat yg menggebu2 itu.
"Maaf Tuan, Nona Martha memanggil anda. Mas Rangga sudah datang dan sedang menunggu di bawah" Ucap pelayan dari balik pintu.
Juno tidak mengindahkan ucapan pelayan itu dan kembali melanjutkan aktifitasnya yg semakin mendekati gool.
"Tuan, apa anda sudah tidur?" teriak pelayan itu lagi.
Berlian segera menarik dirinya agar Juno menghentikan aktifitasnya.
"Tamunya ka Martha sudah datang sayang" ucap Berlian dengan lembut. Mendengar ucapan Berlian terlebih dengan panggilan sayangnya, hasrat Juno semakin menjadi2. Tanpa memperdulikan panggilan pelayan itu, Juno kembali melanjutkan aktifitasnya yg sudah semakin dekat menuju keberhasilan.
Tok Tok Tok... Ketukan pelayan itu kembali terdengar di balik pintu.
Berlian kembali menarik dirinya dari gelutan Juno.
"Kamu sebaiknya turun dulu. Ini malam penting bagi ka Martha, dia pasti membutuhkan kamu" ucap Berlian membujuk Juno.
Juno terlihat menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Ini sudah di ujung gawang, mana bisa berhenti" keluh Juno.
"Kita bisa melakukannya lain waktu sayang, aku janji tidak akan menolaknya. Martha membutuhkan kamu sekarang" pujuk Berlian, sedangkan Juno tetap terlihat enggan.
"Ayolah sayang, kita bisa melakukannya di lain waktu bukan?" lanjut Berlian.
"Baiklah aku akan turun, tapi setelah bertemu dengan mereka aku akan kembali kesini dan kita akan melanjutkannya" pinta Juno.
"Siap bos" ucap berlian seraya memberi hormat pa Juno. " Tapi sekarang kau turunlah dulu" lanjut Berlian.
"Berjanjilah kalau kita akan melakukannya malam ini" ucap Juno membutuhkan kepastian.
"Iya aku janji. Sana bersihkan badanmu dulu" balas Berlian.
Dengan malas Juno bangkit dan menyambar bajunya yg telah lepas dari tubuhnya, dengan perasaan kecewa menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Lagi2 Ia gagal mencetak gool dan kali ini sudah benar2 hampir menyentuh gawang.
Sial si Rangga itu, kenapa datangnya di waktu yg sangat tidak tepat. Awas saja dia.. Umpat Juno dalam Hati.
***
Juno membuka pintu kamar dan menemukan pelayan itu dengan tertunduk takut.
"Apa kau sangat tidak tahu aturan di rumah ini?" tanya Juno dengan kesal.
"Maaf tuan, tapi nona Martha meminta saya memanggil anda. Sepertinya telah terjadi sesuatu yg buruk" balas Pelayan.
Mendengar ucapan pelayan itu Juno segera turun untuk menemui Martha dan tamunya.
Junopum tiba di ruang tamu dan mendapati Rangga yg hanya datang sendirian, bahkan di wajahnya terlihat beberapa perban yg membalut lukanya.
__ADS_1
Selain itu Martha yg sudah menangis sejadi2nya sampai matanya terlihat membengkak.
"Apa yg terjadi?" tanya Juno.
"Maafkan keterlambatan saya Tuan, kami mengalami kecelakaan saat di perjalanan menuju kesini. Saya membawa motor dengan sangat cepat sehingga tidak sengaja menabrak sebuah truk yg tiba2 berhenti. Saya masih sempat menghentikan motor sebelum benar2 menabrak truk itu, tapi kecelakaan tetap tidak bisa terhindari" ucap Rangga memberi penjelasan.
"Kau datang sendiri, bagaimana dengan ibumu?" tanya Juno terlihat ikut khawatir.
"Ibu saya masih di rumah sakit, beliau baru saja sadar dan meminta saya untuk kesini" jelas Rangga.
"Lalu kenapa kau tidak mengabari kesini kalau sedang dalam masalah?" Ucap Juno.
"Maaf tuan, tapi saya kehilangan ponsel saya saat kecelakaan terjadi. Jadi saya tidak bisa mengabari kalian" balas Rangga.
Juno yg tadinya kesal kini berubah menjadi ibah, dengan kondisi Rangga yg dilihatnya saat ini. Terlebih dengan Martha, dirinya yg tak henti2nya menangis saat mengetahui alasan keterlambatan Rangga.
"Aku ingin melihat ibunya Rangga, No ayo kita kerumah sakit bersama" pinta Martha pada Juno.
Kerumah sakit? tapikan Berlian sedang menungguku, akh tapi Martha juga tidak sedang dalam situasi yg baik. Batin Juno dilema.
"Ayolah No, kita kerumah sakit sekarang. Aku benar2 khawatir pada ibunya Rangga" ucap Martha dengan terus menangis.
"Baiklah, tapi aku naik dulu untuk mengganti piyamaku" pinta Juno.
"Baiklah, tapi jangan lama2" balas Martha.
Junopun kembali ke kamarnya dan berniat untuk mengganti piyama yg Ia kenakan, sekaligus untuk menemui Berlian agar tidak terus menunggunya yg akan membuat istrinya itu sedih.
"Loh kok sebentar, uda selesai ya?" tanya Berlian saat menemukan Juno memasuki kamar.
"Sedang ada masalah, Rangga dan ibunya mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan kesini. Sekarang ibunya sedang di rumah sakit. Aku dan Martha akan kesana sekarang" jelas Juno.
"Hah kecelakaan, lalu bagaimana keadaan mereka sekarang?" tanya Berlian ikut cemas.
"Aku lihat Rangga baik2 saja, meski ada beberapa luka. Tetapi aku belum tau keadaan ibunya, semoga beliau baik2 saja" balas Juno.
"Aamiin, semoga ibunya baik2 saja" ucap Berlian terlihat sedih.
"Heey kenapa kau sedih?" mengusap wajah istrinya yg terlihat sedih.
"Aku jadi sangat merindukan ibu" balas Berlian. Seketika Juno menjatuhkan tubuh kecil Berlian kedalam pelukannya.
"Jangan sedih sayang, ibu sudah bahagia disana. Dan disini ada aku yg akan selalu ada untukmu" hibur Juno.
"Aku tahu. Pergilah ka Martha dan ka Rangga pasti sudah menunggu mu" balas Berlian.
"Kau tidak masalahkan aku pergi?" tanya Juno menatap wajah istrinya.
"Tidak, kita bisa melakukannya lain waktu bukan?" balas Berlian tersenyum.
Cup.. Juno mendaratkan bibirnya pada bibir Berlian sekilas, dan berhasil membuat istrinya itu kaget dan tersenyum malu2.
"Kenapa kau selalu saja terlihat malu saat aku menciummu?" tanya Juno tersenyum gemas.
"Kalau begitu aku ganti baju dulu" lanjutnya seraya menuju ruang ganti untuk mengganti piyamanya. Tidak berapa lama Juno sudah keluar dengan mengenakan baju kaos yg di lapisi jaket di luarannya serta dipadukan dengan celana jeans.
Berlian tersenyum menatap Juno.
"Kau lebih tampan dengan tampilan seperti itu" ucap Berlian spontan dan berhasil membuat Juno bak melayang ke udara.
"Benarkan? aku akan lebih sering menggunakan pakaian seperti ini lain kali" balas Juno.
"Pergilah, mereka pasti sudah menunggumu" balas Berlian.
Juno mengangguk.
"Aku pergi dulu, tidurlah duluan dan tidak perlu menungguku pulang" ucap Juno seraya mengecup singkat pelipis istrinya. Berlian hanya membalas dengan anggukan.
"Hati-hati" ucapnya kemudian pada punggung suaminya.
Junopun turun dan menemui Rangga dan Martha. Tak menunggu waktu lama pak Yan melajukan kendaraannya, untuk mengantarkan majikannya menuju RS tempat ibu Rangga sedang di rawat.
BERSAMBUNG.....
..............
__ADS_1
Halo teman2 pembaca. Maaf Berlian baru sempat update lagi, semoga kalian masih setia membacanya. Maaf jika ceritanya kurang manarik, author berharap tetap bisa menghibur kalian.π
TERIMA KASIH YANG SUDAH MAMPIR, SEHAT SELALU UNTUK KALIANπππ