
Pernikahan telah usai, para tamu yg hadir telah kembali ke rumah masing2. Kini tersisa beberapa orang saja. Berlian melirik ke arah suaminya itu, meresa bingung harus melakukan apa. Apakah dia harus pulang kerumahnya sendiri atau sudah harus ikut pulang ke rumah suaminya?
Cukup geli rasanya membayangkan jika saat ini Ia sudah menjadi istri seseorang, apalagi orang yg seperti Juno, kaya, tampan dan terkenal dingin pada orang asing. Meski dirinya kini bukan lagi orang asing bagi Juno, tapi perasaannya mengatakan Ia masihlah tetap orang asing terlebih di hati Juno.
"Ayo" Tiba2 terdengar suara seseorang mengagetkan lamunan Berlian. Juno sudah berjalan dihadapannya dan menunggunya untuk pulang bersama.
"Hah apa ini, apa kami akan pulang bersama, tapi pulang kemana?" batinnya.
"Kenapa diam, mau tinggal disini?" suara Juno kembali mengagetkan Berlian.
Segera Berlian menghampiri Juno dan masuk ke dalam mobil.
Junopun ikut masuk kedalam mobil, dengan cepat supir menjalankan mobil dan melaju meninggalkan gedung pernikahan.
Suasana cukup canggung tak ada suara percakapan yg terdengar. Berlian merasakan debaran jantungnya yg begitu kuat, ada rasa takut serta cemas dalam hatinya. Bagaimana Ia akan melalaui harinya setelah ini.
"Aku akan pulang kerumahku" ucapnya dengan hati2, mencoba mencari bahan pembicaraan.
"Mulai sekarang kau akan tinggal bersamaku" balas Juno tanpa melihat ke arah Berlian.
"Tapi aku harus mengambil baju2ku"
"Seseorang akan melakukannya"
"hmm, tidak bisa bagaimana dengan dalam.." Berlian segera menutup mulutnya dengan tangan, tanpa melanjutkan hal yg ingin Ia katakan.
Bagaiamana bisa seseorang melakukannya, apa mereka akan melihat pakaian dalamku juga? lanjutnya dalam hati.
"Kita akan menuju rumah Berlian dulu pak Yan" Putus Juno akhirnya.
"Baik Tuan" Balas pak Yan supir yg mengantar mereka, seraya memutarkan mobilnya menuju kediaman Berlian.
Dia terlihat dingin tapi cukup baik dan pengertian juga. batin Berlian. tanpa sadar Ia tersenyum melihat suaminya itu.
Mobil telah terparkir di halaman rumah Berlian.
"Apa kau ingin masuk sebentar, mungkin aku akan lama membereskan barang2 ku" ucapnya pada suaminya itu saat akan turun dari mobil.
"Ambil yg penting saja, apa kau pikir aku tidak bisa menyiapkan keperluanmu dirumahku" balasnya masih tanpa melihat Berlian.
Ih ketus banget sih, aku tarik ucapanku yg bilang kalau dia cukup baik. batin Berlian.
Iapun segera turun dan memasuki rumahnya. Sekar dan Mutiara melihat kedatangan Berlian, menatap Berlian dengan tatapan tidak suka.
"Untuk apa lagi dia kesini, bukannya dia sudah menjadi nyonya kaya raya" bisik Mutiara pada Sekar.
__ADS_1
"Apalagi, pasti dia akan mengambil baju2nya. Mama pikir suaminya tidak menyukainya, mana mungkin dia akan membelikan baju2 yg baru untuknya" Ucap Sekar kemudian merekapun tertawa bersama.
Berlian yg mendengar gibahan mereka hanya mengacuhkan, baginya ucapan mereka tidaklah salah tetapi juga tidak perlu memikirnyanya. Segera Ia memasuki kamarnya dan merapikan barang2nya yg ingin Ia bawa. Dilihatnya foto ayah dan ibunya, Berlianpun meneteskan air matanya.
"Ayah, Ibu, Ian sudah menikah. Apa ayah dan ibu akan senang jika kalian masih disini?" ucapnya seraya terus menatap foto kedua orang tuanya itu.
Kemudian Ia mengambil foto kakak tersayangnya Mentari, melihat wanita itu sedang tersenyum manis di foto.
"Ka Tari, apa ka Tari senang aku sudah mewujudkan keinginan terakhir kakak? kakak enggak merasa cemburu kan aku menikah dengan pria yg kau cintai, berbahagialah disana bersama ayah dan ibu serta kedua orang tua kandung ka Tari. Aku berjanji akan menjaga Juno dan membuat dia selalu bahagia" Ucapnya pula pada foto Tari.
"Rasanya baru kemarin aku kembali ke rumah ini, tapi sekrang harus meninggalkannya lagi" ucapnya dengan air yg mulai menggenang di pelupuk matanya. Ada rasa sedih di hatinya karena harus kembali meninggalkan rumah orang tuanya itu.
Kembali Ia bereskan barang2nya. Kemudian segera keluar menemui Juno. Ia tidak ingin suaminya itu menunggu lama dan akan membuatnya menjadi kesal.
"Mah, Ara, aku pamit ya" Ucapnya pada ibu tiri dan saudara tirinya itu.
Sekar dan Mutiara hanya menatap sinis, bagi mereka kepergian Berlian bukanlah hal yg menyedihkan melainkan hal yg mereka inginkan, karena dengan begitu rumah itu akan kembali menjadi hak mereka sepenuhnya.
Melihat Sekar dan Mutiara yg tidak menanggapi ucapannya, Berlianpun segera meninggalkan mereka dan menemui suaminya itu.
"Paling Juga seminggu disana uda di tendang pulang" ucap Mutiara saat melihat Berlian telah meninggalkan mereka.
Berlian memasuki mobil setelah dibukakan pintu oleh pak Yan, serta barang2nya telah di masukkan ke dalam bagasi.
Juno terlihat memejamkan matanya saat Berlian memasuki mobil.
Mobil segera melaju meninggalkan rumah Berlian, menuju rumah Tuan Herjuno.
Butuh waktu sekitar 45 menit akhirnya merekapun sampai di rumah Juno. Berlian melirik suasana rumah itu melalui jendela mobil.
Terlihat rumah yg lumayan besar saat melihatnya dari luar.
Juno membuka matanya, saat menyadari mobil telah terparkir di halaman rumahnya. Tanpa menunggu waktu lama Ia segera keluar dari mobil, disusuli oleh Berlian setelah pak Yan membukakan pintu mobil untuknya.
"Selamat datang Tuan, Selamat datang nona" Ucap penjaga pada mereka.
Berlian tersenyum ramah seraya menundukkan kepalanya pada penjaga, sedangkan Juno segera berlalu memasuki rumah. Berlian melirik tasnya berniat untuk membawanya.
"Silahkan masuk nona, saya akan mengantarkan barang2 anda" Ucap seorang pelayan lalu membawa tas milik Berlian memasuki rumah.
"Terima kasih" ucapnya pada pelayan. sedangkan pelayan itu hanya membalasnya dengan anggukan sopan.
Berlian memasuki rumah, tiba2 matanya terbelalak saat melihat isi rumah Juno, jika dari luar terlihat tidak begitu besar dan tidak begitu mewah, namun beda halnya saat kita memasuki rumah itu. Nuansa kemewahan terlihat dengan nyata di setiap sudut ruangan itu, meski Ia masih melihat bagian ruangan depan namun Ia sudah bisa melihat betapa mewahnya rumah Juno.
Padahal di luar terlihat biasa aja loh, kok dalemnya kek istana. Batinnya.
__ADS_1
"Pengantin barunya sudah datang ya, selamat datang di rumah keluarga Herlambang" Ucap seorang gadis cantik menyambut kedatangan Berlian. Berlian hanya menatap heran pada gadis itu, tentu saja Ia belum mengenalnya meski telah melihatnya di acara pernikahannya beberapa jam yg lalu.
"Terima kasih" Balasnya singkat seraya tersenyum tipis. hanya itu yg bisa Ia lakukan untuk menanggapi sapaan wanita itu.
"Kita belum kenalan ya, namaku Martha, aku adiknya Juno" ucapnya sambil tersenyum seraya memainkan sebelah matanya.
"Oh adiknya Juno, halo Martha namaku Berlian, panggil aja Ian atau ka Ian" balas Berlian dengan sedikit ragu mengucapkan kata terakhirnya, ka Ian.
Apa dia akan memanggilku kakak, apa dia akan menerimaku sebagai kakak iparnya. batinnya.
Martha justru tertawa terbahak2 melihat kepolosan adik iparnya itu, bagaimana Ia bisa percaya begitu saja dengan ucapan Martha kalau Ia adalah adiknya Juno.
Berlian justru merasa canggung melihat reaksi Martha yg justru menertawakannya. Iapun jadi salah tingkah.
"Uda puas becandanya?" Ucap Juno yg tiba2 muncul dan menghampiri mereka.
"Istrimu lucu ya" balas Martha, sedangkan Berlian masih menatap mereka dengan heran.
"Kamarku ada diatas, kamu naiklah dan istirahat" ucap Juno kemudian pada Berlian, Berlian masih berdiri di tempatnya tanpa bergerak selangkahpun.
"Buk Mega, antarkan Berlian ke kamar" perintah Juno pada salah satu pelayan di rumah mereka, setelah melihat istrinya yg tak bergerak selangkahpun dari tempat berdirinya.
"Baik Tuan, ayo nona sebelah sini" palayan itupun membawa Berlian meninggalkan Martha dan Juno di ruang tengah menuju kamar yg dimaksud.
"Silahkan nona, ini adalah kamar Tuan Juno" ucap pelayan itu.
"Terimaksih buk" balasnya
"Jangan sungkan nona, saya permisi" balas pelayan itu seraya meninggalkan Berlian.
Berlian memasuki kamar yg dikatakan kamar tuan Juno itu ,kamar yg sangat besar, bahkan jauh lebih besar daripada kamar yg ada di rumahnya.
"Kamar ini bahkan hampir seluas denga seluruh rumahku" ucapnya saat memasuki kamar Juno.
Ia segera membersihkan badanya yg terasa gerah menggunakan kebaya sepanjang malam. Setelah beberapa lama di dalam WC, Iapun keluar dan menemukan Juno yg tengah duduk di sofa.
Tiba2 jantungnya berdegup kencang dan panik sendiri, kemana Ia akan pergi sekarang, apa Ia akan langsung ke kasur dan tidur atau Ia akan duduk dulu menemani Juno berbicara sebentar? Karena kegelisahannya, Ia justru mematung di tempatnya.
"Apa kau akan berdiri disitu sampai pagi? tidurlah" Ucap Juno masih dengan nada yg dingin seraya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Karena sudah merasa lelah dan sangat mengantuk, tanpa berpikir lagi Iapun segera menuju pembaringan Juno dan tertidur.
"Sudah tidur, berani juga" ucap Juno saat melihat istrinya itu telah terlelap di kasurnya.
Iapun melangkah menuju pembaringannya dan ikut terlelap.
__ADS_1
BERSAMBUNG...😘