Berlian

Berlian
Penyekapan Juliana


__ADS_3

Hari itu kampus sedang sepi, hanya beberapa mahasiswa yg terlihat mondar-mandir disana. Hari itu memang tidak ada kegiatan belajar mengajar, karena hari sabtu. Sedangkan kampus itu menerapkan pertemuan belajar mengajar, hanya senin sampai jumat.


Hanya ada sebagian mahasiswa aktivis yg terlihat sedang duduk nongkrong di beberapa sudut kampus.


Juliana terlihat sedang menyusuri lorong kampus. Hari itu adalah hari terakhir baginya untuk mengumpulkan tugas besarnya minggu ini. Tugas itupun harus Ia kumpulkan sebelum pukul 09.30.


Setengah berlari Juliana segera menuju ke ruang dosen, untuk menemui dosen pengampu mata kuliahnya yg bersangkutan.


"10, 9, 8 ,7" Ucap Dosen Juliana saat melihat Juliana yg sedang berlari kearahnya.


"Hu hu hu. Maaf pak atur nafas dulu" Ucap Juliana saat sampai di depan meja dosennya, sambil ngos2an.


"Telat 5 detik aja, tugasmu sudah bapak tolak" Ancam dosen itu, yg sebetulnya hanya bercanda.


"Saya gak telat kan pak? bapak baru hitungan 7 loh tadi" Ucap Juliana pada dosennya itu, masih sedikit ngos2an.


"Baiklah, masih bisa bapak toleransi" Ucap dosen itu santai.


"Ah terima kasih pak" Ucap Juliana seraya menyerahkan tugasnya pada dosen itu.


"Yasudah, Isi absenmu disini" Ucap dosen itu seraya menyerahkan buku absen, sebagai bukti mahasiswa yg telah menyetor tugas besarnya.


Julianapun segera mengisi paraf pada namanya, dan segera pamit pada dosennya.


"Saya permisi pak terima kasih" Ucap Juliana dan di balas anggukan oleh dosennya itu.


Juliana kembali menyusuri lorong kampus yg masih terlihat sepi itu. Namun kali ini Ia terlihat berjalan dengan santai.


Namun tiba2 seseorang menyekap mulutnya dari belakang, tak berapa lama Julianapun tak sadarkan dirinya.


*Gudang Kampus


Setelah beberapa lama tak sadarkan diri akhirnya Juliana membuka matanya. Kini Ia tengah terduduk di kursi dengan tangan dan kaki yg diikat.


"Hei kau sudah sadar ternyata" Ucap orang itu saat melihat Juliana membuka matanya.


"Ara. Apa yg kamu lakuin sama aku, lepasin gak" Ucap Juliana dengan kesal, pada orang itu yg tak lain adalah Mutiara.

__ADS_1


"Lepaskan, emm baiklah aku akan melepaskanmu. tapi setelah kita bermain2 terlebih dahulu, ok?" Ucap Mutiara seraya mempermainkan rambut Juliana.


"Kenapa juga kamu nyekap aku, emangnya aku punya masalah apa sama kamu?" Ucap Juliana masih dengan kesal.


"Kau tanya apa masalahmu denganku, hei kau lupa kalau mulut lebarmu ini sudah mempermalukanku di depan Berlian dan Bagas kekasihku?" Ucap Mutiara dengan nada yg penuh dengan kemarahan.


"Kau pantas mendapatkan itu, kau sudah menghina sahabatku Berlian, padahal dirimulah yg sangat hina" Ucap Juliana.


Praaaak.. Mutiara mendaratkan satu tamparan keras di pipi Juliana.


"Masih berani ya kamu ngehina aku?" Teriak Mutiara dengan penuh emosi.


"Karena kamu memang hina" balas Juliana juga tak kalah emosi.


"Lepaskan aku Ara, kalau sampai ka Radit tau kau perlakukan aku seperti ini. Ku pastikan dia tidak akan memberimu ampun" Ucap Juliana mengancam.


"Oh ya, panggil ka Raditmu itu. Aku gak takut" Ucap Mutiara dengan sombong.


"Hei kalian, mau main2 gak? Nih aku kasi mainan cantik" Ucap Mutiara pada kedua pria yg sedari tadi berada disana.


"Hei mau apa kalian? Jangan jangguin aku" Ucap Juliana pada kedua pria itu yg mulai mendekatinya.


" Manis juga kamu ya, gak kalah cantik sama cewek2 populer di kampus ini" Ucap seorang pria itu dengan mendekatkan wajahnya pada Juliana.


" Jangan ganggu aku atau ka Radit gak akan kasi kalian ampun" Ucap Juliana masih berusaha mengancam.


Juliana memang sangat mengandalkan kakaknya Radit dalam hal melindunginya. Bukan tanpa alasan, ini bukanlah pertama kalinya hal ini terjadi pada Juliana.


Semasa SMA, Ia juga pernah di isengi dengan teman sekolahnya. Namun bak seorang hero, ka Radit yg Ia banggakan itu datang menyelamatkannya, ka Raditnya itupun tak memberi ampun pada temannya yg sudah mengganggunya sampai mereka jera.


Namun kali ini, Juliana sendiri merasa ragu. Karena yg Ia ketahui ka Raditnya itu sedang berada di luar kota. Bagaimana mungkin Ia bisa mengetahui keadaan Juliana saat ini.


Betul saja, ancaman Juliana tak membuat getir orang2 itu, mereka malah menertawakannya.


"Hei masih berani mengancam ya kamu, siapa yg bisa nolongin kamu disini hah? Bahkan sahabatmu yg kau bela2 itu, sampai kau harus ada disinipun tidak bisa menolongmu tau" Ucap Mutiara dan kemudian kembali tertawa.


"Aku gak main2 Ara, kalian akan menyesal kalau kalian sampai menyentuhku" Ancam Juliana berusaha melindungi dirinya.

__ADS_1


"Buktikan ancaman mu, aku mau liat bagaimana kamu bisa bebas dari sini" Ucap Mutiara menantang.


Juliana hanya tertunduk, Ia mulai merasa ingin menangis namun Ia tahan sekuat tenaga.


"Ka Radit, Ka Radit dimana? Tolong Ana ka, Ana takut" Juliana.


"Hahaha" Mutiara kembali tertawa melihat reaksi Juliana yg mulai ketakutan.


"Sudahlah. Kalian tunggu apa lagi, silahkan nikmati mainan ini sesuka kalian. Aku akan pergi" Ucap Mutiara pada dua pria itu, kemudian segera keluar meninggalkan gudang.


"Jangan takut ya manis, kita cuman akan senang2 kok" Ucap seorang pria itu dengan tangan yg bermain di bibir Juliana.


Juliana semakin ketakutan, tubuhnya mulai gemetar. Tak bisa lagi Ia tahan air matanyapun mulai mengalir.


"Mah pah, Ana takut" Juliana.


"Siapa nih yg mulai dulu, aku apa kamu?" Ucap salah seorang pria itu.


"Ah gak adil kalau ada yg duluan, kita main sama2 aja gimana?" Ucap seorangnya lagi.


"Emangnya asik?" Ucap seorang pria satunya lagi.


"Ya di asikin aja bro" Dan ucap pria satunya lagi.


Kemudian mereka tertawa bersama2.


"Tuhan apa ini akhir dari keperawananku? Aku takut, tolong aku Tuhan aku mohon" Juliana.


"Ku peringatkan sekali lagi jangan sentuh aku atau kalian akan menyesal" Ucap Juliana dengan mengancam di sisa2 keberaniannya.


"Kenapa kita akan menyesal? Kita jamin tidak akan menyesali telah menikmati tubuhmu sayang" Ucap seorang dari pria itu.


Tangan pria itu semakin nakal, kini mereka meraba bagian kaki hingga ke pangkal paha Juliana.


"Siapapun ku mohon tolonglah aku" Batin Juliana pasrah.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2