Berlian

Berlian
Kepergian Mentari


__ADS_3

Hari berganti hari, bulanpun berganti bulan. Namun bukannya membaik, kini kondisi Tari justru semakin memprihatinkan. Sudah beberapa lama Tari terbaring tanpa sadarkan diri. Disisi lain Juno dengan setia menemani dan menjaga Tari.


Kini Tari tidak lagi di rawat di Rumah sakit yg berada di kota Makas*sar. Beberapa waktu lalu Juno akhirnya memutuskan untuk membawa Tari ke salah satu rumah sakit yg terbilang sebagai rumah sakit terbaik di dunia, untuk mendapatkan perawatan yg lebih baik.


Namun sayangnya langkah yg diambil oleh Juno terbilang sudah sangat terlambat, karena kondisi Tari sudah sangat kritis. Hal itulah yg menyebabkan Juno merasa sangat bersalah dan menyesal.


Juno : " Sayang, apa kau mendengarku? Maafkan aku karena telah membawamu meninggalkan kota kelahiranmu itu. Aku tau apa yg kau inginkan sehingga kau bersikeras untuk tetap disana, tetapi aku benar2 tidak bisa melihatmu seperti ini tanpa melakukan apa2" Ucapnya merasa bersalah.


Benar saja, alasan Tari bersikeras ingin tetap berada di kota Makas*ar adalah, karena Ia ingin menghembuskan nafas terakhirnya di kota kelahirannya itu. sedangkan Juno sendiri tahu akan hal itu, namun Ia benar2 tidak tega membiarkan gadisnya itu menderita menanggung sakitnya yg semakin parah.


Juno terlihat mengusap matanya yg mulai berair. Tangannya terlihat bergetar saat menggenggam tangan Tari.


Juno: "Tari, aku sudah membawamu kerumah sakit yg paling terpercaya. Tetapi dokter2 bod*oh itu mengatakan mereka tidak bisa melakukankan operasi dengan kondisimu saat ini. Mereka sangat bod*h, mereka tidak bisa bekerja dengan benar." Ucap Juno kesal. Tangisnyapun kembali pecah.


Bagaimana tidak, dokter terbaik yg khusus menangani penyakit yg di derita Mentari menyatakan kemungkinan kesembuhan Tari pasca operasi hanya 20%, itupun jika kondisinya stabil sebelum melakukan operasi.


Namun kini kondisi Tari benar2 kritis sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan operasi, karena jika dipaksakan untuk melakukan operasi maka resikonya akan sangat besar.


Flashback on:


Dokter: "Anda sangat terlambat Tuan, kondisi pasien sangat kritis. Sangat beresiko untuk melakukan operasi saat pasien dalam kondisi kritis" Ucap Dokter setelah memantau kondisi Tari.


Juno: " Lalu bagaimana, apa kalian akan melihatnya begitu saja tanpa melakukan apa2?" Ucap Juno dengan nada kesal.


Dokter: " Maaf Tuan, tapi benar2 beresiko untuk melakukan operasi saat pasien dalam keadaan ktiris, yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah memantau kondisi pasien agar kembali stabil" Ucap dokter berusaha menjelaskan.


Juno: " Apa dengan kondisinya yg seperti ini masih memungkinkan untuk dia kembali stabil?" tanya Juno Ragu.


Dokter:"Kami akan berusaha Tuan" Ucap Dokter singkat.


Juno: "Apakah masih ada harapan?" tanya Juno lagi dengan suara yg terdengar parau menahan kesedihan.

__ADS_1


Dokter: " 20%" Jawab Dokter itu dengan singkat sambil menunduk.


Juno: "Apa katamu, apa kau bod*h? Bagaimana seorang dokter ahli sepertimu menyatakan tingkat keberhasilan yg begitu rendah hah?" ucap Juno dengan membulatkan matanya sambil menarik kerah baju sang dokter.


Dokter: " Maafkan kami Tuan tapi begitulah kenyataannya. Anda membawa pasien dengan kondisi yg sudah sangat kritis, hanya mukhjizat yg mampu menolongnya" Ucap Dokter itu yg membuat Juno terlihat tak berdaya hingga terjatuh kelantai, badannya terasa lemas.


Flashback off.


Juno: " Ini semua salahku, harusnya aku membawamu lebih cepat maka hal ini tidak akan terjadi. Akkkhhhhhh!" Teriak Juno dengan keras, Ia terus menyalahkan dirinya dengan kondisi Tari saat ini.


Tiba2 Radit masuk dengan tergesa2. Sebenarnya Ia baru saja sampai di Negara N, karena mendengar kondisi Tari yg semakin kritis.


Iapun segera menuju RS tempat Tari di rawat sesampainya di negara N. Mendengar Juno yg histeris Iapun segera berlari memasuki ruang rawat Tari.


Juno terlihat sedang terduduk dilantai sambil terus memukul2 dirinya sendiri, Raditia segera menghampiri Juno untuk menenangkannya.


Radit: " Juno sadarlah, apa yg kau lakukan? Tidak ada gunanya menyalahkan dirimu sendiri. Lebih baik kau tenangkan dirimu, saat ini yg dibutuhkan oleh Tari adalah semangatmu. Ia akan sedih melihatmu seperti ini" Ucap Radit berusaha menenagkan Juno.


Radit: "Cukup menyalahkan dirimu, ini semua ketentuan Tuhan, sekarang yg perlu kau lakukan adalah tenangkan dirimu. Tari membutuhkan doa dan dukunganmu bukan rasa penyesalanmu. Kita hanya bisa mendoakan yg terbaik untuk Tari" Radit masih berusaha menenagkan Juno.


Kini Junopun bangkit dari duduknya dan kembali menghampiri Mentari. Iapun segera mengusap air matanya, Ia menggenggam tangan Tari dengan lembut.


Juno: "Sayang, apa kau dengar aku? Maafkan kebodohanku ini. Kebodohanku yg menganggap kau akan pergi meninggalkanku. aku yakin kau akan sembuh, dan kita akan menikah. Benarkan!? " Ucap Juno lembut, seraya mengecup kening Tari.


Radit menatap Juno dengan Iba, sahabat yg dikenalx sangat tegas itu, kini benar2 terpuruk di depan orang yg Ia cintai.


Juno: "Tari, sayangku. Kau tahukan perasaanku padamu, kau tahu seberapa besar aku ingin kau menjadi pendamping hidupku. Maka ku mohon jangan tinggalkan aku, Aku mencintaimu Tari sangat2 mencintaimu" Ucap Juno dengan suara yg kembali terdengar parau menahan tangisnya.


Juno menundukkan kepalanya dengan terus menggenggam dan menciumi tangan Mentari.


Tiba2 Tari mengalami kontraksi yg sangat hebat, sehingga tempat pembaringannyapun terlihat bergetar. Juno terlihat sangat panik, sedangkan Radit segera menekan tombol untuk memanggil dokter.

__ADS_1


Tak berapa lama beberapa dokter berlarian memasuki ruang rawat Tari, dengan membawa beberapa peralatan medis.


Sedangkan Radit dan Juno diminta untuk menunggu di luar agar tidak mengganggu proses penanganan pasien. Junopun bersikeras untuk tetap disisi Tari, namun akhirx Ia menurut untuk menunggu diluar.


Juno terlihat mondar-mandir dengan gelisah di depan ruang rawat Tari. Disisi lain Radit terus berusaha untuk menenangkan Juno meski tidak berhasil.


Beberapa lama kemudian akhirnya dokterpun keluar, terlihat wajah2 mereka diselimuti kegelisahan. Juno langsung menghampiri dokter.


Juno: " Bagaimana keadaannya, dia baik2 sajakan? " tanya Juno dengan paniknya pada dokter yg baru sja keluar.


Dokter: " Maafkan kami tuan.." Ucap dokter itu dan langsung dipotong oleh Juno.


Juno: "Minggir, kalian tidak berguna" Ucap Juno dengan kasar sambil mendorong dokter yg berdiri di depan pintu ruang rawat Tari, Iapun segera menerobos masuk.


Namun langkahnya tiba2 terhenti saat mendapati tubuh kekasihnya itu sudah terbujur kaku dan ditutupi kain putih.


Dengan kaki dan tubuh yg bergetar, Juno melangkah menghampiri pembaringan Tari. Dibukanya kain yg menutupi wajah kekasihnya itu.


Juno: "Tidak, ini mimpi. Ini tidak mungkin terjadi. Tari, kenapa kau memainkan permainan konyol ini? ini tidak lucu sayang ayo bangun" Ucap Juno dengan suara yg bergetar, masih tidak percaya apa yg di liahatnya.


Iapun kemudian memeluk tubuh Tari yg sudah tak bernyawa itu, sehingga tangisnyapun pecah dan memenuhi ruang rawat Tari.


Radit hanya mampu menyaksikan kesedihan sahabatnya itu, Iapun turut sedih dan berduka melihat kepergian Tari.


Walau bagaimanapun Tari adalah orang yg sudah berjasa mengembalikan kebahagiaan Juno saat di tinggal oleh kedua orang tuanya. Kini Justru Tarilah yg meninggalkan Juno dan menyisakan Luka yg begitu dalam di hati sahabatnya itu.


HALLO PARA PEMBACA, MAAFKAN PENULIS KARENA BARU SEMPAT UP LAGI, 😌 DISEBABKAN KARENA ADANYA KESIBUKAN OLEH PENULIS. SEMOGA KALIAN MASIH BERSEDIA MEMBACA.😊 TERIMA KASIH😇


Oh Iya, jangan lupa tinggalkan komen kalian. Penulis sangat membutuhkan saran dan masukan dari kalian.😘😘😘


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2