
Hari itu Juno duduk bersender di kursi kerjanya, Ia terlihat menatap dengan tatapan yg kosong. Terlihat jelas raut kesedihan yg masih terpancar di wajah tampannya itu.
Cukup lama Ia pada posisi itu, sampai akhirnya Ia memutuskan untuk pergi kesuatu tempat. Ia terlihat merapikan jasnya, kemudian melangkah meninggalkan ruang kerjanya tersebut.
Disisi lain Berlian terlihat sedang terbaring diatas kasurnya, dengan wajah yg terlihat lesuh.
Berlian: "aahhk lelah sekali" Ucap Berlian sambil merenggangkan otot2nya yg kaku.
Akhir2 ini Berlian memang sangat sibuk dengan tugas2 kampusnya. Selain karena tugasnya yg semakin banyak, Iapun harus ketinggalan beberapa hari masuk kampus karena kondisi kesehatannya yg tiba2 menurun.
Alhasil absennya yg tertinggal harus Ia tutupi dengan menyelesaikan beberapa tugas tambahan. Itu adalah salah satu kebijakan yg diberikan, karena ketidak hadirannya dalam kondisi sakit.
Beberapa bulan yg lalu bertepatan dengan kepergian Mentari, tiba2 saja kondisi kesehatan Berlian menurun. Meski Ia sendiri belum mengetahui perihal meninggalnya Mentari bahkan sampai saat ini, namun saat itu tiba2 saja Ia merasa sangat lemas dan tidak semangat.
Berlian menyambar ponselnya melirik jam pada ponselnya yg menunjukkan pukul 04: 45 sore hari.
Berlian: Uda berapa lama yah ka Tari ngak ngasih kabar? aku kangen banget sama ka Tari. Apa dia baik2 aja?" Ucap Berlian dengan sedih.
Berlian: "Oh iya. Udah lama aku ngak pernah ke panti asuhan, mungkin aja ka Tari pernah kasi kabar ke panti. Aku juga uda kangen sama anak2"
Berlianpun kembali bersemangat, segera di sambarnya tas kecilnya lalu melangkah meninggalkan kamar tercintanya itu.
Kamar yg dulu menjadi kamar orang tuanya semasa hidupnya, serta kamar yang telah diambil alih oleh Sekar beberapa wktu lalu. Kini kepemililannya resmi menjadi milik Berlian.
Setelah beberapa lama menaiki angkutan umum. Berlianpun turun di depan panti asuhan, dengan menenteng kantong kresek yg berisi makanan yg sempat Ia beli untuk anak2 panti. Dengan perasaan senang, Berlian berjalan menuju panti asuhan. Tiba2
Bruuk...
Berlian: " Aww. Ah ehh, maaf Tuan saya tidak sengaja" Ucap Berlian pada seseorang yg Ia tabrak barusan.
Sedangkan orang tersebut hanya menatap Berlian dengan tatapan yg dingin. Kemudian berlalu meninggalkan Berlian yg masih tertunduk.
Berlian: " Eeh udah pergi" Ucapnya saat melihat punggung orang itu, yg tidak lain adalah Juno.
__ADS_1
Iapun kembali berjalan menuju panti, dilihatnya lakilaki itu berdiri didepan panti asuhan dan disambut oleh pengurus panti. Merekapun segera memasuki panti.
Berlian:" Siapa dia, belum pernah liat?!" Batinnya saat melihat kejadian itu dari kejauhan.
Berlian: " Ade2 kakak datang" Ucap Berlian saat menemui anak2 panti.
Anak2: " Yeee kakak Ian datang" Sorak anak2 panti menyambut kedatangan Berlian.
Berlianpun terlihat membagikan makanan yg Ia bawa, kemudian bermain2 bersama anak2 panti. Sampai akhirnya terlihat lakilaki tadi keluar dengan diikuti oleh ibu panti dengan wajah yg terlihat habis menangis.
Berlian segera menghampiri ibu panti karena cemas.
Berlian: " Ibu kenapa, apa dia menyakiti ibu?" Tanya Berlian sambil menunjuk ke arah Juno.
Ibu panti: " Tidak, Bukan begitu" Ucap Ibu panti masih dengan kesedihan.
Sedangkan Juno hanya mengabaikan ucapan Berlian kemudian berpamitan untuk pergi.
Berlianpun kaget mendengar ucapan Juno.
Berlian :" Hah ka Tari, Tuan kenal dengan ka Tari?" Tanya Berlian pada Juno. Namun Juno tidak menghiraukan dan terus melangkah meninggalkan panti.
Berlian: " Hey tunggu" Panggil Berlian berusaha mengejar Juno, namun segera di tahan oleh Ibu panti.
Ibu panti:" Ayo ikut ibu, ibu akan ceritakan semuanya" Ucap Ibu panti seraya mengajak Berlian untuk masuk ke panti.
Rumah Berlian*
Berlian berbaring di atas kasurnya dengan terus menangis. Sepulangnya dari panti asuhan, Ia tidak melakulan apa2 selain menangis. Kini Ia telah mengetahui kabar tentang kematian Tari. Ia seperti tidak percaya akan hal itu, namun apalah daya itu adalah kebenarannya.
Berlian: " Kenapa ka Tari tega ninggalin Ian sendirian, ka Tari uda janji mau nemanin Ian hiks hiks. Kenapa ka Tari jahat sama Ian hiks hiks? ka Tari ngak boleh ninggalin Ian" Ucapnya di sela2 tangisnya sambil memeluk bingkai foto milik Tari.
Rumah Juno*
__ADS_1
Juno duduk menyender pada Senderan ranjangnya. Tiba2 Ia melirik Amplop yg diberikan oleh ibu panti padanya. Menurut ibu panti amplop itu dititipkan Tari padanya dulu sebelum Ia pergi meninggalkan panti.
Juno memutuskan untuk melihat isi amplop itu. Dikeluarkannya isi amplop itu, ada beberapa buah foto milik Tari. Terlihat Tari yg tersenyum manis di foto itu, melihat foto itu Junopun ikut tersenyum, namun ada kesedihan yg mendalam di balik senyum itu.
Kemudian Ia terlihat menaikkan alisnya saat menemukan foto Tari yg sedang memeluk seorang wanita paruh baya dan dua gadis kecil. Itu adalah foto Tari bersama ibu Dewi dan Berlian serta Mutiara.
Juno:" Ini pasti ibu yg baik hati yg sering Ia ceritakan" Ucap Juno mengingat.
Juno kembali membuka2 foto2 itu dan menemukan foto gadis yg Ia temukan di panti asuhan beberapa jam lalu.
"ADIKKU TERSAYANG" Tulisan yg menempel di foto tersebut.
Juno: " Oh jadi ini adik yg sering Ia ceritakan, manis juga" Ucap Juno spontan dengan senyum tipis di bibirnya.
Dibukanya lagi lembaran foto itu dan menemukan foto Tari yg terlihat manyun yg di buat2.
Juno:" Akh apa kau marah aku memuji gadis lain, maafkan aku syg tapi bagiku kau tetaplah yg terbaik" Ucap Juno seraya mengusap wajah Tari yg terdapat dalam foto.
Setelah asik melihat2 foto milik Tari, Junopun melirik amplop kecil yg bertuliskan " Dear kekasihku Juno dan Adikku tersayang Berlian"
Juno: " Hah Berlian, apa gadis ini?" Ucap Juno seraya melirik foto Berlian yg sedang tersenyum manis.
Juno:" Kenapa surat ini Juga ditujukan untuknya?" batin Juno heran.
Junopun memutuskan untuk membuka amplop itu dan melihat surat yg dituliskan oleh Tari, surat yg berisi permintaan terakhir Tari pada Juno.
Dibukanya lipatan surat itu dan dibacanya dengan penuh khidmat. Junopun terlihat membulatkan matanya, tangannya bergetar karena kesal. Diremasnya surat itu kemudian dilemparkan kesembarang arah.
Juno:" Ini gila, ini tidak masuk akal. akh" Geram Juno dan menghantam keras lampu tidur di meja nakasnya.
Juno:" Tari, kenapa permintaanmu begitu tidak masuk akal, bagaimana aku bisa melakulan itu saat tanah pemakamanmu saja masih basah?" Ucap Juno dengan meremas kepalanya dengan kedua tangannya.
Bersambung....
__ADS_1