Berlian

Berlian
Kesedihan dan Amarah


__ADS_3

Setelah menempuh waktu perjalanan dua jam lebih, akhirnya Radit dan Juno sampai di kota Maka*sar. Segera Juno dan Radit memasuki mobil yg memang sudah di pesiapkan Radit sebelumnya.


"Kita langsung ke RS atau kau mau istirahat dulu di hotel?" Tanya Radit pada Juno dengan bahasa yg sedikit santai, karena sedang tidak berada di kantor.


"Apa kau pikir aku masih bisa santai dan beristirahat sekarang?" Jawab Juno tanpa melihat ke arah Radit, dengan nada yg sedikit di tegaskan.


"Em baiklah" Ucap Radit kemudian, dan segera melajukan mobilnya menuju ke RS tempat Tari di rawat.


"Bodoh sekali kau Radit, kenapa juga masih pake bertanya" Radit


* Rumah sakit


Radit dan Juno berjalan menyusuri rumah sakit. Seorang dokter sedang memandu mereka menuju ruangan tempat Tari di rawat. Karena pihak rumah sakit sudah tahu jika Tari ternyata kekasih seorang Herjuno, salah satu orang yg memiliki pengaruh di negeri ini. Sehingga dengan cepat memindahkan Tari ke ruang VVIP, yg tadinya hanya berada di kelas ekonomi.


"Silahkan Tuan" ucap dokter itu seraya mempersilahkan Juno dan Radit untuk masuk di salah satu ruang VVIP.


Radit menunduk hormat pada dokter sebelum akhirnya masuk ke ruangan, sedangkan Juno sendiri langsung masuk tanpa ekspresi.


"Tari" Ucap Juno lirih.


Terlihat Tari sedang terbaring tak sadarkan diri di kasur perawatannya. Terlihat pula ada beberapa selang yg menempel di tubuhnya.


Junopun menghampiri Tari, duduk di samping Tari, menatap wajah wanita itu dengan penuh kesedihan.


"Kenapa kau menyembunyikan hal ini dariku Tari?" Juno mulai bersuara.


"Kenapa kau menjadikan aku pria yg sangat bodoh seperti ini Tari" Ucap Juno kembali.


"Kenapa kau membuatku menjadi pria yg dengan bodohnya tidak mengetahui tentang kesakitanmu? Bagaimana kau bisa membuatku jadi tidak berguna seperti ini, untuk menajagamu saja aku tidak bisa?" Juno mulai meninggikan sedikit suaranya. Ada kemarahan yg terbalut dalam kalimat itu.


"Bagaimana aku akan menatap dunia setelah ini? Bagaimana aku akan mengangkat kepala ku di depan para bawahanku setelah ini, jika menjaga wanita yg kucintai saja aku tidak bisa?" Juno mulai menangis.


"Kenapa kau harus menyembunyikan hal ini dariku, kenapa?" Juno semakin tertunduk dan menangis.

__ADS_1


Kerapuannya yg dulu Ia perlihatkan saat meninggalnya kedua orang tuanya, kini kembali Ia perlihatkan di hadapan Radit dan Tari. Radit hanya terdiam melihat sahabat sekaligus bosnya itu.


"Radit, siapakan semuanya. Kita harus membawa Tari ke rumah sakit yg lebih baik dari ini" Ucap Juno pada Radit setelah tertunduk nangis beberapa saat.


" Baik" Jawab Radit.


Namun belum sempat Radit keluar dari ruangan itu, Terdengar suara lirih Tari.


"Radit jangan, kau tidak perlu melakukannya" Dengan lemah dan hampir tak terdengar Tari mengucapkan kalimat itu, saat tersadar dari tidurnya, karena tadi Tari hanya tertidur. Seketika Radit menghentikan langkahnya dan kembali pada posisi berdirinya.


"Tari. Kau sudah bangun, apa mengganggumu?" Tanya Juno cemas.


Di balas Tari hanya dengan menggeleng kecil.


"Kapan kau datang?" Tanya Tari


"Baru saja" Jawab Juno seraya mencium tangan Tari.


"Biarkan Radit mengurus semuanya, kita akan pergi ke rumah sakit yg lebih baik. Bahkan jika harus ke ujung duniapun, aku akan membawamu asal kau bisa sembuh" Ucap Juno membujuk Tari.


"Hentikan omong kosong itu, kau akan baik2 saja. Kita hanya perlu ke rumah sakit dengan fasilitas yg lebih baik lagi" Ucap Juno kembali kesal.


"Kumohon Juno, kali ini saja dengarkan aku" ucap Tari tegas meski dengan nada yg lemah.


"Sekali ini saja katamu. Apa aku kurang mendengarkanmu selama ini? Bahkan aku membiarkanmu pergi tanpa pengawasanku karena kau memohon padaku, dengan alasan merasa tidak nyaman terus di awasi. Tapi buktinya apa, kau menyembunyikan hal sebesar ini padaku Tari, kau anggap apa aku dalam hidup mu, apa aku tidak begitu penting bagimu?" Tegas Juno dengan penuh kemarahan


"maafkan aku Juno, aku salah menyembunyikan ini darimu. Bukan karena kau tidak penting bagiku, kau sangatlah penting. Tapi aku sudah cukup menjadi beban dengan terus bergantung pada bantuanmu" Tari


"Kenapa kau diam saja, apa aku memang tidak sepenting itu dalam hidupmu? Sebagaimana aku menjadikanmu orang yg sangat penting, bahkan paling penting dalam hidupku. hmm?" Tanya Juno dengan nada yg terbalut kemarahan, karena Tari hanya diam tak menjawabnya. Namun di sisi lain ada kesedihan yg tersembunyi dari kalimat itu.


"Maafkan aku Juno, aku salah" Tari tidak bisa menjelaskan apa2. Ia tidak bisa menjelaskan alasannya yg memilih kabur dari Juno, dan menyembunyikan sakitnya dari Juno.


"Apakah hanya itu yg bisa kau katakan?" Ucap Juno dengan perasaan kesal, Iapun menghembuskan nafasnya kasar.

__ADS_1


"Radit, urus semuanya kita akan pindah dari rumah sakit ini" Ucap Juno kemudian.


"Tidak, aku tidak mau" Ucap Tari tegas.


"Apa masalahmu sebenarnya, apa masih penting kau tinggikan egomu saat keadaanmu yg seperti ini" Ucap Juno masih dengan kekesalan.


"Kau tidak mengerti aku Juno" Ucap Tari dengan menangis.


"Ya aku tidak mengerti mengapa kau selalu saja menggunakan air mata mu itu, untuk membuatku merasa semakin bersalah dan tidak berguna sebagai priamu" Ucap Juno tegas, lagi2 Juno menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Jadi apa yg kau inginkan?" Tanya Juno kemudian.


"Kau ingin aku hanya menjadi pria bodoh, yg membiarkanmu kesakitan dan menderita seperti ini tanpa berbuat apa2?" Tanya Juno lagi.


" Aku ingin tetap disini, dan tetaplah disini bersamaku" Ucap Tari dengan sedikit memohon.


Juno masih memperlihatkan ekapresi kemarahannya.


"Kumohon Juno" Ucap Tari dan kali ini berhasil membuat Juno luluh.


"Baiklah kita tetap disini" Ucap Juno.


"Radit kita akan tetap disini" Ucap Juno kembali menegaskan.


"Baiklah, aku akan menunggu di luar, silahkan panggil aku jika kalian butuh sesuatu" Ucap Radit.


Raditpun memilih untuk keluar dari ruangan itu, membiarkan dua insan itu menghabiskan waktu kebersamaan mereka, yg mungkin tidak akan lama lagi.


"Tarima kasih sayang" Ucap Tari kemudian.


Juno hanya Tertunduk dan menangis. Tak bisa Ia tahan kesedihannya. Ia benar2 merasa jadi pria lemah yg bodoh saat ini.


"Sayang, kau tidak salah. Aku yg salah, maafkan aku" Tari menarik tangan Juno, mengerti bagaiamana perasaan Juno saat ini.

__ADS_1


"Ternyata cinta benar2 bisa membuat orang menjadi lemah dan bodoh" Juno


Bersambung.....


__ADS_2