
Malam itu jam menunjukkan pukul 20.15. Berlian terbaring di kasurnya dengan mata yg tarus menatap layar ponselnya. Terlihat Ia sedang menatap sebuah nama yg tersimpan di kontak ponselnya, 'Ka Radit'.
"Telpon enggak yah, aku harus bilang apa sama ka Radit?" gumamnya di sela2 kegelisahannya.
Rasanya Ia sangat enggan untuk meminta Radit mencabut tuntutannya pada Mutiara. Selain karena hukum harus tetap dijalankan, itu juga sebagai pelajaran bagi Mutiara agar tidak berbuat hal serupa dikemudian hari.
"Akh, tapi aku sudah berjanji pada mamah Sekar. Bagaimana ini?" gumamnya lagi.
Setelah lama mempertimbangkan segalanya, akhirnya Ia memutuskan untuk membantu Mutiara kali ini, dan mencoba meminta Radit untuk mencabut tuntutannya.
"Setidaknya aku harus menepati janjiku pada mamah Sekar, semoga dengan ini Ara juga bisa segera sadar dan lebih baik dalam bersikap" Ucapnya pada diri sendiri, seraya memutuskan untuk menelpon Radit.
Tut... tut...tut...
"Hallo" Ucap seseorang di sebrang telpon yg tidak lain adalah Radit.
"Ha.hallo ka, apa Ian menganggu ka Radit?" ucap Berlian sedikit ragu.
"Enggak kok, ka Radit juga lagi santai aja. Ada apa Ian?" balas Radit.
"Eh anu itu" Ucap Berlian ragu.
"Eh anu apa, ngomong aja" Potong Radit.
" Ian mau ajak ka Radit makan siang besok, bolehkan?!" Jelas Berlian dengan cepat. Namun seketika Ia menutup wajahnya di balik telpon karena merasa malu dengan ucapannya barusan.
Ia memutuskan untuk mengajak Radit makan siang, dan membicarakan hal itu secara langsung.
"Hmm" Respon Radit singkat. Namun dibalik telpon Ia sangat senang mendengar ajakan Berlian bahkan sempat salto beberapa kali di kasurnya.
" Lupain aja ka, kalau kakak enggak bisa" Segera Berlian membatalkan niatnya.
" Siapa bilang enggak bisa? besok ka Radit jemput kamu, bilang aja ka Radit jemput kamu dimana dan tempatnya kamu boleh milih dimana saja" Balas Radit dengan cepat dan antusias, tidak ingin Berlian sampai membatalkan ajakannya itu.
"Iyadeh, besok kk jemput aku di kampus aja. Aku tunggu kk di kampus" Ucap Berlian.
"Ok ka Radit jemput kamu di kampus besok" Balas Radit semakin antusias.
"Ok ka aku tutup dulu, selamat malam" Ucap Berlian memilih mengakhiri panggilan, karena jantungnya mulai berdetak tidak karuan.
"Eh, oh baiklah. Selamat malam dan selamat istirahat Ian" Balas Radit .
Akhirnya sambunganpun terputus.
***
Keesokan harinya, Berlian dan Juliana sedang berjalan di lorong kampus. Tiba2 terlihat seorang pria yg melangkah ke arah mereka dan menatap mereka sambil melemparkan senyum yg secerah mentari pagi di bibir tipisnya.
__ADS_1
"Ih ka Radit kok disini, akukan uda bilang enggak usah jemput" Kesal Juliana kegeeran.
Mendengar ocehan sahabatnya itu Berlian hanya tersenyum.
" Mau berangkat sekarang?" tanya Radit yg ditujukan pada Berlian saat menghampiri kedua gadis itu.
Juliana menganga karena heran dengan sikap kakaknya itu, yg bahkan tidak menyapanya sama sekali.
"Ka Radit, ini adikmu loh. Setidak lirik dikit kek" Kesal Juliana dengan ekspresi bibir yg dimanyunkan.
"Eh ada adik kesayangan kk jg, maaf kk enggak liat" Balas Radit santai sambil tersenyum.
"Ih dasar, mentang2 ada Ian aku diabaikan, huh" Ucap Juliana dengan pura2 ngambek.
"Maaf2, kk cuman bercanda" Balas Radit sambil mencolek hidung adiknya itu dengan gemas.
"Hmm, sekarang aku nih yg jadi obat nyamuknya" Balas Berlian pura2 ngambek jg.
"Hahaha" Juliana tertawa puas.
"Ngomong2 kalian mau kemana sih, aku enggak di ajak nih?" tanya Juliana menyelidiki.
"Kita mau makan siang, yaudah kamu ikut aja" Balas Berlian.
Radit menatap Juliana seolah memberi isyarat agar Juliana tidak ikut di acara makan siang mereka. Karena bagi Radit makan siang berdua dengan Berlian adalah momen langkah dan harus berjalan dengan lancar, tanpa adanya gangguan atau nyamuk yakni Juliana.
"Ehh aku lupa, aku ada janji dengan Adrian, kita mau kerja tugas bareng habis makan siang. Aku takut telat, aku pulang duluan yah. Bye" Alasan Juliana yg sememangnya betul, namun sekaligus menghindari makan siang itu dan memberikan kesempatan bagi kakaknya untuk menikmati momen bersama Berlian. Julianapun segeri berlalu meninggalkan Radit dan Berlian tanpa menunggu balasan dari kedua orang itu.
"Ehh siapa Adrian?" tanya Radit mencari tahu, namun Juliana sudah Berlalu meninggalkan mereka.
"Adrian itu temen satu jurusannya Ana, mereka juga cukup dekat. Aku juga mengenal Adrian dari Juliana, dia orangnya sangat baik" Jelas Berlian, mencoba menenangkan kekhawatiran Radit mengenai acara adiknya itu yg terlihat dari ekapresi wajahnya. Namun disisi lain, terlihat Radit menatap Berlian dengan ekspresi kecewa mendengar Berlian memuji seorang pria sambil tersenyum.
Namun tidak ingin menimbulkan masalah, mengingat status mereka yg belum jelas. Radit memutuskan untuk menyimpan sendiri rasa cemburunya itu. Mereka akhirnya menuju salah satu rumah makan sederhana yg terletak di seberang kampus.
"Kamu mau makan disini, apa enggak sebaiknya ke restoran aja? di dekat sini ada reatoran yg sangat enak" Ucap Radit saat mereka tiba di salah satu warung kaki lima di seberang kampus Berlian.
"Disini aja ka, tidak terlalu rame dan suasana juga bagus adem. Lagian disini makanannya juga enggak kalah enak sama makanan restoran" Balas Berlian kemudian duduk di salah satu kursi yg kosong.
"Yaudalah, kalau kamu suka disini" Balas Radit kemudian ikut duduk di samping Berlian.
Setelah memesan makanan dan mengobrol santai beberapa menit, makanan merekapun datang. Mereka makan dengan khidmat tanpa ada suara. Tak butuh waktu lama makanan merekapun tandas di piring masing2.
Setelah membayar makan siang mereka. Merekapun memutuskan untuk jalan2 ke taman cinta yg dekat dengan kampus Berlian.
Merekapun duduk di salah satu kursi di sudut taman.
"Ka, ada yg ingin Ian bicarain sama ka Radit" Ucap Berlian akhirnya, setelah beberapa lama mereka duduk di taman itu.
__ADS_1
"Ada apa Ian, ngomong aja" Balas Radit, terlihat dari raut wajarnya yg sedikit tegang.
"Ian ngak akan nembak akukan, masa aku yg di tembak kan enggak jantan bgt kesannya" batin Radit kegeeran.
"Sebelumnya aku ingin minta maaf sama ka Radit kalau aku lancang" Ucap Berlian sebagai pembuka kalimatnya.
Sedangkan disisi lain Radit semakin dedegan tidak karuan.
"Aku ingin meminta ka Radit untuk mencabut tuntutan ka Radit pada Mutiara, aku berharap ka Radit mau memaafkan Mutiara dan memberinya satu kesempatan" Lanjut Berlian menjelaskan arah pembicaraannya.
Terlihat Radit yg sempat menghela nafasnya dengan cepat, ternyata kegeerannya barusan telah salah alamat. Namun seketika Ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi tidak senang saat menyadari arah pembicaraan Berlian.
"Apa katamu, mencabut tuntutan terhadap gadis itu?" ketus Radit pada Berlian, terdengar jelas ketidaksenangannya dari nada suaranya yg ditekan.
"Emm, maafka kalau Ian sudah lancang. Ian benar2 minta maaf, tapi Ian fikir apa enggak sebaiknya ka Radit memberikan Mutiara satu kesempatan lagi. Ini sudah menjadi teguran baginya pasti dia akan berubah" Jelas Berlian. Iapun semakin tagang melihat ekspresi Radit.
Disisi lain Radit mengepalkan tangannya untuk menahan amarahnya. Ia meresa kesal karena Berlian telah membela wanita yg telah berbuat jahat padanya dan pada Juliana. Radit sudah tahu bahwa Mutiara adalah saudara tiri Berlian, dan Mutiara serta ibunya adalah orang yg sering menyiksa Berlian selama ini.
"Aduh kayaknya ka Radit sangat marah, aku harus menghentikan ini. Aku enggak mau ka Radit semakin marah" Batin Berlian.
"Kalau ka Radit enggak bisa, yasudah lupakan saja, Ayo kita pulang" Ucap Berlian. Buru2 Ia berdiri dan mencoba meninggalkan taman itu, namun dengan cepat Radit menarik tangannya.
Iapun berbalik dan melihat ke arah Radit dengan perasaan takut, takut kalau Radit akan marah padanya. Sedangkan Radit menatap Berlian dengan Intens mencoba mencari jawaban dari apa yg terlintas di kepalanya, namun akhirnya Ia memutuskan untuk menanyakan langsung.
"Hal ini, apa atas keinginanmu sendiri atau wanita itu yg memintamu melakukannya?" tanya Radit dengan terus menatap Berlian.
"Jika aku mengatakan ini keinginan mamah sekar pasti ka Radit tidak akan mengabulkannya, walau bagaimanapun aku sudah berjanji pada mamah sekar untuk membantunya" Batin Berlian.
"Ini atas keinginanku sendiri. Walau bagaimanapun, aku menyayangi Mutiara sebagaimana saudaraku sendiri. Aku juga berharap dengan kesempatan ini Ia akan menyadari kesalahannya dan mau berubah. Aku juga mencemaskan masa depannya jika harus mendekam di penjara" Jelas Berlian.
Meski sebenarnya Ia melakukan ini karena janjinya pada mamah Sekar, tapi disisi lain Ia juga sungguh mencemaskan keadaan Mutiara.
"Huh, kau sungguh wanita berhati malaikat. Bagaimana bisa kau berusaha menolong orang yg sudah sangat jahat padamu selama ini" Ucap Radit sedikit kesal.
"Bukan begitu ka, aku hanya sedikit mengkhawatirkannya saja" Balas Berlian.
"Baiklah, kalau itu maumu akan ku pertimbangkan. Aku juga akan bertanya pada Ana, kalau dia tidak keberatan akan hal ini maka tuntutannya akan aku cabut. Walau bagaimanapun Analah yg telah menjadi korban dari perbuatannya itu" Putus Radit akhirnya.
"Ah iyaka, terima kasih" Ucap Berlian sambil tersenyum. Melihat ekspresi Berlian yg begitu bahagia, Raditpun akhirnya tersenyum dan melupakan kemarahannya yg sempat memuncak di kepalanya.
"Oh iyaka, tanganku" Ucap Berlian kemudian seraya menunjuk ke arah tangannya yg terus di genggam oleh Radit sedari tadi.
"Eh eh maaf, kesenangan tangannya. Hehe" Ucap Radit seraya melepaskan pegangannya dan menggaruk2 kepalanya karena canggung.
Berlianpun merespon candaan Radit dengan tersenyum malu2.
Bersambung......
__ADS_1