
Hari menunjukkan pukul 20.30 malam, Sekar terlihat mondar mandir di depan pintu rumahnya. Terlihat sangat jelas raut kecemasan di wajahnya. Bagaimana tidak, putri semata wayangnya siang tadi, telah diseret oleh polisi.
"Kenapa mas Danu belum datang juga sih, dia bahkan tidak memberiku kabar sama sekali" Gumamnya masih dalam kegelisahan.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil memasuki area halaman rumahnya, Iapun segera berlari menghampiri orang yg datang itu.
"Bagaimana mas?" tanya Sekar pada seorang pria yg sudah berumur sekitar 50 tahun itu, yg tak lain adalah kekasih Sekar.
"Sebaiknya kita bicarakan di dalam saja" Jawab Pria itu yg bernama Danu Wijaya.
"Oh iya, ayo kita masuk" Sekarpun mengajak Danu masuk ke rumahnya, merekapun duduk di ruang tamu dengan posisi berhadapan.
Danu terlihat menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sedangkan Sekar masih dengan wajah cemas, menunggu hasil yg di bawa oleh Danu mengenai pembebasan Mutiara.
" Bagaiamana mas, kamu bisa membantu Mutiara untuk bebas kan?" tanya Sekar pada Danu, tidak sabar.
" Maaf, aku sudah mencobanya tapi sepertinya anakmu berurusan bukan dengan orang sembarangan" Jawab Danu, Iapun terlihat tegang.
"Apa maksudmu, kau tidak bisa membantu putriku bebas dari hukuman itu?" ketus Sekar tampak kesal.
"Memangnya dengan siapa putriku sedang terlibat masalah?" tanya Sekar kemudian.
" Asal kau tahu putrimu sedang terlibat masalah dengan keluarga Surya Ramadhan. Surya Ramadhan adalah orang kepercayaan nomor satu dari tuan besar Baroto Herlambang pemilik Baroto Grup. Sedangkan putrimu itu, Ia telah terlibat masalah dengan Juliana, anak dari Surya Ramadhan dan adik dari Raditiya Ramadhan tangan kanan atau orang kepercayaan dari direktur utama Baroto Grup saat ini" Jelas Danu.
Mendengar penjelasan Danu, Sekar mulai panik.
"Tidak hanya itu, laporan yg dilayangkan pada putrimu itu merupakan perintah langsung dari tuan Herjuno, direktur utama Baroto Grup. Sehingga aku merasa Mutiara benar2 dalam masalah besar saat ini" Lanjut Danu.
"APAH?, " Sekar membelalakkan matanya kaget.
"Kamu bercanda kan mas?" Sekar semakin panik.
"Apa kau melihat aku seperti sedang bercanda?" ketus Danu.
"Huh., jadi bagaimana nasib Mutiara?" Sekarpun terlihat semakin gusar.
"Ada satu cara, mungkin ini bisa membantu Mutiara, tapi apa kamu mau melakukan ini itu tergantung padamu" Ucap Danu.
"Apa mas? aku akan lakukan apapun untuk kebebasan putriku" Ucap Sekar penuh harap.
" Kau harus meminta bantuan pada anak tirimu, Berlian" Ucap Danu.
"Hah apa katamu, minta bantuan pada gadis bodoh itu, bisa apa dia?" Sekar terlihat kesal mendengar ide dari Danu.
"Aku mendapat informasi kalau anak tirimu itu memiliki hubungan yg sangat baik dengan Juliana dan juga Raditya, kalau kau bisa meminta bantuan padanya agar dia mau bernego dengan mereka untuk mencabut tuntutannya pada Mutiara" Jelas Danu.
" Yang benar saja, aku harus memohon pada gadis bodoh itu, sama saja aku merendahkan harga diriku" Ketus Sekar.
"Lagi pula, aku sudah tidak tahu dimana anak itu sekarang" Lanjutnya kemudian.
" Kesampingkan harga dirimu, bukankah kau ingin membebaskan putrimu? dan mengenai alamatnya sekarang, aku sudah membantumu menemukan tempat tinggal anak tirimu itu" Ucap Danu dengan meletakkan secarik kertas di atas meja.
" Ini adalah satu2nya hal yg bisa kau lakukan saat ini untuk membebaskan putrimu" Lanjut Danu.
Sekar melirik secarik kertas yg bertuliskan alamat lengkap Berlian. Ia terlihat menghembuskan nafasnya dengan kasar. Terlihat jelas raut kesal di wajahnya, dengan enggan Ia mengambil kertas itu dan melangkah meninggalkan ruang tengah.
__ADS_1
" Hei, apa kau mau pergi begitu saja, mana jatahku malam ini?" teriak Danu saat melihat Sekar meninggalkannya begitu saja.
"Kau pulang saja, aku tidak akan melayanimu sampai suasana hatiku kembali membaik" Teriak Sekar yg mulai menjauh.
"Dasar wanita licik, untung saja aku masih menyukai tubuhmu" Ketus Danu, Iapun bangkit dari duduknya dan meninggalkan rumah itu.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 7.45, pagi. Terlihat Berlian masih bergelut dengan tugas2 kuliahnya, dengan mata yg mulai kekurangan watt, Ia terus menatap layar notebooknya.
Hingga jam menunjukkan pukul 08.15, Iapun membaringkan tubuhnya di kasurnya.
"Aaahhhkkkk, akhirnya selesai juga. Lega rasanya" Ucapnya dengan merenggangkan oto2nya yg pegal karena kelamaan duduk.
Disambarnya polsenya dan dilihat jam yg tertera di layarnya, pukul 08.20.
"Lumayanlah masih bisa tidur sebentar" Gumamnya, Iapun menyetel alarm pukul 9.30, karen Ia harus kekampus setidaknya sebelum pukul 10 siang ini.
Baru saja Ia mulai kehilangan kesadarannya, terdengar pintu kamar kostnya di ketuk oleh seseorang.
"Siapa sih gak bisa apa datangnya besok2 aja" Gumam Berlian, dengan enggan dan lemas Ia membuka pintu.
Cekrek... Pintupun terbuka. Berlian Membelalakkan matanya melihat tamu yg datang, seketika rasa kantuknyapun menghilang.
"Mamah Sekar" Kaget Berlian.
"Apa mamah mengganggu kamu?" ucap Sekar dengan nada yg lembut.
"Hah mamah, dia bilang dirinya mamah padaku. tidak salah?" batin Berlian heran.
mengatakan dirinya mamah bagi Berlian kecuali yg baru saja Ia dengar beberapa detik lalu.
"Emm enggak kok mah silahkan masuk" Berlian mengajak Sekar memasuki kamar kostnya.
"Maaf mah berantakan" Ucap Berlian.
"Enggak apa2" Balas Sekar masih dengan nada yg lembut dan tersenyum. Melihat gelagat Sekar, Berlianpun menatap heran.
"Kesambet apa yah mamah Sekar, kok kayak ada yg aneh ya?" batin Berlian
"Oh iya mamah mau minum apa, aku bikinin?" tawar Berlian mencoba memecahkan suasana hening yg sempat tercipta beberapa menit tadi.
"Tidak usah, mamah hanya perlu bicarakan sesuatu sama kamu" Balas Sekar.
"Ada apa mah, apa ada masalah, mamah dan Ara baik2 saja kan?" cemas Berlian dengan tulus.
"Gadis bodoh ini, apa dia sedang mengejekku sekarang. Bagaimana dia bisa menanyakan keadaan Mutiara seolah2 tidak tahu apa2?" Batin Sekar.
Terlihat Sekar menatap Berlian dengan sinis namun dengan cepat Ia mengubah kembali tatapannya dengan tatapan yg bersahabat.
Sekarpun mulai mengeluarkan jurus air mata palsunya.
"Kakakmu Ian, kakakmu dalam masalah" Ucap Sekar dalam tangisnya.
"Hmm, kakakku. Siapa kakakku?" Heran Berlian.
__ADS_1
"Kakakmu Ara, kini dia mendekam di penjara. hiks hiks hiks" Lanjut Sekar
"Apa, jadi maksud mamah Sekar kakakku adalah Ara, huh mimpi apa aku semalam yah?, eh tapikan aku belum tidur semalaman" batin Berlian.
"Eeh. Apa tadi, Ara masuk penjara?" batinnya kemudian.
"Mamah bilang Ara masuk penjara?" tanya Berlian kaget.
"Apa kamu benar2 tidak tahu, sahabatmu itu sudah menjebloskan kakakmu ke dalam penjara?" ucap Sekar masih dengan akting sedihnya.
"Sahabatku, maksud mamah Juliana?" tanya Berlian.
"Siapa lagi, Juliana dan kakaknya itu sudah menjebloskan kakakmu kepenjara" Jelas Sekar.
"Jadi ka Radit yg melaporkan Ara ke polisi, itu sudah sewajarnya sih Ara memang keterlaluan" Batin Berlian membela keputusan Radit.
"Tapi apa urusannya denganku, kenapa mamah malah datang berbaik2 padaku, huh telingaku sampai penuh dengan sebutan kakak itu" batinnya kemudian.
"Lalu apa tujuan mamah datang kesini?" tanya Berlian mencari tahu tujuan utama kedatangan Sekar.
"Huh gadis bodoh ini, sepertinya dia sudah tahu maksud kedatanganku. hmm aku tidak perlu berbasa basi lagi" Batin Sekar.
Dengan sigap Sekar menggenggam tangan Berlian dan membungkukkan tubuhnya di depan Berlian, sontak Berlian kaget dengan tindakan Sekar tersebut.
"Ehh, mamah kenapa seperti ini?" kaget Berlian.
"Kamulah satu2nya harapan mamah Ian, bantulah kakakmu untuk bebas, hmm" Ucap Sekar dengan nada memohon.
"Bagaimana bisa aku membantu Ara dalam situasi ini? Aku tidak bisa melakukan apa2" Ucap Berlian
"Kamu bisa sayang, pujuklah sahabatmu itu untuk mencabut tuntutannya terhadap kakakmu Ara" Rayu Sekar pada Berlian, masih dengan posisi membukkuknya.
"Oh jadi ini maksudnya sehingga bermanis2 padaku, huh" Batin Berlian.
"Tapi mah, aku tidak bisa melakukan itu, aku tidak berani melakukannya" tolak Berlian.
"Apa kamu tega membiarkan kakakmu membusuk di penjara. Mamah tahu kesalahan mamah padamu sangat banyak mamah sangat menyesal. hiks hiks. Apa karena itu kamu tidak ingin membantu kakakmu sekarang? kalau begitu pukul saja mamah sepuasmu untuk membalas sakit hatimu" Tutur Sekar dengan terseduh2 sambil memukul2 dirinya menggunakan tangan Berlian.
"Huh mamah sangat pandai bermanis kata rupanya, tapi situasi ini membuatku sangat tidak nyaman" Batin Berlian.
"Mah cukup mah, aku tidak pernah dendam pada mamah dan Ara. Bagiku kalian tetaplah keluargaku" Ucap Berlian seraya menghentikan kegitan drama Sekar.
"Kalau begitu bantulah kakakmu yah sayang" Ucap Sekar dengan tatapan penuh harap sambil menggenggam tangan Berlian.
Berlian terdiam beberapa saat, Iapun terlihat menghembuskan nafas dengan berat.
"Baiklah aku akan mencoba membujuk mereka, semoga mereka masih mau memberi Ara kesempatan" Putus Berlian akhirnya.
Sekar menyunggingkan senyum puasnya.
"huh baguslah, setidak aku tidak sia2 mengorbankan harga diriku di depan gadis bodoh ini, hmm dia benar2 gadis bodoh" Batin Sekar.
"Terima kasih sayang, kau sangat baik sekali mamah sangat menyesali perbuatan mamah selama ini" Ucap Sekar seraya memeluk Berlian.
"huh aku bahkan belum sempat tertidur tapi sudah bermimpi sedrama ini" Batin Berlian.
__ADS_1
Bersambung....