
Waktu menunjukkan pukul 02.30 tengah malam, Juno akhirnya dapat tertidur setelah bergelut dengan adik kecilnya yg terus meronta. Malam itu merupakan malam yg sangat melelahkan bagi Juno, juga merupakan malam yg sangat menyebalkan.
Waktu menunjukkan pukul 03.45 dini hari, Berlian mulai mengeluarkan suara2 kecil seperti orang yg sedang kesakitan. Juno terbangun dari tidur saat menyadari suara2 yg di timbulkan oleh Berlian.
"Kamu kenapa?" tanya Juno panik saat menemukan Berlian yg sedang meringkuk di sampingnya.
"Perutku sakit sekali" balas Berlian.
"Apa kau selalu merasa sakit seperti ini saat datang bulan, aku pikir kemarin aku tidak pernah melihatmu kesakitan begini?" Juno semakin panik.
"Aku memang sering merasa sakit saat datang bulan, tapi hari ini rasanya lebih sakit" jelas Berlian.
Junopun buru2 menelpon seorang pelayan di villa itu.
"Halo Tuan, apa ada yg tuan butuhkan?" ucap Seseorang di balik telpon.
"Apa kalian memiliki persediaan obat penghilang nyeri datang bulan? bawakan untuk istriku ke kamar sekarang" tanya Juno langsung pada intinya.
"Ada Tuan, saya akan segera mengantarnya ke kamar anda" balas pelayan. Junopun memutuskan sambungan telponnya.
"Kenapa tuan menelpon malam2 begini" tanya salah seorang pelayan pada penerima telpon.
"Tuan meminta obat pereda nyeri datang bulan, sepertinya nona sedang datang bulan" jelas pelayan itu.
Mendengar penjelasan temannya pelayan itu seperti mencoba menahan tawanya.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya pelayan satunya heran.
"Kalau nona sedang datang bulan itu artinya rencana tuan gagal dong" jelasnya masih mencoba untuk menahan tawanya.
"Huust, jgn suka bergosip apalagi tentang tuan nanti kamu akan dapat masalah" jelasnya pada pelayan yg memang masih terbilang baru itu.
Dengan cepat pelayan itu menutup mulutnya dengan tangan, takut jika ucapannya tadi sampai di dengar orang lain.
Segera mereka keluar dari kamarnya untuk menyiapkan obat untuk nona mereka, tidak lupa mereka membuatkan teh jahe hangat untuk Berlian.
Tok tok tok..
"Masuk" teriak Juno di balik kamarnya.
Pelayan tadi mesuk dengan membawa nampan yg berisi teh jahe dan obat untuk Berlian.
"Saya juga membuatkan teh jahe untuk nona Berlian, semoga perutnya akan segera baikan setelah meminumnya" jelas pelayan itu seraya melettakkan bawaannya di atas nakas.
" Terima kasih bibik" balas Juno pada pelayan yg kira2 berusia 40 tahunan itu.
"Sama2 tuan" balas pelayan itu dengan sopan seraya keluar dari kamar mereka.
"Ayo bangun, bibik sudah membawakanmu teh jahe hangat dan obat pereda nyeri perut mu" ucap Juno seraya membantu Berlian duduk dan bersender di senderan pembaringannya.
"Aku minum teh jahenya saja , aku kurang suka minum obat" balas Berlian seraya menerima segelas teh jahe yg di sodorkan oleh Juno.
"Terserah kau saja, kalau kau tidak nyaman besok pagi kita pulang. Aku akan membawamu kerumah sakit" ucap Juno terlihat masih begitu cemas.
"Aku tidak mau pulang, aku masih mau disini setidaknya sampai sore" rengek Berlian.
" Aku baik2 saja, setelah minum ini aku pasti lebih baikan" Lanjutnya.
Juno tersenyum melihat istrinya yg terlihat sangat menggemaskan di matanya.
"Kau suka disini?" tanya Juno seraya mengusap rambut Berlian dengan lembut.
"Suka, sangat suka" balas Berlian tersenyum senang.
"Baiklah kita akan sering2 kesini di lain waktu. Tapi untuk kali ini kita harus pulang besok sore, karena aku khawatir Radit akan kewalahan mengurus pekerjaan yg menumpuk" Jelas Juno.
"Dan lusa aku juga ada rapat dengan relasi penting" lanjutnya.
Berlian terlihat memanyunkan bibirnya, terlihat raut kecewa di wajah istrinya itu.
"Tidurlah kalau sudah merasa baikan, besok pagi aku akan membawamu melihat danau yg terdapat di belakang villa ini, nanti kita juga bisa memancing disana" Ucap Juno berusaha membujuk istrinya.
Berlian kembali terlihat senang dan antusias.
"Ok aku akan tidur, jangan lupa bangunkan aku besok pagi" ucapnya dengan semangat setelah menghabiskan teh jahenya dan merasa lebih baikan. Iapun kembali membaringkan tubuhnya dan tertidur.
Juno menatap istrinya yg sudah memejamkan matanya itu, seketika Ia tersenyum dan mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut.
Tari, terima kasih. Terima kasih telah menitipkan malaikat kecil yg sangat berharga padaku. Aku selalu berdoa agar kau juga bahagia disana. Batin Juno.
***
Matahari telah memancarkan sinarnya dengan malu2, saat jam sudah menunjukkan pukul 06.45 pagi.
Juno terlihat telah siap dengan pakaian santainya, dilihatnya lagi istrinya yg masih tertidur pulas.
"Aku tidak tega membangunkannya, tapi kalau tidak di bangunkan nanti dia kecewa" gumam Juno dilema. Akhirnya Ia memutuskan untuk membangunkan istrinya demi memenuhi permintaannya semalam.
"Iaaan" panggilnya dengan lembut seraya mengcolek2 lembut hidung mungil istrinya.
"Eeemmh" Berlian memperlihatkan reaksi dengan merenggangkan badannya.
"Ayo bangun, katanya mau melihat danau" ucapnya lagi masih dengan nada yg sangat lembut.
__ADS_1
Sontak Berlian membuka matanya dan terduduk.
"Sudah jam berapa, udah sore ya?" ucapnya sedikit linglung.
" Masih pagi, sudah mandi sana. Aku tunggu di bawah ya" ucap Juno.
Berlianpun terlihat terburu2 untuk menuju kamar mandi. Namun tangannya segera di tarik oleh Juno.
" Eeh tunggu" ucap Juno seraya tersenyum tipis.
" Kenapa?" tanya Berlian heran.
Juno tidak memberikan jawaban pasti malah menunjukkan bibirnya dengan jari telunjuknya.
" Hah, kenapa. kamu sariawan?" tanya Berlian masih tidak mengerti.
" Kiss pagi dulu" ucap Juno akhirnya.
Berlian membulatkan matanya karena kaget seraya menutup mulutnya dengan tangan. Sejak kapan kiss pagi menjadi kenginan suaminya ini.
"Kamu bercanda ya, aku aja belum sikat gigi" ucap Berlian dengan malu2.
" Aku tidak peduli, ayo cepat" ucap Juno sedikit merengek.
Aku senang melihatnya seperti ini, tapi aku sangat takut kalau perubahannya ini karena kesambet setan apa gitu. batin Berlian.
"Kok diam, yasudah biar aku saja" ucap Juno akhirnya seraya mendaratkan bibirnya dengan cepat pada bibir istrinya.
Berlian terlihat kaget, namun Ia tetap menikmati perlakuan suaminya itu. Hingga beberapa detik Juno melepaskan pautannya dan tersenyum puas.
"Mulai sekarang aku ingin mendapatkan kiss pagi tepat saat kau bangun tidur" ucapnya sedikit berbisik di telinga Berlian.
Berlian tidak menanggapi ucapan Juno, melainkan mencoba memulihkan jantungnya yg berdegup sangat kencang.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Berlian akhirnya.
"Apa?" tanya Juno sedikit heran.
" Apa kau sudah mulai mencintaiku, apakah yg kau lakukan saat ini karena kau mencintaiku atau hanya untuk memenuhi kewajibanmu sebagai suamiku?" tanya Berlian ingin memastikan perasaan suaminya itu.
Juno terlihat terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Berlian. Melihat reaksi Juno, Berlian terlihat kecewa.
" Aku tahu, aku mandi dulu" ucap Berlian seraya masuk ke kamar mandi.
Juno masih berdiri di tempatnya dan tidak bergeming bahkan tidak sadar kalau Berlian telah hilang dari hadapannya.
"Aku, aku pikir aku benar2 telah jatuh cinta padamu" ucapnya kemudian seraya mencari keberadaan Berlian yg ternyata telah menghilang dari hadapannya.
" Ehh kemana dia?" gumamnya seraya melemparkan pandangannya mengelilingi kamar itu.
***
Berlian telah menyelesaikan mandinya dan turun menemui Juno di ruang makan, mereka akan sarapan dulu sebelum pergi melihat danau dan memancing.
"Ayo sarapan" ucap Juno menyambut kedatangan Berlian seraya tersenyum. Namun Berlian hanya diam dan tidak membalas ucapan Juno. Para pelayan menyadari hal itu dan saling melemparkan pandangan mereka. Seperti sedang bertanya2 tentang apa yg sedang terjadi antara nona dan tuan mereka saat ini.
Junopun menyadari ketidak senangan istrinya. Ia tahu hal ini pasti karena Ia tidak langsung memberikan jawaban pada pertanyaan istrinya tadi.
"Makanlah, nanti aku akan memberikanmu sesuatu yg pasti kau suka" ucapnya mencoba membujuk istrinya.
Berlian hanya terlihat mengangguk dan mulai menikmati sarapannya tanpa suara. Tak berapa lama, mereka telah menyelesaikan sarapan mereka. Junopun mulai menggandeng tangan Berlian keluar villa. Ada sebuah sepeda terparkir di depan halaman villa.
"Kita akan kedanau menggunakan sepeda" ucap Juno.
"Kok cuman satu?" balas Berlian menatap sepeda yg tersedia cuman ada satu.
" Kan ada boncengannya, ayo" Juno menarik tangan Berlian dan mulai duduk di atas sepeda.
"Tapi aku berat" ucap Berlian ragu2.
"Sepedanya kuat kok, ayo" ucap Juno seraya mengulurkan tangannya pada Berlian, akhirnya Berlian menurut dan naik.
Juno menuntun tangan Berlian untuk melingkarkan pada pinggangnya.
" Pegangan yg kuat, nanti kamu jatuh" ucapnya dan mulai mengayunkan sepedanya.
Merekapun melewati halaman villa yg di penuhi dengan pohon2 dan bunga2 yg indah yg bertebaran sepanjang jalan. Tak berapa lama mereka telah sampai di sebuah danau yg sangat indah. Airnya terlihat sangat jernih dan banyak bunga2 yg indah menghiasi pinggir danau itu. Serta terdapat pula pohon besar dan sebuah kursi duduk yg terdapat dibawah pohon besar itu.
Berlian yg tadinya terlihat tidak senang, kini tersenyum merekah semekar bunga di pagi hari.
" Indah sekali" ucapnya seraya merentangkan tangannya dan menghirup udara segar di tempat itu.
"Aahk segarnya" ucapnya kemudian.
"Kau suka?" tanya Juno.
" Emm" balas Berlian seraya mengangguk dan tersenyum bahagia.
"Ayo" ajak Juno dengan menarik tangan Berlian.
"Kemana?" tanya Berlian heran.
"Naik perahu" ucap Juno setelah sampai dipinggir danau tepat disamping perahu itu terparkir.
__ADS_1
"Aku takut" ucap Berlian merasa takut.
" Kan ada aku" balas Juno meyakinkan, Berlianpun mengikut dan mulai menaiki perahu dengan bantuan Juno.
Juno mulai mendayungkan perahunya menyusuri danau, sedangkan Berlian mulai terlihat tenang dan menikmati perjalanan mereka.
"Lihat itu" ucap Juno seraya menunjuk pada sepasang kura2 kecil yg sedang bermesraan di sebuah batu di pinggiran danau.
" Cantik sekali" ucap Berlian tersenyum senang.
" Kamu mau, aku akan mengambilkan mereka untukmu kalau kamu mau?"
"Mau" ucap Berlian antusias.
Junopun mendekatkan perahunya pada pinggir danau itu. Dengan cepat Juno meraih kedua kura2 kecil itu. Juno memasukkannya kedalam akuarium kecil yg memang telah Ia persiapkan sebelumnya.
"Aku memang berniat memberikanmu kura2 kecil ini, tapi aku takut kau tidak menyukainya. Tapi karena kau mengingkannya jadi aku memberikan mereka untukmu" jelas Juno seraya menyerahkan akuarium kecil itu pada Berlian.
"Mereka cantik sekali" ucap Berlian dengan terus menatap kedua kura2 kecil itu.
" Terima kasih" lanjutnya kemudian dengan menatap pada Juno.
Juno meraih tangan Berlian dan menatap mata istrinya itu. Juno melemparkan senyum untuk perempuan yg sedang di tatapnya.
"Tadi kau memberikanku pertanyaan, dan aku belum memberimu jawabannya. Sekarang aku akan memberimu jawaban" ucap Juno dengan serius.
Berlian terdiam, Ia terlihat sangat gugup dan degdegan. Ia sungguh takut mendapat jawaban yg berbeda dengan ekspektasinya. Walau bagaimanapun Ia mengerti, tidak semudah itu menggantikan seseorang yg sudah menetap dalam hati. Meski tidak di pungkiri, Juno telah berhasil merebut posisi Radit yg sempat mengisi hatinya.
Namun antara Ia dan Radit dengan Juno dan Ka Tari adalah hal yg berbeda, hubungannya dengan Radit hanya sebatas dekat yg menimbulkan rasa suka, tetapi Juno dan ka Tari adalah dua ingsan yg saling mencintai, sehingga tidak mudah untuk menggantikan posisi itu.
"Awal menikahimu ku pikir akan sulit menerimamu dalam hatiku, karena kau adalah adik dari Tari yg pasti akan selalu menimbulkan bayang2 sosok Tari dalam dirimu. Aku pikir kekagumanku padamu di awal pernikahan adalah karena aku masih merindukan Tari dan menganggap kau adalah sosok pengganti Tari. Dan aku takut itu akan melukaimu, jadi aku memutuskan untuk menjaga jarak denganmu" ucap Juno mulai menjelaskan.
Berlian mulai meresa ngilu mendengar penjelasan Juno, namun Ia memilih untuk diam.
"Namun setelah beberapa lama hidup denganmu aku sadar, kau dan Tari adalah dua orang yg berbeda. Kau adalah dirimu, gadis manis yg periang, sedikit polos dan sangat menggemaskan dan yg pasti kau sama sekali bukan bayang2 dari Tari" lanjut Juno menjelaskan. Kali ini ucapnnya sedikit menghibur hati Berlian.
"Saat aku mulai melihatmu sebagai dirimu, perlahan kau mulai mengambil posisi di hatiku, terlebih saat aku mengetahui tentang kedekatanmu dengan Radit di masa lalu. Hatiku sakit sekali, aku sangat cemburu" Lanjutnya masih menjelaskan.
"Kenapa kau cemburu, akukan tidak pernah menjalin hubungan apapun dengan ka Radit" Bantah Berlian.
"Itu hal yang wajar untuk merasa cemburu terlebih kalian pernah dekat. Dan kenapa kau harus fokus pada kata cemburu tapi bukan makna di balik kata cemburu itu?" keluh Juno.
"Memangnya apa maknanya?" tanya Berlian dengan polosnya.
Juno menggaruk pelipisnya yg tidak gatal.
" Tunggu, aku tidak ingin kau menyebut Radit dengan panggilan Ka Radit. Itu terdengar sangat akrab" ucap Juno.
" Aku dan ka Radit memang akrab. Lagian kalau bukan ka Radit aku harus memanggilnya dengan sebutan apa?" keluh Berlian.
" Perempuan yg sudah bersuami mana boleh akrab dengan pria lain, dan mengenai panggilan tinggal panggil saja Radit" Keluh Juno pula.
" Tapi dia kakak dari sahabatku" bantah Berlian lagi.
" Lagian tiba2 merubah panggilan pasti akan terasa canggung" lanjutnya.
" Baiklah, kau boleh memanggilnya ka Radit tapi kau harus memanggilku dengan sebutan suamiku" putus Juno akhirnya.
" Itu sangat lebay" bantah Berlian.
" Kalau begitu sayangku" putus Juno lagi.
"Itu juga sangat lebay" bantah Berlian lagi.
"hanya ada dua pilihan kau harus memilih salah satunya" tegas Juno.
" Hmm baiklah"
" Baiklah apa?" Juno membutuhkan kepastian.
" Baiklah sayangku" ucap Berlian dengan malu2 terlihat pipinya yg memerah.
Juno tersenyum puas.
" Tapi aku belum mendapat jawaban dari pertanyaanku tadi" keluh Berlian pula.
" Bukannya penjelasanku sudah memeberikan jawaban?" tanya Juno.
Berlian menggelengkan kepalanya tidak terima. Juno menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Di raihnya wajah istrinya itu dan dihadapkan di depan wajahnya.
"Berlian Hendrawan istriku yg bak malaikat kecil dalam hidupku, aku mencintaimu dengan seluruh raga dan jiwaku yg telah jatuh pada dirimu" ucapnya seraya mendaratkan bibirnya pada kening Berlian. Mendengar pengakuan suaminya Berlian tersenyum hingga setetas air lolos membasahi pipinya.
" Kenapa nangis?" tanya Juno kaget.
" Aku sangat bahagia" balas Berlian.
" Kau tidak berniat membalas pengakuan ku?" tanya Juno akhirnya. Namun Berlian dengan cepat menghamburkan dirinya dalam pelukan Juno.
" Aku juga mencintaimu tuan Herjuno Herlambang" ucapnya dalam pelukan Juno. Juno tersenyum puas dan mempererat pelukannya pada Berlian.
Setelah beberapa lama menikmati adegan romantis mereka, merekapun memutuskan untuk kembali ke tepi danau. Juno mulai memancing dan Berlian menjadi penonton dari aksi suaminya itu. Tak jarang mereka terlihat tertawa saat Juno kembali gagal mendapatkan seekor ikan.
__ADS_1
BERSAMBUNG......
Halo para pemabaca, maaf ya kalau bab ini sedikit panjang dan membosankan🙏. Tapi Author berharap kalian tetap bisa terhibur. Happy reading. Sehat selalu untuk kalian🥰😘