Berlian

Berlian
Penangkapan Mutiara


__ADS_3

Hari itu menunjukkan pukul 13.21, siang hari. Mutiara sedang duduk bersantai di rumahnya. Setelah kejadian penyekapan Juliana, Ia tak lagi pernah menginjakkan kakinya ke kampus. Ia takut karena tahu dua pria suruhannya telah di jebloskan ke penjara.


Tok Tok Tok... Suara ketukan pintu.


"Siapa sih, ganggu aja?" gerutu Mutiara, dengan enggan Iapun terpaksa berdiri dan berjalan membukakan pintu bagi tamu yg datang itu.


Cekrek... Suara pintu terbuka.


Mutiara membelalakkan matanya saat melihat siapa yg sedang bertamu itu. Terlihat dua orang polisi berbadan tegap dan gagah berdiri di depan pintu rumahnya.


"Polisi, kenapa ada polisi?" batin Mutiara panik.


"Apa benar ini kediaman ibu Sekar dan saudari Mutiara?" tanya salah seorang dari polisi tersebut.


"Ii.iya betul saya Mutiara, ada apa ya pak?" balas Mutiara semakin panik.


" Kami membawa surat penangkapan atas saudari Mutiara dengan tuduhan penyekapan dan penganiayaan terhadap saudari Juliana" Jelas salah seorang polisi dengan menyerahkan selembar surat perintah.


" T.tapi pak saya tidak bersalah" Panik Mutiara membela dirinya.


"Anda bisa jelaskan semuanya di kantor, bawa dia" Perintah salah seorang dari polisi tersebut.


"Mamah tolong Ara mah" Teriak Mutiara memanggil mamahnya, semakin panik.


Polisi tidak menghiraukan teriakan Mutiara dan tetap menyeretnya ke mobil.


" Tunggu-tunggu, ada apa ini kenapa anak saya mau di bawa pak" Panik Sekar saat keluar dari rumahnya.


" Maaf. Anak ibu kami tahan atas tuduhan penyekapan dan penganiayaan terhadap saudari Juliana, teman kuliahnya" Jelas salah seorang polisi tersebut.


"Hah, apa benar itu Ra?" tanya Sekar pada Mutiara kaget.


"Kita cuman main2 kok mah" Elak Mutiara.


"Anda bisa jelaskan semuanya di kantor" Ucap polisi itu sebelum kemudian memaksa Mutiara untuk masuk ke dalam mobil.


"Mamah" Teriak Mutiara meminta tolong.


"Sayang" Ucap Sekar dengan panik.


Mobilpun melaju meninggalkan halaman rumah Sekar, meninggalkan sekar yg sedang menangisi nasib putrinya.


*Baroto Grup


Radit sedang bergelut dengan beberapa pekerjaan yg harus Ia selesaikan sebelum kembali ke kota Maka*sar, tempat dimana Tari sedang di rawat.

__ADS_1


Ring Ring Ring..


Radit: "Halo" Sapa Radit pada seseorang di balik telpon.


Penelpon: "Gadis yg bernama Mutiara, dalang dari penyekapan nona Juliana sekarang sudah di tahan bos" Jelas seseorang di balik telpon.


Radit: "Bagus. Pastikan dia tidak bisa lolos, biarkan dia menikmati hotel gratis itu untuk beberapa waktu" Balas Radit dengan menyunggingkan senyum puas.


Penelpon: " Baik bos" Balas orang itu. Sambunganpun terputus.


Setelah beberapa lama bergelut dengan pekerjaannya, Raditpun menyenderkan bahunya pada senderan kursinya dan merenggangkan otot2nya yg kaku.


"Huh.. Pekerjaan sudah beres, lega rasanya" Gumamnya.


"Bagaimana kabar Berlian? Aku sangat rindu dengan senyumannya, sebaiknya aku mengunjunginya sebelum balik ke kota Maka*sar" Batin Radit.


Segera dibereskan semua berkas2 pekerjaannya, kemudian berangkat meninggalkan gedung Baroto Grup menuju kost milik Berlian.


Tak lupa Ia membeli sekotak donat, sebagaimana kesukaan Berlian.


Sesampainya di depan kost Berlian, dirapikannya jas dan rambutnya di depan kaca jendela kost Berlian.


"Ah, sudah tampan" Ucapnya seraya tersenyum bangga.


Tok tok tok.. Suara ketukan Radit.


"Hoam, siapa?" ucap Berlian saat membuka pintu dengan rambut yg berantakan khas bangun tidur, sambil mengucek2 matanya.


"Maaf, apa ka Radit mengganggu istirahatmu?" ucap Radit merasa tidak enak telah mengganggu Berlian, namun disisi lain Ia tersenyum gemas melihat tingkah Berlian yg terkesan lucu dimatanya.


"Hah" Kaget Berlian, Segera ditutupnya kembali pintu kamarnya untuk beberapa saat.


Berlianpun berlari ke kamar mandi untuk memcuci wajahnya. Iapun melihat wajahnya di cermin untuk memastikan tidak ada iler dan belek yg masih melekat di wajahnya, serta dirapikannya rambutnya yg berantakan.


"Aduh kenapa aku langsung buka pintu sih tadi, jadi malukan" Gerutu Berlian pada kecerobohannya.


Sedangkan Radit yg masih berdiri di depan kost Berlian terlihat bingung dan salah tingkah, Iapun menggaruk2 kepalanya yg tidak gatal.


"Apa dia marah aku ganggu ya?" Gumam Radit, Iapun berniat untuk pergi. Namun tiba2 terdengar suara pintu kembali terbuka dan Berlianpun keluar.


"Maafka, tadi aku kebelet pipis, hehe" Ucap Berlian saat keluar dari kamar kostnya. Serta memilih alasan kebelet pipis.


"Oh iya enggak apa2, kirain kamu marah ka radit ganggu waktu istirahat siang" Balas Radit sambil tersenyum.


"enggak kok ka, silahkan duduk ka" Ucap Berlian dengan terus tersenyum.

__ADS_1


"Manisnya ya Allah" Batin Radit.


Raditpun duduk di samping Berlian.


"Oh iya ini ka Radit bawain kamu donat, ka Radit enggak tau kamu sukanya apa selain donat jadi ka Radit bawain donat aja" Jelas Radit seraya menyerahkan kotak donat yg dibawanya pada Berlian.


"enggak apa2 kok ka ini aja aku uda seneng banget, makasih ya" Ucap Berlian dengan kembali tersenyum.


Melihat senyuman Berlian yg begitu manis di matanya, Radit langsung memalingkan wajahnya karena merasa degdegan.


"Eh ada apa ka, apa ada yang salah?" tanya Berlian heran melihat reaksi Radit.


"Oh enggak, ka Radit cuman takut deabetes kalo liat senyum kamu tarus, terlalu manis sih" Balas Radit mulai mengeluarkan jurus gombalnya.


"Eh ka Radit bisa aja" Ucap Berlian malu2, tak terasa wajahnya berubah kemerah2an.


"Eh wajahmu kenapa, kok merah?" tanya Radit saat menyadari perubahan wajah Berlian, Iapun tersenyum senang karena menyadari alasannya pasti karena gombalannya barusan. Namun disisi lain jantungnya semakin berdetak tak terkendali.


"Kendalikan dirimu Radit, jangan sampai dia tahu kalau kau sedang degdegan didekatnya" Batin Radit.


"Eh kenapa, wajahku kenapa?" panik Berlian dengan polosnya.


"Hahaha" Tak bisa Ia tahan Raditpun tertawa terbahak2.


Berlian memanyumkan bibirnya karena kesal melihat reaksi Radit. Radit yg melihat ekspresi kesal Berliann semakin tertawa, Ia menjadi semakin gemas pada tingkah Berlian.


"Apa sih ka?" keluh Berlian karena Radit tertawa tidak jelas menurutnya.


"Maaf-maaf, ka Radit kelepasan, lucu liat wajahmu merah begitu" balas Radit saat menghentikan tawanya.


Berlianpun langsung menutupi wajahnya dengan tangan.


"Kamu sudah makan siang?" tanya Radit kemudian.


"Belum ka" Jawab Berlian dengan dengan jujurnya.


"Ka Radit jg belum makan siang, mau makan siang bareng enggak?" tawar Radit, sambil memasang wajah memohon yg di gemas2kan.


Berlian terdiam beberapa saat.


"Makan siang bersama, apa ini semacam kencan?" Batin Berlian.


"Hei, kenapa bengong, mau enggak?" Suara Radit mengagetkan Berlian.


"Eehh, iya aku mau" Balas Berlian dengan cepat.

__ADS_1


Raditpun tersenyum senang. Berlian masuk ke kamarnya beberapa saat untuk bersiap, kemudian mereka berangkat untuk mencari menu makan siang yg di sebut Berlian sebagai kencan.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2