
Juno dan Berlian telah menempuh perjalanan hampir 4 jam, kini mereka telah tiba di sebuah villa yg sangat besar. Villa yg dulu sengaja di beli Juno untuk istrinya kelak, yg tak lain kini adalah Berlian.
Juno memarkirkan mobilnya di halaman villa. Beberapa pelayan dan pengurus villa itu menyambut kedantangan mereka.
"Selamat malam tuan" sambut para pelayan itu pada Juno dengan ramah.
"Istriku sedang tertidur jgn membuat suara yg akan membuatnya terganggu" ucap Juno dengan suara yg pelan. Para pelayanpun menurut dengan tidak menimbulkan suara. Juno membuka pintu mobil dengan pelan agar tidak membangunkan Berlian, Ia berniat ingin memopong Berlian masuk ke dalam villa.
Namun Berlian tersadar saat Juno mencoba untuk mengangkatnya.
"Eeh kita uda sampai ya" ucap Berlian saat tersadar dari tidurnya.
"Kau bangun, apa kau terganggu?" tanya Juno merasa bersalah.
"Tidak, aku sudah puas tidur di perjalanan" balas Berlian seraya keluar dari dalam mobil.
Pandangnya langsung disambut dengan suasana pegunungan yg sangat indah, terlihat dengan jelas lampu2 perkotaan yg bersinar terang dari kejauhan.
Angin yg terasa segar menyentuh hidung Berlian membuatnya merasa sangat nyaman, seketika lelahnya hilang terganti dengan rasa senang dan takjub.
"Tempatnya indah sekali" ucap Berlian seraya tersenyum senang pada Juno.
"Masuklah dulu bersihkan badanmu dan istirahat sebentar, aku akan menyuruh mereka untuk menyiapkan makan malam" ucap Juno, Berlian pun menurut dan masuk ke villa dengan diantarkan oleh seorang pelayan.
"Bagaimana yg saya minta, semua sudah di siapkan?" tanya Juno pada salah seorang pelayan.
"Semua sudah kami siapkan tuan" balas pelayan.
"Bagus" balasnya seraya ikut masuk kedalam villa.
***
Berlian telah menyelesaikan mandinya dan keluar dari kamar mandi menggunakan handuk mandinya, terlihat Juno sedang duduk di kasur dan menatap pada Berlian. Seketika Berlian terlihat canggung dan salah tingkah.
"Oh iya kita kesinikan tidak bawa baju ganti, bagaimana ini?" ucapnya mencoba mengalihkan perhatian Juno yg terus memandanginya.
"Aku sudah meminta pelayan agar menyiapkannya untukmu, aku juga ingin mandi sebentar" ucapnya seraya menyerahkan sebuah kotak pada Berlian, kemudian masuk untuk mandi.
Berlian membuka kotak yg diberika oleh Juno, sebuah dress berwarna merah maron dan sepasang high heels yg juga berwarna senada. Berlian menatap gaun itu dengan heran.
"Kenapa dia malah memberikanku gaun?" gumamx masih heran.
tok tok tok.. Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar mereka.
"Siapa?" teriak Berlian dari dalam untuk memastikan siapa yg datang.
"Saya Anya nona, saya ditugaskan untuk membantu nona bersiap2" jelasnya dari balik pintu.
Berlian segera membuka pintu dan menemukan Anya yg sedang berdiri di depan pintu, dengan membawa sebuah kotak yg lumayan besar.
"Bersiap2, bersiap2 untuk apa?" tanya Berlian pada Anya.
"Bersiap2 untuk makan malam nona, ayo saya bantu mengenakan gaun nona, setelah itu saya akan membantu nona untuk berhias" Jelas Anya.
"Makan malam saja apa perlu berhias?" tanyanya masih tidak mengerti.
"Tentu saja nona" balas Anya tidak ingin berkata banyak karena takut salah dalam berbicara.
Meski masih tidak mengerti Berlian hanya menurut dan mulai mengenakan gaunnya, kemudian mendapat bantuan Anya untuk memberikan sedikit polesan di wajahnya. Tidak membutuhkan waktu lama, Anya telah selesai memberikan polesan di wajah Berlian. Meski hanya mendapat sedikit polesan, Berlian sudah terlihat sangat cantik karena memang dirinya sudah cantik sejak lahir, apalagi jika telah ditambah dengan polesan makeup tentunya akan menambah kecantikannya.
"Sudah selesai nona, anda terlihat sangat cantik dan elegan" ucap Anya seraya menatap takjub pada Berlian.
"Terima kasih Anya, itu karena kau memiliki keterampilan makeup yg sangat hebat, jadi wajahku yg biasa saja bisa terlihat lebih cantik" ucap Berlian merendah, namun memang selama ini Berlian tidak merasa yg dirinya cantik, justru Berlian kurang begitu memerhatikan masalah fasion meski dia kuliah dengan jurusan fasion.
"Anda memang sudah cantik dari sananya nona, polesan saya hanya melengkapi kecantikan anda" balas Anya terus memuji, Berlian hanya tersenyum menanggapi ucapan Anya.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi nona" ucap Anya kemudian.
"Oh iya, terima kasih Anya" balas Berlian dengan sopan.
"Tidak perlu sungkan nona"Balas Anya pula seraya meninggalkan Berlian di kamarnya.
Tidak berapa lama Juno juga telah menyelesaikan mandinya dan segera keluar, seketika tatapan mereka bertemu. Juno menatap takjub pada kecantikan istrinya malam ini, sedangkan Berlian Juga menatap takjub pada tubuh priposional suaminya, apalagi saat baru selesai mandi terlihat lebih menarik dan terlihat lebih tampan.
Cukup lama mereka saling pandang tanpa ada yg mulai untuk berbicara.
"Eem aku siap2 dulu" ucap Juno akhirnya dan mulai mengenakan baju yg telah disiapkan untuknya.
Tak berapa lama Juno juga telah selesai mengenakan bajunya.
"Ayo" ucap Juno mengajak istrinya itu untuk menuju tempat mereka akan makan malam.
"Kita mau kemana?" tanya Berlian penasaran.
"Ikut saja" balas Juno masih dengan terus berjalan menggandeng istrinya.
Tak berapa lama merekapun sampai di tempat yg ingin mereka tuju, masih di sekitaran villa. tepatnya di atas loteng, dimana pemandangan yg terlihat dari atas lebih indah dibanding saat di halaman depan. Dari sini pemandangan kota dari bawah terlihat lebih terang dan indah.
Merekapun telah duduk di kursi yg telah di siapkan, tak berapa lama menu makan malam merekapun datang. Bersamaan dengan itu beberapa pemain musik mulai memainkan musik mereka, dengan alunan musik yg sangat romantis yg mampu memanjakan telinga mereka.
"Kau suka?" tanya Juno pada Berlian.
"Emm" balasnya tak mampu lagi berkata2.
"Eem?" tanya Juno kembali, ingin memastikan maksud dari emm yg keluar dari mulut istrinya.
"Aku sangat suka, terima kasih. Aku sangat senang hari ini" Jelas Berlian seraya tersenyum yg merekah di wajah cantiknya.
"Sama2, aku senang jika kau suka" balas Juno ikut tersenyum bahagia.
"Ayo dimakan" lanjutnya, dan merekapun mulai menikmati makan malamnya.
"Mau dansa denganku?" tawar Juno.
"Aku tidak bisa dansa" tolak Berlian.
"Aku akan mengajarimu" balasngnya seraya menarik tangan istrinya, di letakkannya salah satu tangan istrinya pada pundaknya, dan di letakkan pula salah satu tangannya pada pinggang istrinya dan tangan lainnya yg saling berpegangan.
"Cukup seperti ini, dan lakukan gerakan yg sesuai dengan irama musik" jelasnya.
Berlianpun menurut dan mereka mulai dengan dansanya. Semakin lama semakin menikmati tarian mereka hingga hampir melupakan waktu. Sampai tiba2 Juno menjatuhkan pandangannya pada bibir manis istrinya.
Tuk...
Juno mendaratkan bibinya sekilas pada bibir istrinya itu. Berlian membulatkan matanya karena kaget. Ini pertama kalinya bagi mereka melakukan adegan yg seintim itu sejak pernikahan mereka. Meski hanya sekilas, namun cukup untuk menggoncangkan hati Berlian.
"Maaf" Ucap Juno kemudian.
"Tidak apa2" balas Berlian seraya menunduk malu. Mencoba menyembunyikan pipunya yg sudah merah merona.
Juno memberikan kode pada para pemain musik agar meninggalkan mereka. Setelah semuanya pergi, Juno mulai mengangkat kepala Berlian untuk menatapnya. Dipautkanlah bibirnya pada bibir istrinya itu, dan saling menikmatinya satu sama lain. Cukup lama mereka melakukannya, hingga akhirnya mereka menghentikannya saat angin malam yg berhembus membuat tubuh mereka mulai kedinginan.
"Ayo masuk, udaranya semakin dingin" ajak Juno pada istrinya. Berlianpun hanya mengikut.
Merekapun duduk di pinggiran kasur saat telah tiba di kamar mereka.
"Apa kau lelah?" tanya Juno ragu2.
" Tidak" jawab Berlian dengan mantap.
Juno terlihat tersenyum mendengar ucapan Berlian.
__ADS_1
"Kalau begitu kau bersih2lah dulu, aku akan meminta pelayan menyiapkan baju ganti untukmu" ucap Juno. Berlianpun menganggukkan kepalanya dan menuju kamar mandi.
Setelah beberapa lama, Berlian keluar dengan menggunakan handuk mandi di tubuhnya. Juno menatap istrinya dan mulai menelan salivanya.
Pikiranku sudah kemana2, sial kenapa istriku cantik sekali malam ini. batin Juno terlihat salah tingkah.
" Itu baju yg mereka siapkan untuk mu, aku mau bersih2 juga" ucapnya dengan cepat lalu menuju kamar mandi.
Berlian mengambil baju yg telah disiapkan untuknya.
"Apa ini?" ucapnya saat melihat sebuah dres piyama transparan, yg baginya sama sekali tidak bisa untuk menutupi tubuhnya itu.
"Akh sudahlah pakai saja" ucapnya seraya mulai mengenakan dres piyama itu. Setelah selesai menggunakannya, matanya mulai tertuju pada kaca dan memerhatikan pantulan dirinya di kaca.
"Kenapa aku terlihat seperti wanita penggoda?" gumamnya. Tiba2 Juno sudah ada di belakangnya dan merangkulnya dari belakang.
"Bukannya istri memang diharuskan untuk bisa menggoda suami" Ucap Juno seketika membuat Berlian salah tingkah dan kikuk.
Entah karena ucapan Juno atau karena terlalu degdegan, Berlian meresa sedikit ngilu di bagian perutnya. Namun Ia hanya mengabaikannya.
"Boleh aku memintanya malam ini?" tanya Juno kemudian dengan tatapan yg penuh harap pada istrinya itu.
Hah dia memintanya malam ini, setelah beberapa bulan kami menikah dan akhinya dia memintanya juga. Apa aku benar2 akan menjadi istrinya yg seutuhnya? batin Berlian semakin degdegan.
Iyapun tersenyum dan mengangguk menanggapi permintaan Juno, yg berarti Ia menyetujui permintaan suaminya itu.
Juno mulai menggendong tubuh istrinya itu menuju penbaringan mereka. Diletakkannya dengan lembut tubuh istrinya di atas kasur. Dengan cepat Ia mulai memautkan kembali bibirnya pada bibir istrinya. Semakin dalam ci*man itu dan semakin menggairahkan.
Kini hasrat mereka semakin menggebu2, namun tiba2 Berlian meresa perutnya semakin tidak nyaman, serta terasa ada cairan yg mengalir di areanya.
"Tunggu" ucap Berlian akhirnya.
"Kenapa?" balas Juno yg sudah di selimuti gairah yg menggebu.
"Aku ke kamar mandi dulu ya, aku merasa tidak nyaman" ucap Berlian.
Juno terlihat tidak rela, namun akhirnya dia menghentikan aktifitasnya dan mengizinkan Berlian ke kamar mandi. Berlianpun segera berlari menuju kamar mandi.
"Ini pertama kalinya, dia pasti merasa canggung" gumam Juno saat melihat istrinya berlari menuju kamar mandi.
"Akh sial, aku sudah tidak tahan" gumamnya lagi seraya menutupu tubuhnya dengan selimut.
Tak berapa lama Berlian keluar dengan wajah yg terlihat pucat.
"Hei kenapa, apa kau sakit?" tanya Juno terlihat cemas.
Berlian hanya menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa, wajahmu seperti tidak baik2 saja?" tanyanya masih dipenuhi kecemasan.
"Aku datang bulan" ucap Berlian akhirnya.
"Hah, sekarang?" tanya Juno kaget. Berlian menganggukkan tanda mengiyakan pertanyaan suaminya itu.
"Aakh" Juno menutupi wajahnya dengan tangan bersamaan dengan perasaan kecewa yg timbul dalam hatinya, karena gagal memanjakan adik kecilnya malam ini bahkan harus menunggu beberapa hari kedepan.
Junopun menjatuhkan tubuhnya di kasur dengan kesal.
" Maaf" ucap Berlian akhirnya merasa bersalah.
"Bukan salahmu, istirahatlah. Aku mau ke kamar mandi dulu" balas Juno mencoba untuk menahan gejolaknya sendiri agar tidak mengganggu istrinya.
Berlian hanya mengangguk dan mulai menuju pembaringan untuk tidur. Apalagi yg akan mereka lakukan selain tidur.
Sedangkan Juno dengan perasaan kecewa menuju kamar mandi, mencoba untuk menenagkan dirinya dan menghibur adik kecilnya. Hanya itu yg bisa Ia lakukan.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....