Berlian

Berlian
Akhirnya Dapat


__ADS_3

Malam menunjukkan pukul 10.45, Juno akhirnya tiba di rumahnya setelah terlebih dulu mengantarkan Radit. Juno memasuki gerbang rumahnya dan disambut oleh beberapa penjaga keamanan di rumah itu.


"Selamat malam Tuan Juno" sambut penjaga keamanan pada Juno dengan sopan.


Juno hanya membalas dengan anggukan kecil tanpa menghentikan langkahnya memasuki rumah utama.


"Selamat malam Tuan" sambut pula beberapa pelayan serta buk Mega.


"Martha uda pulang buk?" tanya Juno pada buk Mega.


"Oh iya tadi nona Martha titip pesan kalau malam ini mau nemanin mamahnya nak Rangga di rumah sakit Tuan" Jelas buk Mega


"Kalau Berlian, apa sudah tidur?" tanya Juno lagi.


"Saya kurang tau tuan, tapi nona Berlian baru saja naik kekamar setelah tadi habis nerima tamu" jelas buk Mega.


"Tamu, siapa yg datang?" tanya Juno menyelidiki.


"Itu tuan, tadi nona Mutiara datang, sepertinya ada hal penting yg mereka bicarakan" jelas buk Mega kembali.


Mutiara? untuk apa lagi dia kemari? batin Juno tdak senang.


Junopun mengangguk paham dan bergegas untuk menuju ke kamarnya.


***


Berlian masih duduk di pinggiran kasurnya dengan mata menerawang. Pikirannya terus tertuju pada pembicaraannya dengan Mutiara beberapa saat yg lalu. Apa mungkin mamah Sekar benar penyebab kematian ayah dan ibunya? jika benar rasanya sangat sulit baginya untuk menerima kenyataan itu.


"Ian" panggil Juno yg kini telah duduk di samping Berlian.


"Eeh kamu uda pulang?" kaget Berlian yg tidak sadar akan kehadiran suaminya. Tanpa menunggu jawaban Juno, Berlian bergegas bangkit dari duduknya, berniat untuk menyiapkan air mandi untuk suaminya itu.


Juno segera menarik tangan Berlian dan menjatuhkan wanita itu diatas pangkuannya.Tak lupa Juno melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya itu.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Juno yg mengerti kegelisahan yg dialami Berlian saat ini.


Berlian sangat ingin bertanya mengenai mamah Sekar yg tertuduh sebagai dalang pembunuhan kedua orang tuanya. Apakah hal itu benar?


Namun karena takut mendapat jawaban yg hanya akan melukai hatinya, Berlianpun terlihat ragu untuk menanyakan hal itu, sehingga terjadi keheningan beberapa saat.


"Apa kehadiran Mutiara untuk membahas masalah ibunya yg sudah ku jebloskan kepenjara?" Juno akhirnya membuka suara.


"Emm" balas Berlian singkat.


"Lalu apa tanggapanmu?" tanya Juno berikutnya.


"Apa benar mamah Sekar melakukan hal itu?" tanya Berlian pula ragu2.


Juno semakin mempererat pelukannya pada Berlian seraya menyandarkan kepalanya pada punggung Berlian.


"Benar. Apa kali ini kau masih akan memaafkannya?" tanya Juno.


Penyataan Juno seketika membuat hati Berlian serasa bagai tersambar petir. Sakit dan amat sangat sakit.


Mamah. Kenapa mamah Sekar setega itu, apa salah ayah dan ibu? batin Berlian.


Berlianpun kembali terdiam dan tidak menanggapi perkataan Juno.


Namun sesaat kemudian, Berlian memberikan jawaban yg membuat Juno hampir tak percaya.


"Aku akan memaafkannya" balas Berlian kemudian.


Juno mengangkat kepalanya untuk melihat wajah wanita yg sedang di peluknya itu. Apa mungkin istrinya memiliki hati sebesar itu?


"Bagaimanapun aku telah menganggapnya seperti orang tuaku sendiri, jadi apapun kesalahannya aku akan memaafkannya" lanjut Berlian.


Apa aku menikahi seorang malaikat? batin Juno.


"Tapi memaafkannya bukan berarti membebaskannya kan?!" lanjutnya lagi.


Juno terlihat mengerutkan alisnya.


"Aku akan memaafkannya tapi aku akan membiarkannya menerima hukuman akan perbuatannya, dia harus di hukumkan?" ucapnya dengan nada bergetar menahan tangis.


Juno mengusap2 kepala istrinya itu untuk menenangkannya.


"Benar, dan aku akan pastikan dia menerima hukuman yg setimpal" balas Juno.


Ternyata aku menikahi manusia biasa. Batin Juno.


Tetapi hatinya luar biasa. Lanjutnya.


***


Juno menghampiri Berlian setelah selesai membersihkan dirinya. Menerima kebenaran tentang kematian kedua orang tuanya membuat Berlian jadi tidak bisa tidur.


"Apa kamu masih sedih?" tanya Juno seraya duduk tepat disamping Berlian.

__ADS_1


"Aku hanya tidak menyangka kalau mamah Sekar ternyata lebih jahat dari pemeran antagonis yg ada ti TV" ucapnya dengan suara pelan.


"Sekarang kamu sudah tahu semuanya, maka berhenti memberi hati padanya lagi" balas Juno.


Berlian hanya membalas dengan anggukan kecil.


"Baiklah kalau begitu suamimu yg baik ini akan menghiburmu" ucap Juno seraya tersenyum nakal.


"Caranya?" balas Berlian dengan polosnya.


"Aku punya permainan. Pertama kamu harus tutup mata" ucap Juno.


"Kenapa pake tutup mata segala?" Berlian mengerutkan alisnya.


"Karena itu langkah pertama" balas Juno, akhirnya Berlian menurut dan mulai menutup matanya.


"Ingat ya, jangan buka mata sebelum ada perintah" lanjutnya.


"Emm" balas Berlian singkat.


"Sekarang angkat kepalanya sedikit mendongak" lanjut Juno.


Berlianpun kembali menuruti ucapan suaminya itu.


"Uda siap belum, kalau uda siap angguk aja" ucap Juno lagi.


Berlianpun kembali merespon dengan memberi anggukan. Juno tersenyum puas seraya mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya itu.


CUP.. Juno mendaratkan bibi*nya pada bibi* istrinya itu.


DEG.. Berlian merasakan jantungnya yg seketika berdegup kencang.


Permainan macam apa ini, dasar. Batin Berlian.


Namun sesaat kemudian Berlian mulai menikmati hal itu. Tidak mendapat penolakan dari istrinya, Juno semakin melakukan aksinya. Tangannya mulai menjelajahi area2 sensitif Berlian.


Hingga menghentikan pautan itu untuk sesaat.


"Aku minta malam ini boleh tidak?" bisik Juno di telinga Berlian.


Berlian membuka matanya, tanpa sadar pipinya memerah mendengar ucapan Juno barusan.


Apa harus malam ini? batin Berlian ragu hingga membuatnya hanya terdiam tanpa memberi jawaban.


Juno tersenyum kecut.


"Yaudah tidur gih" ucap Juno kemudian mencoba memahami situasi istrinya itu.


Gaboleh nolak, melayani suamikan kewajiban istri. batin Berlian akhirnya.


"Kok tidur katanya mau itu" ucap Berlian yg berhasil membuat pipinya sendiri memerah, sedangkan Juno tersenyum antusias.


"Kamu yakin?" tanya Juno dengan antusiasnya.


"Yakin" balas Berlian.


Akhirnya malam itupun menjadi malam yg penuh kerja keras bagi kedua ingsan itu.


***


Disisi lain, Mutiara masih asik dengan kegelisahannya. Usahanya untuk meminta bantuan Berlian sepertinya tidak membuahkan hasil. Akhirnya Mutiara memutuskan untuk menghuhungi seseorang yg mungkin bisa membantunya.


Tut..tut..tut.. Suara menandakan panggilan sedang terhubung.


πŸ“ž ?: "Halo!" ucap salah seorang di balik telpon.


Mendengar suara di seberang telpon, Mutiara justru terdiam.


πŸ“ž ?: " Halo, siapa ini?" ucap orang itu lagi.


πŸ“ž Mutiara: " Halo, ini aku Mutiara" balas Mutiara akhirnya.


πŸ“ž ?: "Mutiara, ada apa?" tanyanya terdengar heran.


πŸ“ž Mutiara: " apa ada waktu untuk bertemu besok? ada hal penting yg ingin aku katakan" balas Mutiara.


πŸ“ž ?: " Baik, dimana?" balas orang itu lagi singkat.


πŸ“ž Mutiara: " Gimana kalau di kafe Kenari jam makan siang?" ucap Mutiara ragu2.


πŸ“ž ? : " ok" balas orang itu seraya memutuskan sambungan telponnya.


"Ihh judes banget sih" Kesal Mutiara.


Tapi gak apa2 Ara, semoga dia bisa membantu kamu kali ini. batinnya melanjutkan.


***

__ADS_1


Pagi menunjukkan pukul 07.15, Juno turun ke lantai bawah untuk melakukan sarapan sebelum berangkat ke kantor. Hari ini terlihat ada yg berbeda dari raut wajah pria tampan itu. Meski akhir2 ini Ia memang terlihat lebih bahagia, namun hari ini terlihat lebih jelas pancaran kebahagian di wajahnya itu.


Bagaimana tidak, sepanjang Ia turun dari kamar tidurnya tak henti2nya menyunggingkan senyum di wajahnya. Olahraga yg telah dilakukannya semalam benar2 berhasil meningkatkan staminanya pagi ini.


"Kamu kenapa sih No?" tanya Martha yg sudah lebih dulu berada di meja makan dan menatap heran pada Juno.


"Emm, ada apa?" balasnya balik bertanya.


"Kamu kenapa senyum2 terus, lagi kesambet?" ucap Martha.


"Akh enggak, Oh iya kukira ka Martha di RS?" balasnya mengalihkan.


" Aku pulang untuk mandi dan ganti baju" jelas Martha.


"Kan di RS juga ada kamar mandinya" balas Juno pula.


"Kamu kan tahu dari dulu kk gak suka bau rumah sakit apa lagi mandi di rumah sakit" balas Martha.


"Gak suka bau rumah sakit tapi betah di rumah sakit sampai nginep" Ejek Juno.


" Hmm. Ian mana, kok enggak ikut sarapan?" tanya Martha mengacuhkan ejekan Juno.


Namun belum mendapat respon dari Juno akan pertanyaannya, Berlianpun menampakkan diri dan ikut gabung di meja makan.


"Pagi ka Martha" sapa Berlian dengan wajah yg berseri2.


"Pagi Ian" balas Martha dengan tersenyum singkat. Namun seketika merasa heran dengan tingkah kedua suami istri itu yg terlihat kikuk dan canggung satu sama lain.


Ni berdua kesambet apa sih?" batin Martha.


Di balik kebingungan Martha, ada buk Mega yg tersenyum senang melihat kedua sejoli itu.


***


Jam menunjukkan pukul 12.15 siang, Radit memasuki kafe Kenari dengan berjalan santai. Matanya tertuju pada seorang gadis yg sedang duduk di salah satu meja. Gadis itu tersenyum padanya seraya melambaikan tangan kanannya. Tanpa basa basi Radit menghampiri gadis itu dan ikut duduk di meja yg sama.


"Ada perlu apa ngajakin aku ketemu disini?" tanya Radit tanpa basa basi.


"Kamu mau pesan apa?" tanya gadis itu pula mengalihkan.


"Aku datang kesini tidak untuk makan, sekarang katakan apa yg kau inginkan dariku, Mutiara?" balas Radit dengan serius.


"Baiklah, aku akan katakan langsung tujuanku. Aku yakin kau pasti tahu mengenai mamahku yg di tahan di kantor polisi kan?" tanya gadis itu akhirnya yg merupakan Mutiara.


"Benar, aku tahu hal itu. Tapi jika kau memanggilku hari ini untuk meminta bantuanku untuk membebaskan mamahmu itu. Maaf, aku tidak bisa dan aku tidak ada wewenang untuk membebaskannya" Jelas Radit.


"Aku tahu, tapi kau dan Tuan Juno itukan dekat, aku yakin kau pasti bisa membujuknya agar mau melepaskan mamahku" Mohon Mutiara.


"Kalau kau mencari orang yg lebih dekat dengan Juno, kenapa kau tidak datang pada Berlian?" balas Radit.


"Aku sudah menemui Ian semalam, tapi sepertinya dia tidak ingin membantuku" keluh Mutiara.


"Kalau Berlian yg jelas2 selalu membantumu dan memaafkan semua kesalahanmu selama ini, sudah enggan membantumu sekarang, atas dasar apa kau berharap aku akan membantumu?" balas Radit terdengar ketus.


Mendengar ucapan Radit, Mutiara hanya bisa terdiam. Benar, atas dasar apa dia berharap bahwa Radit akan menolongnya?.


"Sekarang aku tanya sama kamu. Apa kamu menyalahkan Berlian, yg tidak ingin membantumu membebaskan mamahmu dari permasalahannya saat ini?" tanya Radit.


"Apa aku boleh menyalahkannya?" tanya Mutiara pula.


"Menurut mu?" balas Radit dengan menaikkan sebelah alisnya, yang mengiasyaratkan kalau Mutiara sangat tidak layak memikirkan hal itu.


Mutiara kembali terdiam.


"Aku hanya ingin sampaikan samu kamu, kalau hari ini kamu merasa dirimu sendiri dan tidak punya tempat untuk bergantung. Maka pikirkanlah posisi Berlian saat kedua orang tuanya satu persatu meninggalkannya dan dia tidak memiliki siapapun sebagai tempatnya untuk berlindung" ucap Radit yg berhasil membuat Mutiara meneteskan air matanya.


Benar, Ian pernah ada pada posisi ini. Harus kehilangan orang2 yg Ia sayangi dan tempatnya untuk bergantung. Apakah yg ku alami saat ini adalah karma untuk ku? batin Mutiara sesaat.


Tidak, ini sungguh berbeda. Setidaknya dulu Berlian memiliki Juliana dan Mentari sedangkan aku tidak ada siapapun disisiku. batinnya kemudian.


"Tapi Ian memiliki sahabat seperti Juliana dan ka Mentari, bahkan sekarang memiliki keluarga yg sangat baik padanya, dan sangat baik sebagai tempatnya untuk berlindungkan?" ucap Mutiara masih berusaha melakukan pembelaan.


" Itu karena Berlian memiliki hati yg baik dan tulus, jadi dia layak mendapatkan itu" balas Radit dan kembali membungkam Mutiara.


"Perbaiki hatimu, ubahlah sifat dan pikiran kotormu itu. Aku yakin kamu sangat paham apa yg aku maksudkan" Ucap Radit seraya bangkit dari duduknya.


Mutiara yg tadinya hanya menunduk kini mendongakkan kepalanya melihat kearah Radit.


"Apa yg salah denganku?" tanya Mutiara.


"Renungkanlah, apa yg salah denganmu dan bagaimana kau harus memperbaikinya. Aku masih ada kerjaan, aku pergi dulu" lanjut Radit seraya pergi meninggalkan Mutiara yg masih terduduk diam di tempatnya.


BERSAMBUNG.........


Assalamualaikum... Halo semuanya apa kabar? Semoga dalam keadaan sehat selalu.πŸ€—πŸ˜‡


Mohon ma****af karena Novel Berlian baru update lagi dan maaf juga kalau ceritanya semakin tidak menarikπŸ™.

__ADS_1


Namun p****enulis berharap semoga teman2 sekalian, masih sedia untuk membaca dan meninggalkan jejak di komentar.. Terima kasihπŸ₯°πŸ˜‡


__ADS_2