
Jam menunjukkan pukul 08.15 pagi, terlihat Juno sedang duduk di kursi kerjanya dengan pandangan yg terlihat kosong. Dimeja kerjanya terlihat sebuah amplop, amplop yg didapatnya dari panti asuhan yg tak lain adalah amplop yg berisi surat pesan terakhir Tari.
Tok Tok Tok...
Suara ketukan pintu terdengar, Raditpun memasuki ruangan kerja Juno tanpa menunggu persetujuan dari empunya ruangan. Radit berdiri tepat di depan meja kerja Juno menunggu aba2 dari bosnya itu.
Juno menyodorkan amplop yg terletak di meja pada Radit. Tidak menunggu waktu lama, Raditpun mengambil amplop tersebut dan melihat isi dari amplop tersebut. Seketika Radit membelalakkan matanya saat melihat foto seorang gadis yg begitu Ia kenal yg tak lain adalah Berlian.
Dengan hati yg semakin penasaran, Raditpun segera membuka sepucuk surat yg terlihat kusut bekas remasan. Raditpun membaca surat itu dengan seksama, Ia terlihat gelisah dan tanganx sedikit bergetar.
Radit: "Apakah ini surat permintaan terakhir Tari?" tanya Radit semakin gelisah.
Terlihat Juno menghembuskan nafasnya kasar. Junopun menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Radit. Radit tersenyum getir menanggapi anggukan Juno.
Radit: "Dia terlihat manis" Ucap Radit berusaha santai.
Juno: "Sampai sekarang aku tidak mengerti mengapa Tari menjadikan permintaan konyol ini sebagai permintaan terakhirnya, apa dia tidak memiliki keinginan yg lebih baik dari pada hal ini?" ucap Juno dengan nada kesal, terlihat jelas raut wajahnya yg frustasi bercampur dengan kesedihan.
Radit: :"Jadi apa yg akan kamu lakukan?" tanya Radit semakin gelisah.
Juno: "Aku sudah berjanji pada Tari untuk mewujudkan permintaan terakhirnya, tapi bagimana mungkin aku bisa menikahi gadis lain tepat di hari yg harusnya menjadi hari pernikahanku bersama Tari? aakhh.. Aku benar2 hampir gila." Juno mengacak2 rambutnya frustasi.
Radit hanya terdiam, Ia sendiri sangat gelisah dengan hal ini. Bagaimana jika Juno benar2 menikahi Berlian, bagaimana dengan perasaannya pada Berlian yg sudah Ia simpan selama ini.
Namun disisi lain Ia jg sadar bahwa cinta Juno pada Tari sangatlah besar, sehingga hal yg menjadi keinginan Tari adalah kewajiban bagi Juno. Tetapi jika Juno menikahi Berlian tanpa rasa cinta, bahkan cintanya yg sepenuhnya masih milik orang lain, apakah Berlian akan bahagia. dan bagaimana dengan dirinya, apakah cintanya akan berakhir begitu saja?
Hal itulah yg saat ini berkecamuk dalam pikiran Radit. Ia sangat gelisah dengan keputusan yg akan di ambil oleh Juno.
Juno: "Kamu tidak ada masukan dengan hal ini apa?" ketus Juno saat melihat Radit yg terdiam tanpa reaksi akan ucapannya.
Raditpun tersentak dan berusaha mengembalikan fokusnya pada ucapan Juno.
Radit: "Iya kenapa?" tanya Radit berusaha santai.
Juno: "Aku butuh pendapatmu dengan masalah ini. Menurutmu, aku harus gimana?" tanya Juno mengharapkan saran dari Radit.
Radit: "Ikuti kata hatimu, apa kau menginginkan gadis ini atau tidak? karena kalau dipaksakan hasilnya juga tidak akan baik."
Juno: "Selama ini aku tidak pernah menginginkan siapapun selain daripada Tari. Tapi aku telah berjanji pada Tari, dan aku tidak mungkin mengingkari janjiku pada Tari" ucap Juno semakin frustasi.
Aku mengerti mengapa Tari ingin menyerahkan Berlian pada Juno, itu karena Ia merasa Juno adalah orang yg tepat untuk menjaga Berlian setelah Ia pergi. Hal itu memang benar, Juno adalah pria yg mapan, baik serta bertanggung jawab. Ia juga akan menjadi pria yg begitu penyayang bagi wanita yg Ia cintai. Tetapi bagaimna dengan ku, bagaimna dengan perasaanku pada Berlian? Batin Radit.
Radit sendiri merasa frustasi dengan situasi ini. Ia yg selama ini merupakan tempat bagi Juno meminta solusi saat menemui jalan buntu, kini diam tanpa kata.
Radit: "Aku tidak bisa memberikan komentar apapun terhadap hal ini, aku hanya bisa mengatakan padamu agar kau mengambil keputusan yg tidak akan kau sesali nantinya" ucap Radit.
Adapun dalam hatinya Ia berharap agar Juno menolak permintaan Tari untuk menjadikan Berlian sebagai pengganti dirinya pada pernikahan Tari dan Juno.
Juno: "Baiklah, aku ingin menemui gadis itu, keputusan akan aku serahkan padanya" Ucap Juno setelah memikirkannya beberapa lama.
__ADS_1
Radit:"Maksudmu?" tanya Radit mengingingkan penjelasan.
Juno: "Aku akan menemui gadis itu dan menyampaikan permintaan Tari ini padanya, setelah itu terserah padanya, apakah Ia ingin menikah denganku atau tidak. Aku tidak akan memaksanya" Jelas Juno.
Radit: "Kalau dia menerimanya?" tanya Radit sedikit cemas.
Juno: " maka aku akan menihakinya tepat di hari yg seharusnya menjadi hari pernikahanku dengan Tari" Ucap Juno dengan suara yg sedikit bergetar.
Sejujurnya Ia sangat enggan membicarakan tentang pernikahan saat ini, karena itu adalah hal yg membuatnya mengingat tentang Tari dan membuatnya merasa sedih. Namum keputusan inilah yg dapat Ia ambil untuk saat ini.
Mendengar ucapan Juno Radit menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar, ada perasaan cemas di dalam hatinya, namum disisi lain Ia juga tidak bisa menjadi penghalang bagi Juno untuk mewujudkan permintaan terakhir Tari padanya, karena Ia takut itu akan menjadi beban yg akan terus dipikul oleh Juno sepanjang hidupnya.
Juno: "Cari tahu tentangnya, dan dimana aku bisa menemuinya. Aku ingin menemuinya secepat mungkin" ucap Juno
Radit: "Baik, aku akan mengabarimu" Raditpun berlalu meninggalkan ruang kerja Juno dengan perasaan yg tidak dapat Ia jelaskan.
Disisi lain Berlian sedang berjalan di koridor kampus, tiba2 seseorang merangkulnya dari belakang. Sontak Berlianpun kaget dan melihat orang tersebut yg tak lain adalah sahabatnya Juliana.
Berlian:" Ih Ana ngagetin aja deh" ucap Berlian.
Juliana:" Hehe maaf2." ucap Juliana sambil mengangkat kedua tanganx. Tiba2 ponsel Juliana berdering yg menunjukkan panggilan dari Radit.
Juliana:" Tumben ka Radit nelpon jam segini" ucap Juliana heran. Sedangkan Berlian hanya menatap sahabatnya yg sedang menjawab telpon itu.
📞Juliana: Ada apa ka?
📞Juliana: iya nih lagi sama Ian, kenapa?
Berlian yg disebut namanya menatap heran, tiba2 saja Ia merasa sedikit gugup.
📞Radit: sampein ke dia kakak mau ngajak dia makan siang di resto dekat kampus, nanti kakak jemput pas jam makan siang.
📞Juliana: kenapa ngak nelpon orangx langsung sih kenapa harus lewat aku? ketus Juliana kesal.
📞Radit: uda deh gak usah bawel sampein aja, kakak tutup. bye.
Sambunganpun terputus.
Juliana: " Ih nyebelin banget sih ka Radit" Ucap Juliana semakin kesal.
Berlian: " Kenapa An?" tanya Berlian heran melihat sahabatnya yg tiba2 terlihat kesal.
Juliana: " Biasa ka Radit bikin kessel. Oh iya, ka Radit bilang mau ajak kamu makan siang di resto dekat kampus. Katanya nanti jam makan siang ka Radit bakal jemput."
Berlian yg mendengar ucapan Juliana hanya tersenyum malu2. Juliana yg menyadari reaksi sahabatnya itu malah semakin menggodanya.
Juliana:" Cieee,, yg uda makin deket. Jangan lupa PJ ya" Ucap Juliana yg membuat Berlian semakin malu hingga pipinya merah.
Berlianpun hanya tersenyum kemudian berlari meninggalkan Juliana di Koridor kampus.
__ADS_1
Juliana:" Eh Ian tunggu" teriak Juliana seraya berlari mengejar Berlian.
*Resto X dekat kampus.
Radit dan Berlian telah sampai di depan resto yg di maksud. Radit segera membukakan pintu mobil untuk Berlian. Berlianpun keluar dari mobil dengan kemudian tersenyum pada Radit.
Berlian:" Makasih ka" ucapnya
Radit hanya membalasnya dengan anggukan sambil tersenyum singkat. Raditpun segera membawa Berlian memasuki resto untuk menemui Juno yg telah menunggu mereka di dalam.
Merekapun tiba di sebuah meja khusus tamu VIP, Berlianpun kaget saat melihat pria yg Ia temui di panti asuhan beberapa waktu lalu.
Radit:" Ayo duduk" ucap Radit seraya menyediakan kursi bagi Berlian untuk duduk.
Tanpa kata apapun Berlian hanya menurut untuk duduk.
Juno:" Kamu Berlian?" tanya Juno basa basi, yang sebetulnya Ia sudah tahu bahwa gadis di hadapannya saat ini memanglah Berlian.
Berlian:" Ia" jawabnya singkat, Ia kemudian melirik pada Radit yg hanya direspon oleh Radit dengan senyum tipis.
Tanpa membuang waktu, Junopun menyodorkan amplop yg berisikan surat Tari pada Berlian.
Berlian:" Apa ini?" tanyanya heran.
Juno:" kamu bisa melihatnya" ucap Juno lalu meminum segelas kopi yg sudah tersedia di meja mereka serta beberapa menu makanan lainnya.
Berlianpun segera mengambil amplop tersebut kemudian membaca surat yg terdapat di dalamnya. Sontak Ia kaget dan menatap Juno dan Radit secara bergantian. Juno yg ditatap hanya memperlihatkan ekspresi dinginnya, sedangkan Radit hanya menunduk tanpa mahu melihat kearah Berlian.
Berlian:" Apa2an ini, apa maksud semua ini? "tanyanya membutuhkan penjelasan.
Radit melihat ke arah Juno, dilihatnya Juno hanya diam seraya menikmati kopi pahitnya. Iapun akhirnya memberikan penjelasan pada Berlian.
Radit:" Surat ini adalah surat yg di tinggalkan oleh Tari sebelum Ia pergi. Ia meminta ini sebegai permintaan terakhirnya pada Juno dan ini jg bisa dikatakan sebagai permintaan terakhirnya padamu" Jelas Radit pada Berlian berusaha setenang mungkin.
Berlian hanya terus menatap surat itu, benar surat itu adalah tulisan tangan ka Tari yg sangat Ia kenal. Tapi kenapa ka Tari harus meminta hal yg sulit seperti ini. Itulah yg saat ini dipikirkan oleh Berlian.
Berlian:" Apa dia yg namanya Juno?" bisik Berlian pada Radit yg sebenarnya dapat di dengar oleh Juno. Raditpun mengangguk mengiyakan.
Berlian membulatkan matanya karena kaget.
Mengapa ka Tari menginginkan aku menikah dengan pria dingin ini? batin Berlian.
Juno:" Kau boleh memikirkannya, aku tidak akan memaksamu. Kau boleh memutuskan sesuai keinginanmu, apapun keputusanmu aku akan menyetujuinya"Ucap Juno setelah menghabiskan kopinya.
Juno:" Kalian lanjutkan makan siangnya, aku sudah selesai" Ucapnya kemudian. Junopun berlalu meninggalkan Radit dan Berlian yg masih duduk di meja makan.
BERSAMBUNG......
ASSALAMUALAIKUM... PARA TEMAN2 PEMBACA, MAAF BARU SEMPAT UPLOAD.🙏🙏 SEMOGA KALIAN MASIH BERKENAN MEMBACA.😊 SILAHKAN TINGGALKAN LIKE DAN KOMEN KALIAN YA. TERIMA KASIH!😘
__ADS_1