
Juno melajukan mobilnya menyusuri jalan perkotaaan. Berlian menatap heran pada jalan yg di laluinya, yg terlihat tidak mengarah ke kediaman mereka.
"Kita mau kemana, bukannya kita mau langsung pulang ya?" tanya Berlian heran.
"Ikut saja" balas Juno singkat.
Berlian memanyunkan bibirnya karena tidak mendapat jawaban pasti dari Juno, sedangkan Juno melirik sekilas pada istrinya seraya tersenyum.
Tidak lama Juno menghentikan mobilnya di sebuah mall besar, Junopun segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Berlian.
"Ngapain kita kesini?" tanya Berlian heran.
"Kencan" balas Juno dengan santai kemudian menggandeng tangan Berlian untuk masuk ke dalam mall. Cukup kaget Berlian mendengar ucapan suaminya itu, namun segera buyar karena Juno sudah menariknya memasuki mall besar itu.
Mall yg begitu besar terlihat sepi bahkan tidak ada satu orangpun pengunjung yg terlihat, hanya ada beberapa pegawai mall itu saja.
"Hari apa ini, kenapa mall sebesar ini bisa sangat sepi bahkan tidak ada satupun pengunjung selain kita berdua?" tanya Berlian dengan sangat heran.
"Itu hal yg bagus, jadi tidak ada lagi yg bisa melirikmu seperti di kampus tadi" balas Juno dengan santainya.
"Hah, apa maksudmu, apa mungkin kau sengaja mengosongkan mall ini?"
"Tentu saja, aku sudah menutup mall ini dan hanya kita berdua pengunjung hari ini, jadi kau bebas melakukan apa saja aku akan mengikuti kemanapun kau mau berjelajah di mall ini hari ini" jelas Juno seraya tersenyum puas.
Apa itu masuk akal? pikir Berlian.
"Kenapa kau melakukan ini? ini sangat berlebihan" balas Berlian tak habis pikir dengan perbuatan suaminya itu.
"Apanya yg berlebihan, apa kau sangat suka menjadi pusat perhatian pria?" balas Juno dengan kesal.
"Padahal dia yg jadi pusat perhatian para gadis" gumam Berlian ikut kesal.
"Ayo" Juno menarik tangan Berlian menuju salah satu butik yg menyediakan baju2 yg mahal dan ternama.
"Ngapain kesini?" tanya Berlian heran namun tidak dipungkiri matanya takjub melihat baju2 yg terpajang disana.
"Makan" balas Juno dengan santai.
"Inikan butik" protes Berlian dengan polosnya.
"Anda mencari model yg seperti apa nona, kami memiliki banyak model terbaru" ucap seorang pelayan butik itu.
"Tunjukkan semua model terbaik kalian pada istri saya" jelas Juno.
"Baik tuan ,sebelah sini nona" ucapnya seraya mengajak Berlian melihat baju2 di butik mereka.
"Ehh aku kan tidak ingin membeli baju, lagian di lemariku sudah sangat banyak baju kenapa harus beli lagi" Berlian menolak untuk membeli baju baru.
"Lihat saja beberapa" balas Juno seraya duduk di kursi tunggu khusus yg telah di siapkan oleh pegawai butik.
Akhirnya Berlian menurut dan mencoba beberapa baju yg disiapkan oleh pegawai butik. Beberapa jam kemudian mereka pun selesai berbelanja setelah mengunjungi beberapa toko baju, sepatu, tas dan perhiasan. Berlian terlihat memanyunkan bibirnya.
"Kenapa kau terlihat tidak senang, apa yg tadi masih kurang?" tanya Juno saat melihat reaksi Berlian.
"Apanya yg kurang, aku justru sangat lelah mencoba baju dan sepatu yg sangat banyak" balas Berlian.
"Makanya aku membeli semuanya agar kau tidak perlu mencobanya lagi" jelas Juno tanpa beban.
"Itu membuang2 uang, di rumah juga sangat banyak baju bahkan aku belum memakai beberapa" balas Berlian merasa tidak senang.
"Istriku tidak boleh kekurangan apapun, jadi menurutlah" balasnya Seraya menarik tangan Berlian menuju toko sepatu lainnya.
__ADS_1
"Hah lagi? aku benar2 tidak menginginkannya" keluh Berlian.
"Lihatlah beberapa" balas Juno.
"Kau selalu mengatakan itu tapi kau tetap membeli semuanya" keluh Berlian lagi.
"Baiklah, kalau begitu kau putuskan mau kemana?" putus Juno akhirnya.
"Aku mau makan es krim" ucapnya kembali bersemangat.
"Eemm" balasnya seraya mengikuti Berlian menuju toko es krim.
Tidak menunggu waktu lama Berlian telah memegang satu cap eskrim rasa vanila ukuran jumbo, Berlian sangat antusias menikmati es krimnya.
"Apa kau bisa menghabiskan es krim sebanyak itu?" tanya Juno menatap heran pada istrinya.
"Bisa" balasnya singkat dengan masih terus memakan es krimnya.
"Aa" ucapnya saat menyodorkan sesendok es krim pada Juno.
"Aku tidak suka makan es krim" tolak Juno.
"Aaa" Tawar Berlian tidak mau menyerah. Akhirnya Juno menurut dan memakan es krim dari Berlian.
"Enak kan?" tanyanya seraya tersenyum pada Juno.
"Emm" balasnya singkat.
"Aku mau nonton" Ucap Berlian kemudian setelah menghabiskan es krimnya yg tentunya di bantu oleh Juno, orang yg mengaku tidak menyukai es krim.
Hari ini Berlian benar2 menggunakan kesempatan ini untuk berduaan dengan Juno.
Merekapun memasuki bioskop yg menayangkan film komedi romanse. Hanya ada mereka berdua yg terlihat di dalam bioskop, tidak perlu heran mall saja sudah di kosongkan oleh Juno apalagi bioskop.
Berlian terlihat menikmati filmnya, tak jarang terlihat tertawa terbahak2 karena adegan lucu dalam film. Juno justru fokus pada istrinya itu, tak jarang pula terlihat tersenyum melihat tingkah istrinya yg kadang tertawa kadang sedih terbawa suasana film.
Berlianpun terdiam kaku saat film yg di tontonnya menampilkan adegan k*ss oleh pemainnya. Juno menatap heran dengan reaksi istrinya itu, Iapun mengalihkan pandangannya ke arah layar dan melihat adegan yg masih berlangsung itu. Tiba2 Juno memalingkan wajahnya menatap istrinya dan pandangannya tertuju pada bibir manis Berlian, Juno menelan salivanya.
Sial, apa yg aku fikirkan? batin Juno mengumpat dirinya sendiri.
***
"Aakh aku sangat lapar" rengek Berlian pada Juno setelah keluar dari bioskop. Entah sejak kapan Berlian mulai terlihat sangat santai bersama suaminya itu, bahkan tidak malu lagi untuk merengek minta ini dan itu.
"Ayo kita cari resto dekat sini" ajak Juno.
"Aku mau makan di tempat biasa aku sering makan, tempatnya sederhana tapi makanannya sangat enak" jelas Berlian antusias.
"Tempat biasa sering makan, memangnya dengan siapa kau sering makan disana?" tanya Juno menyelidik.
"Dengan Ana saat pulang kampus, aku juga pernah kesana beberapa kali dengan ka... " Berlian menutup mulutnya karena hampir menyebutkan nama ka Radit.
"Ka siapa?" tanya Juno semakin menyelidiki.
"Ayolah aku lapar" balas Berlian mengalihkan.
"Jawab dulu, kau pernah pergi kesana dengan siapa?" Tegas Juno tak mau mengalihkan.
"Ka Radit" ucap Berlian akhirnya seraya melirik suaminya itu, takut jika Juno marah dengan ucapannya barusan.
"Sedekat apa kalian sebelumnya?" tanya Juno terlihat sedikit kesal.
__ADS_1
"Enggak dekat kok, ka Radit cuman pernah nolongin aku beberapa kali" jelas Berlian dengan hati2, takut kalau Juno salah paham dan marah.
"Hmm, mulai sekarang jgn pernah mencoba untuk memikirkan seorang pria lagi" perintah Juno.
"Aku tidak pernah memikirkannya, aku hanya memikirkan tugasku" bantah Berlian.
"Siapa yg mengizinkanmu untuk tidak memikirkan ku?" keluh Juno.
Berlian memutar bola matanya, bingung dengan keinginan suaminya yg menurutnya sangat tidak jelas. Junopun melajukan mobilnya meninggalkan mall. Tak berapa lama Ia menghentikan mobilnya di salah satu warung di pinggir jalan.
"Kenapa disini, kan bukan disini tempat yg aku inginkan" protes Berlian.
" Mulai sekarang kau harus memiliki tempat favorit yg baru, dan hanya aku orang yg akan mendatangi tempat ini bersamamu" balas Juno seraya menarik tangan Berlian memasuki warung makan itu.
"Apa disini makanannya enak?" tanya Berlian.
"Sangat enak, kau akan ketagihan nanti" jelas Juno.
"Memangnya kau sering makan di warung pinggir jalan, bukannya orang kaya sepertimu tidak makan di pinggir jalan?"tanya Berlian heran, namun Juno tidak menanggapi ucapan Berlian.
Tiba2 Berlian mengingat sesuatu.
Apa mungkin ini tempat favorit Juno dan ka Tari? batin Berlian, tiba2 terasa ngilu dihatinya.
Juno menyadari perubahan raut wajah Berlian, dan mengerti apa yg difikirkan istrinya itu.
"Waktu aku kecil aku sering ke tempat ini bersama mamah dan papah, karena pemilik warung ini yg dulu adalah teman sekolah papah, tapi aku tidak pernah menginjak tempat ini lagi setelah kematian papah dan mamah, ini pertama kalinya aku mampir lagi ke tempat ini" Jelas Juno pada istrinya itu untuk menghindari kesalahpahaman.
Pertama kalinya, apa maksudnya dia juga tidak pernah ke tempat ini bersama ka Tari? batin Berlian masih bertanya2.
Melihat reaksi Berlian yg masih terdiam Juno menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Aku tegaskan , ini pertama kalinya aku kembali menginjak tempat ini setelah kematian papah dan mamah. Dan kau adalah orang pertama yg aku ajak kesini" ucapnya mempertegas. Terlihat Berlian tersenyum senang mendengar penjelasan Juno.
"Eem" respon Berlian singkat namun Juno bisa melihat raut kebahagiaan di wajah istrinya itu, sontak Junopun ikut tersenyum.
Tak berapa lama menu makan siang merekapun datang, mereka baru akan menyantap makan siang setelah seharian berjalan di mall bahkan waktu sudah menunjukkan pukul 16.45 sore, mereka makan dengan nikmat dan sesekali terlihat mengobrol santai.
Setelah beberapa menit bergelut dengan makanan mereka, akhirnya mereka menyelesaikan makannya dan keluar dari warung itu.
""Ada tempat lagi yg ingin kau datangi?" tanya Juno saat mereka telah berada di dalam mobil.
"Tidak ada, aku ingin pulang saja, aku sangat lelah seharian berjalan" balas Berlian.
"Apa kau ingin ke villa, disana sangat indah saat malam hari?" tanya Juno.
"Berdua?" tanya Berlian ragu2.
" Memangnya kenapa?" balas Juno.
"Maksudku kita tidak ada persiapan apapun" balas Berlian.
"Itu bukan masalah, kita berangkat sekarang" ucap Juno seraya menancap gas mobilnya menuju daerah pegunungan.
"Istrahatlah di mobil, kita akan sampai disana dalam waktu kurang dari 4 jam" ucap Juno saat melihat Berlian yg sedikit kelelahan, seraya menurunkan sandaran mobilnya agar Berlian bisa berbaring lebih nyaman.
Berlianpun menurut dan mulai memejamkan matanya karena memang dirinya sangat lelah dan mengantuk.
Apa ini yg dinamakan kencan sekaligus bulan madu, aaaa aku senang sekali. Batin Berlian menghantarnya menuju mimpi indahnya.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1