Berlian

Berlian
Radit dan Mutiara


__ADS_3

Radit Menatap layar ponselnya, menunjukkan pukul 05.14 sore. Segera Radit merapikan pekerjaannya, dan memasukkan sebagian berkas yg harus Ia selesaikan di rumah. Disambarnya kunci mobilnya dan segera menuju parkiran untuk pulang.


Radit melajukan mobilnya menyusuri jalan perkotaan yg mulai dipadati kendaraan. Terlihat beberapa mobil sedang memenuhi jalanan dan beberapa motor. Terlihat pula sepasang muda mudi yg sedang bergandeng dengan mesra di atas motor, perempuan itu terlihat memeluk pria yg memboncengnya dengan erat.


Radit tersenyum melihat adegan mesra yg menyapa pandangannya itu. Seketika hatinya ngilu membayangkan kisah cintanya yg tak seindah kisah cinta kebanyakan orang.


1 bulan telah berlalu pasca pernikahan wanita yg dicintainya dengan pria lain. Setelah hari itu Ia tak pernah lagi menemui ataupun menghubungi nomer Berlian, meski hanya sekedar menyapa atau menanyakan kabar.


Raditpun terus menjalankan mobilnya dengan lambat dengan pandangan yg kurang fokus. Tiba2 Ia dikagetkan dengan seseorang yg menyebrang jalan dengan tidak berhati2 dan hampir tertabrak olehnya.


Radit segera menghentikan mobilnya saat orang itu berteriak dan berdiri tepat di ujung mobilnya. Buru2 Radit menghampiri orang itu untuk memastikan, Kalau2 Ia menabrak orang itu dan terluka.


"Maaf saya tidak melihat anda menyebrang, apa anda baik2 saja?" tanya Radit pada orang itu sedikit cemas.


Orang itu hanya menatap pada Radit namun tidak menjawabnya.


"Mutiara?" kaget Radit saat mengenali orang yg hampir di tabraknya adalah Mutiara, yg Ia ketahui adalah saudara tiri Berlian.


Radit menatap heran pada kondisi Mutiara yg Ia lihat saat ini, tampilannya benar2 berantakan.


"Ada apa dengan mu?" tanya Radit saat tidak mendapat respon dari Mutiara. Bukannya menjawab Radit, Mutiara justru menjatuhkan tubuhnya ke aspal dan tak sadarkan diri.


"Ada apa dengan gadis ini?" Gumam Radit heran.


"Hei bangun tidak usah berakting, aku bukanlah sutradara yg sedang mencari bintang film" Kesal Radit yg mengira dirinya sedang dipermainkan oleh Mutiara.


"Hei ada kecoa tuh dekat rambutmu" Pancing Radit agar Mutiara segera bangun. Namun Mutiara tidak memperlihatkan reaksi apapun.


Radit mulai panik dan segera memopong Mutiara dan memasukkannya ke dalam mobil , kemudian segera membawa Mutiara ke rumah sakit terdekat.


*Rumah sakit


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Radit pada dokter yg telah memeriksa kondisi Mutiara.


"Tekanan darahnya sangat rendah. Sepertinya dia kurang istrihat dan mungkin tidak makan beberapa hari" jelas dokter.


"Kurang makan?" tanya Radit heran dengan ekspresi yg dibuat tidak percaya.


Bagaimana gadis sombong ini bisa kekurangan makan? batinnya.


"Benar pak" balas dokter.


"Pasien tidak perlu di rawat inap, saat pasien sadar sudah boleh di bawah pulang. Saya akan menyiapkan resep obat untuknya, usahakan agar pasien istirahat dan makan yg teratur" Jelas Dokter.


"Baik dok, terimakasih" balas Radit.


"Sama2" ucap dokter seraya berlalu meninggalkan Radit.


"Aawh" Suara Mutiara terdengar di balik ruangan.


Radit buru2 menemui Mutiara untuk melihat keadaannya.


"Kau, kenapa kau disini?" sahut Mutiara saat melihat Radit.


"Aku yg membawamu kesini" jawab Radit


"Kenapa aku bisa disini?" tanya Mutiara heran.


"Itu karena kau pingsan di depan mobilku, makanya aku membawamu kesini" jelas Radit.

__ADS_1


"Apa kau sangat miskin sekarang, beli makanpun tidak mampu?" ketus Radit kemudian.


"Iya aku miskin karena kau, kamukan yg buat agensi periklanan itu memutuskan kontraknya denganku?" balas Mutiara tak kalah ketus.


Memutus kontrak. Aku tidak pernah melakukan itu. Apa mungkin Juno yg melakulannya? batin Radit.


Radit tidak menjawab pertanyaan Mutiara.


"Karena kau sangat miskin sekarang, aku akan membantumu mengurus administrasinya. Anggap saja ini sebagai konpensasi karena aku hampir menabrakmu" Jelas Radit kemudian melangkah pergi.


Sedangkan Mutiara hanya diam tak menanggapi ucapan Radit. Tiba2 Radit kembali menemui Mutiara.


" Keluarlah, tunggu aku di parkiran. Aku akan menghantarmu pulang" sahut Radit di balik pintu seraya kembali meninggalkan ruang Mutiara.


*Parkiran


Radit membukakan pintu mobil untuk Mutiara. Bukannya segera masuk, Mutiara hanya menatap heran pada Radit.


Dia pikir dengan berbaik2 denganku saat ini bisa menebus kesalahannya membuatku jadi menyedihkan seperti ini, tidak sama sekali. ketus Mutiara dalam hatinya.


"Kenapa diam?" tanya Radit saat melihat Mutiara yg tidak bereaksi untuk msuk ke mobilnya.


"Tidak perlu aku bisa pulang sendiri" balas Mutiara Jutek.


"Yasudah" balas Radit singkat seraya masuk kedalam mobilnya, dan melajukan mobilnya meninggalkan area parkiran RS.


"Hah, dia beneran pergi? dasar nyebelin" ketus Mutiara pada punggung mobil Radit.


"Eh inikan obatnya tu cewek keras kepala, pake lupa ngasih lagi?" gumam Radit saat menyadari bungkusan obat Mutiara ada dalam mobilnya.


Raditpun memutar mobilnya untuk kembali menemui Mutiara. Dilihatnya Mutiara yg berjalan kaki dengan sempoyongan.


"Buruan naik" Sahutnya pada Mutiara seraya membukakan pintu mobil untuknya.


"enggak perlu" Balas Mutiara.


"Enggak usah kerasa kepala, buruan naik. Ini penawaran terakhir" balas Radit mulai kesal.


Dasar tukang maksa. Batin Mutiara.


Namun akhirnya Ia memutuskan untuk menurut naik ke mobil Radit.


"Tuh obat kamu, jangan lupa di minum" ucapnya seraya menyodorkan bungkusan obat pada Mutiara.


"Emm" balas Mutiara seperlunya seraya menerima bungkusan obat dari Radit.


Tiba2 Radit memberhentikan mobilnya di sebuah rumah makan.


"Kok berhenti?" tanya Mutiara heran.


"Aku tahu kamu lapar, kita makan dulu. Aku lapar" balasnya seraya turun dari mobil.


Sedangkan Mutiara masih tetap memilih untuk berdiam diri di dalam mobil.


Toktoktok. Radit mengetuk kaca mobil segera Mutiara menurunkan kaca mobil untuk melihat Radit.


"Kok enggak turun?" tanya Radit


"Aku enggak makan, kamu aja" balas Mutiara.

__ADS_1


"Aku tau kamu lapar, turun cepetan. Aku enggak mau kamu mati kelaparan dalam mobilku" balas Radit.


"Hisss, Aku masih bisa tahan. Kamu aja yg makan" bantah Mutiara.


" Turun enggak" paksa Radit.


"Tapi aku enggak punya uang" balas Mutiara mulai kesal dengan paksaan Radit.


" Turun. Aku bayarin, cepetan" ucap Radit akhirnya seraya masuk kedalam resto.


Kenapa dia baikin aku sih, diakan benci sama aku? batin Mutiara. Akhirnya Ia memutuskan untuk ikut Radit makan, karena dirinya yg memang sangat lapar.


"Mau makan apa?" tanya Radit saat Mutiara sudah duduk disampingnya.


"Apa aja?" balas Mutiara.


"Nasi goreng seefood dua sama minumnya es teh aja" pesan Radit pada pelayan.


"Oh iya, sama salak buah" pesan Radit berikutnya.


pelayanpun mengangguk, lalu meninggalkan meja mereka.


Itukan makanan kesukaan Berlian, nasi goreng seefood. Belum move on rupanya. Batin Mutiara.


Tidak butuh waktu lama, pelayan resto datang membawakan pesanan mereka.


Dengan cepat mereka menyambar piring masing2 dan mulai menghabiskan isinya. Tidak ada percakapan yg terjadi diantara mereka saat makan, hingga tak membutuhkan waktu lama merekapun telah menyelesaikan makannya.


"Nih makan, sehat. Bagus buat stabilin tekanan darah" Ucap Radit seraya menyodorkan piring salad pada Mutiara.


Mutiara hanya menatap heran pada Radit, kemudian menerima sepiring salad itu dan memakannya.


"Terima kasih" Ucap Mutiara di tengah2 makannya seraya menundukkan kepalanya.


"Sama2" Balas Radit.


"Aku melihatmu sangat terpuruk saat ini. Aku sarankan berhentilah mencari masalah dengan Berlian mulai sekarang" Ucap Radit mencoba mengingatkan Mutiara.


"Jadi kau membantuku hari ini hanya untuk mengatakan ini padaku dan mengejekku?" kesal Mutiara salah paham.


"Tidak, aku membantumu bukan untuk mengejekmu dan bukan karena aku kaasihan padamu. Untuk apa aku kasihan pada orang yg bahkan tidak peduli pada dirinya sendiri" balas Radit.


"Siapa yg tidak peduli pada dirinya sendiri?" balas Mutiara tidak terima.


"Kalau kau peduli pada dirimu sendiri jgn pernah mengganggu kehidupan Berlian, karena kau hanya akan menjerumuskan dirimu dalam masalah" Radit kembali mengingatkan Mutiara.


" Kau mengancamku?" ketus Mutiara


"Aku hanya memperingatimu" balas Radit seraya memanggil pelayan.


Mutiara hanya terdiam, dia tidak mengerti apa maksud dan tujuan Radit mengatakan hal itu padanya.


Apa dia lakukan ini karena peduli padaku, atau dia mencoba melindungi Berlian? Batin Mutiara.


BERSAMBUNG.....


Hi Teman2. Ada adegan antara Radit dan Mutiara,apa kalian setuju Radit dan Mutiara? komen yah😊


Jangan lupa likenya. Terima kasih😘

__ADS_1


__ADS_2