Berlian

Berlian
Pertemuan dengan dr.Wiliam


__ADS_3

Siang itu Juno tak henti2nya menatap sebuah kotak makanan kecil yg dibawanya dari ruamh. Kotak makanan itu diberikan oleh Berlian tadi pagi, untuk menjadi bekal makan siang Juno. Jam menunjukkan pukul 12.15 siang, Juno telah selesai merapikan pekerjaan di meja kerjanya. Bak anak TK yg kesenangan di waktu jam makan, begitu pula reaksi Juno saat menyambar kotak makan siangnya itu.


Dibukanya kotak makan siang itu dengan hati2, dan nampaklah hasil kreasi istrinya yg terlihat menggemaskan itu. Dua bola2 nasi yg di bentuk menyerupai kepala boneka tak ubahnya bekal untuk anak TK, dan beberapa menu pelengkap lainnya.



"Akh istriku sangat menggemaskan" gumam Juno saat melihat bekal buatan Berlian yg berbentuk dua kepala lucu.


Namun belum sempat Juno menyentuh makan siangnya, seseorang mengetuk dari balik pintu ruangannya.


"Permisi bos. Maaf mengganggu waktu anda, saya membawa beberapa berkas yg memerlukan tanda tangan anda sekarang juga" Ucap Rissa saat memasuki ruang kerja Juno.


Junopun menggeser kotak bekal itu kepinggir meja dan menerima berkas yg di sodorkan oleh Rissa. Seketika mata Rissa tertuju pada kotak bekal itu, Rissa terlihat tersenyum dan menahan tawanya.


Ada2 aja si bos bawa bekal ke kantor,mana bekalnya lucu banget lagi. Batin Rissa.


"Ini" ucap Juno seraya menyerahkan kembali berkas2 itu pada Rissa, namun Rissa tertangkap mata oleh Juno sedang melirik pada kotak makanannya.


"Kenapa melirik kotak makananku, kau mau?" ucap Juno.


"Eh emm keliatannya enak bos" balas Rissa pencitraan.


"Tentu saja enak, ini buatan istriku. Tapi maaf aku tidak bisa berbagi denganmu, ini buatan istriku aku akan menghabiskannya sendiri" balas Juno.


Rissa terlihat membulat kan matanya, tidak habis pikir mengapa Bosnya yg dulu sangat tegas sekarang jadi kekanak2an.


"Eh enggak kok bos, kalau begitu saya permisi" ucap Rissa seraya meninggalkan ruangan Juno.


"Rissa tunggu" ucap Juno.


"Iya bos" balas Rissa.


"Hubungi dr. William, minta dia datang menemui saya siang ini" perintah Juno.


"Baik bos" ucap Rissa lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan Juno. Sedangkan Juno mulai kembali dengan aktifitasnya tadi, menikmati bekal pemberian Berlian.


***


Radit melajukan mobilnya menyusuri jalan perkotaan, waktu makan siangnya Ia gunakan untuk mencari seseorang. Setelah beberapa lama mengemudikan mobilnya, sampailah Ia pada tempat yg ingin Ia tuju.


"Jalan kenanga kost Mawar Pertiwi" gumam Radit.


"Akh benar, ini tempatnya." lanjutnya seraya turun dari mobilnya.


Radit melemparkan pandangannya mengelilingi kost2an itu namun terlihat sepi. Sampai akhirnya Radit melihat seorang wanita paruh baya yg sedang menjemur pakaian, Raditpun menghampiri orang itu.


"Permisi" ucap Radit.


"Iya mas, ada yg bisa saya bantu?" tanya wanita itu sopan.


"Ini benarkan kost Mawar Pertiwi?" tanya Radit memulai pembicaraan.


"Benar mas, tapi maaf disini hanya menerima penyewa wanita" ucap Wanita itu menjelaskan, yg ternyata adalah pemilik kost.


"Oh tidak buk, saya hanya ingin mencari teman saya yg mungkin kost disini. Namanya Mutiara" Jelas Radit.


"Oh mbak Mutiara. Iya tadi pagi ada penyewa yg baru masuk namanya Mutiara" balas Wanita itu.


"Kalau boleh tau dia menyewa di kamar mana ya buk?" tanya Radit.


"Kamar A7 mas, sebelah sana" balas Wanita itu seraya menunjukkan kamar yg dimaksud.


"Oh terima kasih buk, apa saya boleh bertamu?" tanya Radit.


"Silahkan mas, tapi tamu pria hanya boleh di teras depan" jelas Wanita itu lagi.


"Siap buk" balas Radit seraya melangkah menuju kamar Mutiara.


Mengapa aku datang kesini ya dan kenapa aku harus mencarinya? akh sudahlah, sudah sampai disini juga. Batin Radit dan semakin mendekati kamar Mutiara.


Tok tok tok. Ketukan Radit di pintu kamar Mutiara, tidak lama pintu itupun terbuka dan menampakkan seorang gadis yg terlihat sangat kucel dan berantakan. Mutiara membulatkan matanya melihat kehadiran Radit, dengan cepat Mutiara menutup kembali pintu kamarnya.


"Aduh kenapa bisa ada dia disini? Aduh aku belum mandi lagi" gumam Mutiara dan segera merapikan rambutnya, menggunakan sedikit lipstik dan bedak.


"Gini aja deh" gumamnya lagi seraya keluar dan menemui Radit kembali.


Disisi lain Radit hanya menatap heran pada pintu yg tiba2 tertutup kembali. "Kenapa wanita sangat hobi menutup pintu sembarangan?" gumamnya seraya berbalik dengan niat ingin pergi, namun pintu terdengar kembali terbuka.


Mutiara keluar dari kamar dengan penampilan yg lebih rapi dan pastinya sudah menggunakan sedikit lisptik dan bedak.


Apa dia harus dandan dulu baru mau keluar, kenapa wanita sangat ribet? Batin Radit.


"Ada apa?" tanya Mutiara.


"Oh iya, silahkan duduk. Maaf hanya bisa di teras" Lanjutnya.


Raditpun menurut dan duduk tepat di samping Mutiara.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Radit seraya melirik kamar kost Mutiara yg terlihat sedikit terbuka dan menampakkan beberapa koran yg berserakan dilantai.


"Em itu, aku lagi cari lowongan kerja di koran" ucap Mutiara seraya merapatkan pintu kamarnya.


"Oh iya, kamu mau minum apa?" lanjutnya.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku hanya sebentar" balas Radit.


"Aku kesini hanya ingin menawarimu kerjaan kalau kau mau" Lanjutnya.


"Kerjaan? aku mau" balas Mutiara seraya tersenyum yg berbinar2 di wajahnya.


Ternyata kalau dia senyum dengan ikhlas manis juga ya. Batin Radit kelepasan.


Sial, stop Radit. Kau hanya ingin membantunya. Batin berikutnya.


"Kau tahu Paradise Hotel?" tanya Radit.


"Iya aku tahu, aku pernah kesana" balas Mutiara.


"Ngapain?" tanya Radit terlihat mengintimidasi seraya mengerutkan keningnya.


"Aku pernah melakukan pemotretan iklan, sewaktu masih menjadi bintang iklan" Jelas Mutiara.


"Oh kirain" balas Radit. Mutiara menatap heran pada ucapan Radit, namun Radit segera melanjutkan pembicaraannya.


"Kalau kau mau aku bisa merekomendasimu untuk bekerja disana, tetapi mungkin hanya bisa sebagai pelayan" Jelas Radit.


"Aku tidak masalah apapun kerjaannya" balas Mutiara.


"Baiklah kalau kau mau, bersiaplah kita berangkat sekarang" ucap Radit.


Mutiarapun terlihat antusias dan segera berlari untuk bersiap2. Mandi sedikit dan berdandan seperlunya, hingga menghabiskan waktu 30 menit untuk membuat Radit menunggu.


"Aku sudah siap" ucapnya saat kembali menemui Radit, Raditpun mengangguk dan bangkit dari duduknya.


"Ayo" ucap Radit.


Raditpun kembali melajukan mobilnya menyusuri jalan perkotaan, sepanjang jalan mereka hanya diam tak bersuara. Namun Radit dapat melihat yg sepanjang jalan, Mutiara terus tersenyum senang.


Sepertinya ada yg mulai berubah dari gadis ini. Dulu dia sangat terlihat sombong, bahkan tidak pernah tersenyum dengan ikhlas. Sekarang wajah sombong itu sudah hilang dan terganti dengan senyuman, bahkan tersenyum untuk hal sekecil ini. Batin Radit.


"Dit, terima kasih ya" ucap Mutiara memecahkan keheningan dan membuyarkan lamunan Radit.


"Untuk apa?" balas Radit.


"Semuanya, semua kebaikanmu padaku. Aku tahu kau peduli padaku karena aku adalah saudara tiri Berlian, meski begitu aku tetap sangat berterima kasih padamu" Ucap Mutiara dengan menampilkan senyum kecil dibibirnya.


"Aku tahu selama ini aku sangat banyak berbuat kesalahan, terutama pada Berlian dan juga Ana. Tapi kedepannya aku ingin memperbaiki semuanya, meski hidup sederhana tetapi dengan pribadi yg lebih baik" lanjutnya.


Meski Mutiara terlihat sedang menyunggingkan seutas senyum, namun Radit dapat melihat butiran air yg menggenang di pelupuk matanya.


"Itu bagus kalau kau ingin memperbaiki dirimu, tapi aku sarankan hal yg harus kau lakukan pertama kali adalah temui Berlian dan meminta maaf padanya" Jelas Radit.


"Iya aku sudah memikirkannya. Aku akan meminta maaf pada Berlian saat kami bertemu" ucap Mutiara.


"Aku akan menemuinya secepatnya" ucap Mutiara.


Akhirnya merekapun tiba di salah satu hotel bintang 5 di kota itu, "Paradise Hotel".


"Ayo" Ajak Radit seraya turun dari mobil, dan Mutiarapun mengikut. Mereka melangkah memasuki hotel itu, dan mendapat sambutan dari para pelayan hotel.


"Selamat siang mas Radit" ucap salah seorang pelayan dan di balas Radit dengan anggukan. Raditpun melangkah memasuki hotel itu dan terlihat sangat akrab dengan suasana hotel.


"Halo bro" sapa seorang dengan tiba2 kepada Radit seraya merangkul pundak Radit.


"Tumben kau kesini, mau chek in ya?" bisik orang itu pada Radit seraya melirik Mutiara.


PLAK. Radit mendaratkan pukulannya pada bahu orang itu yg berhasil membuatnya merintih.


"Aduh" Keluhnya.


"Aku kesini ingin memintamu memberikan pekerjaan padanya" ucap Radit seraya menunjuk pada Mutiara.


"Kerjaan apa bro?" tanya orang itu.


"Apa aja, dia bilang tidak keberatan jadi palayan" balas Radit.


"Mana berani aku jadiin pelayan pada wanitamu" ucapnya dengan gamblang. Mendengar ucapan pria itu Mutiara menunduk malu.


"Aku hanya membawanya bukan berarti dia wanitaku" balas Radit dan berhasil membuat Mutiara tersenyum kecut.


"Akh ku pikir dia wanitamu, boleh juga" balas Aril teman Radit dan Juno sekaligus pemilik Paradise Hotel.


"Jangan banyak bicara, berikan saja dia pekerjaan" ketus Radit.


"Siap komandan" balas Aril pula seraya memberi hormat pada Radit.


"Kau akan mulai bekerja besok, datanglah kesini besok pagi" Lanjut Aril yg ditujukan pada Mutuara.


"Baik pak" balas Mutiara sopan.


"Akh tidak usah panggil bapak ketuaan. Saya masih muda kok, panggil saja Mas Aril" Jelasnya seraya memainkan sebelah matanya.


"Baik mas Aril" balas Mutiara.


PLAK.. Pukulan Radit kembali mendarat di kepala Aril.


"Aakh, apa lagi?" keluhnya.

__ADS_1


"Apa kau sangat suka menggoda karyawanmu? jadilah bos yg baik" balas Radit.


"Kau sangat suka memukul kepalaku, inilah alsan kenapa aku jadi bodoh" keluh Aril lagi. Iapun mengajak Radit dan Mutiara untuk makan siang di hotelnya.


***


Juno kembali menatap layar laptopnya setelah menyelesaikan makan siangnya. Hingga Rissa kembali mengetuk pintu ruangannya kemudian masuk menemuinya.


"Maaf bos, dr.Wiliam sudah ada di luar" ucap Rissa.


"Suruh dia masuk" balas Juno.


Tak berapa lama dr. Wiliampun masuk menemui Juno.


"Selamat siang tuan Juno" ucap dr. Wiliam seraya menunduk hormat pada Juno.


"Selamat siang dok, silahkah duduk" balas Juno dan mempersilahkan dr. Wiliam untuk duduk.


"Terima kasih" ucapnya seraya duduk di sofa. Tak berapa lama Rissa kembali memasuki ruangan Juno dan menyajikan secangkir kopi untuk dr. Wiliam dan Juno. Setelah itu Rissa kembali meninggalkan dua orang itu.


Juno ikut duduk di sofa tepat di samping dr. Wiliam. Terlihat Juno sedang memegang sebuah amplop coklat. Diserahkannya amplop itu pada dr. Wiliam.


"Apa ini?" tanya dr. Wiliam.


"Anda boleh membacanya, setelah itu saya membutuhkan penjelsan anda akan hal itu" Balas Juno terlihat serius.


dr. Wiliam terlihat menelan salivanya. Saat Juno terlihat serius begini pasti telah terjadi sesuatu yg salah. dr. Wiliampun membuka amplop itu dan menemukan isinya.


Gleg. dr. Wiliam kembali menelan salivanya.


Bagaimana Tuan Juno bisa menemukan hal ini? Batin dr.Wiliam.


"Anda sudah membacanya? sekarang jelaskan pada saya, kenapa hal ini bisa terjadi di RS dibawah naungan anda?" Ucap Juno dengan tegas.


Hal yg dimaksud Juno adalah keterangan pihak rumah sakit mengenai hasil kesehatan buk Dewi, yg telah di ubah oleh seorang oknum dokter.


"Saya baru melihat hal ini tuan, dan saya baru tahu bahwa hal ini telah terjadi di rumah sakit naungan saya" Balas dr. Wiliam.


"Anda bilang baru mengetahuinya, apa selama ini anda hanya makan gaji buta dan tidak bekerja dengan benar?" balas Juno mulai terlihat murka.


"Maafkan saya Tuan, saya mengakui ini kelalaian saya. Bertepatan dengan tanggal kejadian ini, saya memang sedang melakukan sebuah riset. Jadi tanggung jawab RS saya serahkan kepada dr. Ramon" Jelas dr. Wiliam.


"Anda tahu apa saja yg dilakukan oleh dr. itu? dia dengan sengaja telah memberikan suntikan dengan dosis tinggi yg membahayakan tubuh pasien, bahkan pasien itu sampai meninggal dunia karena perbuatannya. Sebagai kepala RS Bila Sejahtera, bagaimana anda akan mempertanggungjawabkan hal itu?" Ucap Juno.


Ternyata Tuan Juno juga mengetahui sejauh itu. Batin dr. Wiliam.


"Saya benar2 menyesal akan kejadian ini tuan, saya berjanji akan memberikan sanksi pada dokter Ramon, dan kedepannya saya akan mengawasi pergerakan mereka dengan lebih baik" Balas dr. wiliam.


"Sanksi apa yg akan anda berikan pada seorang pembunuh?" balas Juno, terlihat mengintimidasi.


"Saya akan memecatnya dan memastika dia tidak akan bisa kembali menjadi seorang dokter" Jelas dr. Wiliam.


"Baiklah, anda sudah terlalu banyak bicara dok, silahkan diminum" ucap Juno akhirnya seraya menyambar cangkir kopinya.


"Terima kasih tuan" balas dr. Wiliam seraya ikut menyambar cangkir kopinya.


Aku rasa ini sudah cukup aman. Batin dr. Wiliam.


"Saya mempercyakan hal ini pada anda, saya berharap kejadian ini tidak terjadi kedua kalinya" ucap Juno.


"Saya mengerti tuan, saya akan mengurusnya dan kedepannya saya akan lebih mengawasi mereka" balas dr. Wiliam.


"Terima kasih untuk kehadiran anda hari ini" ucap Juno seraya menyalami dr. Wiliam.


"Sama2 tuan, kalau begitu saya permisi" balas dr. Wiliam dan terlihat sedikit menghembuskan nafasnya.


"Silahkan" balas Juno seraya mengantar dr.Wiliam sampai pada depan pintu ruang kerjanya.


Juno kembali duduk di kursi kerja, tangannya terlihat meraih ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.


"Halo Taun" ucap seseorang di balik telpon.


"Bagaimana perkembangan masalah ini?" tanya Juno yg ternyata sedang menghubungi Arman.


"Saya masih menyelidikinya Tuan" balas Arman.


"Aku ingin kau menyelidiki dr.Wiliam, sepertinya dia ambil bagian dari peristiwa ini" Jelas Juno.


"Baik tuan, saya akan kembali menemui anda setelah mendapatkan informasi baru" Balas Arman.


"Lakukan dengan benar" Tegas Juno seraya memutuskan sambungan.


Kau berusaha untuk tenang dan pura2 tidak tahu agar aku tidak mencurigaimu? dr. Wiliam, anda salah orang. Batin Juno.


**BERSAMBUNG.......


*****


Terima kasih untuk kalian yg masih setia mampir di ceritaku🙏


Semoga kalian tetap dalam keadaan sehat😊🙏


Jangan lupa tinggalkan like dan komen😘🙏

__ADS_1


TERIMA KASIH🥰🥰😘**


__ADS_2