
Malam menunjukkan pukul 20.30, Mutiara terlihat gelisah bercampur sedih. Membayangkan ibunya Sekar harus mendekam di penjara, terlebih jika dugaan polisi yg mengatakan bahwa ibunya adalah dalang dibalik kematian kedua orang tua Berlian. Tentulah ibunya akan mendapat hukuman yg sangat berat.
"Apa yg harus aku lakukan, bagaimana jika mamah benar2 bersalah dan harus mendekam dipenjara?" Gumam Mutiara dengan nada frustasi.
Tiba2 Mutiara teringat pada Berlian. Kasus yg dialami oleh ibunya saat ini tidak terlepas dari Berlian, pastinya Berlianlah yg telah melaporkan Sekar atas tuduhan pembunuhan kedua orang tuanya.
Mutiara menyambar tas kecilnya lalu bergerak meninggalkan rumahnya, Mutiara berfikir bahwa jalan keluar yg bisa Ia lakukan saat ini hanya menemui Berlian dan memintanya untuk mencabut tuntutannya.
Tak berapa lama Mutiarapun tiba di depan gerbang rumah keluarga Juno.
"Permisi" ucap Mutiara pada para genajaga gerbang.
"Iya, anda mencari siapa nona?" balas salah seorang penjaga.
"Saya ingin bertemu Berlian, saya saudaranya" jawab Mutiara.
"Oh saudaranya, sebentar ya saya lapor ke dalam dulu. Apa nona Berlian mau nememui anda" balas penjaga itu.
"Baik terima kasih" balas Mutiara pula seraya tersenyum sekilas.
Tak berapa lama penjaga itupun membukakan pintu gerbang untuk Mutiara dan mempersilahkan bagi Muiata untuk masuk.
"Silahkan nona, anda bisa masuk dan menemui nona Berlian" ucap salah seorang penjaga.
"Terima kasih" balas Mutiara singkat dan masuk dengan diantar oleh salah seorang pelayan.
"Ara" ucap Berlian dengan tersenyum hangat saat menemukan kehadiran Mutiara.
"Ian, aku gak ganggu waktu kamu kan?" ucap Mutiara terlihat ragu2.
"Enggak kok, ayo duduk" balas Berlian.
Ada apa ya Ara tiba2 datang ke sini malam2 begini? semoga gak ada masalah apa2 deh. batin Berlian sedikit cemas.
Berlian memang belum mengetahui perihal yg terjadi pada Sekar hari ini. Juno belum menceritakan apapun padanya, bahkan Juno harus pergi sejak sore tadi dan belum sempat pulang sampai saat ini.
Mutiarapun menurut untuk duduk di samping Berlian, tak berapa lama seorang pelayan menyuguhkan minuman dan sedikit cemilan untuk Mutiara dan Berlian.
"Silahkan nona" ucap pelayan itu sopan lalu pergi meninggalkan kedua saudara itu.
"Ara, kamu baik2 aja kan, kok tumben kamu datang kesini malam2 begini?" tanya Berlian membuka pembicaraan.
Apa Ian benar2 tidak tahu tujuanku kesini pasti ada hubungannya dengan tuntutannya ke mamah?. Batin Mutiara.
"Ian, aku tahu selama ini aku dan mamah selalu berbuat jahat sama kamu, aku tahu kamu pasti banyak menyimpan luka dengan sikapku dan mamah di masa lalu" ucap Mutiara mulai menjelaskan.
Sedangkan Berlian masih menatap heran dengan arah pembicaraan Mutiara.
"Ada apa Ra, kok kamu tiba2 bicara begitu? aku sama sekali tidak pernah menyimpan dendam sama kamu dan mamah Sekar, bagiku kalian adalah keluargaku" ucap Berlian.
"Lalu kenapa kamu tiba2 memberikan tuntutan pada mamah atas tuduhan pembunuhan kedua orang tua kamu?" ucap Mutiara yg berhasil membuat Berlian membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Apah, nuntut mamah atas tuduhan pembunuhan ayah dan ibu?" ucap Berlian seperti tidak percaya.
"Aku bahkan gak tau masalah ini" lanjutnya masih tidak percaya.
Apa mungkin ini perbuatan Juno, apa dia diam2 menyelidiki kematian ayah dan ibu? tapi apa mungkin kematian ayah dan ibu memang ada hubungannya dengan mamah Sekar? batin Berlian. Meski belum sepenuhnya percaya akan kebenaran itu, namun tiba2 ada rasa ngilu yg muncul dalam hatinya saat mendengar jika kematian kedua orang tuanya adalah karena kesengajaan, terlebih lagi karena dilakukan oleh orang yg Ia anggap sebagai keluarganya.
"Jadi kamu gak tahu kalau mamah baru saja di bawa ke kantor polisi karena masalah ini?" balas Mutiara terlihat tidak percaya.
"Aku berani sumpah Ra, aku sama sekali gak tahu tentang ini" ucap Berlian dengan kesungguhan.
Mutiara menatap mata Berlian dengan seksama mencoba menemukan kebohongan darinya, namun Mutiara tidak menemukan kebohongan itu, bahkan terlihat jelas kalau Berlian sangat bersungguh2 dengan ucapannya.
Aku sangat mengenal Ian, dia bukanlah orang yg suka berbohong dan aku bisa melihat Ia sedang berkata dengan jujur. Jadi kalau bukan Ian yg melakukannya, apa mungkin suaminya? batin Mutiara.
"Ian, ini mungkin dilakukan oleh suami mu. Tolong bujuklah dia agar mau melepaskan mamah ya. Aku yakin ini hanya kesalahpahaman, mamah memang suka seenaknya, tapi aku yakin mamah bukanlah seorang pembunuh" ucap Mutiara dengan kesungguhannya seraya menggenggam tangan Berlian memohon.
"Ara, aku akan bicarakan ini dengan Juno, aku yakin kalau ini hanya kesalahpahaman Juno pasti akan melepaskan mamah Sekar. Aku sendiri belum percaya kalau mamah tega melakukan hal ini pada kedua orang tuaku" Ucap Berlian dengan tegas namun terdengar ada getaran dalam nada suaranya yg menandakan Ia sedang menahan kesedihannya.
Ian, kau bilang tidak percaya mamah melakukan itu, tapi kau terlihat sangat sedih yg artinya kau percaya kalau mamah benar melakukannya. Batin Mutiara gelisah.
***
Disisi lain, Juno masih berada di kantor bersama Radit. Ada beberapa hal yg harus Ia diskusikan dengan Radit, bahkan jam sudah menunjukkan hampir jam 9 malam, mereka masih terlihat asik dengan pembicaraannya.
"Aku sudah menemukan bukti kebusukan Sekar yg malakukan pembunuhan pada kedua orang tua Berlian" Ucap Juno tiba2 mengalihkan pembicaraan mereka dari urusan kerjaan pada urusan pribadi.
"Jadi Sekar memang melakukan kejahatan itu?" tanya Radit sedikit kaget.
"dr. William, dr. kepercayaan keluarga Herlambang itu?" tanya Radit sedikit tidak percaya.
Juno hanya membalas pertanyaan Radit dengan anggukan seraya menyederkan punggungnya pada senderan sofa.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" Radit tidak habis pikir bagaimana dokter hebat seperti dr. William yg bahkan kemampuannya di akui di negeri ini, dapat melakukan hal sekeji itu.
"Kau pasti tidak tahu, dr. William adalah ayah kandung dari Mutiara" jelas Juno seraya memalingkan wajahnya menatap Radit, sedangkan Radit yg mendengar ucapan Juno membulatkan matanya seketika karena kaget.
"Mutiara adalah anak dari hasil perselingkuhan antara dr. William dan Sekar di masa lalu" lanjut Juno menjelaskan yg akhirnya membuat Radit sedikit paham dengan permasalahan ini.
"Jadi maksud mu, dr William melakukan ini untuk menutupi tentang perselingkuhannya, sehingga dia bersedia bekerjasama dengan Sekar untuk mencelakai orang tua Berlian?" tanya Radit memastikan.
"Kau benar" balas Juno.
"dan tadi siang aku sudah memastikan kalau mereka semua telah diseret kekantor polisi untuk mendapatkan ganjaran atas perbuatan mereka" lanjut Juno.
Radit kembali membulatkan matanya. Ternyata Juno benar2 telah melakukan semuanya dengan cepat.
"Apakah Mutiara terlibat dalam hal ini?" tiba2 saja pertanyaan itu keluar dari mulut Radit, namun sesaat kemudian Ia mengutuku dirinya yg tiba2 menanyakan hal bodoh itu.
Sial, kenapa aku harus memikirkannya. Batin Radit.
"Hei kawan, apa kau mulai mencemaskan gadis itu?" goda Juno seraya tersenyum pada Radit.
__ADS_1
"Ah, aku hanya sekilas memikirkannya" elak Radit seraya menggaruk2 alisnya.
"Dia tidak terlibat, Arman sudah memastikan kalau Mutiara tidak terlibat sama sekali dalam kasus pembunuhan ini, bahkan mungkin dia tidak tahu perbuatan ibunya" Jelas Juno, dan terlihat jelas Radit menghembuskan nafasnya dengan lega.
"Kau lega gadis itu tidak terlibat?" Juno kembali menggoda Radit.
"Apa yg kau bicarakan, sebaiknya kau pulang dan temui istrimu kau mulai berbicara sembarangan" ucap Radit sedikit kesal pada godaan Juno.
"Kau benar, aku sudah lama tidak melihatnya pantas saja rasanya sudah rindu begini" ucap Juno seraya tersenyum kecil pada Radit.
"Jangan pamer, ayo pulang" ucap Radit pula seraya bangkit dari duduknya, namun Juno menghalanginya.
"Aku ingat gadis itu pernah hampir mencelakai Ana dan gadis itu juga dulunya suka mengganggu Berlian. Meski kasus ini dia tidak terlibat, tapi kau tetap harus mempertimbangkannya, aku berharap kau menemukan wanita yg tepat untukmu" Ucap Juno dengan kesungguhannya.
Aku ingin kau segera melupakan perasaanmu pada Berlian dan menemukan cinta yg baru, tapi aku ingin kau menemukan gadis yg tepat untuk itu. Batin Juno.
"Aku mengerti maksudmu, jgn terlalu banyak berfikir. Ayo, kali ini aku ingin kau menjadi supirku" ucap Radit seraya kembali melanjutkan langkahnya.
"Hmmm" dibalas Juno dengan sesingkat mungkin.
Merekapun akhirnya memutuskan untuk pulang, dan Juno bertugas sebagai supirnya.
***
RS ruang rawat ibu Rangga.
Martha terlihat sedang duduk disamping pembaringan wanita paruh baya itu. Menatap wajah yg sedang tertidur dengan pulas, memperlihatkan raut ketenangan di wajahnya yg sudah mulai mengendur.
Setelah kepergian mamah dan papah, akhirnya aku bisa kembali merasakan memiliki orang tua, aku berjanji akan menjaganya dengan baik. batin Martha yg terus menatap ibunya Rangga.
"Kau sudah menemani ibu seharian, kau sebaiknya istrihat juga lagian ibu juga sudah tidur" suara Rangga mengalihkan pandangan Martha padanya.
" Kau mengusirku? Aku masih ingin disini" balas Martha.
"Aku tidak menyuruhmu pulang, aku hanya menyuruhmu untuk beristirahat. Istirahatlah, biar aku yg temani ibu" ucap Rangga seraya menarik tangan Martha agar segera bangkit dari duduknya, Marthapun mengikut berdiri dan tiba2 linglung karena kelelahan dan kurang istirahat.
Sejak kedatangannya semalam Ia terus menemani ibunya Rangga, bahkan hanya memejamkan matanya kurang dari satu jam. Saat pulang kerumahpun, Ia hanya menggunakan waktunya untuk mandi dan berganti pakaian serta menyiapkan makanan yg akan Ia bawa ke rumah sakit. Wajar saja jika Ia merasa lelah dan mengantuk sekarang.
"Sepertinya aku mmg butuh istirahat" ucap Martha akhirnya.
Ranggapun merangkul Martha menuju sofa yg terdapat di ruangan itu, membantu Martha membaringkan tubuhnya dan membalutnya dengan selimut.
"Hei aku bukan pasien" protes Martha pada perlakuan Rangga yg terkesan berlebihan di matanya.
"Hehe, tidurlah. Selamat malam" balas Rangga seraya mengecup lembut kening Martha.
"Hei" kaget Martha mendapatkan kecupan itu dari Rangga, namun tak dapat disembunyikan Ia tersenyum senang akan hal itu.
"Selamat malam" ucapnya dengan suara pelan seraya membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut.
Gadisku sangat manis. Batin Rangga seraya tersenyum.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....