Berlian

Berlian
Keputusan Berlian


__ADS_3

Malam itu menunjukkan pukul 08.45. Berlian membaringkan dirinya di atas kasur empuknya, setelah bergelut dengan beberapa tugas kampusnya. Pikirannya masih terbayang2 tentang isi surat Tari.


Berlian:" Ish.. Kenapa sih ka Tari harus meminta hal yg seperti itu, apa tidak aneh jika aku mnikah dengan tunangan kakak, apa ka Tari gak cemburu pria yg kakak cintai menikah sama aku. huh aku aja gak bisa bayangin" ucap Berlian pada Tari yg sama sekali tidak bisa mendengarnya itu.


Berlian terlihat frustasi ketika memikirkan hal itu. Tanpa terasa Ia mulai memejamkan matanya dan masuklah ke alam bawa sadarnya.


Berlian:" Ka Tari, kok duduk sendirian disitu?" tanyanya pada Tari saat melihat wanita itu duduk sendirian di tepi danau.


Tari:" Kakak sedang menunggu ayah dan ibu menjemput kakak pulang." ucapnya sambil tersenyum.


Berlian:" Pulang, pulang kemana?" tanyanya polos.


Tari:" Pulang ketempat yg seharusnya. kakak akan menemui ayah dan ibu serta orang tua kandung kakak" ucapnya masih dengan tersenyum.


Berlian:" Apa ka Tari benar2 akan meninggalkan Ian?" tanyanya mulai bersedih.


Tari:" Sudah waktunya kakak pergi Ian. Kakak menitipkan seseorang yg pantas untuk menjagamu. Dia adalah pria yg sangat baik, dia akan menjadi pelindungmu kedepannya" Ucapnya sambil mulai berjalan meninggalkan Berlian.


Berlian:" Hah jangan tinggalkan Ian ka, Ian gak mau sendiri. Ka Tariiii" Teriak Berlian dalam mimpinya, Iapun akhirnya terbangun. Diliriknya jam pada dinding kamarnya menunjukkan pukul 01.15 malam.


Berlian:" Hah udah tengah malam. Haduh perutku keroncongan" ucapnya sambil meraba perutnya yg menggerutu minta diisi. Berlianpun bergegas ke dapur untuk mengisi perutnya.


Keesokan harinya, Berlian memutuskan untuk menemui ka Radit. Mimpinya semalam seolah memberinya sedikit jawaban atas permintaan Tari padanya. Namum disisi lain Ia ingin memastikan satu hal, yakni perasaan ka Radit padanya.


Jika benar ka Radit memiliki rasa suka padaku seperti yg aku pikirkan selama ini, maka aku akan menolak isi surat itu. Aku yakin ka Tari pasti tidak masalah, toh ka Radit juga bisa melindungiku dengan baik. Bahkan dia telah melindungiku dan banyak membantuku selama ini. Batin Berlian.


Itulah yg dipikirkan Berlian saat ini, memastikan perasaan Radit padanya. Setelah membuat janji untuk bertemu dengan Radit, merekapun akhirnya bertemu di tempat biasa pada jam makan siang.


*Warung kaki lima samping kampus tempat kencan pertama mereka.


Mereka pun tiba disana tepat diwaktu makan siang. Suasananya lumayan rame karena bertepatan dengan waktu makan siang.


Merekapun akhirnya memutuskan untuk makan. Kemudian berjalan2 santai mengelilingi taman cinta, sambil melahap es krim yg sempat mereka beli sebelumnya.


Radit:" Gimana soal yg kemarin, uda ada jawabannya?" Radit membuka suara.


Berlian:" Eh itu, Ian masih bingung ka." Jawabnya ragu2.


Haduh gimana caranya untuk tau perasaan ka Radit sama aku, yakali aku nanya langsung. Batin Berlian. Masih dengan terus menyantap es krimnya.


Berlian:" Kalau menurut ka Radit sendiri gimana?" tanyanya berusaha memancing Radit.


Radit yang mendapat pertanyaan demikian, malah merasa bingung sendiri menanggapi pertanyaan Berlian.


Apa sebaiknya aku mengakui perasaanku pada Berlian? Akh, tapi rasanya ini bukan waktu yg tepat. Sekarang dia tengah pusing memikirkan surat peninggalan Tari, kalau aku mengungkapkan isi hatiku sekarang yg ada dia malah akan bertambah pusing nantinya. Batin Radit.

__ADS_1


Berlian:" Ka Radit kok diem aja" suara Berlian membuyarkan pikiran2 Radit yg berkecamuk.


Radit:" Ah itu, dia pria yg sangat baik Ian. Ka Radit rasa Tari melakukan permintaan itu karena dia merasa, Juno adalah orang yg tepat untuk menjaga kamu setelah dia pergi" jelas Radit, ucapannya itu secara spontan keluar dari mulutnya karena bingung harus berkata apa.


Berlian:" Jadi menurut ka Radit, apa Ian terima saja permintaan ka Tari?" tanyanya masih berusaha menemukan jawaban atas perasaan Radit padanya.


Radit terdiam sesaat. Kemudian Ia menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar. Iapun kembali tersenyum.


Radit:" Menurut ka Radit menerimanya adalah keputusan yg baik" Ucapnya lalu memasukkan sesendok es krim terakhir kedalam mulutnya.


Tetapi menolaknya akan lebih bagus bagiku, karena itu berarti aku masih memiliki kesempatan atasmu Berlian. Lanjut Radit dalam hatinya.


Namun disisi lain Berlian menafsirkan hal yg berbeda. Ia yg sebernya ingin mengetahui perasaan Radit padanya justru menemukan jawaban, bahwa Radit sebernya tidak menyukainya. Hal ini Ia simpulkan dari pernyataan Radit yg seolah2 menginginkan Ia menerima pernikahan itu.


Apa ini artinya ka Radit tidak menyukai ku, hah ternyata hanya aku yg terlalu kegeeran. pasti selama ini ka Radit baik padaku karena aku adalah sahabat juliana adik kesayangannya. Dia pasti hanya kasihan padaku sehingga dia terus membantuku. Bukan karena dia benar2 peduli padaku dan memiliki rasa suka seperti yg aku bayangkan. Batin Berlian.


Begitulah akhirnya Ia memutuskan perasaan Radit padanya, hanya sebatas kasihan dan peduli pada sahabat baik adiknya. Bukan cinta atau hal lainnya seperti yg Ia pikirkan. Berlianpun tersenyum getir menanggapi ucapan terakhir Radit.


Berlian:" Terima kasih ka Radit, aku rasa aku sudah menemukan jawabannya" ucapnya sambil tersenyum yg dibuat santai.


Radit:" hmm" menatap Berlian heran.


Apa dia benar2 sudah memutuskan. Batin Radit.


Jika selama ini dia memiliki rasa suka padaku pasti dia akan menolak pernikahan itu, tapi jika dia menerimanya, berarti itu adalah pilihannya untuk menemukan kebahagiaannya. Batin Radit berusaha menghibur dirinya.


* Resto X


Mereka tiba di salah satu resto yg terdapat di kota itu, setelah janjian sebelumnya. Seperti kemarin, Radit datang membawa Berlian dan duduk di meja yg telah di siapkan khusus tamu VIP. Kini giliran mereka yg harus menunggu kedatangan Juno.


15 menit telah berlalu, akhirnya yg mereka tunggupun datang. Juno memasuki resto dengan stelan jas kantornya. Dengan postur tubuh yg tinggi dan wajah yg sangat tampan, Ia menjadi pusat perhatian pengunjung saat itu.


Juno:" Maaf sudah membuat kalian menunggu" ucapnya seraya duduk di samping Radit.


Radit:" Tidak masalah kita juga baru sampai kok" balas Radit. Sedangkan Berlian hanya terdiam.


Radit:" Apa aku perlu meninggalkan kalian berdua, mungkin akan lebih nyaman bagi kalian untuk membicarakannya berdua" ucap Radit.


Sejujurnya Ia sangat cemas dengan keputusan yg akan diambil oleh Berlian. Di satu sisi dia sangat ingin mendengarnya, namun disisi lain dia jg takut untuk mendengar kenyataan yg menyakitkan.


Juno:" Tidak perlu, kamu disini aja. Sekalian jadi saksinya" Ucap Juno santai namun terlihat sangat dingin bagi Berlian.


Juno:" Bagaimana, sudah di putuskan?" lanjut Juno, langsung ke inti seraya melirik ke arah Berlian.


Berlian terus meremas jari jemarinya, ada rasa degdegan, takut serta cemas dengan keputusan yg akan dia ambil saat ini. Bagaimanapun ini adalah menyangkut masa depannya. Pernikahan bukanlah hal yg main2, maka dia harus memutuskannya secara benar.

__ADS_1


Ayah, ibu, ka Tari keputusan apa yg harus Ian ambil saat ini. Kami tidak saling mencintai bahkan baru bertemu beberapa hari ini, tetapi disisi lain ini adalah permintaan terakhir ka Tari dan Ian tau ka Tari tidak asal memberikan permintaan ini. Batin Berlian.


Masih terdiam tanpa kata, sedangkan Juno dan Radit masih setia menunggu jawaban Berlian.


Juno:" Kau boleh memikirkannya lagi" ucap Juno terputus.


Berlian:" Aku sudah memutuskannya" potong Berlian.


Radit hanya menatap Berlian dengan cemas.


Bismillahirrahmanirrahim.. Ayah Ibu semoga ini keputusan yg benar. batin Berlian.


Berlian:" Aku menerima pernikahan ini" ucapnya sambil menunduk. Kalimat yg keluar dari mulutnya seakan lepas begitu saja.


Radit menutup kedua matanya seraya melemparkan wajarnya ke arah lain. kemudian menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar. ada rasa sakit yg tiba2 menghantam dadanya, seperti pisau yg begitu tajam tapat menusuk jantungnya.


Sedangkan disisi lain Juno terlihat kaget mengdengar jawaban yg diberikan oleh Berlian. Terlihat dengan reaksinya yg seketika membulatkan matanya seperti tidak percaya. Namun beberapa saat kemudian Ia menghembuskan nafasnya kasar.


Sejujurnya Ia memiliki harapan bahwa Berlian akan menolak pernikahan ini. Terlebih lagi mereka tidak saling mengenal satu sama lain, apa lagi cinta pastilah sangat jauh dari kata itu.


Juno:" Baiklah. Aku menerima keputusanmu, pernikahan akan di adakan bulan depan sesuai jadwal pernikahan yg sebelumnya" Jalas Juno.


Juno:" Tapi untuk pernihakan ini, aku menginginkan pernikahan yg sederhana, apa kau tidak keberatan?" tanya Juno kemudian.


Berlian:" Tidak masalah, aku juga menginginkan pernikahan yg sederhana" balas Berlian.


Kenapa juga harus melakukan pernikahan yg meriah jika tanpa dasar cinta.batin Berlian.


Juno:" Baguslah. Dit, aku butuh bantuanmu untuk mengurus semuanya. Tarik semua undangan yg sudah beredar, ubah semua menjadi resepsi pernikahan yg sederhana. undang keluarga dekat saja. Jika dia memiliki keluarga dekat yg ingin di undang kau boleh mengudangnya" jelas Juno.


Radit:" Bagaimana dengan para kelogamu?" tanya Radit berusaha terlihat biasa saja.


Juno:" Tidak perlu, cukup keluarga saja"


Radit:" Baik, aku mengerti" balas Radit sambil tersenyum yg dipaksakan.


Juno:" Kalau begitu aku akan pergi duluan, silahkan kalian lanjutkan makan malamnya" Ucap Juno seraya meninggalkan tempat duduk mereka.


Apa ini yg kau inginkan sayang, apa kau senang? aku sudah memenuhi permintaanmu. Tari aku harap ini akan membuatmu bahagia disana. Batin Juno, seraya melangkah meninggalkan resto.


Ini adalah pilihanmu Ian, jangan sedih okey. Ingat ini adalah permintaan ka Tari. Ini pasti yg terbaik untukmu. Pernikahan mewah bak tuan putri, haha lupakan tentang itu. Inilah takdirmu dan inilah pilihanmu kau harus menerimanya. Batin Berlian berusaha menguatkan hatinya.


Terimalah takdirmu Radit, kau memang di takdirkan untuk jatuh cinta dan kehilangan. batin Radit.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2