
Berlian melangkahkan kakinya memasuki rumah dengan sambil bernyanyi2 riang. Sepertinya hari ini suasana hatinya sedang bahagia. Hari ini Berlian baru saja menerima Gajinya Dari Konveksi. Tidak hanya itu hari ini juga adalah hari ulang tahunnya yg ke 20.
Melihat tidak ada sesiapa di rumah hatinyapun semakin senang.
"Sepertinya mamah Sekar dan Mutiara lagi gak di rumah, hmm kalau begitu aku lebih mudah membawa ibu pergi" Batin Berlian.
Berlian berencana akan membawa ibunya ke panti asuhan, dan merayakan ulang tahunnya disana. Berlian kemudian berlari menuju kamar untuk menemui ibunya.
"IBUUU!"
Teriak Berlian kaget saat menemui ibunya yg terbaring tak sadarkan diri di depan pintu kamarnya.
"Ibu. ibu bangun, ibu. Ibu kenapa? Ibu" Berlian begitu panik, sedangkan Ibunya tidak bergeming.
*Di Rumah Sakit.
Di kursi tunggu tepatnya di depan ruang ICU, Berlian sedang duduk di temani oleh sahabatnya Juliana. Juliana baru saja tiba saat mengetahui Berlian sedang di rumah Sakit mengantarkan ibunya.
Juliana melihat raut wajah sedih dan panik di wajah sahabatnya itu. Iapun menggenggam tangan Berlian.
"Aan, Ibu akan baik2 aja kan?!" Berlian menatap Juliana dengan air mata yg masih terus mengalir.
"Pasti semua akan baik2 aja, mungkin ibu hanya kecapean hingga dia pingsang" Juliana Seperti bisa melihat kecemasan di raut wajah sahabatnya, hingga Ia berusaha untuk menenangkannya.
Pintu ruang ICUpun terbuka dan seorang dokter baru saja keluar dari sana.
"Apa ini keluarga Ibu Dewi?" tanya dokter itu saat melihat Berlian dan Juliana.
"Iya dok, saya anaknya" buru2 Berlian berdiri dan menghampiri dokter itu.
"Bagaimana keadaan ibu saya dok?" Berlian semakin cemas.
"Ikut ke ruangan saya" Dokter itupun pergi.
Berlian dan Juliana saling tatap cemas, kemudian mereka mengikut langkah dokter itu.
Beberapa lama Berlian di dalam ruang dokter itu dengan di temani Juliana sahabatnya, mereka pun akhirnya keluar.
Terlihat raut wajah Berlian yg semakin pias. Kaki dan tangan yg gemetar serta keringat yg bercucuran di keningnya, dengan tangis yg tertahan.
Juliana terus merangkulnya, mengusap2 belakangnya dengan lembut, terlihat wajah gadis itu juga penuh dengan kesedihan.
Berlian memeluk sahabatnya itu dan di balas pelukan pula oleh Juliana, tangis yg sudah Berlian tahan sejak di ruangan dokter tadi akhirnya pecah.
Hatinya benar2 hancur mendengar penjelasan dokter. Bagaimana tidak, dokter itu telah memvonis ibunya terkena kangker hati stadium akhir, bahkan menurut dokter usia Ibunya sudah tidak lama lagi.
__ADS_1
Berlian menuju ruang dimana ibunya berada. Ia melihat ibunya yg terbaring lemas dan masih belum sadar di ranjang perawatan dengan wajah yg sangat pucat.
Ia memeluk ibunya dengan eratnya, seperti ada perasaan bersalah yg mendalam pada hatinya. Ia merasa bersalah karena tidak mengetahui kondisi ibunya selama ini yg kesakitan.
Berlian terus memeluk ibunya, Mentaripun sudah ada disana bersamanya.
"Ibu maafkan Ian ibu, Ian tidak menjaga ibu dengan baik. Ian bahkan tidak tahu jika selama ini ibu sangat menderita dengan penyakit ibu. Ibu pasti sangat kesakitan ya. Ian memang bodoh, Ian gak pernah sadar kalau selama ini ibu menyimpan sakit sebesar ini. Ibu maafin Ian, Ian bodoh Ian bodoh"
Ucap Berlian dengan terus menangis sambil memukul2 dirinya sendiri, merasa kebodohannya karena tidak menyadari kesakitan ibunya.
Tari langsung menarik Berlian dalam pelukannya mencoba menenangkannya.
" Ian jangan salahkan diri kamu, ka Tari yakin ibu tidak akan suka itu. Kamu harus tetap kuat dan tegar, supaya ibu juga bisa kuat melewati semua ini" Tari mengelus2 rambut Berlian dalam pelukannya.
Dewipun akhirnya membuka matanya. Melihat Berlian yg ada di sampingnya, Dewipun tersenyum bahagia meski dengan wajah yg pucat.
"Selamat ulang tahun putri kecil ibu" dengan suara yg lemah Dewi mengucapkan kalimat itu untuk putrinya, Berlian.
Berlianpun berbalik dan langsung memeluk ibunya erat.
"Sepertinya putri kecil ibu sekarang sudah dewasa" Mendengar ucapan Ibunya, Berlianpun semakin merasa sedih.
"Ibuuu"
Ucap Berlian lirih, Berlian seperti tidak bisa mengeluarkan suaranya.
"Kamu tidak salah sayang, ibu hanya tidak ingin membuat kamu merasa cemas" Dewi mengusap2 kepala putrinya lembut.
Selama ini Dewi memang selalu berusaha untuk menutupi rasa sakitnya dari Berlian, karena tidak ingin putrinya itu mencemaskannya.
"Tari" panggil Dewi saat melihat Mentari yg berdiri di belakang Berlian.
"Iya ibu" Mentari langsung menghampiri Ibu Dewi dan memegang tangan Ibu Dewi dengan lembut.
"Ibu titip Berlian ya, jaga dan sayangi Ian seperti adikmu sendiri. Ibu percayakan Ian padamu"
Sambil tersenyum Dewi mengucapkan kalimat itu, tetapi satu tetes air lolos keluar dari matanya.
Mentari yg mendengar ucapan bu Dewi menatapnya dengan sendu seraya mengangguk.
"Aku akan menjaga dan selalu menyayangi Ian buk. Ibu tidak perlu khawatir"
Sedangkan Berlian sendiri semakin tak bisa menahan tangisnya mendengar ucapan ibunya itu.
"Kenapa ibu bicara seperti itu? Ibu tidak akan meninggalkan Ian. Ibu uda janji sama Ian ibu akan menemani Ian sampai Ian tumbuh dewasa. hiks hiks. Ian belum dewasa buk, Ian masih putri kecil Ibu"
__ADS_1
Berlian benar2 merasa tidak sanggup jika harus kehilangan ibunya saat ini. Baginya ibunya adalah hidupnya. jika ibunya pergi maka hidupnyapun akan terasa berakhir.
***
Sudah hampir 1 bulan Ibunya terbaring di rumah sakit. Sudah 1 minggu ini ibunya tidak pernah lagi menyadarkan dirinya. Kondisinya semakin hari semakin memburuk.
Berlian terus berada di samping Ibunya, Ia bahkan tidak masuk kuliah ataupun pergi konveksi. Ia seperti tidak rela meninggalkan ibunya walau hanya sedektik. Tari dan Juliana menemaninya bergantian, terkadang juga mereka menemaninya bersamaan.
"Apa mama Sekar dan Mutiara tidak akan datang menjenguk ibu. setidaknya untuk meminta maaf atas semua kesalahan mereka pada ibu?" Batin Berlian
Seketika terlintas dalam ingatan Berlian bagaimana perlakuan mama Sekar pada ibunya.
Sekar dan Mutiara memang sama sekali tidak pernah terlihat di rumah sakit. mereka seolah tidak perduli dengan keadaan Dewi saat ini. Terlebih lagi sekarang Mutiara sudah menjadi seorang model bintang iklan, yg membuatnya semakin merasa tidak membutuhkan Berlian lagi hanya untuk meminta duit.
Begitu juga dengan Sekar, Ia merasa tidak lagi membutuhkan Dewi dan Berlian sebagai sumber keuangannya, karena kini Ia memiliki seorang kekasih yg mampu memenuhi semua kebutuhannya.
"Ibu tidak boleh pergi, ibu tidak boleh ninggalin Berlian, Ian gak izinkan ibu pergi" Gumam Berlian terus merus tanpa henti.
Berlian juga terus menggenggam tangan ibunya, dengan mata yg menangis namun tak bersuara.
Mentari mendekati Berlian dan duduk disampingnya. Berlian bahkan tidak menoleh Ia terus menunduk sambil memegang tangan ibunya.
"Iaan" Tari mengantungkan ucapannya seperti tidak tega mengatakannya.
"Sepertinya sudah saatnya kita mengikhlaskan ibu pergi" ucap Tari
Berlian langsung mengangkat kepalanya menoleh kearah Tari, dengan tatapan tidak senang mendengar ucapan Tari. Namun beberapa saat kemudian Berlianpun memeluk Tari dan tangisnyapun pecah.
Sebenarnya Berlianpun sadar jika ibunya sudah tidak ada harapan untuk bertahan. Namun karena Ia belum bisa menerima kenyataan jika harus di tinggal oleh ibunya, Berlianpun tidak bisa mengikhlaskan ibunya pergi.
"Selama ini Ibu sudah cukup menderita, Sekarang biarkan ibu pergi. Ibu akan pergi menemui ayah Hendra. Mungkin Ibu dan Ayah Hendra sudah sangat rindu untuk saling bertemu" Tari masih mencoba untuk meyakinkan Berlian.
Terlihat Berlian menatap wajah ibunya dengan penuh kesedihan. Wajah cantik ibunya kini terlihat sangat kurus tidak ada lagi senyum, tidak ada lagi wajah yg bersinar cerah. Kini wajah itu sudah benar2 layu.
Berlian mengusap kepala ibunya lembut.
"Ibu. Ibu kangen sama Ayah ya? apa ibu akan bahagia jika ibu bertemu dengan ayah? Apa setelah itu ibu tidak akan merasa sakit lagi?" Air matanyapun tak dapat Ia bendung, namun tak ada suara tangis yg terdengar.
"Ibu. Ian sudah mengikhlaskan ibu untuk pergi. Temuilah ayah dan sampaikan salam rindu Berlian pada Ayah, dan berjanjilah pada Berlian kalau ibu tidak akan merasa sakit lagi setelah ini" Dengan suara yg gemetar Berlian mengucapkan kata demi kata.
Tit Tit Tiiiiiiiit.
Bunyi Elektrokardiograf di samping pembaringan ibunya. Menandakan jantung itu tak lagi berdetak. Seolah mendapat izin dari putrinya untuk pergi, Dewipun menghembuskan nafas terakhirnya.
Dengan tubuh yg gemetar Berlian memeluk dan melepas kepergian ibunya.
__ADS_1
Bersambung.....