
Sudah tiga hari Berlian terkurung di dalam gudang itu. Ia sudah sangat lapar, haus bahkan ada rasa ingin buang air kecil yg terpaksa harus Ia tahan.
"Tuhan apa ini akhir dari hidup ku, jika Ia aku pasrah akan takdirmu, tapi jika aku bisa meminta satu hal aku ingin buang air kecil dulu, rasanya sakit sekali harus menahannya berhari2" Gumam Berlian.
Entah doanya yg seketika terkabul, tiba2 pintu gudang itupun terbuka. Ia melihat seseorang sedang berdiri di laur.
"Apa tiga hari belum cukup?" ternyata yg membuka pintu adalah Sekar.
"Ma ampunkan Berlian ma. Ini sudah lebih dari cukup" Berlian kembali memohon agar di bebaskan oleh Sekar.
"Baiklah kita cukupkan hukumanmu hari ini. Segera mandi dan bersiap2, kita akan menerima tamu malam ini" Sekarpun pergi meninggalkan Berlian
Tanpa fokus pada ucapan Sekar Berlianpun Segera berlari memenuhi panggilan alam.
"Legahnya" Gumamnya Setelah selesai memenuhi panggilan alam itu.
"Apa tadi, bersiap2? Apa lagi ini, apa lagi yg akan mama Sekar lakukan padaku?" Gumamnya saat mulai menyadari perkataan Sekar tadi padanya.
Setelah selesai mandi, Berlianpun menggunakan baju seperti yg biasa Ia gunakan sehari2nya, baju santai ala rumah.
"Pakai itu" Sekar melemparkan sebuah dres di pangkuan Berlian.
"dan berdandanlah yg cantik, kau mengerti? jangan coba2 melawanku" Sekarpun meninggalkan kamar Berlian.
"Kenapa mama memberiku baju kurang bahan seperti ini?" Gumamnya saat melihat baju yg baru saja di berikan Sekar padanya.
"dan berdandan yg cntik, untuk apa? Apa jangan2 mama akan menjual ku?" Gumamnya kembali saat menyadari sesuatu.
Berlianpun tidak mengenakan baju yg diberikan Sekar. Ia justru bangkit dan segera mengunci pintu kamarnya.
__ADS_1
"Apa mama Sekar sejahat itu, ahh tidak mungkin mama Sekar akan sejahat itukan"
Berlian mencoba menenangkan hatinya
"Tapi buktinya mama Sekar memang selama ini selalu jahat padaku"
Perdebatan batinnyapun terus terjadi perasaannya kembali diselimuti rasa takut.
Bug bug bug.
"Berlian kau mengunci pintunya, apa yg kau lakukan? Buka sekarang!" Teriak Sekar dengan terus menggedor2 pintu kamar Berlian.
"Bagaimana ini aku takut, Ayah ibu Ian takut" Gumam berlian, keringat mulai mengepul di keningnya.
Perasaannya sangat tidak tenang. Membuka pintu Ia takut jika yg Ia pikirkan benar2 terjadi, kalau mama Sekar akan menjualnya pada tamu yg akan datang itu. Tapi jika Ia tidak keluar maka mama Sekar akan semakin murka dan akan lebih menyiksanya.
"BERLIAN BUKA!"
Namun tak berapa lama suasana berubah hening. Tak lagi terdengar suara apapun di luar sana.
"Apa mama Sekar sudah pergi. apakah aku sudah aman sekarang? Kenapa aku merasa sedang berada di situasi tenang sebelum badai" Gumam Berlian
DEBUUGH..
Suara hentakan keras pada pintu kamar Berlian, hingga akhirnya kamar itupun terbuka.
"Apa ku bilang tadi, itu adalah situasi tenang sebelum badai" Gumam Berlian saat melihat pintu kamarnya terbuka.
"Kau ingin main2 denganku ya, hmm?" Sekar masuk dan langsung menarik baju Berlian.
__ADS_1
PRAAK...
Satu tamparan keras kembali mendarat di pipi mulus Berlian.
"Ampun ma ampun" Berlian terduduk di depan kaki Sekar sambil memohon ampun.
"Baiklah kali ini kau ku maafkan, dan segeralah ganti bajumu dan berdandanlah yg cantik karena tamuku sudah datang" Sekarpun pergi meninggalkan Berlian.
"Aku yakin mama Sekar pasti akan menjualku, Tuhan apa yg harus aku lakukan?" Gumam Berlian dalam tangisnya.
Ia benar2 takut dengan situasi yg Ia hadapi saat ini. Namun karena takut Sekar semakin murka, Iapun mengganti bajunya dengan dres mini yg di berikan oleh Sekar padanya.
"Sudah cantik rupanya ya" Sekar memasuki kamarnya dengan tersenyum puas. di tariknya dagu Berlian ke arah wajahnya.
"Layani tamuku dengan baik, atau malam ini adalah malam terakhirmu bisa menghirup udara" Ucap Sekar dengan penekanan di setiap katanya.
"Mama Sekar benar2 akan menjualkukan. sepertinya aku lebih baik mengakhiri hidupku daripada harus menjual diriku" Berlian
Tak bisa Ia tahan setetes airpun berhasil lolos dari matanya.
"Hapus Air matamu Itu gadis bodoh"
Sekar mendorong wajah Berlian hingga Berlian mundur beberapa langkah.
"Apa aku sudah boleh bersenang2?" Suara seorang pria muncul dari balik pintu.
Berlian kaget mendengar suara itu. tubuhnyapun mulai gemetar, keringat di keningnya mulai bercucuran dan air matanya pun semakin tak bisa Ia bendung.
"Tuhan maafkan aku yg terlalu banyak meminta, izinkan aku meminta sekali lagi. Bebaskan aku dari sini aku mohon" Berlian
__ADS_1
"Tentu saja tuan, selamat bersenang2" Sekar mengedipkan matanya pada pria tua itu, lalu pergi meninggalkan kamar dimana pria tua itu dan Berlian berada.
Bersambung...