
Sofia adalah gadis desa yang sangat cantik yang lahir di tanah sunda. Sebagian orang menyebutnya sebagai kembang desa dan menjadi incaran para pujangga.
Tidak ada satu lamaran yang diterima Sofia karena hatinya telah tertambat pada pria tampan yang berasal dari jawa tengah. Pria berkulit hitam manis bernama Hakim yang bekerja di toko Haji Soleh.
Keduanya sama-sama menabung untuk bisa mewujudkan pernikahan impian. Namun kisah asmara yang sudah berjalan selama tiga tahun itu harus pupus ketika Pak Yanto-bapaknya Sofia mengetahui kalau Hakim adalah pria keturunan jawa.
Mitos yang mengatakan perempuan sunda tidak boleh menikah dengan pria asal jawa itu yang menjadi alasannya. Katanya jika pernikahan itu tetap terjadi bisa saja membawa kemelaratan, tapi ada juga yang sebaliknya. Justru bukan melarat namun tambah kaya. Entah benar entah tidak namun sebagian orang tua seperti Pak Yanto masih mempercai itu.
"Maaf, Nak. Bapak tidak bisa menerima kamu untuk jadi menantu bapak. Sofia putri bapak telah lebih dulu dilamar seorang pria. " kata Pak Yanto kepada Hakim yang malam itu mengutarakan niatnya untuk melamar Sofia.
"Pak ...." Sofia yang baru saja menyuguhkan air minum langsung menyela ucapan bapaknya. Ia sendiri kaget ketika mendengar ucapan itu. Memangnya kapan ada pria yang datang untuk melamar dirinya selain Hakim saat ini.
"Perempuan yang sudah dilamar pria lain tidak boleh di lamar lagi. Bapak harap nak Hakim mengerti."
Tidak ada tutur yang kasar dalam ucapan itu. Pak Yanto bicara dengan bahasa baik dan tidak menyakiti. Namun penolakan itu jelas menyakiti Hakim dan Sofia yang harus kehilangan impiannya.
"Pak, apa-apaan sih bapak ini. Dia sudah baik datang melamar tapi malah ditolak. Bapak ini maunya apa sih katanya aku harus segera menikah." Sofia yang kesal menuntut jawaban dari Pak Yanto.
"Kamu yang apa-apaan. Dari dulu bapak sudah katakan kalau bapak tidak ingin anak bapak menikah-"
"Dengan keturunan jawa," sela Sofia, "itu kan yang selalu bapak katakan. Memangnya apa alasannya? Urusan melarat atau tidak tergantung kita yang kerja keras, Pak."
"Sudah. Pokonya kamu menikah dengan pilihan bapak," tukas Pak Yanto meninggalkan anaknya dan masuk ke dalam kamar. Hari sudah malam, sudah waktu istirahat bukan untuk berdebat.
Keputusan Pak Yanto adalah keputusan mutlak. Jangankan anak perempuan, istrinya saja tidak bisa mengganggu gugat.
Pertemuan dengan calon suami Sofia dilakukan satu hari berikutnya. Seorang pria berkulit putih dengan rambut klimis, bertubuh cungkring datang dengan anggota keluarganya. Tidak ada yang menarik dari pria itu sehingga Sofia bersikap biasa saja. Lebih parahnya dia bersikap acuh.
__ADS_1
"Bapak sangat bahagia akhirnya nak Wawan mau memilih putri bapak. Dia memang kada jutek tapi dia baik kok," balas Pak Tanto melirik Sofia. Meminta putrinya untuk tersenyum.
"Bapak yang senang, aku yang enggak." Sofia bergumam tapi Pak Yanto masih mendengarnya.
Tanggal pernikahan telah ditentukan. Tepatnya satu bulan lagi setelah pertemuan hari itu.
Selama masa menunggu hari pernikahan Sofia tidak pernah menunjukan perhatian pada Wawan. Ketika di suruh Ibu Asmirah mengantarkan makanan untuk calon suaminya, Sofia malah menitipkan makanan tersebut. Sedangkan dia sendiri memilih menemui Hakim di rumah kontrakan.
"Kenapa harus pulang?" tanya Sofia melihat Hakim memasukan pakaiannya ke dalam tas besar.
"Bandung bukan lagi tempat yang ramah untukku. Apalagi setelah kamu menikah," jawab Hakim menatap kosong.
"Kenapa kamu tidak berusaha meyakinkan bapak. Kenapa malah pergi? Mana yang katanya mau berjuang untuk aku?" Sofia mengguncangkan bahu Hakim yang masih menatap kosong. "Bagaimana kalau kita kawin lari saja?" usul Sofia dijawab gelengan kepala oleh Hakim.
"Mereka yang menikah diiringi restu saja masih banyak cobaan. Apalagi yang tanpa restu. Kita belum tentu akan berakhir bahagia." Hakim menoleh jam weker di dekat tempat tidur. "Hari sudah hampir sore, pulanglah! Aku akan berangkat besok subuh."
"Kalau begitu buat aku hamil agar bapak menikahkan kita."
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Sofia Hafsari binti Yanto dengan maskawin seperangkat alat solat beserta 33 gram emas dibayar tunai." Dengan lantang Wawan mengucapkan kalimat itu hingga saksi serempak mengatakan SAH.
Berbeda dengan Sofia, rona bahagia di wajah Wawan tak pernah surut. Dengan kerja keras yang selama ini dia kerjakan akhirnya membuahkan hasil. Gadis desa yang menjadi incaran pemuda desa kini telah menjadi miliknya.
Hatinya semakin berdebar kala gadis cantik itu dituntun ke meja akad untuk penandatanganan berkas pernikahan agar sah secara negara dan agama.
"Cieeeeee," kompak para tetangga dan tamu yang hadir mengucapkan kalimat tersebut saat Wawan mencium kening Sofia atas perintah tukang foto.
__ADS_1
Doa dan ucapan selamat mengiringi pernikahan yang didasari tanpa rasa cinta. Itu bagi Sofia tapi tidak dengan Wawan. Andai saja hari itu Hakim menuruti usulannya mungkin yang tengah merasakan bahagia hari ini adalah mereka bukan hanya Wawan.
Lepas Ashar acara akad dan Resepsi telah usia. Tamu undangan sudah mulai bubar menyisakan pemilik hajat dan para tetangga yang tengah bantu-bantu.
"Beruntung ya Neng Sofia mah dinikahi Jang Wawan. Sudah mah ganteng, orangnya juga rajin."
Beruntung apaan? cebik Sofia di dalam hati. Dia baru keluar daru kamar setelah mengganti pakaian. Dia menemui ibu yang masih sibuk membagikan makanan pada mereka yang tengah bantu-bantu.
"A Wawan mana?" tanya Bu Asmirah saat menyadari kedatangan putrinya.
"Di kamar, ganti baju." Sofia menjawab ketus.
"Ajak ke sini, dari tadi kan belum makan. Kasihan takutnya nanti malam gak punya tenaga," kata Bu Asmirah lagi dengan nada bercanda. Sontak ibu-ibu yang masih di sana kompak mengiyakan.
***
Lepas Isya, sepulang dari masjid Wawan memilih mengobrol dengan Pak Yanto mertuanya. Tidak berani masuk kamar lebih karena Sofia juga masih di sana. Dia hanya melirik sekilas kemudian fokus kembali pada obrolan dengan mertuanya.
"Sofia, A Wawan sudah capek. Segera ajak istirahat, nak."
Sofia mendelik dah tersenyum sinis. Bahkan menghentakkan kaki yang baru saja turun dari kursi. Berjalan lebih dulu tanpa mengajak pria yang telah jadi suaminya.
Saat Wawan masuk kamar dan menutup pintu, Sofia sudah merebahakan diri di kasur dengan posisi menghabiskan ruang tempat tidur. Dia sengaja agar Wawan tidak tidur di kasurnya.
"Kalau ngantuk tidur saja di lantai. Pakai kasur lipat itu." Jari telunjuk Sofia begitu lurus menuju kasur lipat yang di simpan di dekat keranjang pakaian kotor.
"Teh ini kan malam pertama kita. Masa tidur terpisah." Wawan tetap tersenyum meski Sofia sudah menunjukan penolakan melalui sikap.
__ADS_1
Tidak ada balasan, tubuh sang istri pun tetap di tempat semula. Tidak memberi ruang untuk dirinya. Dia pun memakluminya dengan menggelar kasur lipat. Tubuhnya yang lelah tidak memiliki tenaga untuk berdebat.
Sofia melirik Wawan yang sudah berbaring di kasur lipat. Tadi dia hanya pura-pura tidur. Berbaring menghadap tembok dia memejamkan mata. Membayangkan bahwa kenyataan hari ini dengan pria yang dicintainya. Semakin dalam dia melihat khayalan itu. Hingga tanpa disadari dia mendesah dan menyebut nama Hakim.